LOVE ME [ CHAPTER 2 ]

25 Nov

love me

Judul/Title : Love Me

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr ]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it😉

Length : 1 of………..

Genre : Romance, Sad, Family.

Author Notes (A/N) : Annyeong wiresdeul *bow* aku disini membawa chapter ker dua dari love me

Bisa juga kalian temukan beribu-ribu(lebay) Typos yang merajalela di sepanjang ff

Udah deh cekidot sajaaa…..jangan lupa comment ya eheheh Gomawo thanKyu :*

PLEASE DON’T BE A PLAGIATOR!

 

Seohyun  selalu berharap suaminya menikahinya karena memang mencintainya. Bukan hanya untuk mengembalikan Perusahaan-nya.

.

.

LOVE ME

CHAPTER 1

.

.

“Haaah… ini yang terakhir.” Seohyun menghela napas lelah seraya merapikan susunan kertas rekam medis kesehatan milik para Pasien. Saat ini matahari sudah tidak menampakkan wujudnya, melainkan digantikan dengan sinar bulan yang lembut yang menembus gorden ruang kerjanya. Hari ini pekerjaannya sebagai seorang Dokter sungguh banyak menyita waktu serta tenaganya. Sebenarnya tak masalah jika Seohyun harus melakukan pekerjaan berat seperti ini, toh ini semua juga menjadi salah satu kewajibannya. Hanya saja, berbagai pikiran yang membebaninya akhir-akhir ini membuat badan serta pikirannya menjadi gampang lelah. Semuanya terasa seperti menggantung di punggungnya.

Mau tak mau, ingatannya melayang saat Kyuhyun secara tiba-tiba melamarnya…

Kau adalah orang yang paling tepat, dan kau adalah satu-satunya wanita yang memiliki hubungan paling dekat denganku.”

“Sial!” rutuk Seohyun pelan. Yeoja itu menyandarkan punggung serta kepalanya ke kursi dan memijit pelan bagian pelipisnya. Air matanya seperti mendesak ingin keluar, namun Seohyun terlalu munafik untuk menumpahkannya.

Sial! Kenapa kau menangis, Seohyun?

Sebuah suara ketukan yang terdengar dari luar pintu menyadarkannya kembali. Dengan kasar ia menyeka jejak yang ditinggalkan air matanya yang sudah tidak dapat ia bendung.

“Masuk,” ucapnya seraya merapikan ikatan rambut coklat ikal panjangnya. Seohyun terkejut setelah ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang yang tadi mengetuk pintu kerjanya. “Kyuhyun?”

Namja itu tetap berdiri di depan pintu dan tidak berbicara sedikit pun. Mata Seohyun terarah kepada luka sayatan yang melintang di lengan kanannya serta darah yang menetes-netes dari sana.

“Kau terluka Kyuhyun~ah?” tanya Seohyun khawatir seraya menghampiri Kyuhyun yang masih saja berdiri di depan pintu. “Kemarilah! Ayo duduk!”

Kyuhyun menuruti tarikan tangan Seohyun menuju salah satu kursi. Namja itu mendudukkan dirinya tepat di depan Seohyun duduk.

“Lukamu cukup dalam, Kyuhyun~ah,” ucap Seohyun seraya membersihkan luka Kyuhyun dengan alkohol dan beberapa kapas. “Apa yang membuatmu terluka seperti ini?”

“Ada sedikit kecelakaan saat di kantor,” jawab Kyuhyun datar.

Setelah luka di tangan Kyuhyun sedikit mengering, Seohyun beranjak dari duduknya dan mengambil perban dan beberapa obat lainnya. Yeoja itu sama sekali tak menghiraukan degupan jantungnya yang kian lama kian kencang. Ia juga berusaha keras untuk tidak mengingat hal yang selama seminggu ini membebaninya.

Dengan perlahan, Seohyun membersihkan luka Kyuhyun. Walaupun dengan posisi menunduk, Seohyun bisa merasakan kalau Kyuhyun tengah memperhatikannya. “Lain kali kau harus lebih berhati-hati lagi, Kyuhyun~ah,” ucapnya membuka pembicaraan.

“Hmm.”

Setelah selesai membersihkan luka Kyuhyun, Seohyun melilitkan perban di sepanjang luka yang melintang di lengan Namja itu. Seohyun sedikit menahan napasnya karena merasakan telapak tangannya bersinggungan dengan lengan kekar Kyuhyun.

Gomawo,” ucap Kyuhyun datar saat Seohyun selesai mengikat perban yang melilit lukanya.

Seohyun membalasnya dengan sebuah senyuman tulus seraya masih menahan degupan jantungnya, “Cheonma. Kau bisa datang kesini kapan pun kalau kau membutuhkan bantuanku, Kyuhyun~ah.”

“Ya,” sahut Kyuhyun seraya menatap Seohyun yang duduk di hadapannya.

Entah apa yang membuat Namja itu menatap Seohyun, dan Seohyun pun juga tidak bisa mengartikan arti dari tatapan Namja yang selalu membuat jantungnya berdetak tidak karuan itu. Mereka terus bertatapan, seperti tiada yang ingin mereka lakukan selain saling menatap satu sama lain. Seohyun merasa dirinya hanyut di dalam tatapan mata Tajam milik Kyuhyun.

“Aku harus pergi,” ucap Kyuhyun yang secara langsung menyadarkan Seohyun.

Saat Kyuhyun berpaling dari hadapannya, Seohyun merasakan kekosongan yang luar biasa melanda hatinya. Dan Seohyun tidak mengerti mengapa hal itu terjadi.

“Ya,” sahut Seohyun dengan suara sedikit bergetar.

Sebelum Kyuhyun mencapai daun pintu, Seohyun menghentikannya dengan memanggil namanya.

“Kyuhyun~ah?” panggil Seohyun ragu.

“Ada apa?”

Seohyun berdiri dari kursi yang didudukinya. Ia merasa harus menyelesaikan semua bebannya, dan itu berarti sekarang adalah saat yang paling tepat. “Aku ingin bicara denganmu.”

“Apa?”

Seohyun menelan ludahnya sebelum ia berbicara. Sebenarnya ia tidak mau jika harus menyelesaikan masalahnya di ruang kerjanya, ia ingin mencari tempat yang pas untuk membicarakan masalah yang menentukan hidupnya. Tetapi ia juga menyadari bahwa Kyuhyun pasti sibuk dengan semua pekerjaannya, dan ia tidak boleh egois dalam hal ini.

“Tentang malam itu−,” Seohyun menghentikan perkataannya untuk mengambil napas. “Saat kau mengantarkanku setelah kita ma−.”

“Langsung saja,” potong Kyuhyun cepat.

Apa yang dilakukan Kyuhyun tidak membuat hati Seohyun menjadi lebih lega, malah sebaliknya. Seohyun merasa semakin susah untuk mengutarakan isi hatinya.

“Apa kau masih memberiku waktu untuk menjawab lamaranmu?”

Seohyun bisa melihat kerutan samar terpancar di wajah Kyuhyun. Namja itu tidak langsung menjawab pertanyaannya, melainkan terlihat seperti memikirkan sesuatu.

“Tentu,” jawab Kyuhyun singkat.

Dengan satu tarikan napas, Seohyun mengatakan hal yang selama ini disimpannya dengan mantap. “Aku menerimanya.”

Melihat Kyuhyun yang sepertinya tidak berniat membuka mulutnya, Seohyun melanjutkan perkataannya. “Aku menerima lamaranmu, Kyuhyun~ah. Dan aku mau menikah denganmu.”

“Kau sudah memikirkannya matang-matang, Seohyun?” tanya Kyuhyun.

Kegelisahan menghampiri hati Seohyun ketika mendengar pertanyaan Kyuhyun. Ia sudah seminggu ini memikirkan jawabannya, tapi belum berarti ia sudah menentukannya dengan sangat matang. Saat ini, hati serta pikirannya hanya dikuasai oleh satu hal. Dan hal itu adalah Kyuhyun. Seohyun kembali mengambil napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan mantap. “Ya.”

Sejujurnya ada sedikit harapan yang mucul dalam benak Seohyun. Yeoja itu berharap Namja yang berada di depannya kali ini memeluknya karena ia sudah menerima lamaran Namja itu. Namun Seohyun sadar, Kyuhyun tidak akan melakukannya karena Kyuhyun memang bukan orang yang seperti itu. Dan−hatinya terasa sakit jika harus memikirkan ini−ia juga sadar bahwa Kyuhyun tidak pernah mencintainya.

Kyuhyun hanya diam, dan itu membuat hati Seohyun merasa sedikit takut. Yeoja itu menunduk untuk menghindari tatapan Kyuhyun yang seolah-olah menusuknya.

“Persiapkan dirimu, Seohyun. Minggu depan kita akan menikah,” ucap Kyuhyun yang secara langsung membuat Seohyun terkejut. “Hanya orang terdekat saja yang akan kita undang,” lanjut Namja itu seraya berjalan kembali menuju pintu.

Seohyun masih terdiam di tempatnya, ia sangat terkejut dengan perkataan Kyuhyun. Bibirnya sedikit terbuka, ia tidak mengatakan apapun, dan ia juga tidak menyadari saat Kyuhyun pergi meninggalkannya.

Minggu depan?

Seohyun menghempaskan dirinya ke kursi. Kepalanya terasa pusing. Beban yang ia tanggung memang sudah selesai, tapi ia tidak menyangka bahwa akan ada satu beban lagi yang akan menimpanya.

Kenapa secepat itu, Kyuhyun~ah? Kenapa kau tidak memberiku waktu untuk lebih mempersiapkan diri? Jika secepat ini, aku takut aku tidak siap…

.

.

Setelah pembicaraannya dengan Kyuhyun malam tadi, Seohyun merasa ia butuh seseorang untuk diajak bicara. Maka dari itu, ia memilih untuk tetap berada di rumah sakit untuk menunggu sahabatnya Sooyoung, datang ke rumah sakit untuk melakukan tugas jaga malam. Seperti saat ini, wanita itu tengah berada di balkon rumah sakit. Udara malam yang dingin dan menusuk tidak menyurutkan niatnya untuk tetap berada disana menikmati keindahan langit di malam hari. Sebenarnya Seohyun bisa saja menunggu sahabatnya di dalam ruangan, tapi Yeoja itu lebih memilih untuk berada di luar malam ini. Setidaknya dengan menatap langit malam, keresahan hatinya akan sedikit terobati.

“Hei, kukira kau sudah pulang.” Terdengar suara seorang Yeoja yang sangat Seohyun kenali. “Para perawat bilang kau menungguku disini.”

“Ya, aku memang menunggumu, Sooyoung~shii. Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” sahut Seohyun tanpa menolehkan kepalanya ke arah Sooyoung.

“Kau bisa menungguku di dalam, kan? Apa kau tidak bosan menunggu sendirian disini?” tanya Sooyoung.

Seohyun menolehkan kepalanya, Yeoja itu tersenyum ke arah sahabatnya. “Aku tidak bosan.”

Walaupun melihat Seohyun tengah tersenyum, Sooyoung bisa menangkap sesuatu yang tidak beres dengan Seohyun. Dengan ragu, wanita bermata coklat itu bertanya, “Kau ada masalah, Seohyun~ah?”

Senyum di wajah Seohyun lenyap seketika, digantikan dengan wajah sendu yang sama sekali tidak enak untuk dipandang Sooyoung. Seohyun sama sekali tidak berucap, ia tetap memandang Sooyoung dan tidak bergerak sedikitpun di tempatnya. Dan melihat Seohyun yang terlihat menyedihkan, Sooyoung mengambil langkah untuk mendekati Seohyun.

“Kajja,” ujarnya seraya menarik tangan Seohyun, “Kau perlu teman bicara. Kita bicarakan di luar.”

“Ta−tapi bagaimana dengan tugas jagamu?”

“Itu bisa kita urus nanti. Tiffany~ya pasti bisa memakluminya,” jawab Sooyoung dengan masih menarik tangan Seohyun dan membawa Seohyun keluar dari balkon rumah sakit.

Kedua Dokter yang berlawanan warna rambut itu melangkah meninggalkan rumah sakit bersama. Sooyoung mulai membuka pembicaraan saat mereka baru saja keluar dari rumah sakit.

“Kau sudah makan malam?”

Seohyun hanya menggelengkan kepalanya pelan untuk menanggapi pertanyaan Sooyoung.

“Bagaiman kalau kita ke Café ? Aku yang akan mentraktirmu,” ucap Sooyoung ceria.

Seohyun mengangkat salah satu alisnya, ia tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. “Tumben sekali?”

Sooyoung hanya menanggapi pertanyaan Seohyun dengan terkekeh pelan. Yeoja Tinggi itu tidak menjawab, melainkan terus berjalan ke arah Cafe tersebut. Setelah mereka berdua sampai, mereka memilih tempat yang berada di pojok. Cafe itu tidak terlihat ramai, namun juga tidak terlalu sepi. Suasana yang tenang dan nyaman tercipta di Cafe itu.

Dari tadi Seohyun tidak tahan ingin menanyakan hal yang menurutnya tidak penting, namun sangat mengganggunya saat ia dan Sooyoung berjalan ke Cafe ini. Seorang Choi Sooyoung yang ia kenal sedari kecil tidak akan mentraktirnya secara cuma-cuma jika tidak memiliki keinginan tertentu. Dan setelah pelayan Cafe itu pergi untuk menyiapkan apa yang mereka pesan, Seohyun pun dengan cepat menanyakannya. “Katakan padaku, Sooyoung! Apa yang membuatmu ingin mentraktirku seperti ini?”

“Aku hanya ingin melakukannya, Seohyun. Apa itu salah, hm?

“Tapi tidak biasanya kau seperti ini.”

Sooyoung kembali terkekeh, “Aku hanya ingin merayakan kehamilanku, Seohyun. Jangan berpikir yang macam-macam!”

Seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Seohyun kembali mengulang perkataan Sooyoung. “Hamil?”

Sooyoung mengangguk dengan antusias. Dengan cepat, Seohyu menghampiri Sooyoung yang duduk di depannya, dan memeluk sahabatnya erat.

“Apa Chagmin sudah mengetahuinya, Sooyoung?”

“Belum. Dia sedang ada pekerjaan di Mokpo, dan akan kembali lusa.” Sooyoung menjawab dengan sebuah senyuman bahagianya. “Aku benar-benar tidak sabar memberitahunya tentang kabar yang sangat membahagiakan ini.”

“Aku turut bahagia, Sooyoung,” ucap Seohyun yang tidak berusaha menahan senyum bahagianya.

“Gomawo,” Sooyoung melepaskan pelukan Seohyun dan menatap Yeoja itu dengan serius. “Sekarang ceritakan masalahmu padaku.”

Senyum bahagia yang tadi terpampang jelas di bibir Seohyun, tiba-tiba lenyap dan digantikan dengan senyum hambar yang dipaksakan. “Mm.. itu−”

“Permisi, ini pesanan anda.” Perkataan Seohyun terhenti saat pelayan Café itu mengantar makanan mereka.

“Ne, Gomawo” ucap Sooyoung sedikit ketus. Setelah menatap pelayan yang mengantarkan makanannya, mata Sooyoung segera menatap kembali Seohyun yang ada disampingnya. “Nah, katakan sekarang, Seohyun!”

Seohyun memulainya dengan peristiwa dimana Kyuhyun melamarnya. Yeoja itu menceritakan semua beban maupun rasa sedih yang selama satu minggu ini ia rasakan. Ia juga menceritakan beberapa saat yang lalu saat Kyuhyun datang berobat padanya. Segalanya terasa mengalir seperti air. Seohyun tidak berhenti menceritakannya, dan Sooyoung pun juga tidak menyelanya sedikit pun. Sooyoung mendengarkan curahan hati sahabatnya itu dengan sangat baik. Ia juga menyiapkan selembar tisu saat melihat genangan air mata yang berada di mata hitam Seohyun.

“Menangislah jika kau ingin menangis, Seohyun,” Sooyoung menyodorkan selembar tisu ke arah Seohyun.

“Gomawo, Sooyoung~shii,” ucap Seohyun seraya menerima tisu Sooyoung. Genangan air mata mulai tampak dalam mata hitamnya. “Aku pasti terlihat sangat bodoh, kan?”

Sooyoung mengerutkan dahinya, “Kenapa kau berkata begitu?”

“Aku bodoh karena telah menangisi seseorang yang sama sekali tidak mencintaiku.”

Sooyoung terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.

“Bahkan aku sangat bodoh karena bersedia menjalani kehidupan bersama orang yang sama sekali tidak memiliki perasaan apapun kepadaku.” Kali ini Seohyun benar-benar tak bisa menahan air matanya. Ia menundukan kepalanya dan menghapus air matanya dengan tisu yang Sooyoung berikan tadi.

“Kalau kau merasa bodoh dengan keputusan yang kau ambil, kenapa kau masih saja menerima lamarannya?” Sooyoung berkata selembut mungkin yang ia bisa. Ia tidak ingin membuat hati sahabatnya bertambah pilu lagi.

“Aku mencintainya.”

Sooyoung kembali terdiam.

“Aku sangat mencintainya, Sooyoung,” ulang Seohyun. “Walaupun aku tidak menerima lamarannya, suatu saat nanti hatiku pasti akan terasa sangat sakit jika melihat ia bersanding dengan Yeoja lain.”

“Tapi akan lebih menyakitkan lagi jika kau hidup dengan seorang suami yang tidak mencintaimu, Seohyun.”

“Setidaknya aku memilikinya, Sooyoung. Aku tidak ingin dia memiliki atau dimiliki Yeoja lain selain diriku.” Seohyun kembali mengusap air mata yang jatuh di pipinya. “Apa aku egois, Sooyoung?”

Dengan perlahan, Sooyoung mengusap lengan Seohyun. Mencoba sedikit menenangkan sahabatnya.”Tidak. Kau sama sekali tidak egois Seohyun~ah.”

“Apa yang aku lakukan benar, Sooyoung?”

Menghela napas pelan, Sooyoung  meraih tangan Seohyun dan meremasnya pelan. “Aku tidak bisa mengatakan apa yang kau pilih ini benar atau tidak, Seohyun. Ini hidupmu.”

Kali ini Seohyun terdiam. Pipi Chubby nya yang masih dipenuhi dengan air mata, menatap sayu sahabat Tinggi-nya itu.

“Jika kau merasa ini jalan yang benar, lakukanlah. Mantapkanlah hatimu untuk kehidupan barumu. Tapi jika ada banyak keraguan di hatimu untuk melakukannya, jangan pernah untuk menjalaninya, Seohyun.”

Ragu. Perasaan ragu itu masih ada dalam benak Seohyun.

Akan sangat bodoh jika aku hidup dengan seorang suami yang tidak pernah mencintaiku. Sedikit pun.

“Apa menurutmu, lambat laun Kyuhyun akan mencintaiku?” tanya Seohyun lirih.

Sooyoung memberikan senyum penuh arti kepada sahabatnya, ia seperti mendapatkan sebuah petunjuk. “Kenapa tidak? Aku yakin kau bisa bahagia.”

“Maksudmu?” Seohyun mengernyitkan alis.

“Kau bisa membuat Kyuhyun mencintaimu.”

Perlahan tapi pasti, kerutan di kedua alis Seohyun sirna. “Apa kau yakin aku bisa?”

Sooyoung menganggukan kepalanya dengan senyum yang masih terpancar di bibirnya.

“Tapi−” Keraguan kembali menyelimuti hati Seohyun. “Aku tidak yakin, Sooyoung~ah.”

“Kenapa?” tanya Sooyoung heran. “Kau seperti bukan Seohyun yang kukenal.”

Seohyun menundukkan kepalanya. “Apa selama ini dia tidak tahu kalau aku mencintainya, sehingga dia juga tidak pernah sedikit pun mencintaiku?” Pertanyaan Seohyun lebih terdengar seperti sebuah pernyataan. “Selama aku mengenalnya, aku sudah mencintainya. Tapi selama itu juga dia tidak pernah menyadari ataupun membalas perasaanku, Sooyoung.”

“Kalau begitu kau harus lebih berusaha lagi, Seohyun. Aku sangat yakin jika Kyuhyun akan mencintaimu,” ucap Sooyoung seolah ingin memberi semangat kepada sahabatnya. “Kyuhyun pasti juga tidak akan mau untuk hidup dengan seorang istri yang sama sekali tidak dia cintai.”

“Tapi Kyuhyun hanya menginginkan Perusahaan-nya, dia sama sekali tidak menginginkanku ataupun cintaku, Sooyoung,” ujar Seohyun dengan suara yang terdengar pilu. Hatinya selalu sakit jika ia mengingat akan hal ini.

Sooyoung menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan perkataan Seohyun. “Tidak, Seohyun~ah. Lambat laun perasaannya akan berubah. Menikah bukanlah suatu hubungan yang membutuhkan waktu yang sekejap. Kyuhyun memintamu untuk menikah dengannya, kan? Itu berarti Kyuhyun memberimu waktu untuk lebih lama bersamanya,” jelas Sooyoung.

Seohyun kembali terdiam mendengar penuturan Sooyoung. Entah mengapa hatinya sedikit lega karena ada orang yang bersedia untuk menguatkan hatinya.

“Aku yakin kau bisa, Seohyun. Percayalah kepada dirimu sendiri.” Sooyoung kembali meremas pelan tangan Seohyun untuk memberinya semangat. “Kau harus lebih berjuang lagi untuk kebahagiaanmu, dan aku akan selalu ada untuk membantumu kapan pun kau membutuhkan bantuanku.”

.

.

Seohyun terbangun dengan perasaan lebih lega esok harinya. Semalam tidurnya terasa lebih nyenyak− walapun sedikit− jika dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Jika malam-malam sebelumnya ia bangun dengan rasa sakit di sekitar leher dan pundaknya, pagi ini Seohyun bangun dengan sedikit senyuman yang terpatri di wajahnya. Perbincangannya dengan Sooyoung semalam telah membantunya untu meringankan beban yang mengganggunya−walaupun sedikit.

Sooyoung benar. Aku harus lebih berusaha lagi untuk kebahagiaanku.’

Dengan langkah pasti, Seohyun keluar dari apartemennya dan melangkahkan kakinya menuju Seoul Hospital−tempatnya bekerja. Saat melewati pusat keramaian Seoul, mata hitamnya menangkap seseorang yang sangat ia kenali tengah membeli kudapan kecil dengan menggandeng seorang bocah laki-laki yang berumur sekitar tiga tahun.

“Yesung-Seosangnim?” sapa Seohyun tak dapat menyembunyikan keceriannya.

Sang guru yang mendengar sapaannya pun menoleh. “Ya, Seohyun. Lama tak bertemu”

Seohyun menyunggingkan senyum termanisnya di pagi itu. Ia sama sekali tidak mengira akan bertemu dengan mentornya saat ini. “Ya. Apa kabar, Seosangnim? Dan apa kabar pula denganmu, jagoan?” ucapnya seraya mengacak-acak rambut bocah yang berdiri di sebelah gurunya.

“Hm, kami baik, Seohyun. Seperti yang kau lihat,” jawab Yesung dengan senyuman. “Kau sendiri?”

Buruk−batin Seohyun.

“Aku juga baik, Seosangnim.” Seohyun memilih untuk tidak menjawab dengan jujur keadaannya. Ia tidak ingin menampilkan kesan yang menyedihkan kepada gurunya setelah lama tak bertemu.

“Hm, benarkah? Tapi kenapa kau−”

Appa, aku lapal.”

Yesung serta Seohyun sontak menoleh ke arah datangnya suara. Dengan tawa pelan, Yesung membungkukkan badannya. “Kau lapar, Onew?”

Onew− bocah yang berada disamping Yesung− pun menjawab pertanyaan Appanya dengan anggukan kepala.

“Haaah, baiklah. Kita cari makan sekarang juga.” Pandangan Yesung segera beralih ke anak didiknya. “Kau mau ikut dengan kami, Seohyun?”

“Tidak, Seosangnim. Aku tidak ingin mengganggu acara anak dan Appa,” jawab Seohyun dengan senyum penuh arti.

“Yak Yak!, kau ini bicara apa sih? Kau juga anakku, Seohyun. Jadi bergabunglah bersama kami.”

Mau tak mau Seohyun merasakan sebuah perasaan damai dan menentramkan menyapu relung hatinya saat mendengar gurunya berkata demikian.

“Sudahlah. Tidak usah banyak berpikir, kami sudah lapar,” ucap Yesung seraya membalikkan pundak Seohyun dan sedikit mendorongnya untuk berjalan. “Aku juga yakin Seoul Hospital tidak menyuruhmu untuk datang sepagi ini, kan?” tambah Yesung saat melihat gelagat mantan anak didiknya yang ingin membuka mulutnya untuk mengelak.

“Oh baiklah, Seosangnim. Kau memang selalu tepat.”

“Hm, selalu.”

Saat berikutnya, Seohyun menemukan dirinya tengah berjalan disamping gurunya seraya mengobrol kecil. Yesung benar, jam kerja Seohyun memang tidak sepagi ini. Hanya saja jika ia berada di dalam apartemennya yang sepi terlalu lama, ia akan bosan.

Langkah kecil Onew yang berjalan di depan Yesung dan Seohyun terhenti di depan sebuah rumah makan sushi. Mata bocah lelaki itu seperti menunjukan ketertarikan.

“Ada apa, Onew?” tanya Yeusng seraya menghampiri anak bungsunya. “Kau mau makan sushi, hm?”

Bocah dengan iris mata yang sama dengan ayahnya itu pun menganggukkan kepalanya dengan semangat.

“Baiklah, kita makan disini.”

“Bolehkah aku yang pilih tempat duduknya, Appa?”

Yesung tersenyum. “Tentu saja.”

Setelah mendapatkan jawaban dari sang ayah, Onew pun memasuki rumah makan itu dengan sedikit berlari. Terlihat sekali kalau bocah itu sangat senang. Yesung dan Seohyun hanya mengekor di belakang bocah lelaki itu, menuruti kemana saja langkah kecilnya yang beradu dengan lantai kayu itu berlari untuk memilih tempat yang dikehendaki.

“Jadi… disini?” tanya Yesung saat melihat Onew merangkak naik dan menghempaskan badannya ke kursi.

Lagi-lagi Onew menganggukan kepalanya dengan semangat. “Ne.”

Onew memilih tempat yang berada di samping kolam ikan. Kolam ikan dan meja yang dipilihnya hanya terpisahkan dengan pagar kayu yang tingginya tidak lebih dari tinggi tubuhnya sendiri.

“Kau punya selera yang bagus, Onew.” Seohyun tidak tahan untuk memuji sang bocah yang dari tadi menarik perhatiannya. “Menunjukkan sekali kalau kau seorang Kim,” tambahnya dengan memberi senyum simpul.

Yesung terkekeh pelan mendengar perkataan muridnya. Ia juga turut bergabung untuk duduk di sebelah anaknya. Tak lama setelah itu, seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawa buku pesanan.

“Makan yang banyak, Seohyun. Kau masih saja tidak terlihat subur.” Yesung berujar pelan dibalik buku pesananannya.

Seohyun yang mendengar hal itu, hanya mendengus pelan. “Diam, Seosangnim! Makin tua kau makin cerewet.”

Setelah Yesung dan Seohyun−dengan Onew, tentu saja− menyebutkan pesanan mereka, pelayan itu berlalu dari hadapan mereka, dan menghilang di balik koridor.

Yesung menolehkan kepalanya saat merasa kursi disampingnya berdecit pelan. “Mau kemana, Onew?”

“Kamal mandi,” jawab Onew singkat.

“Mau Appa antar?”

“Aniyo.”

Onew berjalan menjauhi meja dimana Yesung dan Seohyun tengah duduk. Langkah kaki kecilnya berjalan mantap menuju tempat yang ia kehendaki. Tingkah menggemaskan dan kecerdasannya sebagai seorang anak yang berusia tiga tahun membuat Seohyun tersenyum sendiri melihatnya.

“Tidak terasa ya, Seosangnim? Padahal sepertinya baru kemarin aku melihat Yuri-Seosangnim melahirkannya. Tapi sekarang dia tumbuh menjadi bocah laki-laki yang sangat menggemaskan dengan cepat,” ucap Seohyun tak berusaha menutupi kekagumannya.

Yesung tersenyum simpul seraya mengikuti arah pandang anak didiknya. “Pertumbuhan itu suatu keajaiban.”

Seohyun menganggukkan kepalanya. Ia setuju dengan perkataan gurunya.

“Sama seperti kalian.”

Seohyun segera mengalihkan perhatiannya dari Onew ketika Yesung melanjutkan perkataannya.

“Kalian bertiga tumbuh dengan cepat. Aku jadi merasa semakin tua dan minder kalau melihat perkembangan kalian sekarang,” lanjut Yesung masih dengan senyum simpulnya.

“Kau ini bicara apa sih, Seosangnim? Kau tetap Seosangnim kami sampai saat ini dan seterusnya.”

“Gomawo, Seohyun.” Yesung mengambil jeda untuk menarik napas sebelum melanjutkan perkataannya. “Aku bukan seorang pemuji yang ulung, tapi… Aku sangat bangga karena memiliki murid seperti kalian.”

“Kami juga sangat bangga memiliki seorang pembimbing seperti dirimu, Seosangnim,” Seohyun berkata seraya menunjukkan senyum tulusnya.

Bagi Seohyun, Yesung adalah pengganti sosok ayah dan teman dalam hidupnya. Seorang ayah yang sangat mengayomi dan melindungi anak didiknya. Dan seorang teman yang selalu ada untuk menghibur dan menemani dirinya.

“Kalau seperti ini, aku jadi merindukan kalian untuk berkumpul lagi bersama denganku,” ucap Yesung lirih. “Sayang kalian semua sangat sibuk sekarang,” tambahnya.

“Suatu saat kita pasti bisa berkumpul lagi, Seosangnim,”

“Ku harap juga begitu, Seohyun. Tapi aku juga menyadari satu hal.”

“Apa?” tanya Seohyun.

Yesung hendak mengatakan sesuatu ketika ia melihat Onew berjalan menuju arahnya. Di belakang bocah itu, terlihat seorang pelayan yang membawa makanan– yang menurutnya itu adalah makanan untuk mejanya.

“Kalian sudah dewasa,” jawab Yesung seraya membantu Onew duduk di kursi. “Sebentar lagi kalian juga akan menikah dan memiliki keluarga. Jadi aku tidak bisa berharap lebih untuk bisa sering berkumpul lagi dengan kalian.”

Menikah.

Seohyun merasakan hatinya mencelos saat Yesung menyebutkan kata itu. Ia memilih untuk menunduk dan menyantap makanannya yang baru saja tiba daripada harus menghiraukan perkataan gurunya. Bukannya bermaksud kurang ajar, hanya saja Seohyun tidak tahu harus berkata apa. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu, dan pikirannya mau tidak mau terarah kepada Cho Kyuhyun.

“Sebentar lagi Minho akan menikah, Changmin malah sudah menikah setengah tahun yang lalu. Muridku yang masih lajang tinggal kau dan Kyuhyun saja, lho!”

Seohyun tersedak sejadi-jadinya. Dengan cepat tangannya meraih gelas yang berada di depannya, dan meminumnya sampai tandas.

“Kau ini kenapa, Seohyun?” tanya Yesung dengan nada panik. Tangannya terulur untuk menepuk-nepuk pelan pundak Seohyun. “Pelan-pelan saja kalau makan.”

“Uhuk. Ma−uhuk. Maaf seosangnim.”

“Apa ada perkataanku yang membuatmu tidak nyaman?”

Seohyun terdiam. Ia ingin menyampaikannya, tapi sebagian hatinya menyuruhnya untuk menutup mulut dulu. Ia tidak mau langsung sesumbar kepada gurunya tentang niat Kyuhyun yang akan menikahinya dalam waktu dekat ini−setidaknya bukan sekarang saatnya−.

Raut wajah Seohyun berubah. Ia seakan teringat sesuatu ketika melihat Seohyun diam dan tidak menanggapi pertanyaannya. “Apa kau tersinggung saat aku berkata kau lajang?”

Kali ini giliran Seohyun yang menampakkan keterjutannya. Ia tidak habis pikir gurunya berpikir seperti itu. Ia tidak pernah tersinggung jika ada orang yang mengatainya lajang selama ini. Toh, hal itu memang benar adanya. Terkecuali jika orang itu adalah Minho.

Seohyun berpikir jika Minho mengatainya lajang, itu berarti Minho mengejeknya tidak laku. Dan ia sangat tidak terima kalau Minho mengejeknya.

Seohyun hendak membuka mulut, tetapi Yesung memilih untuk menyelanya saat itu juga.

“Oh.. percayalah, Seohyun! Kau adalah gadis yang sempurna. Kau cantik, kau pintar, dan kau seorang Dokter yang sangat terkenal di Seoul. Semua pria pasti akan tertarik padamu. Jangan pernah berpikir dirimu tidak laku, Seohyun.” Yesung terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan Seohyun untuk menjawab sedikit perkatannya. “Jika saat ini kau masih lajang, itu dikarenakan kau memang belum menemukan jodohmu saja. Aku percaya suatu saat kau akan mendapatkan suami yang baik, kuat, dan akan selalu melindungimu maupun keluargamu. Jadi janganlah kau berputus as−”

Seosangnim! Apa yang kau bicarakan?” sela Seohyun karena tidak tahan mendengar perkataan gurunya.

“Aku memberimu semangat, Seohyun.”

Seohyun menggeram pelan, ia tidak menyangka kalau gurunya akan menjadi lebih merepotkan seperti ini.

“Dengar, Seosangnim! Aku tidak pernah berputus asa tentang kehidupanku. Jadi kau tidak perlu memberiku semangat sebanyak itu. Dan satu lagi!” Seohyun menarik napas sebelum melanjutkan perkataannya. “Aku tidak tersinggung dengan ucapanmu. Arraso?” lanjutnya dengan menekankan setiap kata yang ia katakan.

“Haaah… Syukurlah kalau kau tidak mengambil hati perkataanku tadi, Seohyun,” ucap Yesung seraya menghela napas lega.

“Ya, dan sekarang berkonsentrasi lah pada makananmu seperti apa yang dilakukan Onew.”

Onew yang merasa namanya disebut, menolehkan kepalanya ke arah Seohyun. Namun hal itu hanya dilakukannya beberapa detik saja sebelum ia kembali menyantap makanannya. Sedangkan Yesung hanya menganggukkan kepalanya patuh terhadap perkataan muridnya seraya mulai menyantap makanannya yang sedari tadi belum ia sentuh.

Setelah itu, acara makan pagi mereka di rumah makan itu hanya dilanjutkan tentang obrolan-obrolan kecil. Yesung tidak ingin mengambil resiko dengan mengatakan hal yang konyol lagi terhadap Seohyun. Bisa-bisa muridnya itu akan marah, dan tidak akan mau mengobatinya secara cuma-cuma ketika ia terluka. Dan kalau hal itu benar-benar terjadi, siapa juga yang rugi?

“Setelah ini kalian mau kemana?” tanya Seohyun saat mereka berjalan keuar dari rumah makan sushi tersebut.

“Kami akan ke akademi.”

“Mau mengunjungi Sulli?”

“Ya. Kudengar dari Ryeowook, dia agak nakal akhir-akhir ini. Maka dari itu kami berniat untuk mengunjunginya.”

Seohyun tersenyum mengetahui sang guru akan melakukan hal yang sangat manis. Lee Sulli yang kini berganti nama menjadi Kim Sulli bukanlah anak kandung gurunya, tetapi Yesung memperlakukan keturunan almarhum Lee Donghae itu dengan sangat baik. Ketika Sulli masihlah seorang bocah seperti Onew, Seohyun sering sekali melihat sang guru mengajaknya jalan-jalan seperti apa yang gurunya lakukan saat ini terhadap Onew. Dan saat ini, walaupun sang guru sudah memiliki keturunan sendiri yang berdarah Kim, ia masih tetap perhatian terhadap Sulli.

“Sudah sampai. Gomawo atas acara makan tadi, Seosangnim.” ucap Seohyun riang saat mereka tengah berada di depan Seoul Hospital.

“Ya. Bekerja yang baik, Seohyun,”

Annyeong, Seosangnim.

“Hm.” Yesung tersenyum “Kau tahu, lelaki yang menjadi suamimu pasti akan sangat bahagia karena memilikimu.”

Seohyun memutar bola matanya bosan. “Cukup, Seosangnim! Kau mulai lagi.”

“Aku serius, Seohyun.”

Tak mau ambil pusing, Seohyun membalikkan tubuh gurunyaa dan sedikit mendorongnya untuk berjalan. “Onew, kalau kau sudah tua, kau tidak boleh cerewet seperti ayahmu. Mengerti?” ucap Seohyun untuk Onew yang sedari tadi diam.

“Kudengar Kim Heechul sedang mencari istri lho, Seohyun! Menurutku dia pria yang sangat cocok untukmu. Dia juga seorang Dokter. Kalau kalian menikah dan mempunyai keluarga, anak-anak kalian pastilah sangat kuat dan menggemaskan.” Suara Yesung secara perlahan mengecil dan menghilang sepenuhnya diiringi dengan sosoknya−dan Onew, tentu saja− yang juga menghilang di belokkan.

Seohyun menghela napas pelan. Gurunya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi sebenarnya dengan ia dan Kyuhyun. Rasa bersalah menghampiri benak Seohyun. Ia merasa bahwa ia tidak mempercayai gurunya sendiri sebagai seorang teman yang bisa ia ajak bicara untuk masalahnya kali ini, terlepas dari kenyataan bahwa selama ini Seohyun selalu mempercayai gurunya ketika ia menceritakan semua masalahnya.

Maafkan aku, Seosangnim. Sekarang bukanlah saat yang tepat…’

Dengan pelan, Seohyun berbalik dan berjalan menuju pintu rumah sakit.

.

.

.

[TBC]

Bagaimana dengan chapter ini? Membosankan yah? -_-

 

288 Tanggapan to “LOVE ME [ CHAPTER 2 ]”

  1. Sakina A F Oktober 18, 2016 pada 3:43 pm #

    haduhhhh si kyuuuu dingin banget sih jadi orang… kan kasihan tuh si seo~…. y serbasalah deh… diterima si kyu kayak gk cinta tp kalau di tolak juga sayang, kan jarang² ada orang yg kita demenin langsung ngelamar..

  2. kyuniewiress18 Agustus 10, 2016 pada 1:12 pm #

    Diterima ini lmarannya ? Moga lambat laun tmbuh rasa cinta

  3. zakhiya19 April 24, 2016 pada 12:58 am #

    Suka karakter kyuhyun yang susah ditebak .

  4. bya2518 April 24, 2016 pada 12:05 am #

    Haah kehidupan seohyun begitu amat,mdh-mdhan hyunnie akan mendapatkan kebahagiaan^^

  5. Fanny A Januari 1, 2016 pada 2:35 pm #

    Coba sih kyu peka napaaa😥 kasian seo nya hikss

  6. asrielf rahmawati Desember 31, 2015 pada 2:29 am #

    demi apa pun suka bgt chap ini.sikap kyu dingin bgt sama seo aku suka moment itu :v

  7. MyminSarisna Desember 23, 2015 pada 12:06 am #

    alurnya rapi bet thor kata katanya bagus mudah di pahami nice😀

  8. HildAce Desember 15, 2015 pada 12:25 am #

    Sifat kyuhyun benar-benar dingin…
    Nggak peka dengan perasaan seohyun…

  9. gaemgyu_13 Desember 2, 2015 pada 4:49 pm #

    Kyuhyun dingin banget sama seo unnie😢
    Seo unnie sabar yaa😀
    Pen cepetcepet liat adegan romance nyaa

  10. Amelia November 27, 2015 pada 12:46 am #

    Jiahaha di ledek mulu :p harus extra sabar ya unnie. Bentar lagi juga married :p

  11. iraseokyu Oktober 10, 2015 pada 7:26 am #

    Aigooooo dag dig dug bacanya…. Kyuppa kok kayak gitu sihhh, tenang aja seonni…kyuppa mau menikah dengan eonni bukan hnya krn perusahaan melainkan kyuppa pasti mencintai seonni juga…. Semua yg kyuppa katakan hnya alasan eonn, dan tunggu tanggal mainnya untuk kyuppa nyatain perasaan kyuppa yg sebenarnya…..*aamiin.
    Ffnya keren banget eonni, suka sama kata2nya, feelnya dapet bnget…

  12. ain Oktober 7, 2015 pada 7:25 am #

    setiap bc pas bagian seohyun eonni yg peduli dan kwatir sm kyuhyun oppa d tambah perasaannya yg mncintai kyuhyun oppa.rasanya nyes..nyesek….kyuhyun oppa bgmna bs kau sedingin itu dtambah wajah datarmu itu..bkankah seohyun eonni salah satu org yg dekat dgmu? setidaknya jgn sedingin itu dong oppa.kau mbt seohyun eonni mjd takut…dan sedih…huhuhu ini ff nya bner2 OK..seharusnya ini mnjadi drama saja…. .

  13. jessiejee September 10, 2015 pada 10:25 am #

    Yeahh seohyun nerima lamaran kyuhyun. Gpp kok nanti lama2 kyuhyun suka juga sama seohyun wkekek

  14. Suzy Seokyu Agustus 9, 2015 pada 12:54 pm #

    Wah seo nerima lamaran kyu meskipun seo tau kyu nikah sama dia karna perusahaannya, kasihan seo😦 ntar lambat laun kyu bkalan cinta seo ^_^

  15. lindaputri Agustus 3, 2015 pada 4:45 pm #

    seohyun nerima lamaran kyuhyun. Semoga nantinya lambat laun perasaan seohyun terbalaskan biar kesedihan seohyun terbayar dengan kebahagian dia bersama kyuhyun : )

  16. Choi Eunhee Juli 21, 2015 pada 7:30 am #

    Keren thorr, suka bangettt sama ff iniii💖🙆👍

  17. angela agatha Juli 8, 2015 pada 11:33 am #

    Kasihan amat seobaby…cinta bertepuk sebelah tangan 💔💔 tapi jalan ceritanya enak👏👏

  18. kyumaelf Juni 28, 2015 pada 7:12 am #

    kyu terluka kyaya cuma pura pura

  19. YytEkwt_ April 25, 2015 pada 2:55 pm #

    Kapan yong muncul? nggak sabar liat dia tatap tatapan romantis/? *eh sama kyuhyun karena rebutan seohyun hihihi
    part 2 kurang greget karena cuma nampilin yesung, onew sama SEOhyun yg aku nggak tau peran mereka berdua kedepannya apa buat hubungan seokyu haha, maafkan va readermu yang satu ini cerewet >_<

  20. YytEkwt_ April 25, 2015 pada 2:54 pm #

    Kapan yong muncul? nggak sabar liat dia tatap tatapan romantis/? *eh sama kyuhyun karena rebutan seohyun hihihi
    part 2 kurang greget karena cuma nampilin yesung, onew sama kyuhyun yg aku nggak tau peran mereka berdua kedepannya apa buat hubungan seokyu haha, maafkan va readermu yang satu ini cerewet >_<

  21. Andi April 23, 2015 pada 1:28 am #

    Wah ceritanya semakin menarik, thoor.
    Seohyun menerima lamarannya kyuhyun. Nexxt.

  22. forseokyu April 5, 2015 pada 8:33 am #

    Kasian bgt seo. Semoga seo bisa bikin kyu jatuh cinta. Amin😀

  23. nae_lee Maret 31, 2015 pada 11:20 pm #

    cinta akan dtg pd wktu nya :*

  24. nadud Februari 25, 2015 pada 2:41 am #

    semoga seo eonni bisa menumbuhkan benih-benih cinta di hati kyu oppa😀

  25. kimhaera Februari 18, 2015 pada 8:09 pm #

    jujur part yang ino agak hambar thor, mungkin kurang banyak aja momen seokyunya sih. tapi dari ide cerita aku suka. gapapa, seo terima dulu kyu-nya, nanti kalau udah nikah kan tinggal serumah terus lama-lama benih-benih cinta juga tumbuh #cieeeee ‘-‘v

  26. Iyank EternalMagnae Januari 13, 2015 pada 7:55 am #

    seo nrima lmarannya kyuppa!!
    mdah2an lmbat laun kyuppa bsa mncintai seo!!
    kn ksian klo cnta seo brtpuk sblah tangan trz!!
    jdi pnsaran khidupan seokyu dtlh mnikah!!

  27. cho nara Januari 5, 2015 pada 11:58 pm #

    sedih x jd seohyun.. tpi btul juga dri pda kyu dimiliki org lain.. smoga kyu bisa cinta ma seo… lanjut… daebakk

  28. azruri Desember 26, 2014 pada 12:44 pm #

    Apakah kyu suka sm seo?
    Trus yesung saem diundang ke pernikahan seokyu?

  29. seokyu111209 Desember 23, 2014 pada 3:31 pm #

    fighting seonni pasti kyuppa lama2 suka eh cinta malah hihi🙂

  30. seokyusonelf Desember 21, 2014 pada 2:19 am #

    Demi apa sikp dingin kyuhyun bikiiin binguuuuuung banget.. kasian Seohyun:(
    Next part~

  31. loveseokyu Desember 4, 2014 pada 12:47 pm #

    sabar ne eonni..
    kyuppa pasti juga cinta sm km..🙂
    kyupaaaaaa… km nyebeliiinnn

  32. aista Desember 4, 2014 pada 10:19 am #

    haduhh kasian bnget seoni pasti bimbang banget deh..

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: