LOVE ME [ CHAPTER 3 ]

26 Nov

love me

Judul/Title : LOVE ME
Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr ]
Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun
Other Cast : You’ll find it😉
Length : 1 of ………
Genre : Romance, Sad, Family.
Author Notes (A/N) : Annyeong wiresdeul *bow* aku bawa lanjutan Love me lagi
Bisa juga kalian temukan beribu-ribu(lebay) Typos yang merajalela di sepanjang ff
Udah deh cekidot sajaaa…..jangan lupa comment ya eheheh Gomawo thanKyu :*

PLEASE DON’T BE A PLAGIATOR!

Sakura selalu berharap suaminya menikahinya karena memang mencintainya. Bukan hanya untuk mengembalikan Perusahaan-nya.
.
.
.
LOVE ME.

CHAPTER 1 | CHAPTER 2

.

Suara pintu kamar mandi yang tergeser menggema di apartemen Seohyun yang sepi malam itu. Rambut Coklat ikal panjangnya digelung setinggi mungkin sehingga menampakkan leher putihnya yang jenjang dan tanpa cela. Dengan masih memakai handuk, ia menyalakan kompor dan berniat untuk membuat minuman hangat. Mandi malam-malam begini sedikit membuat tubunya menggigil.

Sebuah ketukan di pintu masuk apartemennya membuatnya menoleh. Tumben ada yang bertamu di apartemennya saat ini, pikirnya heran. Setelah meletakkan gelas yang berisi cairan yang mengepul di meja, Seohyun bergegas untuk membuka pintu apartemennya. Ia terkejut ketika melihat sosok yang kini tengah berdiri di depan pintunya.

Seorang Namja dengan mata tajam yang sangat ia kenali tengah berdiri dengan membawa sebuah kotak yang entah berisi apa. Namja itu tidak mengenakan Pakaian Kantornya, melainkan mengenakan baju santai yang biasa ia gunakan ketika sedang tidak ada Pekerjaan. Tak ada sapaan atau satu kata pun yang terlontar dari bibirnya sebagaimana seharusnya orang bertamu. Ia hanya memandang tanpa arti sang tuan rumah yang ada di depannya.

“Kyuhyun~ah?” ucapnya reflek ketika melihat Namja itu. “Masuklah!”

Kyuhyun masuk ke apartemen Seohyun tanpa banyak bicara, Namja itu menghenyakkan tubuhnya ke sofa setelah Seohyun mempersilahkannya untuk duduk. Seohyun sedikit bergerak tidak nyaman. Ia sadar ia masih memakai pakaian yang sangat tidak cocok untuk menyambut tamu, apalagi tamunya adalah seorang Namja.

“Mau kubuatkan minuman, Kyuhyun~ah?”

“Tidak perlu. Aku hanya sebentar,” jawab Kyuhyun datar.

Seohyun sedikit kecewa saat Kyuhyun menolak tawarannya. Sejujurnya bukanlah penolakan Kyuhyun atas tawarannya yang membuatnya kecewa, melainkan kesempatannya untuk mengganti pakaian. Seohyun berencana akan mengganti pakaiannya ketika ia membuatkan minuman untuk Kyuhyun, tapi Namja itu malah mengatakan kalau kedatangannya ke apartemen Seohyun hanya sebentar saja.

“Ada apa?” tanya Seohyun seraya mendudukkan tubuhnya di depan Kyuhyun.

Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan Seohyun. Namja itu hanya menyodorkan kotak yang tadi ia bawa ke arah Seohyun.

“Apa ini?” tanya Seohyun lagi.

“Buka saja.”

Seohyun meraih kotak yang ada di depannya dan meletakkan kotak itu di pangkuannya. Mata bulat-nya melebar ketika ia melihat isi dari kotak tersebut. Sebuah Hanbok cantik berwana putih gading dengan simbol Hati yang berada di bagian kiri baju. Tangan Seohyun terulur mengangkat Hangbok itu ke udara. “Cantik sekali,” pujinya dengan sorot mata kekaguman.

“Kau menyukainya?”

Seohyun menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan anggukan antusias. Mata bulat masih terarah kepada Hanbok yang berada di tangannya. “Milik siapa ini?” tanyanya.

“Eommaku.”

Seohyun berhenti memandangi Hanbok yang sedari tadi ia puji. Arah pandangnya sekarang benar-benar tertuju kepada lawan biacaranya. Di dalam benaknya dipenuhi dengan pertanyaan untuk apa Kyuhyun membawa Hanbok  milik almarhum Eommanya kepadanya. Saat Seohyun akan membuka mulutnya untuk bertanya, Kyuhyun dengan cepat menyelanya.

“Aku ingin kau memakai itu saat pernikahan kita berlangsung.”

Perkataan Kyuhyun dengan sukses mengurungkan niat Seohyun untuk bertanya. Ia tidak menyangka bahwa Kyuhyun akan mau repot-repot untuk menyiapkan Hanbok yang akan dikenakannya untuk pernikahannya yang tinggal menghitung hari.

“Ta−tapi…” Perkataan Seohyun menggantung begitu saja. Wanita itu tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Maka dari itu Seohyun memilih untuk kembali memandang Hanbok yang sekarang berada di pangkuannya.

“Kau tidak mau memakainya?” tanya Kyuhyun yang sontak membuat Seohyun kembali mengangkat kepalanya.

“Bukan. Bukan seperti itu,” bantah Seohyun cepat. “Hanya saja… ini milik Eommamu.”‘

“Memangnya kenapa?”

Seohyun menggigit bibirnya sebelum berkata. “Apa tidak apa-apa?” tanyanya pelan. “Maksudku, ini milik Eommamu, Kyuhyun~ah. Ini pasti sangat berharga. Apa tidak apa-apa jika aku memakainya?”

Kyuhyun tidak langsung menjawab pertanyaan Seohyun. Butuh jeda beberapa detik sebelum pria itu menjawabnya. “Aku yakin Eomma tidak akan keberatan. Lagi pula sebentar lagi kau juga akan menjadi Cho, Seohyun.”

Jawaban Kyuhyun mau tidak mau membuat pipi Seohyun agak menghangat. Wanita itu menundukkan kepalanya untuk melihat Hanbok indah yang berada di pangkuannya karena ingin menyembunyikan warna pipinya yang mungkin sekarang sedikit mengalami perubahan.

“Kau sudah mempersiapkan diri?” tanya Kyuhyun yang membuat Seohyun mengalihkan pandangannya ke arah pria itu.

Mempersiapkan diri?’

Setelah Kyuhyun mengatakan kalau pernikahannya akan diadakan dalam waktu dekat, Seohyun sudah berusaha untuk mempersiapkan dirinya. Mungkin bagi Seohyun, persiapan mental lebih cocok untuk dirinya daripada persiapan fisik. Ia sudah mengkonsultasikan semua beban hatinya pada Sooyoung.

“Sudah, Kyuhyun~ah,” jawab Seohyun.

“Bagus.” Sebuah senyuman yang sangat tipis terpancar dari wajah Kyuhyun. Entah hanya perasaan Seohyun saja, atau wajah pria itu memang terlihat lebih sumringah dari sebelumnya.

Kyuhyun beranjak dari tempat duduknya, pria itu berdiri tepat di depan Seohyun. “Aku pulang sekarang,” ucapnya seraya berjalan menuju pintu.

Seohyun masih terdiam di tempatnya, ia hanya menatap punggung Kyuhyun yang bergerak menjauh darinya. Namun punggung itu berhenti tepat di depan pintu. Secara perlahan Kyuhyun berbalik. “Apa kau punya pilihan sendiri untuk cincin pernikahan kita?”

Seohyun tersentak dari pikirannya sendiri. Bagaimana ia bisa lupa tentang cincin, pikirnya. “Aku belum memikirkannya, Kyuhyun~ah,” ucapnya sedikit takut. Seohyun merasa sangat merepotkan Kyuhyun sekarang. Mulai dari pakaian hingga cincin, ia sama sekali tidak memikirkannya sejak awal. Ia terlalu sibuk untuk menata hatinya ketimbang mempersiapkan acara pernikahan yang menjadi prioritas paling penting.

Kyuhyun tidak langsung menanggapinya, dan itu membuat Seohyun takut. Ia takut kalau Kyuhyun tidak menganggapnya serius dalam mempersiapkan pernikahan mereka. Namun apa yang Seohyun katakan setelahnya, menampik semua pemikirannya.

“Kalau begitu biar aku yang akan memilihkannya.”

Seohyun segera berdiri dari duduknya, wanita itu menghampiri Kyuhyun yang masih berada di depan pintu apartemennya. Raut wajahnya menunjukkan penyesalan yang sangat besar. “Mianhe, Kyuhyun~ah.”

Kedua alis Kyuhyun terpaut mendengar permintaan maaf Seohyun secara tiba-tiba. “Untuk apa?”

“Aku… aku tidak mempersiapkan semuanya secara matang.”

Hening terjadi setelah itu. Baik Kyuhyun maupun Seohyun tidak menunjukkan gelagat ingin berkata sesuatu. Keduanya masih tenggelam dari pemikiran mereka masing-masing.

“Apakah kau ingin membatalkan ini semua?” Pertanyaan Kyuhyun secara telak melebarkan mata bulat Seohyun.

“Tidak, Kyuhyun~ah,” bantah Seohyun dengan cepat. “Sungguh. Aku tidak berniat seperti itu sedikit pun. Percayalah!” Tanpa sadar tangan Seohyun mencengkeram lengan Kyuhyun.

Kali ini Seohyun benar-benar merasa bersalah. Ia sama sekali tidak menyangka jika Kyuhyun berpikir seperti itu. Seohyun sadar sepenuhnya kalau ini memang kesalahannya, namun wanita itu benar-benar tidak menginginkan hal yang ditanyakan Kyuhyun tadi. Ia tidak ingin jika impian hidup yang akan ia gapai sedikit lagi harus kandas karena dirinya sendiri.

“Ya,” jawab Kyuhyun singkat tanpa berusaha melepaskan cengkraman calon isrtinya.

Setelah merasa puas dengan jawaban Kyuhyun, Seohyun dengan perlahan melepaskan cengkramannya. Raut muka wanita itu berubah menjadi lebih tenang sekarang. “Gomawo.”

“Hmm.”

Kyuhyun baru saja akan berbalik lagi, namun sebuah ingatan melintas di kepalanya, dan kembali menahannya untuk pergi saat itu juga. “Aku hampir lupa,” ucapnya seraya mengeluarkan sebuah Dompet miliknya.

Kyuhyun meraih pergelangan tangan Seohyun, dan meletakkan sebuah kartu kredit yang ia keluarkan tadi di tangan Seohyun.

“Gunakan kartu itu untuk membeli semua keperluan yang kau butuhkan dalam acara pernikahan kita,” lanjut Kyuhyun. “Aku pulang.”

Seohyun menganggukkan kepalanya mengiringi kepergian Kyuhyun dari apartemennya.

.

.

.

“Benarkah? Waah, aku jadi ingin sekali melihatnya, Seohyun.”

“Kau akan melihatnya nanti, Sooyoung.”

Jadwal tugas Sooyoung pagi itu sama dengan jadwal tugas Seohyun. Dengan leluasa, Seohyun menceritakan kedatangan Kyuhyun ke apartemennya kemarin malam. Seohyun menceritakan semuanya kepada Sooyoung, mulai dari saat Kyuhyun memberinya Hanbok, sampai ketololannya yang melupakan persiapan penikahannya.

“Ah, kau ini. Dasar pelit!” ucap Sooyoung seraya menyenggol lengan Seohyun.

Seohyun hanya menanggapinya dengan senyum simpul.

“Ya, Seohyun, tidak kah kau menyadari sesuatu dari sikap kyuhyun?”

Kali ini bukanlah senyum simpul yang diberikan Seohyun untuk menanggapi ucapan Sooyoung, melainkan sebuah tatapan sebuah heran dan− “Apa maksudmu, Sooyoung?

“Setelah mendengarkan ceritamu, entah kenapa aku merasa kalau niat Kyuhyun menikahimu benar-benar serius.”

“Lalu?” tanya Seohyun yang masih tidak mengerti arah pembicaraan sahabatnya.

Sooyoung menghembuskan napas jengkel terhadap sahabatnya yang satu ini. “Kau tahu, harusnya jika dahimu selebar itu, kau bisa menjadi seorang yang sangat jenius.”

“Kau ini berniat meledekku atau apa sih?” Kali ini Seohyun yang sedikit jengkel terhadap sahabat Tinggi-nya itu.

“Bukan begitu, Seohyun. Tidak kah kau mengerti arti dari sikap Kyuhyun kepadamu adalah−”

Perkataan Sooyoung terhenti saat pintu ruang kerja Seohyun terbuka.

“Mianhe, Seohyun~shii. Tiffany~shii menyuruh anda ke ruangannya,” ucap seorang perawat yang tiba-tiba muncul itu.

“Ada apa?” tanya Seohyun.

“Tiffany~shii meminta anda menangani pasien yang yang baru saja datang.”

“Hm, baiklah. Gomawo Victoria~ah.”

Setelah perawat itu pergi, Seohyun berbalik ke Sooyoung. “Sooyoung, maukah kau menemaniku berbelanja sepulang kerja nanti?”

Mata Coklat Sooyoung mengkilat secara tiba-tiba. “Belanja? Tentu aku mau, Seohyun. Sepulang kerja, kan?”

Sebelum benar-benar melangkah pergi, Seohyun menjawab pertanyaan Sooyoung. “Iya. Ya ampun, kau ini semangat sekali kalau berhubungan dengan belanja. Aku pergi.”

“Ya. Lakukan tugasmu dengan baik, Seohyun,” ucap Sooyoung riang mengiringi kepergian Seohyun dari ruang kerjanya.

.

.

Sesuai perkataan Seohyun tadi siang, Seohyun mengajak Sooyoung untuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan Seoul petang itu. Berbagai toko, kios, dan kedai pun mereka masuki satu per satu demi mendapatkan apa yang Seohyun butuhkan untuk acara pernikahannya.

“Baik, kau sudah memesan makanan dan minuman. Sekarang yang kau butuhkan adalah camilan,” ucap Sooyoung.

“Camilan, ya? Baik, kita cari sekarang juga, Sooyoung,” sahut Seohyun.

Mereka berdua memasuki sebuah toko roti dengan aksen tradisonal yang sangat kental. Berbagai kue tersedia di sana. Ada Songpyeon, Dasik, yakgwa, dan beragam kue lainnya dengan harga yang berbeda-beda.

“Menurutmu aku harus pilih yang mana, Sooyoung?” Seohyun kebingungan jika harus seperti ini. Semua kue itu memiliki bentuk menarik dan menggoda.

“Pesan saja semuanya.”

Seohyun melempar pandangan tak percaya kepada Sooyoung. “Kau gila! Bisa-bisa Kyuhyun menilai bahwa aku adalah wanita yang boros.”

Seohyun dapat mendengar Sooyoung berceloteh tidak jelas di belakangnya, namun Seohyun lebih memilih untuk tidak menghiraukannya. Percuma, batinnya. Sooyoung akan menjadi sangat ahli ketika ia harus menentukan baju, atau riasan yang cocok− dan jangan lupa akan keahliannya tentang bunga. Namun jika urusan seperti ini, wanita Tinggi itu tidak akan mengerti apa-apa. Dalam hati, Seohyun berpikir lebih baik mengajak Changmin jika harus memilih camilan seperti ini.

Seohyun sudah memilih camilan apa yang menurutnya cocok tanpa mendengar pendapat Sooyoung lagi. Keduanya baru saja keluar dari toko camilan itu ketika tiba-tiba Sooyoung dengan cepat menarik tangan Seohyun dan mengajaknya memasuki sebuah toko pakaian.

“Aku butuh baju hamil,” ucap Sooyoung saat Seohyun hendak mengeluarkan semua protesnya.

Tidak seperti yang Seohyun kira pada awalnya kalau toko pakaian itu hanya berisi pakaian, ternyata toko itu juga menyediakan berbagai perlengkapan wanita. Sooyoung langsung saja melesat ke area yang menyediakan berbagai macam pakaian, sedangkan Seohyun yang tidak terlalu tertarik dengan pakaian, lebih memilih mengamati berbagai macam pernak-pernik. Setelah cukup lama mengamati berbagai macam pernak-pernik tersebut, mata bulatnya mengarah pada sebuah hiasan kepala berwarna putih gading.

Cantik− ujarnya dalam hati dengan sorot mata penuh kekaguman.

“Yak, Seohyun. Lihat ini!”

Suara Sooyoung yang berasal dari belakangnya membuatnya berbalik. Seohyun menautkan alisnya ketika melihat apa yang dibawa Sooyoung. “Kau bilang mau membeli baju hamil.”

“Memang. Aku sudah meletakkan semua barang yang kubeli di kasir.”

“Lalu apa ini?”

“Ini untukmu.”

Kerutan pada alis Seohyun semakin tampak jelas setelah Sooyoung mengatakan kalimat terakhirnya. “Untuk apa aku memakai ini?” tanyanya dengan suara yang sedikit melengking.

Seohyun jelas kaget dengan pakaian yang dibawa Sooyoung. Sejujurnya tak ada yang salah dengan pakaian itu, pakaian itu adalah gaun tidur wanita. Namun yang membuat Seohyun kaget adalah model dari gaun itu. Gaun itu sangat tipis dan memiliki tali punggung yang sangat longgar. Jika dipakai, Seohyun yakin sekali kalau gaun tidur itu akan menampakkan belahan dada wanita yang memakainya.

“Andwe, Sooyoung,” sergah Seohyun.

“Kenapa, Seohyun? Aku yakin ini cocok untukmu.”

“Andwe.”

“Semua lelaki pasti senang jika melihat istrinya memakai ini.”

Hati Seohyun sedikit mencelos saat Sooyoung berkata demikian, ia tahu kalau Sooyoung secara tidak langsung menyemangatinya, tapi entah mengapa ia merasa kalau apa yang dikatakan Sooyoung kemungkinan terjadinya akan sangat kecil. Seohyun memang tidak mau putus asa sebelum ia menjalaninya, namun ia juga tidak mau berharap lebih.

Seohyun menghembuskan napas pelan, ia lalu mengambil gaun tidur itu dari tangan Sooyoung dan meletakkannya di kursi di sebelahnya. “An… dwe,” ucapnya tegas.

Sooyoung mengerucutkan bibirnya. Namun itu hanya sebentar saja ketika matanya menangkap sesuatu yang indah di rak pernak-pernik.

“Seohyun, lihat ini! Cantik sekali.” Sooyoung mengambil hiasan kepala putih yang membuat Seohyun terpana tadi.

“Memang. Aku berencana membelinya.”

“Kau bilang Hanbok pernikahanmu berwarna putih, kan? Ini pasti cocok. Kau akan terlihat sangat cantik nanti,” ucap Sooyoung ceria.

Seohyun tersenyum simpul melihat tingkah sahabatnya, “Ya.”

Gomawo, Sooyoung’

.

.

.

Pernikahan Seohyun yang bisa dihitung beberapa jam lagi, membuatnya harus mengambil cuti pekerjaannya di rumah sakit. Kepala rumah sakit Seoul sekaligus teman seperguruannya−Tiffany− sendiri yang menyuruhnya untuk mengambil cuti. Menurut Tiffany, Seohyun perlu mempersiapkan diri untuk pernikahannya besok.

Tiffany memang sudah mengetahui pernikahan Seohyun dari mulut Seohyun sendiri. Walaupun pada awalnya Tiffany sedikit terkejut karena merasa pernikahan Kyuhyun dan Seohyun sangat mendadak, Tiffany tetap menyambut berita itu dengan baik. Wanita yang sekarang menjadi ibu dari anak-anak berumur lima tahun−Choi Siffany, itu mengatakan akan datang pada hari dimana Seohyun resmi menyandang nama Cho.

Tidak hanya Tiffany yang mendengar berita pernikahan Seohyun dari mulut Seohyun sendiri. Sebagian teman-teman sesama Dokter maupun teman-teman kecil-nya yang dekat dengan dirinya juga ia undang. Seohyun memang tidak mengundang semua orang yang ia kenal. Ia ingat akan perkataan Kyuhyun yang menyuruhnya untuk mengundang beberapa teman dekatnya saja.

Tetapi ada satu hal yang mengganjal hati Seohyun, yaitu gurunya sendiri, Kim Yesung. Setelah pertemuannya yang terakhir dengan sang guru beberapa hari yang lalu, Seohyun tidak memiliki kesempatan lagi untuk bertemu dengan gurunya dan memberitahukan tentang pernikahannya dengan Kyuhyun. Ia merasa sudah menjadi orang yang paling jahat terhadap gurunya sendiri. Bagaimana mungkin seorang pria yang selama beberapa tahun menjadi mentornya tidak mengetahui berita tentang pernikahannya?

Seohyun menghela napas pelan. Saat ini juga ia ingin bertemu dengan gurunya dan memberitahukan semuanya. Dengan semangat, Seohyun segera beranjak dari kursi dimana sedari tadi ia hanya duduk dan memandang langit sore. Setelah berganti pakaian dan memastikan penampilannya sudah rapi, Seohyun bergegas untuk keluar dari apartemennya dan melangkah dengan pasti menuju kediaman sang guru walaupun ia tidak begitu yakin kalau gurunya sedang tidak ada pekerjaan hari ini.

Rambut panjang Seohyun yang sengaja dibiarkannya tergerai, bergerak indah ketika angin sore berhembus pelan menerpa tubuhnya. Ketika ia baru beberapa langkah keluar dari apartemennya, sebuah tangan kekar yang menarik lengannya membuat kakinya berhenti bergerak dan membuatnya menoleh.

“Mau kemana?”

Cho Kyuhyun tengah menghalangi langkahnya.

“Kyuhyun~ah?” Seohyun mengerjapkan matanya.

“Mau kemana?” ulang Kyuhyun datar.

Seohyun kembali mengerjapkan matanya. Ia masih cukup terkejut dengan pertemuannya dengan Kyuhyun. “Ak−aku. Yesung-seosangnim,” ucapnya terbata.

Kyuhyun mengerutkan alisnya karena tidak memahami jawaban Seohyun. Dan Seohyun yang mengerti ketidak pahaman Kyuhyun atas jawabannya, segera membuka mulutnya untuk menjelaskan maksudnya.

“Aku mau ke rumah Yesung-seosangnim, Kyuhyun~ah.”

“Untuk apa?”

Seohyun sedikit heran dengan pertanyaan Kyuhyun. Tidak biasanya Kyuhyun ingin tahu tentang apa yang ia perbuat selama ini. Tapi hal itu bukanlah hal yang ingin ia pikirkan saat ini. Yang ingin Seohyun pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya ia mengatakan tujuannya mendatangi rumah gurunya kepada Kyuhyun.

“Untuk…” Seohyun mengambil napas sebelum melanjutkan perkataannya. “Untuk memberi tahu tentang pernikahan kita,” ucapnya lirih.

Seohyun menundukkan kepalanya sedalam mungkin untuk menghindari tatapan Kyuhyun. Ia merasa takut sekarang. Takut karena berbagai alasan yang tidak dapat ia jelaskan satu per satu.

“Kau belum memberitahunya?” tanya Kyuhyun.

Seohyun menggelengkan kepalanya pelan.

“Kenapa?”

Hal inilah yang paling membuat Seohyun takut. Ia sangat takut kalau Kyuhyun menganggapnya main-main dengan pernikahan mereka, karena tidak memberitahukan berita pernikahannya kepada orang yang paling berjasa dalam kehidupan mereka.

“Aku… belum sempat,” jawab Seohyun lebih lirih dari jawabannya yang pertama.

Hening terjadi setelah Seohyun menjawab pertanyaan Kyuhyun. Seohyun masih dalam posisi menunduknya dan tidak mengatakan satu patah kata pun terhadap lawan bicaranya.

“Aku ikut.”

Perkataan Kyuhyun sontak membuat Seohyun mengadahkan kepalanya untuk kembali menatap Kyuhyun yang lebih tinggi darinya.

“Kajja,” ucap Kyuhyun lagi seraya mulai melangkahkan kakinya.

Seohyun bergegas mengikuti apa yang Kyuhyun lakukan. Hatinya sedikit lega karena ia mendapat teman saat ia harus menjelaskan semuanya kepada gurunya nanti.

.

Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri jalanan sore Seoul yang tidak terlalu ramai pada sore hari itu. Berkali-kali mata Seohyun menangkap beberapa pasangan kekasih maupun suami istri yang tengah melintas di depannya bergandengan tangan dengan mesra. Sedikit rasa iri menghampiri benaknya. Sejujurnya ia juga ingin menggandeng mesra lengan Kyuhyun seperti layaknya pasangan-pasangan yang lain.

Tapi…

Seohyun meracau tidak jelas dalam hatinya. Ia ingin mengenyahkan pikiran yang membuat dadanya sesak itu dengan terus berjalan tanpa memandang kanan kirinya lagi.

“Setelah pulang dari rumah Yesung-seosangnim, kita langsung ke toko perhiasan,” kata Kyuhyun membuka pembicaraan.

“Untuk apa?” tanya Seohyun seraya menolehkan kepalanya.

“Mengambil pesanan cincin pernikahan kita.”

Mata bulat Seohyun melebar karena girang. “Benarkah? Apa sudah jadi?”

“Hmm.”

“Aku yakin cincin pernikahan kita pasti sangat indah,” ucap Seohyun seraya menghembuskan napasnya ke udara. Wanita itu kembali menatap jalan yang ada di depannya. Matanya menunjukkan sekali kalau ia sangat gembira. Namun ia tidak menyadari jika pemilik sepasang mata Tajam yang berjalan di sampingnya tengah menatapnya dengan pandangan yang berbeda dari biasanya.

.

Kyuhyun dan Seohyun sampai di kediaman gurunya beberapa menit kemudian. Setelah Seohyun mengetuk pintu beberapa kali, terlihat sosok wanita dengan iris mata hitam dan rambut hitam tebal yang indah tengah membuka pintu untuk mereka.

Annyeong, Yuri-seosangnim,” sapa Seohyun.

“Seohyun. Kyuhyun,” ucap Yuri seraya menatap Seohyun dan Kyuhyun bergantian. “Tumben sekali kalian datang.”

Seohyun tersenyum simpul sebelum mengutarakan niat kedatangannya. “Apa Yesung-seosangnim ada di rumah ?”

“Ya. Dia baru saja datang dari kantor.” Yuri membuka pintu rumahnya lebih lebar lagi untuk menyambut tamunya. “Masuklah. Dia ada di ruang tengah dengan anak-anak.”

Kyuhyun dan Seohyun mengekor di belakang Yuri yang berjalan menuju ruang tengah dari rumah itu. Tepat di ruang tengah itu, terlihat Yesung sedang duduk di sofa sembari menulis sesuatu. Di sana juga terlihat dua anak berbeda kelamin itu sedang bergurau bersama di lantai rumah itu.

“Yeobo~ya, ada Seohyun dan Kyuhyun datang,” ucap Yuri yang membuat yesung menghentikan kegiatannya dan mendongakkan kepalanya.

“Waaah, kalian datang bersama rupanya. Ini sebuah kejutan.”

Seohyun hanya tersenyum menanggapi perkataan gurunya. Namun di dalam hatinya, ia juga merasa sedikit takut.

“Silahkan duduk,” ucap Yesung. Mata pria dengan rambut berwarna perak itu terarah kepada Kyuhyun yang duduk di sebelah Seohyun. “Ada apa, Kyuhyun? Apa Kibum masih rewel akhir-akhir ini ?”

“Tidak. Dia sudah menurut sekarang,” jawab Kyuhyun datar.

“Hm, baguslah. Kukira sudah tidak ada keluhan untuk hal itu.” Kali ini mata Yesung beralih kepada Seohyun. “Lalu ada perlu apa kalian kesini? Atau kalian kesini karena hanya ingin mengunjungiku?” tambah Yesung seraya terkekeh pelan.

Seohyun merasa lidahnya kelu untuk berbicara. Ia melirik Kyuhyun yang ada di sebelahnya, berharap dapat membantunya mengutarakan tujuannya kesini. Namun pria itu lebih memilih memandang ke arah dua anak gurunya yang sekarang sedang dibujuk Eomma mereka untuk pergi dari ruangan itu, seakan hal itu adalah pemandangan yang sangat menarik baginya saat ini.

Seohyun mengambil napas sebelum berkata. “Kami kesini−.”

“Besok kami akan menikah,” potong Kyuhyun cepat.

Seohyun terdiam, kepalanya reflek menoleh Kyuhyun yang duduk disebelahnya. Sedangkan Yesung masih terlihat tidak bisa menangkap perkataan Kyuhyun dengan baik. Pria itu menatap Kyuhyun dan Seohyun secara bergantian berkali-kali.

“Kami berharap kau bisa datang, seosangnim,” tambah Kyuhyun.

Kali ini Yesung terlihat lebih paham atas perkataan salah satu muridnya. Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, namun matanya terarah kepada wanita dengan rambut coklat ikal yang juga adalah salah satu muridnya. Seohyun tak kuasa untuk menatap balik mata gurunya, dan ia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya.

“Jadi, besok ya?” gumam Yesung pelan, seakan pria itu tengah berbicara kepada dirinya sendiri. “Ya, aku akan datang. Lagipula Seohyun juga butuh pendamping pria, bukan?”

Seohyun kembali mengangkat kepalanya untuk memandang sang guru. Mata bulatnya mencoba menangkap apa saja yang pria itu pikirkan saat ini. Memang benar Yesung bersedia datang pada pernikahannya, namun pria itu tidak tersenyum sedikit pun seperti yang selalu dilakukannya ketika mendengar kabar bahagia.

Yesung-seosangnim, mianhe. Kau pasti sangat kecewa padaku…

“Kalau begitu kami pamit, seosangnim.”

Yesung menganggukkan kepalanya sekilas menanggapi ucapan Kyuhyun. “Ya.”

kyuhyun dan Seohyun baru saja berdiri dari duduknya ketika Yuri datang menghampiri mereka seraya menggendong anak bungsunya. “Kalian mau pulang?”

“Ya, seosangnim. Kami pamit,” ucap Kyuhyun datar.

“Kalian tidak ingin tinggal sebentar lagi untuk makan malam?”

“Tidak, seosangnim. Gomawo, kami masih ada urusan.”

Sedikit kekecawaan terpancar di wajah cantik Yuri mendengar penolakan halus dari Kyuhyun. “Baiklah kalau begitu.”

kyuhyun menganggukkan kepalanya singkat kepada Yuri sebelum pergi dari ruangan itu. Dibelakangnya, Seohyun juga melakukan hal yang sama. Namun sebelum benar-benar melenggang pergi, matanya menatap sekilas Yesung yang juga tengah menatapnya tanpa arti.

“Yeobo~ya, besok mereka akan menikah,” ucap Yesung setelah Kyuhyun dan Seohyun benar-benar pergi dari rumahnya.

“Benarkah?” tanya Yuri sedikit tidak percaya dengan perkataan suaminya. “Selama ini aku memang mengetahui kalau Seohyun menyukai Kyuhyun, tapi aku tidak pernah mengetahui kalau mereka sudah menjalin hubungan khusus.”

Yesung menghela napas pelan. “Aku juga.”

.

Selama perjalanan menuju toko perhiasaan yang disebutkan Kyuhyun tadi, Seohyun hanya diam saja seraya terus melangkahkan kakinya. Pikirannya dipenuhi tentang gurunya. Ia takut. Sangat takut jika Yesung benar-benar kecewa padanya. Berkali-kali Seohyun menghela napas pelan, berharap hal itu dapat sedikit mengurangi sesuatu yang menyesakkan dadanya saat ini.

Seohyun masih dalam perasaan bersalahnya ketika ia dan Kyuhyun tengah memasuki toko perhiasaan di salah satu sudut Seoul. Berbagai emas, perak, berlian maupun mutiara yang memancarkan keindahannya, masih tidak dapat mengobati rasa bersalahnya. Hingga Kyuhyun menunjukkan sepasang cincin berlian dengan aksen yang sama, namun dengan ukuran yang berbeda padanya.

“Apakah ini?” tanya Seohyun saat Kyuhyun menunjukkan sepasang cincin tersebut. Mata bulat itu berkilat takjub.

“Ya.”

Cincin itu memiliki banyak ukiran kecil. Tepat di cincin yang lebih kecil, terdapat batu Krystal yang indah yang tersemat juga di bagian luarnya.

“Calon suami anda memang pandai menentukan cincin, nona,” ucap pelayan toko perhiasan tersebut dengan memamerkan senyum tulusnya.

Seohyun hanya menatap pemilik toko itu sesaat, sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah Kyuhyun. Namun pria itu tidak balik menatapnya, dan memilih untuk mengamati berbagai perhiasan yang di pajang dalam toko itu. Mata tajam tak menampakkan emosi sedikit pun, tetap datar seperti biasanya. Dan itu membuat benak Seohyun semakin bertanya-tanya.

“Kamsahamnida telah berbelanja di toko kami. Semoga pernikahan kalian akan bahagia selamanya.”

Bahagia? Aku selalu berharap seperti itu…

Ne, Kyuhyun~ah? Apa yang sebenarnya kau pikirkan tentang pernikahan kita? Tentang perusahaan-mu? Dan juga… tentang diriku?

.

.

.

Hari itu pun tiba. Hari dimana Seohyun harus merubah nama Lee menjadi seorang Cho. Hatinya diliputi dengan kegugupan yang luar biasa dan jantungnya terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Dengan langkah pelan, Seohyun sampai di kediaman Kyuhyun pagi-pagi sebelum matahari menampakkan siluetnya di langit pagi. Segalanya sudah tertata rapi. Semua makanan dan minuman yang ia pesan beberapa hari sebelumnya, sampai dekorasi pesta di bagian halaman distrik Cho yang sederhana namun sangat indah.

Inilah selama yang ini diimpikan Seohyun. Sebuah kesedarhanaan, namun membawa banyak kebahagiaan. Namun…

Apa Kyuhyun~ah juga bahagia?

“Hei, Seohyun.” Suara yang sangat Seohyun kenali membuatnya tersadar dalam lamunannya. Sooyoung ada di sana, dengan senyum cerianya dan berdiri di ambang pintu ruangan tempat ia mempersiapkan diri untuk pernikahannya.

“Sooyoung.” Seohyun senang sekali melihat kehadiran Sooyoung untuk dirinya saat ini. “Gomawo sudah datang.”

“Ya, aku kan sudah berjanji akan membantumu.”

Seohyun hanya tersenyum.

“Sekarang cepat ganti baju, setelah itu kau akan kubuat menjadi sangat sangat sangat cantik hari ini.”

Seohyun menuruti perkataan Sooyoung, ia segera mengambil Hangbok pemberian Kyuhyun, dan memakainya. Hangbok itu terpasang dengan anggun di tubuhnya, menjuntai dengan indah sampai mata kakinya, dan sedikit mengekspos lekukan indah tubuh Seohyun karena memang Hangbok itu sangat pas di tubuh Seohyun.

“Waaah,” desah Sooyoung takjub melihat Seohyun yang baru saja keluar dari kamar mandi di ruangan itu.

“Bagaimana?” tanya Seohyun ragu dengan memutar pelan tubuhnya.

“Indah sekali, Seohyun.”

“Benarkah?”

“Ya.” Sooyoung menganggukan kepalanya dengan semangat.

“I-itu indah sekali, Seohyun.”

Seohyun menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara. Terlihat Krystal sedang berdiri di depan pintu, dengan memakai gaun bermotif bunga mawar indah di setiap bagian kainnya. Ia terlihat jauh lebih anggun dibandingkan penampilan sehari-harinya.

“Krystal,” seru Seohyun senang melihat calon istri sahabatnya itu juga datang untuknya.

Krystal hanya tersenyum seraya mendekati Seohyun dan Sooyoung. “Minho~ah, memberitahuku bahwa hari ini adalah pernikahan Seohyun. J-jadi aku ikut dia kesini.”

“Minho datang?”

Kali ini Sooyoung yang menjawab pertanyaan Seohyun. “Tentu saja, Seohyun. Mana mungkin dia melewatkan pernikahan antara kedua sahabatnya?”

Benar juga’

Senyum Seohyun melebar. Benar juga yang dikatakan Sooyoung. Sahabat-sahabatnya akan selalu ada untuknya. Sahabat-sahabatnya akan selalu membantunya. Tanpa sadar, air mata haru mengambang di mata bulat Seohyun.

“Gomawo, semuanya,” ucap Seohyun lirih.

Sooyoung memeluk Seohyun pelan. “Ya, kita adalah teman, bukan?”

“Ya, kita adalah teman,” sahut Seohyun.

Krystal pun turut tersenyum melihat dua sahabat yang kini tengah berpelukan itu.

“Sudah sudah. Sekarang kau harus cantik dulu, Seohyun,” ucap Sooyoung seraya melepaskan pelukannya. “Benar kan, Krystal?”

“I-iya.”

Sooyoung segera menarik tangan Seohyun, dan mendudukkannya di meja rias. Dibelakangnya, Krystal menyiapkan segala keperluan untuk menata rambut Seohyun. Dengan cekatan, Sooyoung memoleskan bedak tipis di wajah Seohyun. Wanita tinggi itu juga memoleskan pewarna bibir dengan warna yang alami di bibir tipis Seohyun. Krystal juga turut merias Seohyun dengan menata rambut panjang Seohyun. Calon istri Presdir itu hanya menyanggul rendah rambut Seohyun dan menyematkan hiasan kepala putih gading yang Seohyun beli beberapa hari yang lalu. Tak lupa juga Krystal menyisakan anak rambut di sekitar wajah Seohyun, sehingga Seohyun tampak lebih cantik dengan helaian rambut yang membingkai wajahnya.

Sebuah ketukan yang terdengar diruangan itu, membuat ketiga wanita yang di dalamnya menolehkan kepalanya. “Maaf, nona-nona. Apa mempelai wanitanya sudah siap?”

“Minho~ah,” sahut Krystal.

Sooyoung segera bergerak untuk membukakan pintu untuk Minho.

“Apa Seohyun~ya sudah siap?” tanya Minho lagi.

“Ya, dia sudah siap.”

“Mana? Mana?” Minho sedikit berjinjit untuk mengintip apa yang ada di dalam ruangan tersebut. “Aku ingin melihatnya, Sooyoung.”

Seohyun yang mendengar perkataan Minho, segera berdiri untuk menghampiri sahabatnya yang berdiri di depan pintu. “Ada apa, Minho?”

Mata hitam pekat milik Minho melebar setelah melihat penampilan Seohyun. “Seohyun~ya, kau terlihat beda sekali.”

Seohyun tersenyum mendengar komentar Minho.

“Kyuhyun pasti senang melihatmu seperti ini,” tambah Minho

.

Senyum yang tadi terpancar di bibir Seohyun dengan perlahan tapi pasti sedikit memudar.

Benarkah Kyuhyun~ah akan senang?

“Ya Ya, kenapa kau tiba-tiba murung, Seohyun~ya? Harusnya kau bahagia sekarang.”

“Ah, benar. Maaf, Minho.”

“Kau tahu, Seohyun~ya? Sejak aku tahu kau akan menikah dengan Kyuhyun, aku sangat senang mendengarnya. Walapun aku cukup terkejut dengan berita ini di awal Kyuhyun memberitahuku. Tapi percayalah, aku sangat bahagia dengan pernikahan kalian. Aku berharap kalian akan bahagia.”

Seohyun hanya bisa memandang Minho yang tengah memamerkan senyum sumringahnya. Ia tidak tahu harus berkata apa, sampai ia lebih mendekati Minho dan memeluk sahabatnya itu erat.

“Gomawo,Minho.”

Minho membalas pelukan Seohyun, pria itu juga mengusap punggung Seohyun dengan lembut seolah ingin memberikan semangat untuk sahabatnya. “Ya,” ucap Minho. “Hei, aku kesini untuk menjemputmu karena acaranya akan segera dimulai. Ayo cepat!” tambahnya seraya melepaskan pelukannya terhadap Seohyun.

Seohyun melangkahkan kakinya disamping Sooyoung, di belakangnya, Minho dan Krystal juga berjalan beriringan. Sesekali terdengar cekikan dari sepasang kekasih itu di belakang Seohyun dan Sooyoung.

“Apa sih yang mereka bicarakan?” bisik Sooyoung tepat di telinga Seohyun.

Seohyun hanya terdiam, seakan tidak mendengar perkataan Sooyoung. Wanita itu terus saja berjalan, namun raut mukanya yang menunjukkan keanehan membuat Sooyoung ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya.

“Kau kenapa, Seohyun?” Kali ini, Sooyoung bertanya seraya memegang bahu Seohyun.

Seohyun seperti tersentak ketika merasa tangan Sooyoung berada di pundaknya, ia pun seketika mengentikan langkahnya. “Apa? Kau berkata sesuatu, Sooyoung?”

“Kau kenapa sih?”

“Kau kenapa, Seohyun~ya?” Kali ini Minho yang bertanya. Rupanya sang Presdir dan calon istrinya itu juga berhenti saat Seohyun menghentikan langkahnya.

“Aku tidak apa-apa, teman-teman. Sungguh.” Seohyun mencoba meyakinkan teman-temannya yang mulai panik. “Aku hanya… gugup.”

“Gugup itu hal yang wajar, Seohyun. Asalkan jangan sampai gugup itu mengendalikanmu,” ucap Sooyoung

Seohyun mengambil napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. “Baik, Sooyoung. Aku siap.”

Detik berikutnya Seohyun melangkahkan kakinya sendirian menuju arah pria berambut perak yang sudah menunggunya di depan. Sedangkan Sooyoung, Minho serta Krystal sudah lebih dulu melenggang pergi menuju ke halaman distrik Cho.

Ketakutan menghinggapi hati Seohyun saat langkahnya akan mencapai gurunya. Ia masih belum bisa melupakan kejadian kemarin saat ia dan Kyuhyun mengunjungi rumah gurunya.

Seosangnim?” panggil Seohyun ragu.

Yesung membalikkan badannya, lalu menatap Seohyun dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan seksama. “Seohyun? Kau terlihat berbeda.”

Seohyun merasa lebih lega sekarang. Saat ini, gurunya masih belum menunjukkan apa yang paling ditakutkan Seohyun darinya. Namun, lubuk hatinya menyuruhnya untuk menjelaskan semuanya sekarang. Menjelaskan tentang mengapa ia tidak memberi tahu gurunya tentang pernikahannya. Menjelaskan tentang mengapa gurunya menjadi orang terakhir yang mengetahui tentang pernikahannya.

Seosangnim, maafkan aku.” Kali ini Seohyun berkata seraya menundukkan kepalanya. Suaranya terdengar lirih.

“Kenapa tiba-tiba meminta maaf, Seohyun?”

“Aku…” Seohyun menggigit bibirnya sebelum melanjutkan perkataannya. “Aku tidak memberitahumu tentang hari ini kepadamu saat kita bertemu.”

Yesung diam, dan Seohyun pun juga turut diam. Seohyun merasa saat ini gurunya benar-benar kecewa padanya. Hanya suara deru angin yang menerpa mereka pelan, serta suara dengungan para undangan yang ada di halaman yang terdengar ditelinga Seohyun saat ini. Gurunya benar-benar terdiam.

Seosangnim…

“Untuk apa aku marah?”

Seohyun mengangkat kepalanya, memandang gurunya.

“Harusnya saat ini aku bahagia, Seohyun. Saat ini kau akan menikah, dan itu berarti aku akan melihat salah satu mu− Tidak. Dua muridku akan menempuh kebahagiaan selanjutnya di masa datang,” ucap Yesung seraya tersenyum. “Saat ini aku bahagia, Seohyun. Aku tidak punya alasan untuk marah, kan?”

“Tapi−”

“Lupakan kejadian itu. Kau tidak salah sama sekali, dan aku benar-benar tidak marah ataupun kecewa padamu. Sedikit pun,” sela Yesung.

Air mata mengambang di mata bulat Seohyun. Ia benar-benar bersyukur karena memiliki teman maupun mentor yang selalu mendukung dan memberikan semangat untuknya. Hatinya merasa kuat sekarang karena orang-orang terdekatnya akan selalu ada untuknya.

“Hei, kenapa menangis?” Yesung menyeka air mata Seohyun yang sudah terlanjur jatuh di pipinya. “Nanti riasan di wajahmu hilang, Seohyun.”

G−gomawo, seosangnim.

Yesung mengusap kepala Seohyun lembut, lalu mendekapnya ke dalam pelukannya. “Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya akan melihatmu bersanding di pelaminan seperti saat ini, Seohyun. Dan ketika aku mengalaminya sekarang, aku jadi merindukanmu ketika kau masihlah seorang bocah perempuan. Aku juga merasa semakin tua saja sekarang.” Yesung terkekeh pelan. “Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Kebahagiaan kalian semua…”

Gomawo, seosangnim…

Yesung melepaskan pelukannya dari Seohyun, dan sebagai gantinya, pria itu menawarkan lengannya. “Nah, sekarang ayo kita menyusul Kyuhyun. Dia sudah ada di Gereja untuk menunggumu.”

Seohyun meraih lengan Yesung dan berjalan di samping gurunya menuju ke gereja yang terletak di halaman distrik Cho. Semua mata menatap Seohyun dan Yesung saat mereka berjalan beriringan menuju gereja. Suara dengungan manusia yang tadi terdengar, sekarang sirna dan digantikan oleh keheningan. Seohyun merasa semakin gugup sekarang, tangannya yang menggandeng lengan Yesung terasa dingin. Ia pun berjalan dengan sedikit menundukkan kepalanya.

“Kau gugup ya?” tanya Yesung pelan.

Seohyun hanya menganggukkan kepalanya pelan.

Yesung tersenyum sebelum berbicara. “Kalau begitu jangan lihat mereka. Lihat saja Kyuhyun yang berdiri di depan sana.”

Seohyun mengarahkan pandangannya yang sedari tadi menatap bawah, menuju ke depan gereja sesuai perkataan gurunya. Jantungnya semakin berdetak kencang sekarang. Ia semakin gugup saat melihat sosok yang tengah berdiri di sana. Sosok yang tengah menatapnya dengan pandangan yang tak bisa Seohyun artikan.

Kyuhyun berdiri di sana. Dengan mengenakan setelan Texudo yang berwarna hitam. Sungguh, Cho Kyuhyun terlihat sangat gagah sekarang. Rambut halusnya yang berwarna senada dengan sang istri terlihat sedikit bergoyang saat angin bertiup sepoi-sepoi di sana. Semakin dekat langkah Seohyun dengan Kyuhyun, semakin kencang pula jantung Seohyun berdetak.

Kyuhyun menawarkan tangannya saat Seohyun benar-benar berada di depannya. Dengan sedikit ragu, Seohyun melepaskan lengan Yesung, dan meraih tangan Seohyun yang terulur padanya. Kyuhyun menempatkan jemarinya di sela jemari Seohyun, dan menggenggam tangan Seohyun dengan mantap. Tanpa banyak membuang-buang waktu lagi, Kyuhyun menuntun Seohyun untuk berjalan. Mereka berjalan beriringan menuju pendeta yang sendari tadi berdiri di altar.

Setelah mereka benar-benar berada altar, seorang pendeta datang mendekati mereka dan mensucikan mereka. Tak lama setelah itu, pendeta itu mulai membacakan ikrar pada keduanya

Tiba saatnya sekarang untuk Kyuhyun mengucapkan janji pernikahnnya dengan Seohyun. Pria itu mengucap janji pernikahan dengan sangat lancar dan mantap. Di setiap kata maupun kalimat yang ia ucapkan, pria itu terlihat serius. Seohyun dapat melihat kerutan samar di kedua alisnya tercipta saat ia mengucapkan janji pernikahan dari awal sampai akhir.

Kyuhyun~ah…

Berbagai perasaan berkecamuk di hati Seohyun. Mendengar Kyuhyun mengucap janji pernikahan dengan begitu mantap, membuat Seohyun sejenak berpikir pria itu benar-benar serius menikahinya, dan hal itu juga membuat hati Seohyun bahagia saat itu juga. Namun sebuah kilasan memori membuatnya tersadar dan merasa kebahagiaan yang menghampirinya tadi sirna seketika.

Aku hanya ingin membangun perusahaan-ku. Hanya itu.”

‘Kyuhyun~ah… Aku tidak tahu harus bahagia atau bersedih sekarang…’

“Selamat, kalian berdua sekarang adalah pasangan suami istri,” ucap pendeta yang langsung disambut dengan tepuk tangan riuh para undangan.

Seohyun seperti terbangun dari lamunannya saat mendengar suara riuh undangan yang ada di belakangnya. Terutama Minho, Seohyun dapat mendengar sahabatnya itu adalah salah satu dari yang penyumbang suara terbesar dalam keriuhan suara itu.

“Cho Kyuhyun, sekarang anda boleh memasangkan cincin pernikahan kepada istri anda.”

Perkataan pendeta itu dengan segera dilaksanakan oleh Kyuhyun. Kyuhyun meraih pergelangan tangan Seohyun, dan mulai memasukkan cincin pernikahan dengan hai-hati di jari manis Seohyun.

“HEI, KYUHYUN! SETELAH INI CIUM ISTIMU!”

Seohyun membelalakkan matanya mendengar teriakan itu. Secara reflek ia pun menolehkan kepalanya, dan melihat sang pemiliki teriakan tiu sedang memamerkan cengiran khas-nya

.

“Cho Seohyun, sekarang giliran anda yang memasangkan cincin pernikahan kepada suami anda.” Perkataan pendeta itu membuat Seohyun mengalihkan perhatiannya dari Minho menuju Kyuhyun yang saat ini tengah menatap matanya lansung.

Seohyun sedikit gemetar saat mengambil cincin pernikahan milik Kyuhyun dari salah seorang asisten pendeta yang menikahkannya. Dengan gugup, Seohyun meraih tangan Kyuhyun, dan mulai memasangkan cincin pernikahan mereka. Namun sebelum benar-benar memasangkan cincin itu dengan sempurna, Seohyun mendongakkan kepalanya untuk menatap Kyuhyun.

Pria itu juga tengah menatapnya. Sebuah tatapan yang Seohyun sendiri tidak bisa mengartikannya. Mata sekelam malamnya tidak menunjukkan emosi apapun. Tetap tenang seperti biasa, dan… tetap dingin seperti biasanya.

Seohyun menarik napas singkat, sebelum kembali meneruskan memasang cincin di jari Kyuhyun. Tepukan riuh undangan kembali terdengar di halaman itu. Namun yang membuat suara riuhan itu berbeda dari yang pertama adalah, suara Minho yang lagi-lagi berteriak menyuruh Kyuhyun untuk menciumnya.

“AYO, KYUHYUN! SEKARANG CIUM ISTRIMU!”

Kyuhyun hanya mendengus kecil mendengar teriakan sahabatnya itu. Pria itu lebih memilih untuk memandang arah lain daripada memandang sahabatnya yang sekarang tengah berteriak-teriak seperti orang gila.

“HEI, KYUHYUN! AYO CEPAT LAKUKAN! KAMI MENUNGGUMU, LHO!

Kali ini adalah teriakan dari Changmin. Dan teriakan itu langsung disambut dengan riuhan para undangan yang lain yang mengungkapkan bahwa mereka setuju dengan teriakan Changmin.

Bibir Seohyun sedikit terbuka melihat itu semua. Saat ini, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena cukup terkejut.

“LAKUKAN KYUHYUN! ATAU KAU HANYA INGIN MELANJUTKANNYA BERDUA NANTI MALAM?”

MINHO BABO!– umpat Seohyun di dalam hati.

Sebuah gerakan yang tidak Seohyun duga dari Kyuhyun membuatnya cukup terkejut. Kyuhyun menyelipkan lengannya ke punggung Seohyun, dan menarik tubuh Seohyun untuk lebih mendekatinya. Sebelah tangannya yang berada di pipi Seohyun, sedikit menarik wajah Seohyun mendekat ke wajahnya.

Seohyun menahan napas saat ia melihat wajah Kyuhyun secara perlahan mendekatinya. Ia juga dapat merasakan napas hangat suaminya yang berhembus pelan menerpa wajahnya ketika posisi Kyuhyun semakin dekat dengannya.

Seohyun memejamkan matanya sebelum Kyuhyun benar-benar menciumnya. Ia gugup karena ini adalah kali pertama Kyuhyun menciumnya. Namun sejujurnya, Seohyun merasa sangat bahagia. Ciuman pertamanya akan ia berikan kepada suaminya. Orang yang sangat dicintainya…− Hingga Seohyun sadar apa yang terjadi telah membekukan hatinya.

A−apa?’

Suaminya memang menciumnya, namun bukan di bibirnya. Suaminya memang menciumnya, namun hal itu tidak membuatnya bahagia. Karena suaminya hanya mencium pipinya.

“AAH, KYUHYUN! KAU PAYAH!”

“KENAPA DI PIPI, KYUHYUN?”

“KAU HANYA INGIN MENYIMPAN SEMUANYA UNTUK NANTI MALAM, YA?”

Semua teriakan itu sama sekali tidak Seohyun hiraukan. Matanya hanya menatap Kyuhyun yang kini tengah menatap para undangan yang tengah berteriak-teriak.

Kyuhyun~ah… Kau… A−apa tidak ada sedikit pun rasa cintamu untukku?

Seohyun merasakan ujung tenggorokannya sakit. Ia tak mampu bicara apa pun, dan ia ingin menangis saat itu juga. Air matanya sungguh sangat mendesaknya untuk mengeluarkannya.

Tidak, Seohyun. Jangan menangis! Jangan!

Tangan Kyuhyun kembali menggandeng tangan Seohyun dan menuntunnya untuk menuruni anak tangga.

Hentikan, Seohyun! Hentikan! Berhenti! Jangan keluar! Aku mohon.

Seohyun setengah mati menahan air matanya agar tidak menggenangi matanya. Sesedih apa pun ia saat ini, ia tidak boleh menampakkannya kepada siapa pun. Hari ini harusnya menjadi hari yang sangat bahagia untuknya.

“Ahh, Kyuhyun. Kau payah!” ucap Minho saat Kyuhyun dan Seohyun berjalan bersama menuju halaman.

“Diamlah, Minho!”

“Hehehehe.” Minho terkekeh pelan sebelum memeluk Kyuhyun. “Tapi aku turut bahagia atas pernikahan kalian, kawan.”

“Hmm Gomawo.”

Cukup. Seohyun tidak dapat membendung air matanya lagi. Ia menolehkan kepalanya ke semua arah untuk mencari jalan keluar dari sana. Ia tidak ingin Kyuhyun melihat air mata yang sudah mulai menggenag di matanya. Sekilas Seohyun melihat Sooyoung yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri seraya tersenyum penuh arti kepadanya. Di belakangnya, Changmin juga melakukan hal yang sama.

Seohyun segera menghampiri Sooyoung dengan sedikit berlari. Air matanya gagal ia bendung saat ia belum mencapai tubuh Sooyoung. Sooyoung lebih memberikan senyuman tulusnya ketika ia melihat air mata Seohyun. Karena Sooyoung berpikir Seohyun menangis karena bahagia.

“Sooyoung,” ucap Seohyuna parau saat ia datang dan langsung memeluk sahabatnya.

Sooyoung pun membalas pelukan Seohyun, dan mengusap punggungnya pelan. “Ya, aku tahu. Aku turut bahagia, Seohyun.”

Sooyoung tidak pernah tahu kalau tangisan Seohyun bukanlah untuk kebahagiaan Seohyun sendiri karena hati Seohyun yang terlanjur hancur di hari pernikahannya. Yang Sooyoung tahu adalah, bahwa Seohyun menangis karena mulai sekarang sahabatnya itu menjadi Nyonya Cho. Dan mulai sekarang pula, sahabatnya akan hidup dengan orang yang sangat berarti bagi sahabatnya.

.

.

.

[TBC]

270 Tanggapan to “LOVE ME [ CHAPTER 3 ]”

  1. Sakina A F Oktober 19, 2016 pada 11:17 am #

    si kyu~ greget deh gue…. itu si seo ampek nangis pas di acara yg seharusnya bikin dia bahagia…. si kyu mah…. awas aja yaa…. author keren deh nih ff yg sulit di tebak… si kyu dingin banget….

  2. kyuniewiress18 Agustus 10, 2016 pada 1:21 pm #

    Greget sama kyuhyun, napa kok cium pipi siihh.. Eh Minho, kocak banget deh.. Haha ngakak bacanya

  3. bya2518 April 24, 2016 pada 12:30 am #

    Huaa nyesek jd seohyun,ga paham sm pola pikirnya kyuhyun~_~,pen liat selanjutnya ah..

  4. Fanny A Januari 1, 2016 pada 2:38 pm #

    Langsung kebayang muka kyu yg dinginnya kaya es batu, sabar ya eonnie😥

  5. asrielf rahmawati Desember 31, 2015 pada 2:37 am #

    kalo jadi seohyun mungkin aku bakal ngamuk ke kyuhyun.ini bner bner nyesek

  6. MyminSarisna Desember 23, 2015 pada 12:12 am #

    kyuhyun nya sedingin ice tpi pantes sma wajahnya :v tpi berharap kyu nya lebih bnyak berinteraksi__-

  7. HildAce Desember 15, 2015 pada 1:01 am #

    Iihhhh, kyuhyun benar-benar manusia es….
    Rasanya pengen taboook kepalanya….

  8. gaemgyu_13 Desember 2, 2015 pada 4:53 pm #

    Penasaran sama kelanjutannya
    Kenapa cuma di pipi? /getet sama kyuhyun

  9. Amelia November 27, 2015 pada 2:04 am #

    Payah bgt kyuhyun oppa :p ciee akhirnya mereka bersama😀

  10. sulistiowati_06 Oktober 30, 2015 pada 10:25 pm #

    sebenernya kyuhyun itu beneran cinta apa ga sih sama seohyun. kasian seohyun kalo cintanya ke kyuhyun bertepuk sebelah tangan

  11. iraseokyu Oktober 11, 2015 pada 6:10 am #

    Satu kata *SESAK*
    Aigooo ffnya feelnya dapet banget eonni, kasian seonni pasti hatinya sakit banget krn kyuppa kayak gitu…. Eonni ortu seonni kmna yahh ???
    Eonni izin lanjut baca part selanjutnya yahh, gomawo

  12. ain Oktober 7, 2015 pada 7:42 am #

    😥 rasanya begitu sesak…bgian akhirnya keren….meskipun mbtku menangis…kyuhyun oppa? ..

    kasihan seohyun eonni pasti dia bner bner kecewa dan juga sedih..pokoknya aku suka sekali ff ini.g tau lg hrus koment apa..buat author daebak🙂 senang sedih campur aduk..yg sabar y eonni

  13. jessiejee September 10, 2015 pada 10:26 am #

    Marga seohyun ceritanya disini lee ya ? Ortunya seohyun kemans ? Aku lanjut baca yaaa

  14. Suzy Seokyu Agustus 9, 2015 pada 12:59 pm #

    Yaelah kyu dingin kayak es -,-
    semangat seo🙂
    keyen dan buat penasaran :3
    di sini jga ada tiga couple papolit saya *ndakNanya*
    SeoKyu+Yeyul+Minstal ({})

  15. lindaputri Agustus 3, 2015 pada 4:46 pm #

    ya ampun kasian banget seohyun, kyuhyun bener2 ga kebaca perasaannya masa sedikit pun ga ada rasa suka ke.seohyun sie??

  16. angela agatha Juli 8, 2015 pada 11:38 am #

    Oh my gosh!!! Makin kesini makin asik ceritanya…rada nyesek sih jadi seohyun

  17. kyumaelf Juni 28, 2015 pada 7:37 am #

    ada wanita lain?

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: