LOVE ME [ CHAPTER 5 ]

29 Nov

love me

Judul/Title : Love Me 

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr ]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it

Length : 1 of …………….

Genre : Romance, Sad, Family.

Author Notes (A/N) : Annyeong wiresdeul *bow* aku bawa ff lanjutan Love Me lagi nih

Bisa juga kalian temukan beribu-ribu(lebay) Typos yang merajalela di sepanjang ff

Udah deh cekidot sajaaa…..jangan lupa comment ya eheheh Gomawo thanKyu :*

 

PLEASE DON’T BE A PLAGIATOR! 

 

Seohyun selalu berharap suaminya menikahinya karena memang mencintainya. Bukan hanya untuk mengembalikan Perusahaan-nya.

.

.

LOVE ME

CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3 | CHAPTER 4

.

.

“Seohyun~ya!” seru Minho saat melihat Seohyun berjalan bersama Perawat di lorong rumah sakit. Pria itu berlari menghampiri Seohyun dengan segera. “Syukurlah kau sudah datang. Cepat tangani Yonghwa sekarang!”

Minho langsung saja menarik lengan Seohyun dan menuntunnya menuju salah satu ruang perawatan tanpa memberi kesempatan pada wanita itu untuk bertanya sedikit pun. Dengan kasar, Minho membuka pintu ruang perawatan itu sehingga membuat seseorang yang tengah duduk di ranjang menoleh.

Minho menghampiri Yonghwa yang sedang duduk seraya masih terus menggandeng lengan Seohyun. “Yonghwa~ah, aku sudah membawa Seohyun~ya kesini. Kau pasti akan tertolong.”

Seohyun merasa sedikit kikuk saat Minho tidak secara langsung memujinya di depan Yonghwa, dan yang membuatnya lebih kikuk lagi adalah tatapan Yonghwa yang mengarah tepat ke arahnya. “Yonghwa~ah,” sapa Seohyun.

Yonghwa hanya menanggapi sapaan Seohyun dengan anggukan pelan yang menandakan bahwa pria itu merespon sapaannya. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah sejak Minho dan Seohyun memasuki ruang perawatan itu. Tidak menunjukkan kesakitan sedikit pun.

Yonghwa adalah salah satu korban perampokan yang baru saja terjadi pada rombongan ujian medis

 

“Boleh saya tahu letak luka anda, Yonghwa~shii?” ucap Seohyun seraya mengambil langkah untuk mendekati Yonghwa.

Yonghwa tidak langsung menjawab pertanyaan Seohyun, pria itu malah membuka dua kancing teratas pada jubahnya. “Di sini,” ucapnya tenang seraya menyentuh sayatan yang melintang di dada sebelah kanannya.

Melihat letak luka Yonghwa, mau tidak mau membuat Seohyun sedikit tercengang.

“Minho~ah” Suara yang terdengar dari pintu ruangan tersebut membuat ketiga orang yang ada di dalamnya menoleh secara bersamaan.

“Ya,” sahut Minho singkat kepada sekertarisnya tersebut. Mata Hitam Minho segera beralih kembali ke arah dua orang yang ada di depannya. “Yonghwa~ah, Seohyun~ya, aku harus pergi karena masih ada urusan.”

Seohyun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Minho.

Minho pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, namun sebelum tangannya mencapai daun pintu, ia membalikkan tubuhnya. “Yonghwa~ah, cepat sembuh, ya.”

“Ne.”

“Seohyun~ya, aku serahkan Yonghwa kepadamu, rawat Teman ku itu dengan baik ya.” ucap Minho seraya menutup pintu ruangan tersebut.

Seohyun menghela napas pelan seraya menyunggingkan senyum kecil. Minho memang selalu perhatian terhadap semua temannya, termasuk orang yang ada di depan Seohyun kali ini.

Seohyun hampir saja melupakan tujuan utamannya kesini. Ia pun mulai mengangkat kedua telapak tangannya dan meletakkan di atas dada Yonghwa.

“Lukaku tidak terlalu parah. Lebih baik kau mengobati yang lain saja dulu,” ucap Yonghwa di sela kegiatan Seohyun

memeriksa lukanya.

Seohyun tersenyum mendegar ucapan Yonghwa. “Luka yang tidak parah, akan menjadi parah jika tidak langsung diobati, Yonghwa~shii.”

Setelah memeriksa luka Yonghwa, Seohyun segera menyiapkan persiapan untuk mengeluarkan racun yang ada di itu. Yonghwa benar, lukanya memang tidak parah. Dan racun yang ada dalam tubuhnya pun bukanlah racun mematikan yang bisa membuat korbannya sekarat begitu saja, hanya membuat kelumpuhan pada bagian tubuh yang terkena aliran racun tersebut.

“Apa semua rombongan anda terluka, Yonghwa~shii?” ucap Seohyun seraya mulai mengeluarkan racun dari tubuh Yonghwa.

“Ne.”

“Lawan yang sulit?”

“Tidak juga. Mereka hanya unggul dalam hal jumlah.”

Seohyun berhasil mengeluarkan semua racun di tubuh Yonghwa. Perkiraannya memang tepat. Jumlah racun yang ada dalam tubuh Yonghwa tidaklah banyak, dan mungkin ini juga alasan mengapa Yonghwa masih terlihat sehat.

“Mianhe, Yonghwa~shii. Bisakah anda membuka pakaian anda sebentar?”

Permintaan Seohyun dengan cepat membuat Yonghwa sedikit terperangah. Pria itu terus saja menatap Seohyun yang berdiri di depannya hingga Seohyun membuka mulutnya untuk menjelaskan arti permintaannya.

“Saya akan melilitkan perban di tubuh anda.”

Yonghwa dengan segera membuka kancing jubahnya yang tersisa setelah mendengar perkataan Seohyun.

“Biar saya bantu,” ucap Seohyun saat melihat sekilas ekspresi kesakitan di wajah Yonghwa saat pria itu hendak melepas pakaiannya.

Seohyun membantu melepaskan pakaian luar Yonghwa dengan hati-hati. Ia juga membantu untuk melepaskan kaus dalaman jaring-jaring yang di pakai Yonghwa. Setelah semua pakaian atas Yonghwa terlepas, Seohyun mulai melilitkan perban di tubuh Yonghwa.

Harus Seohyun akui, melilitkan perban di tubuh orang muda ini sedikit membuatnya kikuk. Bentuk tubuh Yonghwa yang kekar mau tidak mau harus membuatnya menahan napas saat kulitnya secara tidak sengaja bersinggungan dengan kulit Yonghwa. Ia tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi, padahal sebelumnya ia tidak pernah seperti ini jika harus melilitkan perban di tubuh pasien prianya yang lain.

Sial!

“Setelah ini saya akan membuat penawar racun untuk anda, Yonghwa~shii. Mohon tunggu sebentar,” ucap Seohyun seraya mulai mengakhiri kegiatannya melilitkan perban.

“Ne.”

Seohyun pergi meninggalkan Yonghwa sendiri di ruang perawatan itu dan menuju laboratorium untuk membuat penawar racun. Saat ia baru saja akan mencapai daun pintu laboratorium, pintu itu terbuka dan menampakkan sosok Sooyoung yang baru saja akan keluar dari laboratorium seraya membawa beberapa tabung yang berisi cairan.

“Sooyoung.”

Sooyoung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Seohyun yang mendekatinya. “Seohyun~ah. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Tiffany menyuruhku datang,” ucap Seohyun seraya mendekati Sooyoung. “Apa itu penawar racun untuk rombongan ujian medis?”

“Ne. Tiffany menyuruhmu datang untuk membantu kami?”

Seohyun mengangguk.

“Siapa yang kau obati?”

“Yonghwa.”

Sooyoung menganggukkan kepalanya paham. Wanita itu segera memberikan salah satu tabung yang ia bawa tadi untuk Seohyun. “Kau periksa dulu penawar ini. Siapa tahu racun Yonghwa berbeda dari racun rombongan yang lain.”

“Baik,” ucap Seohyun seraya menerima tabung dari Sooyoung.

Seohyun segera masuk ke laboratorium untuk memeriksa penawar racun yang tadi diberikan Sooyoung. Setelah melakukan pemeriksaan beberapa tahap, akhirnya Seohyun keluar dari laboratorium itu. Penawar racun yang diberikan oleh Sooyoung padanya, ternyata cocok untuk racun yang masih ada pada tubuh Yonghwa

.

Yonghwa masih saja dalam posisi duduknya ketika Seohyun kembali ke ruang perawatan. Pria itu hanya menatap Seohyun tanpa berkata apapun hingga Seohyun berdiri tepat di depannya. Seohyun tidak langsung memberikan tabung yang ia bawa, melainkan menuangnya dulu ke wadah yang berbentuk mangkuk.

“Minum ini, Yonghwa~shii.” Seohyun menyodorkan wadah yang ia bawa tepat ke depan Yonghwa.

“Apa ini penawarnya?”

“Ne. Racun anda memang sudah saya keluarkan, tapi tidak semua. Karena sebagian racun yang menyerang anda sudah ada yang ikut mengalir ke pembuluh darah anda.”

Yonghwa menerima wadah yang Seohyun bawa tanpa menanyakan lagi. Pria itu juga menandaskan cairan itu dalam sekali teguk.

“Setelah ini anda bisa mengistirahatkan tubuh anda, Yonghwa~shii,” ucap Seohyun seraya menerima wadah yang sudah kosong dari Yonghwa, dan meletakkan sepotong seragam pasien rumah sakit di sebelah Yonghwa.

Melihat Yonghwa yang sedikit kesulitan untuk memakai seragam rumah sakit yang baru saja ia berikan, Seohyun segera bergerak untuk membantunya. Seohyun membantu Yonghwa untuk mengenakan seragam pasien dan mengancingkannya satu per satu dari bawah ke atas. Wanita itu juga membantu Yonghwa untuk membaringkan tubuhnya.

“Tubuh anda akan membaik setelah anda beristirahat.” Seohyun menarikkan selimut sampai setinggi dada Yonghwa. “Saya pergi dulu Yonghwa~shii Jika anda memerlukan sesuatu, anda bisa langsung memanggil para perawat disini.”

“Ne.”

Setelah membereskan semua peralatan yang ia gunakan untuk merawat Yonghwa, Seohyun mengambil langkah untuk meinggalkan tempat itu. Namun baru saja ia akan melangkah, Yonghwa memanggil namanya dan membuatnya kembali membalikkan badannya.

“Seohyun?”

“Ne, Yonghwa~shii?”

Gomawo.”

Yonghwa mengucapkan ungkapan terimakasihnya dengan lembut, dan Seohyun mengetahui itu dari tatapan mata coklat-nya yang juga mengisyaratkan kelembutan yang sama.

Seohyun juga tak berusaha menyunggingkan senyum tulusnya untuk Yonghwa yang tengah menatapnya saat ini. “Cheonma.”

Dengan sebuah senyuman yang masih tergambar jelas di wajahnya, Seohyun keluar dari ruang perawatan itu dan meninggalkan Yonghwa untuk beristirahat. Dan ia tidak tahu pasti alasan apa yang membuatnya terus tersenyum seperti ini.

.

.

Matahari sudah tidak menunjukkan sinarnya lagi saat Seohyun bangun petang itu. Dengan tergesa-gesa, ia membersihkan diri dan langsung turun untuk melesat ke dapur. Ia ingat bahwa ia belum memasakkan makanan untuk suaminya dari tadi siang karena ia langsung beranjak tidur begitu ia baru pulang dari pekerjaannya di rumah sakit. Sebenarnya sudah seharian ini ia tidak memasakkan makanan apa pun untuk suaminya. Panggilan tugas mendadak dari rumah sakit tengah malam tadi mau tidak mau membuatnya sejenak mangkir dari tugasnya sebagai seorang istri.

Seohyun mendengar langkah kaki yang mendekat saat ia tengah menggoreng lauk terakhir untuk makan malam. Tanpa melihatnya pun, Seohyun sudah mengetahui bahwa itu adalah langkah kaki suaminya.

“Kau sudah bangun?”

Setelah mematikan kompor, Seohyun segera berbalik untuk menyambut suaminya. Senyum manis terpancar di wajah wanita itu. “Ne. Kau baru datang darimana?”

“Menemui Minho,” jawab Kyuhyun singkat seraya mendudukkan diri di salah satu sisi meja makan.

Seohyun menganggukkan kepalanya paham, ia kembali membalikkan badannya untuk menyiapkan makanan yang baru saja ia masak. Setelah selesai, ia menatanya di atas meja makan.

“Kau sudah makan?” tanya Seohyun seraya mulai menyiapkan makanan untuk suaminya.

Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya.

Seohyun tersenyum mendapati jawaban suaminya. Ini berarti, dia tidak sia-sia memasakkan makan malam untuk suaminya.

“Kalau kau masih lelah, kau tak perlu memasak makan malam.”

Senyuman kembali terpancar di raut wajah Seohyun. “Ini sudah tugasku, Kyuhyun~ah. Lagi pula tidur dari tadi siang sudah tidak membuatku lelah.”

Kyuhyun menerima mangkuk terakhir yang diberikan Seohyun tanpa banyak berbicara lagi. Pria itu juga langsung menyantap makanannya tanpa mengucap salam makan seperti apa yang ia lakukan sebelumnya ketika makan bersama istrinya. Jelas sekali terlihat kalau pria itu sedang kelaparan.

Senyum manis yang tadi terpancar di wajah Seohyun, dengan perlahan berubah menjadi senyum sedih. Ia merasa ia masih bukan seorang istri yang baik bagi suaminya. Lain kali ia akan menyempatkan diri untuk memasakkan makanan untuk suaminya. Walau selelah apa pun tubuhnya, karena ini adalah kewajibannya, pikirnya.

Kyuhyun dan Seohyun menikmati makan malam mereka dengan ketenangan. Mungkin kata keheningan lebih cocok untuk menggambarkan suasana makan malam pasangan suami istri tersebut. Kyuhyun yang memang tidak banyak bicara, memilih untuk memakan makanannya tanpa mengucap kata sedikit pun. Sedangkan Seohyun yang tidak ingin mengganggu kegiatan makan malam suaminya karena merasa kasihan, hanya bisa menatapnya dengan sesekali tersenyum kecil.

Setelah makan malam usai, Seohyun melihat Kyuhyun langsung beranjak dari duduknya. Ia berpikir, mungkin suaminya kelelahan dan ingin cepat tidur. Namun apa yang dilihatnya seusai mencuci piring menampik itu semua. Suaminya tengah duduk di lantai kayu di beranda rumah dengan kedua kaki yang menjuntai ke bawah. Mata hitamnya tengah menatap ke arah langit yang menampakkan taburan bintang di atas sana.

Dengan sedikit ragu, Seohyun berjalan mendekati suaminya, dan duduk tepat di sebelahnya. Udara malam yang dingin langsung menerpa tubuhnya ketika ia baru saja akan membuka mulutnya untuk berbicara.

“Di sini dingin, kau bisa sakit,” ucap Kyuhyun datar tanpa menunjukkan emosi apa pun di wajahnya.

“Gwenchana.” Seohyun merapatkan Piama-nya sebelum kembali menatap suaminya. Senyuman tulus terpancar di wajahnya ketika ia hendak melanjutkan perkataannya “Aku ingin menemanimu di sini, Kyuhyun~ah.”

Kyuhyun terdiam menanggapi perkataan Seohyun. Pria itu hanya memandangnya sebentar tanpa arti, sebelum berpaling ke arah lain yang tidak bisa Seohyun lihat. Gelombang rasa yang sangat menyesakkan secara tiba-tiba menyerang benak Seohyun ketika melihat suaminya lebih memilih untuk tidak menanggapinya.

Seohyun menghela napas pelan sebelum menundukkan kepalanya. Ia tahu ini tidak mudah, dan ia menyadari sepenuhnya sebelum ia menikah. Namun ia tidak menyangka jika perasaan diabaikan itu akan terasa sangat menyesakkan seperti ini. Ia mencoba untuk berpikir positif. Mungkin suaminya ingin sendirian saja, pikirnya.

Merasa kehadirannya tidak terlalu diinginkan oleh sang suami, Seohyun pun berniat untuk beranjak dari tempat itu. “Kyuhyun~ah, aku−”

“Besok aku ada Rapat.” Kyuhyun dengan cepat memotong perkataan Seohyun sehingga membuat wanita itu mengurungkan niatnya semula.

Ucapan Kyuhyun membuat Seohyun  terdiam sejenak. Bibirnya mengulang perkataan suaminya dengan sedikit bergetar. “R−rapat? Rapat apa?”

“Aku mendapat tugas mengurus perusahaan di jepang.” jawab Kyuhyun tanpa perlu repot-repot memandang istrinya.

“Ta−tapi…” Perkataan Seohyun menggantung begitu saja di bibirnya. Ia ingin mengatakan apa yang ia rasakan, namun perasaan hampa yang luar biasa besar menyapu relung hatinya, membuatnya kesulitan untuk berucap.

Tapi aku masih sangat merindukanmu, Kyuhyun~ah. Sangat.

Untuk beberapa saat, Seohyun hanya membisu. Ia tidak tahu harus bicara apa sekarang. Segalanya terasa sangat sulit untuk diucapkan. Dengan menghela napas, ia pun memalingkan wajahnya. Hatinya terasa beku sekarang. Bagaimana mungkin suaminya kembali meninggalkannya sendirian untuk menjalankan perusahaannya, sedangkan suaminya baru saja datang dari Mokpo kemarin sore? Pertemuannya dengan Kyuhyun sebagai pasangan suami istri hanya bisa dihitung beberapa jam. Bahkan makan bersama pun hanya bisa Seohyun rasakan sebanyak tiga kali. Tapi mengapa suaminya masih saja menerima bisnis yang diembankan kepadanya? Apa tidak ada sedikit pun rasa ingin untuk bersama dengannya lebih lama yang terlintas di otak suaminya?

Sial!

Seohyun merasakan matanya mulai memanas. Ia buru-buru menghapus sedikit air mata yang mulai menggenang di kedua matanya. Ia sadar bahwa mengharap suaminya berada di sisinya lebih lama adalah suatu kemustahilan yang besar. Suaminya tidak akan pernah memiliki keinginan untuk lebih lama berada di dekatnya. Tidak sedikit pun.

“Tapi pernikahan Minho akan dilaksanakan lusa,” ucap Seohyun selanjutnya. Tak ada yang bisa ucapkan kecuali ini. Ia merasa diam hanya akan memperburuk suasana hatinya, dan ia pun memilih untuk tidak menyampaikan apa yang sebenarnya ia rasakan.

“Aku tahu.”

Hanya dua kata itu yang terucap dari bibir Kyuhyun. Pria itu mengatupkan rahangnya dan tidak menunjukkan gelagat ingin menyampaikan hal yang lain lagi pada Seohyun. Dengan masih terus memandangi suaminya, Seohyun mencoba untuk menggali dan membaca apa yang dipikirkan suaminya sekarang, walaupun ia tahu bahwa hal itu adalah sia-sia.

“Lalu?” tanya Seohyun lebih mencari tahu lagi tentang pemikiran suaminya.

“Aku tidak akan datang jika pekerjaan ku belum usai.”

“Apakah pekerjaan ini terlalu berharga untukmu?”

Seohyun tahu kalimat terakhir yang diucapkannya sedikit lancang untuk diucapkan. Ia juga tahu bahwa ia bertanya dengan intonasi yang berbeda dari biasanya−sedikit ketus. Namun ia tidak peduli dengan itu semua. Hatinya terasa sedikit panas setelah mendengar jawaban enteng dari suaminya mengenai kehadirannya di pernikahan sahabatnya.

Kyuhyun hanya memandangi Seohyun tanpa berbicara sedikit pun. Mungkin pria itu juga merasakan nada bicara istrinya berbeda dari nada bicara sebelum-sebelumnya. Tanpa mengatakan hal apa pun, ia kembali memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain.

Cukup. Seohyun merasa ia harus menyudahi ini semua sekarang. Jika dibiarkan terlalu larut, hal ini mungkin dapat memicu hal lain yang sama sekali tidak Seohyun inginkan. “Mianhe. Aku pergi dulu,” ucapnya seraya beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan suaminya yang masih tetap terdiam.

Seohyun segera menaiki tangga dan melesat masuk ke kamarnya. Ia menghempaskan dirinya di sofa seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. Tak lama setelah itu, isakan tangis yang pelan teredam di sana. Seohyun merasa bahwa ia terlalu pengecut sekarang, terlalu pengecut untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap suaminya.

Seohyun sadar, benar-benar sadar bahwa ia tidak menangisi perlakuan dingin dari suaminya. Suaminya memang mempunyai pribadi seperti itu, dan ia mulai sedikit terbiasa akan hal itu. Hal menyakitkan yang membuatnya harus menitikkan air mata adalah ketidak siapannya jika suaminya kembali meninggalkannya. Ia tidak siap karena ia merasa ia akan kembali merindukan suaminya. Dan segala ketidak siapan itu lah yang membuat batinnya terasa sesak.

Dengan menghela napas yang terasa sedikit susah, Seohyun menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa, dan mulai mengatur napasnya untuk kembali normal. Wanita itu juga menyapu jejak air mata yang tertinggal di pipinya. Pandangannya sekarang terarah ke langit, dimana bintang yang ia saksikan sekilas bersama Kyuhyun tadi berada. Jika beberapa waktu yang lalu Seohyun ingin cepat bangun dan beranjak dari tidurnya untuk membuat makan malam, kali ini yang ia inginkan adalah kembali tertidur secepatnya. Ia benar-benar mengakhiri hari ini secepat yang ia bisa.

.

.

Seohyun berjalan di lorong rumah sakit seraya membawa beberapa lembar kertas yang berada di lengannya. Langkah kakiknya membawanya menuju salah satu ruang perawatan yang ada di lorong tersebut. Setelah benar-benar sampai di depan salah satu ruang perawatan, ia mengetuk pintu ruangan itu untuk sebanyak tiga kali.

“Masuk.” Suara baritone yang berada di dalam ruangan itu menyahut.

Annyeong, Yonghwa~shii,” sapa Seohyun seraya membuka pintu ruangan tersebut.

Annyeong.”

Yonghwa ada di sana, berdiri di depan jendela

kaca yang tirainya telah disingkapkan. Sinar matahari pagi yang menyinarinya membuat wajahnya terlihat lebih cerah dari biasanya.

“Bagaimana kabar anda hari ini?”

“Lebih baik dari semalam,” jawab Yonghwa seraya melangkahkan kakinya menuju ranjang, dan mendudukkan dirinya di sana. Mata hitam-nya memperhatikan wanita yang sekarang menata beberapa kertas di salah satu meja besar di ruangan itu.

Seohyun membalikkan badannya dan menghadap Yonghwa yang kini juga tengah memperhatikannya. Senyuman terpancar di wajah wanita itu. “Baguslah kalau begitu,” ucapnya seraya mendekat ke Yonghwa.

Tanpa diperintah pun, Yonghwa sudah paham alasan Seohyun datang menemuinya pagi-pagi. Pria itu pun membuka kancing seragam pasiennya satu per satu, dan melepasnya. Tak ada sedikit pun ekspresi kesakitan yang terpancar di wajah Yonghwa seperti kemarin malam, dan ini membuat Seohyun tersenyum senang.

“Sepertinya memang sudah membaik.” Seohyun meletakkan telapak tangannya tepat di mana luka Yonghwa yang tertutup perban berada, wanita itu juga sedikit menekan-nekannnya. “Apa tidak terasa sakit sedikit pun?”

Yonghwa tidak langsung menjawab pertanyaan Seohyun. Pria itu memalingkan wajahnya ke arah lain seraya menghembuskan napasnya yang terdengar berat.

Seohyun menautkan alisnya melihat reaksi Yonghwa. “Apa masih terasa sakit, Yonghwa~shii?”

“Tidak,” sahut Yonghwa singkat.

Seohyun meraih lembaran kertas yang tadi ia letakkan di meja. Dengan cekatan, wanita itu mengisi satu per satu kertas dengan tulisannya. “Anda sudah sembuh, Yonghwa~shii,” ucapnya disela kegiatan menulisnya.

Seohyun menyelesaikan kegiatannya, Seohyun memandang Yonghwa. Senyuman terpancar di wajah wanita itu. “Luka anda juga sudah hampir menutup, jadi tidak akan ada masalah jika anda ingin mandi.”

“Ne,” ucap Yonghwa seraya mengenakan kembali pakaiannya.

“Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu, Yonghwa~shii.”

Seohyun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut begitu melihat Yonghwa menganggukkan kepalanya sekilas. Ketika ia berada di depan pintu ruangan dan telah menutup pintu tersebut, ia mendengar seseorang memanggil namanya di seberang lorong.

“Sooyoung,” sahut Seohyun begitu melihat orang yang memanggil namanya adalah sahabatnya. “Apa jadwalmu hari ini pagi?”

“Ne,” jawab Sooyoung seraya mendekati Seohyun. Kepalanya menoleh ke pintu ruangan dimana Seohyun baru saja keluar dari sana. “Yonghwa?”

Seohyun menganggukkan kepalanya. Wanita itu mulai melangkahkan kakinya dan diikuti oleh Sooyoung yang berjalan di sebelahnya.

“Bagaimana keadaan Yonghwa?” tanya Sooyooung di sela langkah mereka.

“Sudah membaik. Dia sudah bisa keluar dari rumah sakit hari ini.”

“Benarkah? Penyembuhannya cepat sekali.”

“Racun yang menyerangnya tidak terlalu banyak, sehingga kondisinya cepat membaik.”

Dua orang perawat yang kebetulan berpapasan dengan Sooyoung dan Seohyun menyapa dua wanita itu dengan sopan.

“Lalu bagaimana dengan rombongan ujian medis yang lain?” tanya Seohyun ketika mereka baru saja berbelok menuju lorong lain yang ada di rumah sakit tersebut.

“Mereka memang sudah membaik, tapi mereka masih membutuhkan istirahat yang cukup. Tubuh mereka masih lemah.” Sooyoung membuka pintu ruangan di mana tempat kerjanya dan Seohyun berada. “Mungkin hal itu terjadi karena jumlah racun yang berada di dalam tubuh mereka lebih banyak dari Yonghwa.”

Seohyun menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya. Wanita itu segera menata kembali berkas-berkas yang ia bawa.

“Tapi untunglah Yonghwa bisa cepat sembuh, dengan begitu ia bisa menghadiri pernikahan Minho besok,” ucap Sooyoung seraya mendudukkan dirinya di atas meja kerja Seohyun. “Kau dan Kyuhyun tentu akan datang, kan?”

Seketika itu pula Seohyun menghentikan kegiatannya, kerutan serius yang ada di dahinya juga seketika lenyap. Pandangannya terlihat kosong sekarang. “Aku… aku tidak tahu,” ucapnya lirih.

Sooyoung mengernyit mendengar jawaban Seohyun. “Maksudmu? Kalian tidak akan datang, begitu?”

Seohyun segera membantah sahabatnya. “Bukan, Sooyoung. Bukan seperti itu.”

“Lalu?”

“Kyuhyun sedang ada Pekerjaan di Jepang,” jawab Seohyun seraya menyandarkan punggungnya pada kursinya. “Dan aku tidak tahu kapan ia akan pulang.”

“Kau tidak menanyakannya?”

Seohyun tidak menjawab pertanyaan Sooyoung. Wanita itu memilih untuk diam dan memijit-mijit pelan pangkal hidungnya.

Sooyoung juga terdiam untuk beberapa saat, sebelum melanjutkan pertanyaannya. “Kalian ada masalah?”

Masalah?

Seohyun menghela napas pelan. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya dan suaminya. Semalam ia dan Kyuhyun memang mengalami ketegangan sedikit. Ia pergi begitu saja meninggalkan Kyuhyun menuju kamar dan tidak menoleh sedikit pun ke arah suaminya. Ia juga sengaja ingin tidur di sofa kamar agar tidak satu ranjang dengan suaminya, dan juga agar ia tidak terlalu merasa berat hati jika suaminya kembali meninggalkannya untuk Pekerjaan.

Namun segala yang terjadi pagi tadi membuat Seohyun sadar akan satu hal. Ia sadar bahwa ia seharusnya lebih memanfaatkan waktu yang tersisa dengan suaminya, dan bukan malah memicu ketegangan yang sama sekali tidak ia inginkan. Ia juga seharusnya lebih mengerti posisi suaminya sekarang sebagai Presdir. Sudah sewajarnya jika suaminya harus menjalankan perusahaan yang di berikan Appanya tersebut.

Segalanya penyesalan Seohyun terjadi ketika ia menemukan dirinya terbangun di atas ranjang tempat ia dan Kyuhyun tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya setinggi dadanya. Padahal ia sama sekali tidak mengingat kapan ia naik ke atas ranjang, apalagi memakai selimut, dan orang yang menjadi pusat perkiraan Seohyun adalah suaminya. Suaminya yang telah memindahkan, dan menyelimuti tubuhnya ketika ia tidur.

“Tidak ada,” jawab Seohyun setelah beberapa saat terdiam.

“Kau yakin?” tanya Sooyoung sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan Seohyun.

Seohyun menganggukkan kepalanya ragu. “Aku hanya belum bisa memahaminya lebih jauh, Sooyoung.”

Kali ini giliran Sooyoung yang menganggukkan kepalanya paham. “Semua memang butuh proses, Seohyun.”

Seohyun tahu kalau segalanya memang membutuhkan proses. Tapi jika proses itu berlangsung sangat lama, Seohyun tidak yakin ia masih akan sanggup atau tidak.

“Ne.”

.

.

.

Seohyun berjalan dengan tergesa-gesa di lorong-lorong Namsan malam itu. Gaun-nya yang menjuntai panjang sampai telapak kakinya sedikit menghambat pergerakannya. Ditambah lagi dengan riasan wajah serta tataan rambut yang sederhana, mau tidak mau membuatnya harus lebih berhati-hati lagi saat berjalan. Dalam hatinya, ia sedikit mengutuk penampilannya sendiri. Jika bukan karena permintaan Krystal yang menyuruhnya untuk menjadi pengiring pengantin wanita, ia tidak akan repot-repot untuk berpakaian serta berdandan seperti ini.

Dalam perjalanan menuju pesta pernikahan Minho dan Krystal yang diadakan di Namsan Tower, Seohyun selalu berharap jika ia tidak akan datang terlambat pada pesta pernikahan sahabatnya malam ini. Ia sudah tidak menghadiri upacara pernikahan mereka berdua tadi siang, dan ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika kali ini ia datang terlambat.

” Seohyun.”

Seohyun segera menolehkan kepalanya ke segala arah untuk mencari sumber suara yang baru saja memanggilnya ketika ia baru saja sampai si depan Namsa Tower. Mata bulatnya menangkap seorang wanita berambut coklat yang disanggul rendah. Penampilannya terlihat berbeda sekali di mata Seohyun malam ini. “Taeyeon.”

“Syukurlah kau sudah datang,” ucap Taeyeon seraya menghampiri Seohyun

.

“Apa aku terlambat?”

“Tidak, acaranya baru saja akan segera dimulai.” Taeyeon menarik lengan Seohyun dan mengajak wanita itu untuk berjalan mengikutinya. “Kenapa tadi siang aku tidak melihatmu?”

“Aku harus mengoperasi empat orang sejak tadi pagi. Dan baru selesai petang ini.”

“Waaah, banyak sekali orang yang harus kau operasi. Kau pasti sangat lelah.”

Seohyun hanya tersenyum simpul.”Orang sakit tidak bisa menunggu, Taeyeon”

“Kau benar.”

Taeyeon dan Seohyun kini tengah berjalan memasuki sebuah gedung yang sangat besar di salah satu sisi Namsan Tower. Gedung itu juga sedikit berbeda dengan bangunan-bangunan lain yang ada di sana yang rata-rata memiliki aksen tradisional. Gedung itu terlihat sedikit modern dengan pilar-pilar beton yang menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran yang sangat cantik. Lampu-lampu kristal yang menggantung di setiap sisi langit-langit, serta beberapa hiasan ruangan yang indah, membuat gedung itu terlihat semakin cantik. Sangat kontras dengan beberapa bangunan yang mengitarinya yang hanya terbuat dari kayu jati sebagai dinding.

“Ke sini, Seohyun,” ucap Taeyeon seraya berjalan menuju bagian paling belakang dari gedung tersebut.

“Mana Krystal?”

“Sebentar lagi pasti akan datang.”

Seohyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan tersebut. Mata bulatnya menjelajahi setiap wajah para tamu undangan yang sudah hadir di sana. “Banyak sekali yang datang,” desahnya takjub melihat banyaknya undangan yang hadir di sana.

“Ini masih tidak ada apa-apanya, Seohyun. Jika kau melihat upacara pernikahannya tadi siang, kau akan ternganga dengan jumlah orang yang menyaksikan Minho dan Krystal menikah. Hampir semua keluarga mereka berkumpul untuk melihatnya.”

“Tamu yang datang kali ini adalah tamu dengan undangan resmi, jadi tidak semua dapat hadir jika tak memiliki undangan datang malam ini seperti tadi siang” sambung Taeyeon panjang.

Senyuman yang tadi tergambar di wajah Seohyun, kini bertambah lebar lagi setelah mendengar penjelasan Taeyeon. “Sepertinya upacara pernikahan mereka tadi siang sangat seru.”

Taeyeon menganggukkan kepalanya. “Bahkan setelah upacara pernikahan selesai pun, Minho dan Krystal diiring keluarga ke semua penjuru Seoul . Dan kau tahu apa reaksi dari para penduduk yang menyaksikan sepasang suami istri tersebut? Senang  mereka semua berubah menjadi liar karena mereka semua ingin menjabat tangan Minho dan Krystal. Mereka bahkan seperti selebriti baru.”

Seohyun terkekeh geli mendengar semua cerita Taeyeon. “Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kusutnya wajah Minho karena lelah menerima jabatan tangan semua penduduk Seoul .”

Taeyeon pun ikut terkekeh bersama Seohyun.

Tepat setelah itu, mata coklat milik Taeyeon menangkap dua sosok wanita yang kini tengah berjalan masuk dari pintu belakang gedung tersebut. “Krystal.”

Seohyun segera mengalihkan pandangannya menuju ke arah yang Taeyeon lihat. “Krystal, kau cantik sekali.”

Krystal hanya tersenyum mendengar pujian Seohyun.

Krystal terlihat begitu cantik dengan Gaun berwarna merah muda yang ia kenakan. Gaun itu memiliki sisi belakang yang panjang, sehingga mau tidak mau harus ada minimal satu orang untuk membantu Krystal berjalan agar tidak mudah terpeleset kain Gaun-nya sendiri. Rambut gelap Krystal kali ini dibiarkan tergerai indah di punggungnya. Hanya bagian depan rambutnya saja yang diikat kebelakang, dan menyisakan poni-nya seperti biasa. Sedangkan riasan tipis di wajah Krystal, membuat wanita itu terlihat lebih mempesona dari biasanya.

“Yak Yak, harusnya kalian juga memuji hasil karyaku,” ucap Sooyoung yang dengan sukses membuat tatapan Taeyeon dan Seohyun beralih dari Krystal.

“Ya ya, Sooyoung. Kau memang hebat.” Seohyun berjalan mendekati Sooyoung dan memeluk sahabatnya itu sekilas. “Kau sangat hebat.”

“Kau ahlinya, Sooyoung,” sahut Taeyeon.

Kali ini  tersenyum malu mendengar perkataan dua temannya. Rona merah juga menghiasi pipi putihnya. “Kalian berlebihan.”

“Tidak, Sooyoung. Kau memang sangat berbakat.” Kali ini giliran Krystal yang memuji Sooyoung. Senyuman tulus terpancar diwajahnya. “Aku tidak akan bisa seperti ini tanpa bantuanmu. Gomawo.”

“Itulah gunanya teman, Krystal,” ucap Sooyoung seraya meremas pelan tangan Krystal

.

Dan keempat wanita itu pun tersenyum bersama.

“Maaf, nyonya-nyonya. Acaranya akan dimulai sebentar lagi,” ucap salah seorang pengatur pesta secara tiba-tiba.

“Baiklah, aku pergi menghampiri Changmin dulu, ya?” Sooyoung baru saja akan mengambil langkah ketiganya, sebelum ia membalikkan badannya lagi. “Oh, Seohyun, aku hampir lupa. Tadi siang Yonghwa mencarimu di rumah sakit. Karena kubilang kau sedang ada operasi, dia pergi dan tidak meninggalkan pesan apa pun. Kurasa kau harus menemuinya, mungkin saja ada hubungannya dengan kesehantannya.”

Yonghwa mencariku? Ada apa?

“Ne,” sahut Seohyun paham.

Setelah itu, Sooyoung melenggang pergi dari tempat ia berdiri sebelumnya. Wanita itu terus berjalan menuju para tamu undangan, dan menghilang di sana. Sedangkan Seohyun dan Taeyeon yang menjadi pengiring Seohyun, segera membantu Seohyun dengan mengangkat bagian belakang Gaun-nya. Tak lama setelah itu, Krystal mulai berjalan menuju bagian pusat gedung dengan sangat anggun dan hati-hati. Beratus-ratus pasang mata seketika memandang Krystal yang berjalan dengan anggun dengan sorot mata penuh kekaguman. Krystal memang terlihat seperti seorang putri malam ini.

Krystal terus saja berjalan menuju pusat gedung dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibir tipisnya. Ia terlihat sangat bahagia, dan terlihat lebih bahagia lagi ketika melihat seorang pria yang kini tengah berdiri dan bersiap untuk menyambut tangannya, tersenyum penuh arti ke arahnya.

Seohyun juga tak bisa menahan senyum bahagianya saat melihat Minho menyambut tangan Krystal, dan membawa Krystal berjalan berdua hanya bersamanya menuju ke panggung yang berada di sisi paling depan dari gedung. Terlihat sekali di mata Seohyun bahwa sahabatnya itu sangat bahagia malam ini. Sahabatnya itu juga terlihat sangat tampan dan gagah dengan pakaian yang dikenakannya sekarang.

Seohyun dan Taeyeon kembali berjalan menuju belakang gedung begitu memastikan langkah Minho dan Krystal berhenti tepat di atas panggung. Tak lama setelah ia berbalik, ia mendengar suara lantang Minho yang mengatakan bahwa sahabatnya itu sangat bahagia malam ini. Suara lantang Minho yang tadi Seohyun dengar, dengan perlahan mengecil dan menghilang ketika Seohyun dan Taeyon baru saja memasuki bagian belakang gedung.

“Kau lihat tatapan para tamu yang datang, Seohyun? Mereka semua menatap Krystal dan Minho dengan sorot mata kekaguman yang sangat besar,” ucap Taeyeon kagum begitu ia dan Seohyun benar-benar menghentikan langkah masing-masing.

“Ya. Mereka memang pantas mendapatkannya.”

Taeyeon memekik kegirangan sebelum kembali berkata. “Aku jadi ingin melihat mereka lagi. Tadi aku melihat Leeteuk Oppa sekilas di barisan tamu yang tidak jauh dari panggung.”

Seohyun tahu bahwa apa yang diucapkan Taeyeon adalah sebuah kalimat yang secara tidak langsung meminta izin untuk meninggalkan Seohyun untuk bergabung dengan suaminya. “Kalau begitu kau hampiri saja Leeteuk~shii. Dengan begitu, kau akan bisa melihat Minho dan Krystal dengan jelas.” ucap Seohyun dengan sebuah senyum yang sedikit dipaksakan.

Tanpa menunggu aba-aba lagi, Taeyeon segera melesat pergi meninggalkan Seohyun yang masih berdiri sendiri di sana. Dengan menghela napas pelan, Seohyun mengalihkan pandangannya dari punggung Taeyeon yang baru saja menghilang. Wanita itu menundukkan kepalanya dalam selama beberapa saat.

Kalau saja kau ada di sini, Kyuhyun~ah.

Seohyun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak ingin pikiran-pikiran yang tidak penting merasuki otaknya. Tidak sepantasnya ia mengharap kehadiran sang suami sekarang, pikirnya. Dengan satu tarikan napas, Seohyun memantapkan kembali hatinya, dan berjalan menuju para tamu undangan yang lain.

Suara tepukan tangan bergemuruh di bangunan megah itu ketika Seohyun baru saja akan mencapai para tamu undangan yang lain. Suara Minho yang tadi terdengar begitu lantang, sekarang sudah tidak terdengar lagi. Mungkin Minho sudah mengakhiri sambutannya kepada para tamu undangan, pikir Seohyun.

Ketika Seohyun berjalan menyusuri para tamu undangan, mata bulatnya menangkap seseorang dengan warna mata yang hitam itu tengah menatapnya. “Yonghwa~shii,” sapa Seohyun mendekati Yonghwa yang berdiri di tengah-tengah para tamu undangan.

Yonghwa hanya menganggukkan kepalanya sekilas menanggapi sapaan Seohyun.

“Kelihatannya anda sekarang sudah benar-benar sembuh.”

“Ne. Berkat kau, Seohyun.”

Seohyun merasakan pipinya sedikit menghangat mendengar pujian kecil Yonghwa. Wanita itu memilih tersenyum untuk menanggapi pujian Yonghwa. “Oh ya, kudengar anda mencariku tadi siang.”

“Ya, tapi temanmu bilang kau sedang ada operasi.”

“Saya memang ada operasi saat itu. Memang ada perlu apa Yonghwa~shii mencari saya?”

Yonghwa tidak langsung menjawab pertanyaan Seohyun. Pria itu memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah lain. Melihat reaksi dari Sang Pasien setelah mendengar pertanyaannya, Seohyun tidak ingin mendesaknya lebih lanjut. Sebagian hati kecilnya berpikir, apa dia mengucapkan sesuatu yang tidak Yonghwa sukai, sehingga Pasien mudanya itu tak mau menjawab pertanyaannya dan malah memilih menatap hal lain.

“Aku hanya ingin berterima kasih.”

Ucapan Yonghwa dengan cepat membuat Seohyun menoleh ke arahnya. “Terima kasih?” ulang Seohyun karena tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Ya.” Kali ini Yonghwa menatap mata Seohyun yang lebih pendek darinya. “Kau selalu menyelamatkanku. Dan aku ingin berterima kasih akan hal itu.”

Seohyun tersenyum geli mendengar perkataan Yonghwa. “Tapi anda sudah berterima kasih kepadaku, Yonghwa~shii.”

“Tidak ada salahnya jika berterima kasih untuk kedua kalinya, bukan?”

“Ya, anda benar. Tidak ada yang salah,” ucap Seohyun seraya menganggukkan kepalanya. Senyuman tulus berkembang di wajahnya. “Cheonmayo, Yonghwa~shii.”

Kali ini raut wajah Yonghwa terlihat lebih santai sebelumnya. Pria itu juga menyunggingkan senyumnya kepada Seohyun. Dan perbincangan mereka pun berlanjut dengan perbincangan-perbincangan kecil yang kadang mengundang tawa maupun senyum kecil dari Seohyun. Bahkan, perbincangan itu pun juga mengundang sebuah senyuman dari Yonghwa. Namun tak pernah mereka berdua sadari jika terdapat sepasang mata dengan iris sekelam malam tengah memandangi mereka dengan wajah yang terlihat sedikit kaku. Entah mengapa melihat istrinya begitu mudah tersenyum karena orang lain yang tidak memiliki hubungan yang begitu dekat dengan istrinya sedikit membuat hatinya terasa kebas.

Apa ini?

.

“Lalu anda berencana tinggal dimana selama di Seoul?”

“Yoona memaksaku untuk tinggal bersamanya di rumah Ryeowook, tapi aku hanya menerimanya untuk malam ini saja.”

Seohyun hanya tersenyum maklum mendengar jawaban Yonghwa. Pria yang berdiri di sebelahnya kini pasti merasa tidak enak jika harus merepotkan kakak serta kakak iparnya.

“Yonghwa~shii,” sapa seorang pria yang baru saja datang menghampiri Yonghwa dan Seohyun yang tengah berbincang-bincang. Jika dilihat dari pakaiannya, pria yang kini berdiri tidak jauh dari Yonghwa dan Seohyun ini adalah seorang Peserta medis rombongannya.

“Ada apa?”

“Yoona Agashii mengirim surat untuk anda.”

Yonghwa terlihat seperti memikirkan sesuatu, sebelum ekspresi pria itu kembali normal. “Ya, aku akan menyusul sebentar lagi.”

Setelah membungkukkan bandannya sekilas, Peserta itu pergi meninggalkan Yonghwa dan Seohyun yang berada dalam keheningan.

“Aku harus pergi,” ucap Yonghwa selanjutnya.

Seohyun menganggukkan kepalanya. “Silahkan, Yonghwa~shii.”

“Sampai jumpa.” Yonghwa berjalan menjauh dari tempat Seohyun berdiri, meninggalkan Seohyun yang kembali sendirian di tengah kerumunan para tamu undangan.

Seohyun menghela napas. Sendiri lagi, pikirnya. Kepalanya bergerak ke segala arah untuk mengamati siapa saja orang yang ia kenal disana. Berharap ada seseorang yang membuatnya tidak lagi merasa kesepian. Sekilas pandangannya menangkap sang guru yang tengah berbincang dengan sang istri. Sebuah keinginan untuk bergabung dengan sang guru mendadak lenyap. Seohyun merasa ia tidak ingin mengganggu perbincangan sang guru dengan istrinya. Dan ketika ia menoleh ke arah belakang, ia dikejutkan dengan sosok pria yang tengah berdiri tepat di depan sebuah meja makan besar tak jauh dari tempat Seohyun berdiri. Pria itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada seperti biasa, dan tatapan mata hitamnya mengarah tepat ke mata Seohyun.

Kyuhyun.

Seohyun segera berjalan menghampiri suaminya yang kini masih menatapnya. Gelombang rasa rindu serta merta menyapu hatinya saat itu juga. Dia ingin sekali berlari dan memeluk sosok suami yang sangat ia rindukan− walau ia tahu bahwa itu tidak mungkin.

“Kapan kau datang?” tanya Seohyun saat ia berada tepat di depan Kyuhyun. Sedikit rasa canggung menghinggapinya ketika mengingat ketegangan kecil yang dibuatnya pada malam terakhir sebelum Kyuhyun meninggalkannya untuk bekerja.

“Sejak acaranya dimulai.”

“Benarkah? Tapi aku tidak melihatmu dari tadi.”

Kyuhyun hanya diam menanggapi perkataan Seohyun. Mata hitamnya tak berniat untuk melepas pandangannya dari sang istri. Entah mengapa melihat tatapan mata Kyuhyun, sedikit membuat Seohyun merasa kikuk.

“Bagaimana pekerjaan mu?” tanya Seohyun lagi seraya mengambil langkah dan berdiri di samping suaminya.

“Lumayan.”

Jawaban singkat Kyuhyun membuat hati Seohyun menyiut saat itu juga. “Oh…” ucap Seohyun seraya menganggukkan kepalanya kaku.

Cukup lama keduanya saling bungkam diri tanpa ada niatan sedikit pun untuk berinteraksi satu sama lain. Terlebih lagi bagi Seohyun, ia benar-benar bingung harus melakukan apa sekarang. Tanggapan kaku dari suaminya membuatnya tak memiliki nyali untuk memulai pembicaraan.

” Seohyun.”

Seohyun menolehkan kepalanya mengikuti arah suara seorang pria yang baru saja memanggilnya. “Changmin?”

Changmin menyunggingkan senyumnya. Salah satu tangannya memegang gelas minuman yang baru saja ia ambil dari seorang pelayan. “Minum?”

“Tidak , terimakasih,” ucap Seohyun

.

Changmin mengambil langkah dan berdiri tepat di sebelah Seohyun, hingga posisi Seohyun sekarang diapit oleh dua orang pria yang memiliki warna mata serta rambut yang senada. “Kyuhyun,” sapa Changmin kepada Kyuhyun yang sedari tadi diam.

Hanya anggukkan kepala yang diberikan Kyuhyun kepada Changmin sebagai tanda bahwa ia merespon sapaan Changmin.

“Dimana Sooyoung?”

Changmin segera mengalihkan pandangannya lagi menuju Seohyun. “Dia di depan. Sedang berdansa dengan Ryeowook.”

“Berdansa?”

“Kalau kau berada disini, kau tidak akan pernah tahu apa yang sedang terjadi di depan.”

Seohyun mulai memahami apa yang diucapkan Changmin. “Kau tidak ikut berdansa?” tanyanya seraya menyunggingkan senyuman geli.

Changmin menggelengkan kepalanya pelan. Kali ini ia juga tersenyum seperti Seohyun. “Bagaimana denganmu?”

“Aku tidak bisa berdansa, Changmin.”

“Setidaknya kau ikut berpartisipasi dalam pesta ini.”

Changmin benar, lagipula Seohyun juga merasa sedikit tidak nyaman berada di samping suaminya tanpa pembicaraan apa pun saat ini.

“Kurasa Kyuhyun juga tidak akan keberatan,” sambung Changmin.

Kyuhyun menolehkan kepalanya saat mendengar Changmin menyebut-nyebut namanya. Tak ada jawaban apa pun dari pria itu, tetap pada bungkamnya.

“Tapi−”

“Kajja,” potong Changmin seraya menarik pergelangan Seohyun dan membawa Seohyun menjauh dari Kyuhyun.

Changmin dan Seohyun pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi kepada Kyuhyun yang masih saja diam. Hanya mata Kyuhyun saja yang mengawasi punggung kedua orang itu yang semakin lama semakin menjauh.

“Kenapa bukan kau yang mengajaknya?”

Kyuhyun sedikit terkejut dengan suara seorang pria yang kini tengah berdiri di sebelahnya.

“Ah, aku ingat kalau kau bukan orang yang seperti itu. Kau terlalu keren untuk berdansa, kan? Hahaha.” Pria itu menunjukkan cengiran yang selama ini sudah menjadi khasnya.

Kyuhyun hanya mendengus pelan mendengar perkataan sahabatnya. “Kau tidak berdansa dengan istrimu?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Dia bersama ayahnya sekarang.” Minho menghentikan perkataannya dan mengambil segelas minuman dari pelayan yang kebetulan lewat di sampingnya. “Terlihat sekali kalau ayahnya sangat berat hati untuk melepasnya.”

Hening terjadi setelah itu. Kyuhyun masih saja mengarahkan pandangannya menuju tempat terakhir ia melihat punggung istrinya. Sedangkan Minho hanya berdiam diri dengan sesekali menenggak minumannya.

“Selamat atas pernikahanmu, Minho,” ucap Kyuhyun setelah beberapa saat terdiam.

Minho dengan cepat menolehkan kepalanya. Cengiran kembali menghiasi wajahnya. “Terimakasih, kawan.”

“Apa sekarang kau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan?”

Minho tersenyum simpul. “Aku sudah mendapatkan kebahagiaan yang besar selama ini. Aku sudah mendapatkan sahabat, aku sudah mendapatkan cinta, bahkan aku sudah mendapat apa yang aku cita-citakan.” Pria itu menghela napas sebelum melanjutkan perkataannya. “Hanya saja aku belum mendapatkan sebuah kebahagiaan dari sebuah keluarga.”

Hening kembali terjadi sebelum Minho kembali membuka mulutnya. “Bagaimana denganmu?”

Kyuhyun hanya memandangi Minho tanpa berkata sepatah kata pun.

“Yang kau inginkan, Kyuhyun! Apa semua sudah tercapai?”

Jika yang dimaksud Minho adalah cita-cita Kyuhyun di masa lampau untuk menjadi seorang Presdir di Cho Corporation kantor ayahnya, itu memang sudah tercapai. Dan jangan tanya mengapa Kyuhyun begitu sangat menyesalinya. Namun jika yang dimaksud Minho adalah cita-cita Kyuhyun untuk membuat keturunan, Kyuhyun tidak tahu harus menjawab apa.

“Kurasa jawabanku sama sepertimu,” ucap Kyuhyun asal.

Minho terkekeh mendengar jawaban dari sahabatnya. “Kalau begitu kau harus mendapatkannya, kawan! Sebentar lagi aku pasti juga akan mendapatkannya.”

“Hmm.”

Perbincangan Minho dan Kyuhyun selanjutnya diisi dengan berbagai pembicaraan tentang ujian medis , misi, keamanan, wilayah, peraturan, dan segala hal yang menyangkut tentang ujian medis. Untuk beberapa saat, baik Minho maupun Kyuhyun terlihat menikmati perbincangan mereka, hingga Minho mengucapkan sesuatu yang sekarang ia lihat.

“Hei, Kyuhyun. Sepertinya kau harus membawa istrimu pulang.”

Kyuhyun mengikuti arah pandang Minho. Terlihat di sana istrinya tengah duduk bersandar di punggung wanita berambut coklat yang sedang berbicara dengan seorang wanita berambut hitam. Matanya terpejam, dan punggungnya bergerak halus sesuai irama napasnya.

“Sepertinya dia kelelahan,” sambung Minho

.

Tanpa banyak bicara, Kyuhyun segera melangkahkan kakinya menuju sang istri yang kini mungkin tengah tertidur.

“Kyuhyun?” Sooyoung reflek menyebut nama suami sahabatnya itu ketika melihat Kyuhyun mendekat. “Seo−” ucapannya terhenti begitu melihat sahabatnya tengah tertidur lelap.

“Permisi.” Kyuhyun mulai mengangkat tubuh Seohyun dalam rengkuhannya. Gerakannya begitu pelan dan berhai-hati. Menunjukkan sekali kalau ia tidak ingin istrinya terbangun.

“Waah, jadi dari tadi dia tertidur.” Kali ini Taeyeon yang berkomentar.

Sooyoung hanya terdiam. Mata coklat-nya terus menatap punggung Kyuhyun yang mulai menjauh. Seulas senyum tipis tergambar di bibirnya.

“Wah wah, kelihatannya dia memang kelelahan.” Minho berjalan mendekati Kyuhyun yang berjalan seraya menggendong Seohyun.

Kyuhyun menatap wajah istrinya sesaat sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke Minho. “Kami pamit pulang, Minho.”

“Ya,” ucap Minho seraya menganggukkan kepalanya. “Hati-hati, kawan. Jangan sampai dia terbangun.”

Kyuhyun kembali melangkahkan kakinya keluar dari gedung itu. Ia memasukan Seohyun perlahan kedalam mobilnya. Setelah sampai di rumahnya , Kyuhyun segera masuk ke dalam kamar, Kyuhyun meletakkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati di atas ranjang. Pria itu baru saja merebahkan kepala sang istri di atas bantal, sebelum menyadari sesuatu yang mungkin dapat mengganggu kenyamanan tidur istrinya. Ditariknya lagi tubuh Seohyun oleh Kyuhyun, sehingga tubuh Seohyun sekarang bersandar penuh pada tubuhnya. Pria itu dengan hati-hati melepaskan beberapa ornamen yang menghiasi rambut istrinya.

“Nnggh, jangan pergi…”

Kyuhyun seketika mengentikan gerakannya ketika mendengar Seohyun menggumamkan sesuatu yang sangat lirih di telinganya. Pria itu menatap kepala sang istri yang kini tengah bersandar di bahunya, memastikan apa istrinya masih tertidur atau malah sudah terbangun. Tak ada pergerakan lagi, dan Kyuhyun berpikir istrinya masih terlelap.

Dengan pelan, Kyuhyun merebahkan kepala istrinya setelah ia berhasil melepas semua ornamen yang ada di rambut istrinya. Ditatapnya lekat-lekat wajah lelah sang istri yang kini ada di ranjang tidurnya. Wajah yang pernah begitu memujanya di masa lampau. Wajah yang begitu mengharapkannya untuk kembali ke jalan yang benar di masa lampau. Dan… wajah yang sudah menemani hidupnya sebagai seorang istri selama beberapa hari.

Entah sadar atau tidak dengan apa yang ia lakukan, Kyuhyun mengulurkan telapak tangannya untuk membelai wajah sang istri. Membelai pipi wanita itu, garis wajah, dagu, hingga berhenti tepat di bibirnya. Tak pernah ia pahami apa yang ia rasakan di dalam hatinya sekarang. Segalanya terasa begitu membingungkan.

.

.

.

[TBC]

265 Tanggapan to “LOVE ME [ CHAPTER 5 ]”

  1. kyuniewiress18 Agustus 10, 2016 pada 1:39 pm #

    Hoho.. Makin tertarik magnetnya seohyun ya oppa.. Wkwk yonghwa jdi phak ke 3 kah

  2. bya2518 April 24, 2016 pada 1:11 am #

    Jd ikut seneng,mdh mdhan yonghwa ga ganggu hubungan mereka-_-

  3. Fanny A Januari 1, 2016 pada 2:50 pm #

    Duh digendong, asli ngebayanginnya huaaaah.. kyu mulai sweet:* :*

  4. asrielf rahmawati Desember 31, 2015 pada 2:42 am #

    kyuhyun mulai ada rasa.syukur dah jadi hubungan mereka gak akan terasa hambar

  5. MyminSarisna Desember 23, 2015 pada 12:21 am #

    seneng liat seo seheboh itu karakternya pas banget …

  6. HildAce Desember 15, 2015 pada 3:59 am #

    Kayaknya Kyuhyun Mulai Ada Rasa Nie Ke Seohyun…
    Mudah”an Kyuhyun Cepat Sadar Akan Perasaannya….

  7. gaemgyu_13 Desember 2, 2015 pada 5:07 pm #

    Bagian akhirnya sweet banget :v
    Udah keliatan sukanyaa ❤

  8. Amelia November 27, 2015 pada 3:43 am #

    Sesungguhnya ini sangat sweet😀 mulai ada getaran2 gitu, wkwk

  9. sulistiowati_06 Oktober 30, 2015 pada 11:19 pm #

    sabar ya seohyun, eonnie harus kuat buat ngadepin si evil yang super dingin itu

  10. iraseokyu Oktober 11, 2015 pada 8:57 am #

    Oh no, udah mulai ada konflik nihhhh…. Dan yonghwa jadi orang ketiga ??? Hmmmmm bakal seru nihhh ceritanya….
    Cieee kyuppa cemburu yahhh, akhirnya….
    Duhhh so sweet dehhh bagian akhirnya *senyum2 gak jelas* kekkkkkk
    Lanjut baca yah eonni

  11. ain Oktober 7, 2015 pada 8:39 am #

    wah pas seokyu bertengkar…feelnya dpt bnget bersa lg nonton frama hihihi kau seharusnya bersyukur oppa dan kau beruntung mndapatkan seohyun eonni…slalu tersenyum.mnyambutmu pulang mmasakkan mknanan.mnemanimu makan dll walaupun berujung pertengkaran..😦 sepertinya ada. yg mulai cemburu nih….yonghwa nya sudah nongol asyikkk….pasti bklan jd org ketiganya….gpp lah asalkan nantinya bs mmprrkuat cinta nya seokyu😀. …wahhhh sepertinya kau bnar bnar sudah ada rasa thdap istrimu cho kyuhyun oppa…sikapmu….cr mnggendong seohyun eonni bgtu manis hwaaaaa aku pngennya ini jd knyataan seokyu menikah. …..mkin seru ceritanya aku suka alurnya..🙂

  12. jessiejee September 10, 2015 pada 10:30 am #

    Aigoo, diakhirnya so sweet gimana gitu wkwkwk

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: