OUR LOVE [ CHAPTER 2 ]

29 Nov

Judul/Title : Our Love 

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr ]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it😉

Length : 1 of ……

Genre : Romance, Sad, Family.

Author Notes (A/N) : Annyeong wiresdeul *bow* aku bawa ff baru lagi nih

Bisa juga kalian temukan beribu-ribu(lebay) Typos yang merajalela di sepanjang ff

Udah deh cekidot sajaaa…..jangan lupa comment ya eheheh Gomawo thanKyu :*

 

 

 

 

PLEASE DON’T BE A PLAGIATOR!

 

 

Kelahiran seorang anak dalam bahtera rumah tangga akan menjadi salah satu pembawa kebahagiaan tersendiri bagi anggotanya. Bahkan mungkin kelahiran anak itu juga akan membawa kebahagiaan bagi orang lain. Setiap kelahiran anak akan disambut dengan suka cita. Apapun jenis kelaminnya, warna rambutnya, dan apapun keadaannya.

.

.

OUR SON

CHAPTER 1

.

.

Keesokan harinya, Kyuhyun pergi untuk mengantarkan Seohyun dan Jonghyun menuju rumah sakit. Tak bisa ia pungkiri bahwa ia juga merasakan cemas yang sama besarnya dengan sang istri. Sepanjang perjalanan, pria itu lebih memilih untuk diam. Pandangannya hanya tertuju pada jalanan yang ada di depannya. Hingga pria itu mendengar helaan napas Seohyun yang terdengar berat.

“Seohyun.”

Seohyun yang sedari tadi diam seraya memikirkan apa yang akan terjadi, seketika mengangkat wajahnya untuk memandang suaminya. “I−iya, Kyuhyun~ah?”

“Kau cemas?”

Seohyun menghentikan langkahnya saat itu juga. Wanita itu menarik napas yang terdengar sangat berat di telinga Kyuhyun. Tak ada jawaban, hanya tarikan napas yang kian lama kian terdengar berat. Pandangan matanya beralih ke bayi yang kini tengah dalam gendongan suaminya. “Apa kau tidak?” tanyanya seraya mengulurkan tangannya untuk membelai rambut coklat anaknya.

Kyuhyun terdiam sejenak sebelum merengkuh tubuh istrinya dalam dekapannya. “Percayalah bahwa Jonghyun baik-baik saja.”

Seohyun mengangguk pelan dalam dekapan Kyuhyun. Ingin sekali ia menumpahkan air mata yang mulai mendesak di pelupuk matanya. “Ya, Kyuhyun~ah.”

Setelah melepaskan pelukannya, Kyuhyun melingkarkan lengannya yang bebas di pundak Seohyun, dan mengajak istrinya itu untuk kembali melangkahkan kakinya menuju rumah sakit. Sesekali, Seohyun mengarahkan pandangannya ke anak bungsunya. Berharap apa yang saat ini berada dalam pikirannya enyah begitu saja begitu melihat wajah anak bungsunya yang terlihat polos.

Tuhan, aku percaya padaMu…

.

“Silahkan masuk, Seohyun~ya.” Seorang perawat membukakan pintu ruang kerja Yoona untuk Seohyun.

Gomawo.”

Terlihat di dalam ruangan itu, seorang wanita tengah duduk di kursi di belakang satu-satunya meja yang berada di sana. Senyumnya merekah begitu melihat siapa yang baru saja masuk dari pintu. “Apa kabar, Seohyun?”

“Baik,” ucap Seohyun dengan senyum yang coba ditujukan kepada lawan bicaranya.

“Silahkan duduk.”

Seohyun duduk tepat di depan Yoona. Kedua lengannya yang sedari tadi menggendong Jonghyun, kini bergerak untuk membenahi posisi anak bungsunya agar nyaman berada di pangkuannya.

“Ada yang bisa kubantu?” Yoona mulai membuka percakapan.

“Sebelumnya aku minta maaf jika merepotkanmu, Yoona. Aku memaksa para perawat agar aku bisa menemuimu secepatnya.”

Yoona tersenyum. “Gwenchanayo, Seohyun. Lagipula aku tidak terlalu sibuk saat ini.”

Kali ini ekspresi lega terpancar di wajah Seohyun. Dari tadi ia takut jika akan membuat Yoona repot. Pasien di rumah sakit ini banyak, dan bukan Seohyun saja yang membutuhkan bantuan Yoona. “Aku… ingin memeriksakan Jonghyun.”

Manik coklat milik Yoona segera mengarah ke Jonghyun yang sedari tadi menatap arah jendela. “Apa dia sakit?”

Seohyun menggigit bibir bawahnya. Jonghyun tidak sakit, bayinya itu sehat. Sangat sehat malah. Namun Seohyun merasakan lidahnya sedikit kelu untuk mengutarakan maksudnya. “Tidak. Jonghyun tidak sakit, Yoona. Dia baik-baik saja.”

Yoona menganggukkan kepalanya setuju. Ia sendiri juga tidak melihat tanda-tanda bayi lucu itu sedang merasa kesakitan atau semacamnya. “Lalu?”

Inilah saat yang semakin membuat lidah Seohyun terasa kelu. Kedua matanya mulai terasa panas. “Menurutku… ada yang tidak beres dengan Jonghyun.”

Yoona mengerutkan kedua alisnya pertanda ia tidak begitu paham dengan perkataan Seohyun.

“Aku rasa… Jonghyun−” suaranya terasa seperti tercekat di tenggorokannya. “dia… tidak normal.”

Mata Yoona melebar mendengar pernyataan Seohyun. “Apa yang membuatmu berasumsi seperti itu, Seohyun?”

“Jonghyun… berbeda, Yoona. Anakku… tidak seperti bayi… pada umumnya.” Kali ini air mata mulai merebak di kedua mata Seohyun. Ia selalu tidak tahan jika mengingat hal ini, apalagi menceritakannya seperti ini. “Aku−aku takut kalau dia−”

“Sssttt.” Yoona membelai tangan Seohyun yang berada di atas meja, berniat untuk sedikit menenangkan hatinya. “Katakan semuanya padaku, Seohyun. Tapi pelan-pelan saja. Tidak perlu terburu-buru.”

Seohyun memulainya, menceritakan apa yang selama ini rasakan pada anak bungsunya. Sikapnya, kepekaannya, kebiasaannya, dan segalanya yang ada pada diri Jonghyun yang menurut Seohyun tidak wajar untuk seorang bayi normal. Air mata membanjiri wajahnya, sesekali ia pun merasa sedikit kesusahan untuk bernapas karena tangisnya. Tidak, bukan hanya karena tangisnya, melainkan juga kesedihan di hatinya.

Yoona yang mendengar penuturan Seohyun, tidak berniat sedikit pun untuk menyela perkataannya. Bibirnya sedikit terbuka mendengar penuturan wanita yang ada di depannya saat ini. Matanya secara bergantian memandang Seohyun dan bayi laki-laki yang berada dalam pangkuan Seohyun yang sedari tadi hanya memandangi jendela dengan diam.

“Jadi… menurutmu apa yang terjadi dengan Jonghyun?” ucap Seohyun seraya mengusap air matanya dengan tisu yang Yoona berikan. Wanita itu mengakhiri perkataannya dengan helaan napas yang panjang.

Yoona tidak berkata apa-apa. Ia masih saja terdiam. Bingung dengan kalimat apa yang akan ia sampaikan kepada Seohyun. Sebisa mungkin Yoona mencari kata yang tepat untuk semakin tidak melukai hati istri sahabatnya ini. “Begini, Seohyun.” Yoona menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataanya. “Hal seperti ini bukanlah spesialisasiku. Jadi aku tidak bisa menyimpulkannya begitu saja.”

Kekecewaan segera tergambar di wajah Seohyun yang masih dibanjiri air mata. “Aku mohon, Yoona. Aku sangat membutuhkan bantuanmu.”

Melihat air mata yang kembali mengalir di kedua mata Seohyun, membuat dada Yoona semakin terasa sesak. Ia sungguh tak pernah melihat wajah Seohyun sesedih ini sebelumnya.

“Aku mohon bantu aku. Aku tidak tahu harus kepada siapa lagi aku meminta bantuan.” Suara Seohyun terdengar sangat menyayat di indra pendengar Yooona. “Cukup beritahu aku apa yang terjadi dengan Jonghyun, Yoona. Hanya itu. Aku mohon,” sambungnya dengan suara yang sangat lirih dan parau.

Yoona memejamkan matanya sesaat. Wanita itu mengambil napas dalam-dalam sebelum membuka mulutnya. ” Seohyun, apa yang kau ceritakan tidak pernah terjadi pada semua pasien yang pernah ku tangani.” Yoona berhenti sejenak untuk mengambil napas yang terasa sangat sulit untuknya. “Namun apa yang kau ceritakan, pernah kubaca dalam sebuah buku tentang perilaku manusia. Di buku itu…”

“Apa? Apa yang dikatakan buku itu, Yoona? Apa yang terjadi?” Seohyun langsung saja memberondong Yoona begitu melihat Dokter itu seperti tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

“Autis.” Hanya kalimat itu yang bisa Yoona ucapkan. Kepalanya tertunduk untuk menahan air mata yang juga mulai mendesak keluar dari matanya.

Seohyun terdiam. Bibirnya tertutup rapat, dan pandangannya terlihat kosong. Ia sungguh tak pernah merasakan kesedihan atas buah hatinya hingga sedemikian rupa. Hatinya hancur, keputus asaan secara ganas menggerogoti nuraninya. Keyakinannya lenyap secara tiba-tiba.

” Seohyun, aku sungguh tidak ingin membenarkan ini semua.” Yoona meremas pelan tangan Seohyun. “Ini semua belum terbukti, Seohyun. Kita harus melihat dulu apa yang akan terjadi setelah ini.”

.

.

Ruang makan itu tak pernah terasa sesesak ini bagi Seohyun. Canda tawa serta kehangatan yang biasa tercipta dengan kedua buah hatinya kala makan malam, terasa begitu jauh. Ia memang berada di sana, mencuci piring yang jelas-jelas sudah bersih dari tadi. Namun sedikit pun ia tak ingin menoleh ke arah kedua buah hatinya yang kini duduk di meja makan. Melihat mereka berdua membuat emosi yang menguasainya sejak dari rumah sakit datang kembali.

“Yak, apa yang kau lakukan, Jonghyun?” Donghyun membuka mulutnya untuk pertama kali sejak ia berada di sana. Melihat kelakuan adiknya sedikit membuatnya penasaran.

Jonghyun ada di sebelahnya, duduk di bangku bayi yang dulu pernah menjadi milik Donghyun. Pandangan Jonghyun sedari tadi hanya terpaku pada sendok bayi dan mangkuk kosong yang ada di depannya. Jari telunjuknya yang mungil menyentuh-nyentuh pelan ujung sendoknya.

“Kau lapar?”

Tetap tak ada perubahan dengan apa yang dilakukan Jonghyun. Bayi itu mengacuhkan saja tatapan heran kakaknya.

“Ini, makanlah,” ucap Donghyun seraya menyuapkan sereal miliknya tepat di mulut adiknya.

Jonghyun hanya menoleh sekilas begitu merasakan sendok milik Donghyun menyentuh bibirnya. Mulutnya dengan cepat terbuka untuk menerima suapan kakaknya.

“Waah, kau benar-benar lapar rupanya.” Donghyun menyendokkan lagi sereal miliknya untuk sang adik. “Ini yang terakhir, Jonghyun. Aku masih lapar.”

Jonghyun mengulangi lagi apa yang tadi ia lakukan. Gerakan mulutnya begitu cepat ketika menerima suapan kakaknya, namun ia sama sekali tidak menolehkan kepalanya.

“Yak, jangan seperti itu, Jonghyun!” Donghyun menegur kelakuan adiknya yang mencoba meraih piring serealnya. “Kalau kau memang lapar, aku bisa memberitahu Eomma.”

Jonghyun tetap mencoba meraih piring kakaknya dengan kedua tangannya.

“Hentikan, Jong!!” tegur Donghyun lagi seraya menarik piringnya menjauh jangkauan adiknya. “Eomma, Jonghyun lapar.”

Untuk yang pertama kalinya sejak ia berada di sana, Seohyun menghentikan kegiatannya. Bahunya bergetar pelan.

Eomma, lihat apa yang dilakukan Jonghyun!”

Seohyun tetap bersikukuh untuk tidak membalikkan bandannya. Getaran di bahunya terlihat lebih kencang dari sebelumnya.

Eomma, tolong aku. Dari tadi Jonghyun ingin merebut makananku. Berikan makanan untuknya agar−”

“JONGHYUN TIDAK LAPAR, DONGHYUN!”

Seketika itu pula Donghyun terdiam mendengar bentakan Seohyun. Disebelahnya, Jonghyun pun juga terdiam. Tangannya tak lagi menggapai-gapai piring kakaknya.

“JANGAN MEREPOTI EOMMA DENGAN HAL SEPERTI ITU!” Bahu Seohyun bergetar hebat kali ini. Ia masih tidak ingin menatap kedua anaknya.

Donghyun masih terdiam mendengar bentakan Seohyun kembali menggema di ruangan itu. Selama ini, ia tidak pernah melihat ibunya berteriak-teriak kepadanya seperti itu. Sekalinya jika Seohyun marah padanya, Seohyun tidak pernah memarahinya. Hanya teguran yang akan Seohyun berikan kepadanya. Namun entah mengapa kali ini ibunya membentaknya seperti ini. Apa salahnya?

“Ka−kalau kau merasa terganggu dengan a−adikmu, k−kau bisa makan di−di luar.” Suara Seohyun terdengar lebih halus kali ini, namun tangisnya bertambah hebat. Ia merasa sulit bernapas dengan segala emosi yang menguasainya. “Tak perlu me−mengganggu Eomma, k−kan?”

“Donghyun.”

Tangis Seohyun seketika mereda mendengar suara berat itu. Bahunya menegang saat merasakan langkah pemilik suara berat itu mulai mendekat.

“Apa yang dikatakan Eomma benar. Lebih baik kau makan di luar. Atau kau ingin Appa menyuapimu dan Jonghyun di halaman belakang, hm? Ada banyak bintang di sana, pasti akan menarik.”

“A−aku… sama sekali tidak berniat mengganggu Eomma.” Suara Donghyun terdengar sedikit parau di telinga Seohyun.

Appa tahu. Bawa piringmu! Kita akan makan sambil melihat bintang.”

Tak berapa lama kemudian, Seohyun mendengar langkah suami serta anak sulungnya menjauh. Ruangan itu kembali hening. Hanya ada dirinya yang sedang mencuci piring. Ia pun tak merasakan kehadiran Jonghyun di sana.

Keheningan tidak membuat Seohyun merasa lebih baik. Tangisnya yang tadi sempat terhenti, kembali pecah begitu mengingat apa yang baru saja ia perbuat terhadap anak sulungnya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang membuatnya kalap seperti itu. Perasaan bersalah kini turut menyerang relung batinnya. Kali ini ia sudah tak sanggup untuk meredam suara tangisnya. Seohyun menangis sendirian cukup lama di ruangan itu, sebuah tangisan pilu karena kesedihan yang ia rasakan sendiri.

Tangis Seohyun baru saja mereda ketika ia kembali merasakan kehadiran orang lain di ruangan itu. Wanita itu bergeming di tempatnya ketika merasakan dua lengan kekar melingkari tubuhnya. Hanya sekilas, sebelum dua lengan itu meraih kedua tangan Seohyun yang terlumuri busa sabun cuci piring, dan membilasnya dengan air keran.

“Kau banyak masalah hari ini?”

Seohyun tidak menjawabnya, namun isakannya kembali terdengar.

“Apa yang membuatmu membentak Donghyun seperti tadi, hm?” tanya Kyuhyun lagi seraya mengecup lembut pundak Seohyun yang masih bergetar.

“A−apa salahku, Kyuhyun~ah?”

Kyuhyuntak mengerti maksud perkataan istrinya. Pria itu membalikkan tubuh istrinya secara perlahan. Kerutan di kedua alisnya tampak jelas begitu melihat raut muka Seohyun jauh lebih memilukan dari apa yang kemarin malam ia lihat.

“Apa salah kita? Ke−napa Tuhan memberi kita garis hidup se−seperti ini?” Seohyun kembali mengatakan sesuatu yang tidak Kyuhyun pahami.

“Apa maksudmu, Seohyun?”

“Jonghyun.”

Kyuhyun merasakan sebuah pukulan menghantam telak jantungnya. Mendengar sang istri menyebut nama anak bungsunya, membuatnya merasa sesak bernapas. “Apa yang terjadi dengannya?” tanya Kyuhyun berusaha terdengar setenang mungkin. “Apa yang dikatakan, Yoona?”

“Jonghyun, di−dia…” Seohyun tak sanggup lagi untuk berkata-kata. Wanita itu hanya memeluk tubuh suaminya ketika merasa kedua lututnya semakin melemah. Tangisannya teredam di dada suaminya.

“Katakan, Seohyun,” ucap Kyuhyun pelan.

“Autis.”

Mata Kyuhyun melebar seketika itu juga.

.

Segalanya terasa hancur di relung hati Kyuhyun. Kebahagiaan, serta mimpinya. Impiannya untuk bisa hidup bahagia dengan keluarga kecilnya, terasa sirna begitu saja. Anak bungsunya yang kelak juga akan menjadi kebanggaannya, kini telah membawa duka yang sangat mendalam untuknya. Tidak, bukan hanya untuknya. Tapi untuk Seohyun juga.

Dan untuk yang pertama kali dalam hidupnya, ia merasa putus asa dengan keluarga yang dibinanya.

“Lebih baik kita masuk ke dalam, Seohyun. Kau bisa sakit jika berlama-lama di sini.”

Kyuhyun dan Seohyun kini duduk di bangku di halaman belakang rumah mereka. Taburan bintang serta sinar bulan yang indah, tak dapat mengobati kepiluan pasangan suami istri tersebut. Terlebih untuk Seohyun. Walaupun kini tangisnya sudah reda, dan air mata yang tadi membanjiri wajahnya sudah mengering, hatinya tetap merasa beku. Ia masih tidak dapat menerima kenyataan yang kini tengah berada di hadapannya.

“Apa salahku, Kyuhyun~ah?” bisik Seohyun parau.

Kyuhyun semakin menarik tubuh Seohyun mendekat. Ia tidak tahan mendengar gumaman istrinya yang sedari tadi menanyakan kesalahan. “Kau tidak salah, Yeobo.”

“Lalu kenapa Tuhan memberikan kita jalan hidup seperti ini?”

Hening menghampiri pasangan suami istri itu. Yang terdengar hanyalah hembusan angin malam, serta gemericik air yang mengalir dari kolam. Kyuhyun tak tahu harus berkata apa. Di dalam lubuk hatinya, pertanyaan yang serupa dengan istrinya pun juga tengah mengusiknya.

“Aku hanya ingin kedua anakku bahagia, Kyuhyun~ah. Hanya itu.”

“Semua orang tua juga pasti memiliki impian seperti itu.”

“Tapi mengapa Tuhan tidak mengizinkanku?” Bisikan Seohyun terdengar lebih parau dari sebelumnya.

Kyuhyun mendekap tubuh sang istri yang ada disebelahnya, dan mengusap punggungnya pelan. Ia kembali tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan istrinya. Mengapa Tuhan memberikan kepahitan ini untuk keluarganya? Haruskah ia membenci dan menyalahkan Tuhanuntuk ini semua?

“Kebahagiaan tidak hanya didapat dari kesempurnaan, Yeobo.”

Pelan tapi pasti, Kyuhyun kembali merasakan kedua bahu istrinya bergetar.

“Aku ibunya, Kyuhyun~ah! Orang tua mana yang tega melihat anaknya seperti itu?”

“Aku tahu.” Kyuhyun menghela napas pelan. “Maka dari itu, kita harus kuat untuk menghadapinya. Kita harus kuat untuk melepas impian kita satu per satu. Kita harus kuat untuk menerima apa saja yang akan terjadi di masa datang. Dan mulai saat ini, kita harus belajar untuk melakukannya.”

Munafik. Apa yang keluar dari mulut Kyuhyun, tak sepadan dengan apa yang ada di dalam hatinya saat ini. Ia ingin marah saat itu juga, berteriak, dan mungkin akan menyalahkan Sang Pencipta atas ini semua. Namun sosok rapuh yang kini berada dalam dekapannya, seakan-akan membuatnya terbelenggu dari segala amarahnya.

“Kita pasti bisa menjalani ini semua, Seohyun. Pasti,” ucap Kyuhyun dengan tetesan air mata yang keluar dari sepasang mata hitamnya.

Haruskah aku menyalahkanmu, Tuhan?

.

.

.

[TBC]

46 Tanggapan to “OUR LOVE [ CHAPTER 2 ]”

  1. Iyank EternalMagnae Januari 14, 2015 pada 5:28 am #

    seokyu ksian bgt!!
    apa lgi seo kyknya trpukul bgt dnger knyataan tntang jonghyun!!
    yg sbr y seo!?

  2. Femkim Desember 6, 2014 pada 10:18 pm #

    Setiap masalah pasti ada solusi…jangan menyerah

  3. Melli Mei 23, 2014 pada 4:34 am #

    Seohyun benar2 syok menerima kenyataan mengenai jonghyun,

    apa yang akan terjadi pada keluarga mereka selanjutnya??

  4. Melli Mei 23, 2014 pada 4:30 am #

    Seohyun benar benar syok menerima kenyataan,,

  5. Ira siwon April 1, 2014 pada 1:55 pm #

    Gak tega klo liat jonghyun kyak gtu … Kasian dia. … Seokyu Ɣğ tbah yah

  6. jeje0294 November 25, 2013 pada 2:08 am #

    Berharap kebahagian masih ada utk keluarga seokyu nantinya, walau dibarengi perasaan sedih kecewa tapi berharap mereka bisa membesari jonghyun jadi anak yg lebih baik lagi dan ketulusan cinta seokyu di uji disini🙂

  7. shasa46 November 18, 2013 pada 3:46 am #

    hmmm aku udh nebak2 dr awal berarti emang Jonghyun menderita autis. Sebagai orang tua, Seohyun pasti shock mengetahui keadaan anaknya sprti itu. Apalagi dia ibu.
    Bagus penggambaran ceritanya aku suka. Kyuhyun sebagai ayah nya juga sama, meski terlihat berusaha utk tegar tp sebenarnya jauh di lubuk hatinya dia merasa sedih dan hancur. Krn kyu adalah ayak dan kepala keluarga, sosok pelindung untuk seo dan anak2 nya jd dia hrs terlihat tegar dan kuat. Keren ff nya, suka ff bertema family kayak gini. oke lanjut…

  8. songhyunie November 8, 2013 pada 3:39 am #

    huhuhu setiap orang tua yang anaknya seperti itu pasti sedih dan marah secara bersamaan ya..fighting seokyu, semoga jalan ceritanya tetap bahagia di ending

  9. hyeminyong November 6, 2013 pada 3:26 pm #

    seokyu yg sabar yaa…. pasti ada jalan untuk mencapai kebahagiaan.
    kyu jangan nangis lah,, kyu appa yg kuat melebih super hero^^ tetep berusaha mencari jalan menuju kebahagiaan di keluargamu.
    jonghyun semoga masih bs disembuhkan. berharap berharap author mau mengabulkan #pluk
    daebak jalan ceritanya. aku suka~

  10. lentitutwow Oktober 30, 2013 pada 9:20 pm #

    kaihan jonghyun semogag gag autis semoga cuma dingin dan pendiem aja

  11. fisakurakyu Oktober 6, 2013 pada 2:07 pm #

    ya tuhan….sedih bgt… a nangis………semoga mereka tegar…jonghyun kasihan sekali…..

  12. try Oktober 3, 2013 pada 4:42 am #

    autis, aigoo.
    jonghyun dah bener2 divonisk, atw msh skedar dugaan smentara.
    moga aj g betul.
    seokyu ttp sabar.

    daebak, next.

  13. Ratih Kusuma September 25, 2013 pada 2:48 am #

    Aigoo daebak kasihan jonghyun semoga seokyu tabah atas semua cobaan

  14. rista giana September 17, 2013 pada 6:17 pm #

    kasihan seokyu.kenyataan pahit harus mereka terima kecewa,sedih dan marah boleh saja tp apa harus berlarut2 kasihan donghyun dan jonghyun yg memerlukan kedua ortunya apalg jonghyun yg mulai saat ini mungkin memerlukan perhatian yg khusus

  15. little evil Juni 19, 2013 pada 10:51 am #

    Eonnie , baca nya pedih banget😥

  16. rumy syamsu Mei 29, 2013 pada 5:03 pm #

    lanjut,.

  17. cho_ribca95 April 27, 2013 pada 6:22 pm #

    mewek bc.a aq T_T
    ff.a keren bgt feel.a dpt bgt

    ksian seonni😥
    thor jonghyun psti sembuhkn ??

  18. WireJ_ April 27, 2013 pada 7:34 am #

    Semoga yang di katakan yoona itu tidak benar..
    Jonghyun emang pendiam orangnya.
    Seo jgn mikir yang aneh2 dulu.

  19. svrbowen125 April 23, 2013 pada 3:17 am #

    Daebak!! Itu kata pertama buat ff ini. Nyesek. Itu kata kedua.
    hah, thor…buat Jonghyun sembuh deh ;” semoga uri seokyu tabah yaa…

  20. salamah April 12, 2013 pada 4:17 am #

    sedih banget ujian berat bagi orang tua saat tau anakny gak normal.

  21. maharaniindiraa April 10, 2013 pada 6:02 am #

    kasian banget seohyun sama kyuhyun, kasian juga jonghyun. Semoga mereka semua bisa menghadapi dengan lapang dada. ditunggu lanjutannya, please jangan di stop ff nya(:

  22. lovekyu April 2, 2013 pada 1:24 pm #

    Autis??aduuuuhhh so sad bgt thor😦

  23. lee natashima Maret 24, 2013 pada 11:17 pm #

    Jd jonghyun autis?
    Ayo seokyu jgn patah semangat dong,kan anak autis bisa diobati sejak dini….

  24. mita Februari 21, 2013 pada 2:09 pm #

    ceritanya keren,author.
    Nyesek bacanya…
    Entah harus komentar apa.
    Smua org tua pasti ingin anaknya berkembang & hidup normal,tp mungkin ini kasih sayang TUHAN yg lebih bwt uri seokyu dgn adanya anugerah kelahiran jonghyun.
    *karna aku blm ngrasain gmn jd org tua (ibu),ketakutan akan hal2 kyk gn pn ckp menghantui sm kya uri seokyu.huft…

  25. ninninnin Februari 6, 2013 pada 3:58 am #

    mhhhhhhhh
    anak autis emng pnya khidupan sendiri .. gak perdulu ama yang lain n kadang dia tertarik sama hal hal yang aneh ..

    d tunggu part selanjutnya

  26. Naengmyun Februari 5, 2013 pada 9:22 pm #

    Huuuuuuuuuuuuh
    asli nyesek
    aku tau gimana perasaan seomma tau si jong kenak autis
    ya cobaan bagi keluarga mereka

  27. puji Januari 16, 2013 pada 4:40 am #

    ya ampun anak seokyu autis
    kok bsa ya???
    Tp kan udh takdir

  28. Believe_SeoKyu Januari 13, 2013 pada 6:40 am #

    OMG!!!! Autis??????
    Jonghyunieeee kasihan T_____T
    SeoKyu yg tegar ya. Bisa disembuhin kok, pasti :)) /pray/

  29. desti kawaii Januari 12, 2013 pada 3:28 pm #

    wah chingu cerita’a makin seru bnget dan ok,,,
    wah keluarga seokyu dpat cobaan,,,
    ya ampun jonghyun autis,,kshan jonghyun,,,
    seo sedih bnget mendengar jonghyun autis,,,
    untung ja selalu ada kyu oppa yg menenangkan seo,,
    chingu di tunggu part slnjut’a,,,

  30. Ladykyu Januari 11, 2013 pada 12:37 am #

    Hiks. . .
    Kasian jonghyun.
    Tapi ada kan ya,terapi buat ank autis?
    Moga2 bisa sembuh deh.
    Ga tega banget seokyu sedih kaya gitu.

  31. Dhita Desember 21, 2012 pada 10:57 am #

    So sad :(((
    Cobaan buat seokyu berat banget ..

  32. yanifishy Desember 10, 2012 pada 1:59 pm #

    ksian bgt ikh.jd sdih bca nx jg.

  33. dewkyusonelf11 Desember 10, 2012 pada 10:25 am #

    annyeong i’m new reader🙂
    mian, ak langsung coment d part ini yah….

    mmm, jonghyun autis yah ? moga dy bisa sembuh…
    KyuHyun JooHyun seharus.a membawa joohyun k dokter ahli autis and joohyun diterapi and bisa sembuh menjadi anag normal seperti DongHyun, hyung.a..
    #ngelantur hehhee

    lanjut yah !!
    ditunggu, fighting🙂

  34. devani Desember 10, 2012 pada 12:20 am #

    astaga jadi jonghyun autis? tapi itu blm pasti kan yoona blg seo hrs meriksain ke dokter specialistnya lg dan kyknya menurutku kl autis itu dia berinteraksi tp ya kelakuannya itu yg aneh kl jonghyun itu dia kn sm skali gak mau berinteraksi mungkin di berbeda dlm hal lain

  35. diah seokyu 11 Desember 7, 2012 pada 7:43 am #

    author umur berapa? line berapa?
    kelas berapa?
    fb nya author apa?
    pengen kenalan sama author.
    kaget. bingung. nggak tau mau ngomong apa.
    nggak boleh dikatakan cobaan sih. anak kan titipan Allah. angst ya? aku nangis. Ya Allah, aku ikut terbawa sama ceritanya ikut ngerasain sakitnya. kuat ya buat seokyu. semuanya bakal keliatan gimana kesetiaan dan ketegaran kalo diterpa masalah dan kesulitan gini.❤

  36. Choihami Desember 4, 2012 pada 11:59 am #

    seokyu cobaan gedhe bgt… smoga uri seokyu bisa lewatin semuanya itu…
    lanjuttt

  37. dFam Desember 2, 2012 pada 11:16 am #

    GAK KEBAYANG GIMANA RAPUHNYA URI SEOKYU😥

  38. kyulovely Desember 1, 2012 pada 4:44 am #

    Suka adegan ayah-anaknya. Manis banget…belum lagi sikapnya Kyuhyun yang lebih kuat dihadapan Seohyun. Mereka pasti bisa kok menghadapi semuanya.
    Eh kalo ga salah autis bukannya bisa disembuhin ya?
    Aku kebayang entar kalo Donghyun sama Jonghyun udah gede. Entar SeoKyu menua dong ya.

  39. Nilam ღ November 30, 2012 pada 5:42 pm #

    Masih kaget ya seokyu nya. Gapapa. Disuruh berusaha. As you know, semua terlihat aslinya saat menghadapi kesulitan. Sesungguhnya pun, dibilang cobaan juga bukan. Cukuplah hanya Allah untukmu. Allah ga mungkin bohong.

  40. Jung sti hyun November 30, 2012 pada 12:21 am #

    Omo jonghyun autis
    hah seokyu harus mendapat cobaan lagi
    chingu aku salut baru pertama kali baca ff seokyu yg anaknya mempunyai kelainan
    lanjut..

  41. Juwiyeppa November 29, 2012 pada 8:34 pm #

    Chingu.. Kog ksh cobaan.ny kyag gitu sih..
    Kshan jonghyun.ny..
    Seomma & kyuppa yg sabar Ya..
    Jgn menyerah, pasti bsa.!!

  42. Kim So In November 29, 2012 pada 5:54 am #

    kasihan Jonghyun…T.T
    SeoKyu jgn pts asa tetap kasih p’hatian terus buat Jonghyun…

  43. fianchia November 29, 2012 pada 4:38 am #

    ihh padahal anak autis tuh kalau dibina baik2 bakal jadi anak jenius lho…ayo seohyun-kyuhyun jangan menyerah

  44. wonie November 29, 2012 pada 3:23 am #

    Hiks kasian……..
    Di tunggu next partnya…
    Love mr nya kapan publish¿

Trackbacks/Pingbacks

  1. OUR LOVE [CHAPTER 3] | SEOKYU Fanfiction WIRES - September 9, 2013

    […] CHAPTER 1 | CHAPTER 2 […]

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: