LOVE ME [ CHAPTER 8 ]

1 Des

love me

Judul/Title : Love Me 

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it

Length : 1 of …………….

Genre : Romance, Sad, Family. Little bit NC

Author Notes (A/N) : Annyeong wiresdeul *bow*

chap ini bisa dibilang adalah curhatan si Kyuhyun. Kalau di beberapa chapter yang lalu saya bilang sudut pandang Kyuhyun cuman seuprit-uprit aja, kayaknya di chapter ini semuanya terbantahkan. Maaf yah, saya gak konsisten DX #authorpayah

Baiklah, semoga chapter ini bisa menjawab pertanyaan reader semua ^^ Sekali lagi terimakasih untuk apresiasi fic ini yah ^^

Bisa juga kalian temukan beribu-ribu(lebay) Typos yang merajalela di sepanjang ff

Udah deh cekidot sajaaa…..jangan lupa comment ya eheheh Gomawo thanKyu :*

PLEASE DON’T BE A PLAGIATOR!

Seohyun selalu beraharap suaminya menikahinya karena memang mencintainya. Bukan hanya untuk mengembalikan Perusahaan-nya.

.

.

LOVE ME

CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3 | CHAPTER 4 | CHAPTER 5 | CHAPTER 6 | CHAPTER 7

.

.

Kilatan cahaya terang serta suara gemuruh letusan kembang api membahana di langit malam Seoul. Sang Wali Kota Seoul pun kini tengah tersenyum lebar atas pencapaian prestasi seluruh peserta ujian Medis dari Seoul yang berhasil lolos hingga babak akhir. Tak hanya Wali kota yang merayakan prestasi yang membanggakan ini, Yonghwa dan Yoona juga tengah berbangga karena hampir seluruh kandidat dari Kota mereka Busan lolos, dan menempati urutan kedua setelah Seoul.

Tawa riuh serta pekikan kagum membuat suasana perayaan yang berlangsung di lapangan terbuka Seoul itu semakin bertambah meriah. Ditambah lagi dengan banyaknya warga serta para Dokter dan Perawat yang sengaja meliburkan diri untuk menikmati suasana kebersamaan ini, sehingga membuat lapangan yang bisanya sepi menjadi lautan manusia.

Namun tawa serta ekspresi gembira dari seluruh manusia itu berbanding terbalik dengan apa yang Seohyun rasakan. Raut wajah wanita bermata bulat itu memang menunjukan kegembiraan−walaupun samar−, tapi apa yang dirasakan hatinya tidak sedikit pun menunjukkan hal itu.

Keputus asaan, kesedihan, serta patah hati yang ia rasakan adalah penyebabnya. Seohyun sedikit menyesali persetejuannya atas ajakan Amber untuk pergi ke perayaan ini. Gadis kecil itu mengatakan kalau Seohyun juga harus menikmati perayaan ini, karena bagaimanapun keberhasilan kelompok gadis itu dalam menjalani ujian Medis sampai tingkat ini adalah pengaruh dari Seohyun juga. Awalnya Seohyun berpikir bahwa tak masalah untuk menerima ajakan gadis manis itu, setidaknya rasa sedih yang ia rasakan bisa berkurang. Tapi justru berdiam seperti ini dan memandang langit malam yang begitu indah karena letusan kembang api, malah membuat pikirannya melayang kepada seseorang yang sangat ia cintai. Seseorang yang tidak ia jumpai selama tiga hari ini.

Selama tiga hari pula Seohyun menyimpan semuanya sendiri. Menelan semua kepahitannya sendiri walaupun terasa sangat sulit. Sempat terpikir olehnya untuk membagi semuanya dengan Sooyoung, dan meminta pendapat atas kelu kesahnya dari sahabatnya itu. Masih segar di ingatan Seohyun saat ia menegaskan kepada Sooyoung bahwa ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Kyuhyun mencintainya, namun apa yang terjadi sekarang menunjukan sekali kalau Seohyun adalah wanita rapuh. Cukup banyak pengorbanan yang dilakukan istri Changmin itu untuk kebahagiaan hidupnya, dan Seohyun tidak cukup mempunyai muka untuk kembali mengeluh dan meminta bantuan pada Sooyoung.

Sooyoung pasti akan menertawakan sifat menyerahku, batin Seohyun seraya tertawa hambar−walaupun ia sangat yakin Sooyoung akan melakukan hal yang sebaliknya dan kembali menolongnya.

Lalu kepada siapa? Yesung? Tidak. Seohyun tidak ingin gurunya itu tahu yang sebenarnya. Gurunya sudah begitu banyak berdo’a dan berharap untuk kebahagiannya. Memberitahu apa yang sebenarnya terjadi malah akan membuat perasaan pria itu tak tenang.

Krystal? Taeyeon? Tidak. Mereka tidak cukup paham tentang kehidupannya.

Minho? Oh… entah apa yang akan terjadi pada suaminya jika Minho mengetahui semua hal tentang kehidupan rumah tangganya.

Seohyun menghela napas pelan. Lehernya terasa pegal karena sedari tadi ia terus mendongak menatap kembang api. Wanita itu pun menundukkan kepalanya, membiarkan pikirannya tenggelam pada seseorang yang membuat hatinya gundah.

.

Saat itu adalah malam terakhir dimana Seohyun masih bisa tersenyum bahagia. Di kamar yang hanya diterangi lampu meja itu, ia duduk di ranjang dengan kaki yang diselonjorkan. Punggungnya bersandar pada sandaran ranjang tidurnya, dan mata bulatnya terpaku di barisan kata pada buku yang ada di pangkuannya. Sesekali wanita itu bergumam pelan untuk membaca atau mengulangi sesuatu yang ia kurang pahami di sana. Kerutan samar yang tergambar di dahi Seohyun menunjukan kalau wanita itu tengah serius dengan kegiatannya, sehingga ia tidak menyadari ketika sosok yang sedari terlelap di sebelahnya terbangun dan tengah menatapnya heran.

“Kau tidak tidur?”

Seohyun hampir saja menjerit kaget ketika suara berat itu terdengar begitu jelas di telinganya. “Kyu− Astaga, kau membuatku kaget!” pekik Seohyun tertahan.

Seohyun menatap istrinya yang kini tengah mengatur napasnya supaya kembali normal. Rambut gelapnya sedikit berantakan. Pria itu terlihat berusaha menahan rasa kantuk jika dilihat dari kedua bola mata hitamnya yang tidak fokus. Dahinya berkerut saat menyadari benda yang ada di pangkuan istrinya. “Apa yang kau baca?”

“Buku medis,” jawab Seohyun seraya menundukkan kepalanya mengikuti arah pandang Kyuhyun.

“Malam-malam begini?”

Seolah baru saja tersadar dari apa yang baru saja ia lakukan, Seohyun langsung memasang tampang menyesalnya. “Astaga, maafkan aku, Kyuhyun~ah. Aku pasti telah membuatmu terbangun.”

Kyuhyun hanya diam menatap Seohyun.

“Mianhe, Kyuhyun~ah,” ucap Seohyun memohon.

“Hmm.” Kyuhyun meraih buku medis Seohyun dan meletakannya di meja di samping ranjang tidurnya. “Matikan lampunya, dan cepat tidur! Kau bisa kesiangan nanti.”

“Tapi−” Seohyun merasakan jantungnya berdetak lebih cepat saat Kyuhyun membuat gerakan seperti ingin memeluknya. Bibir Seohyun tak sanggup meneruskan perkataannya, hingga ia melihat Kyuhyun hanya berusaha mematikan lampu yang ada di meja di samping ranjangnya.

“Eh−”

“Tidur.”

Mata Kyuhyun yang menatapnya tajam semakin membuat Seohyun gugup. “I−iya,” ucap Seohyun seraya merebahkan tubuhnya.

Seohyun dapat merasakan tatapan Kyuhyun yang masih mengawasinya ketika ia sudah dalam posisi tidurnya. Sesaat setelah itu, Kyuhyun turut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.

“Pakai selimut dengan benar, Seohyun.”

“Ya.”

Kyuhyun sudah memejamkan kedua matanya ketika Seohyun melirik pria itu dari sudut matanya. Bibirnya membentuk lengkungan tipis menatap wajah tampan suaminya yang sudah terlelap. Cho Kyuhyun yang disegani oleh para pegawainya karena reputasi membanggakannya dalam mengatur perusahaan Appanya sejak muda dan menyelesaikan banyak kerja sama yang selalu berhasil, kini terlihat begitu damai dalam tidurnya.

Wajah Seohyun sedikit menghangat ketika mengingat apa yang ia pikirkan tentang suaminya beberapa saat lalu. Wanita itu menutup mulut dengan telapak tangannya untuk menahan tawa geli yang keluar dari mulutnya.

Bisa-bisanya aku berpikir sampai sejauh itu. Benar-benar konyol.

Rambut hitam Kyuhyun yang terhampar di atas bantal, entah mengapa membuat Seohyun setengah mati ingin menyentuhnya. Jemari Seohyun menyentuh perlahan ujung rambut suaminya, sebelum mulai berani untuk sedikit mengelusnya.

Mengapa… aku merasa bahagia ketika aku dapat menyentuhmu seperti ini, Kyuhyun~ah?

.

.

Berada di dekat Kyuhyun memang suatu kebahagiaan tersendiri bagi Seohyun. Wanita itu selalu menikmati setiap detik ia menatap wajah suaminya, menikmati setiap detakan jantungnya yang cepat ketika ia mendapat sentuhan lembut suaminya, atau bahkan merasakan sensasi menyenangkan dari kedua sisi pipinya yang menghangat ketika suaminya berperilaku manis untuknya.

Tapi semuanya kini terasa jauh. Ketiadaan sosok suami yang bisa membuatnya tenang, serta kepasrahan Seohyun akan kebahagiannya sendiri semakin membuat wanita itu terpuruk dalam lamunan kesedihannya. Butiran air mata yang sudah menjadi teman kesendiriannya dalam tiga hari ini kembali mendesaknya.

.

“−Seosangnim? Seohyun Seosangnim?”

Suara yang semakin membesar itu kembali terdengar di telinga Seohyun.

“Seohyun Seosangnim?”

“Aah, i−iya,” sahut Seohyun ketika ia tersadar dari lamunannya. “Ada apa Amber~ya?”

Amber sedikit heran menatap wajah Seohyun. “Aku hanya ingin memberikan ini,” ucap Amber seraya menyodorkan sebuah piring kertas dengan beberapa potong Bulgogi di atasnya. “Kau mau mencobanya, seosangnim?”

“Tidak, Amber~ya. Terimakasih.”

“Seosangnim baik-baik saja? Kenapa dari tadi murung?”

“Benarkah?” Seohyun berusaha tenang dengan suara yang sedikit parau. “Aku tidak−”

“Apa kau sedang sakit, Seohyun?” Kali ini Taeyeon yang duduk di bangku sebelah Amber membuka suara. “Wajahmu kelihatan pucat.”

Air mata yang secara perlahan mulai menggenangi kedua mata coklat Seohyun membuatnya susah untuk berbicara. “Ti−tidak. Aku baik, Taeyeon. Yah−” Seohyun menghentikan perkatannya untuk mengambil napas yang terasa begitu sulit untuknya. “−mungkin aku hanya kelelahan.”

“Sebaiknya kau cepat beristirahat, Seohyun,” ucap Taeyeon dengan nada khawatir yang terdengar jelas. “Apa perlu kuantar pulang?”

Seohyun memaksakan senyum kecil di bibirnya. “Tidak perlu, Taeyeon. Terimakasih. Aku masih bisa pulang sendiri.”

Setelah berpamitan kepada Taeyeon dan ketiga muridnya, Seohyun segera beranjak dan melesat pergi dari sana. Genangan air mata yang sudah penuh di kelopak matanya, memaksa Seohyun untuk tidak lagi menolehkan kepalanya untuk membalas tatapan heran Taeyeon. Wanita itu terus berjalan dengan menundukkan kepalanya dan menerobos kerumunan orang yang berjejal di sepanjang langkahnya. Sesekali ia meminta maaf dengan suara lirih ketika mendengar beberapa orang merasa terganggu dengan apa yang ia perbuat.

Langkah kaki Seohyun baru saja terbebas dari kerumunan orang yang menghadiri perayaan itu, ketika ia mendengar suara berat yang ia kenali tengah memanggilnya.

“Seohyun?”

Oh tidak, Tuhan. Jangan sekarang.

“Seohyun?”

Seohyun terus saja berjalan seolah-olah ia tidak mendengar suara itu sama sekali di telinganya.

“Kau mau kemana?” Kali ini Seohyun bisa merasakan sebuah tangan besar menahan pergelangan tangannya sehingga membuat ia berhenti dan berbalik. “Acaranya belum selesai.”

Yonghwa tengah menghalangi langkah Seohyun. Raut wajah pria itu masih tetap terlihat sumringah seperti yang Seohyun lihat saat dimulainya perayaan.

“Pulang,” jawab Seohyun dengan nada yang diusahakan seperti biasa.

Namun Yonghwa tetap tak bisa dibohongi. Pria itu menatap Seohyun dengan heran saat menyadari jejak air mata yang terdapat di wajah wanita itu. “Kau baik-baik saja?”

Lidah Seohyun yang terasa kelu serta desakan air mata yang semakin menguat, membuat wanita itu ingin segera menghilang saat ini juga. “L−lepaskan.”

“Kau menangis?” tanya Yonghwa seolah tidak puas dengan jawaban Seohyun.

Tubuh Seohyun sedikit menegang tatkala ia tidak bisa menghalau butiran air mata yang kembali jatuh di pipinya. Emosi pun mulai menguasainya karena pria yang ada di depannya saat ini sama sekali tidak menanggapi permintaannya. “Kumohon lepaskan tanganku, Yonghwa~shii.”

Yonghwa bergeming. Tangannya yang semakin kuat memegang pergelangan tangan Seohyun, membuat emosi yang ditahan wanita itu lepas kendali.

Dengan kasar, Seohyun menyentakkan tangannya sehingga cengkraman Yonghwa terlepas dari pergelangan tangannya. “LEPASKAN AKU!” teriak Seohyun murka di depan Yonghwa.

Raut wajah Yonghwa yang berubah beku membuat Seohyun terperanjat saat itu juga. Kedua telapak tangan wanita itu dengan cepat membekap mulutnya sendiri.

Ya Tuhan, apa yang baru saja kulakukan?

“Ma−maaf… Maaf. Ak−aku…” Seohyun merasakan suaranya tertahan di ujung tenggorokannya. Wajah wanita itu terlihat ketakutan, dan tangannya yang bergetar di depan mulutnya, menunjukan sekali kalau wanita itu kesulitan hanya untuk sekedar berbicara dengan jelas. “Yonghwa~shii, a−aku tidak… Sungguh, aku m−minta maaf.”

Tak ada perubahan yang berarti di wajah Yonghwa. Bibir pria itu terkatup rapat. Tatapan dingin-nya yang tajam seakan menghujam benak Seohyun. Menyudutkan wanita itu dalam perasaan bersalah yang susah untuk diampuni, bahkan oleh Seohyun sendiri.

“Ti−tidak seharusnya aku bersikap ku−kurang ajar seperti t−tadi. Aku s−sungguh minta ma−”

Belum sempat Seohyun menyelesaikan perkataannya, Yonghwa mengulurkan kedua lengannya dengan cepat untuk menarik tubuh Seohyun ke dalam dadanya. Membelenggu wanita itu dalam pelukan tiba-tiba. Dekapan Yonghwa yang begitu dalam entah mengapa membuat Seohyun merasa terhenyak untuk sepersekian detik.

“Yonghwa~shii!” pekik Seohyun dengan sedikit mendorong dada Yonghwa untuk melepaskan dirinya dari rengkuhan pria tersebut. “Apa yang−?”

“Menangislah,” bisik Yonghwa lirih di telinga Seohyun. Pria itu mengeratkan pelukannya sehingga membuat Seohyun dapat mencium aroma menenangkan yang menguar dari tubuhnya. “Menangislah jika kau menginginkannya, Seohyun.”

Seohyun terus berusaha melepaskan pelukan erat Pasien sekaligus teman medisnya itu dengan mendorong lebih kuat. Namun semakin kuat Seohyun mendorong semakin kuat pula Yonghwa memeluknya. “Tidak. B−bukan seperti ini, Yonghwa~shii.”

“Tak apa. Jangan pedulikan apa pun.”

“Tidak bisa, Yonghwa~shii. Ini tidak benar.”

Pelukan Yonghwa yang tak terlepas dari tubuhnya, serta bisikan halus untuk membuatnya tenang yang berkali-kali diucapkan pria itu semakin menawarkan emosi Seohyun untuk kembali hadir. Perlahan tapi pasti, dorongan Seohyun ke tubuh Yonghwa itu melemah dengan sendirinya.

“Tapi…” Seohyun menggantung ucapannya begitu saja saat merasakan kesedihan kembali menyerbu hatinya. Isakannya pun mulai terdengar pelan.

“Sudahlah.”

Ucapan Yonghwa serta belaian lembut tangan pria itu di rambutnya, semakin membuat Seohyun larut dalam emosinya sendiri. Berbagai perasaan yang bercampur aduk di benaknya dengan cepat membuatnya kembali menjatuhkan air mata. Tak butuh waktu lama hingga tangis Seohyun pecah dalam dekapan pria itu. Jemarinya dengan kencang meremas bagian depan jubah Yonghwa untuk sedikit mereda suara tangisnya.

Suara ledakan kembang api yang lagi-lagi membahana, serta suara bising yang diciptakan ratusan manusia yang tengah berdiri tidak jauh membelakangi Yonghwa dan Seohyun, menjadi latar belakang penyampaian emosi dari masing-masing insan itu. Keduanya benar-benar terhanyut hingga tidak ada keraguan sedikit pun untuk saling membalas pelukan satu sama lain.

Mengapa bukan kau, Kyuhyun? Mengapa bukan kau yang menenangkanku sekarang? Mengapa harus pria lain?

.

.

.

Berkilo-kilo jauhnya dari Seoul, di tengah sebuah desa terpencil di Himokpo, serta hanya disinari dengan sinar rembulan dan rintikan gerimis kecil, Kyuhyun duduk diam di balkon penginapan yang ia sewa di sana. Mata hitamnya terpaku menatap laptop kerjanya yang berada di depannya.

Kyuhyun tidak sendirian di sana. Di dalam, terlihat salah seorang asisten tengah meringkuk di bawah selimut tebal sehingga hanya sejumput rambutnya yang berwarna gelap yang tampak dari luar. Sedangkan tepat di samping kanannya, terdapat dua orang pria tengah bercengkrama tentang hal perusahaan yang tidak begitu Kyuhyun minati. Memikirkan langkah yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya lebih berguna bagi Kyuhyun ketimbang ikut atau mendengarkan pembicaraan dua anggotanya.

“Presdir, lebih baik anda beristirahat. Biar saya saja yang mengerjakan laporannya.”

Kini yang berada di samping Kyuhyun hanya terdapat satu orang pria saja yang tersisa karena seorang pria yang lainnya tengah menyamankan posisi dan bersiap untuk beristirahat. Kyuhyun diam sejenak menatap asistennya. “Tidak perlu. Kau saja yang beristirahat.”

“Tapi−”

“Kau harus mengumpulkan tenagamu untuk besok,” sela Kyuhyun cepat.

Kyuhyun dan beberapa anggota pekerjanya memang sedang melakukan proyek di daerah yang terpencil ini.

Meskipun menunjukkan raut wajah yang tidak terlalu puas, pria di samping Kyuhyun itu tetap menuruti perintah atasannya. “Baiklah. Bangungkan saya jika anda sudah merasa lelah, Presdir.”

“Hmmm.”

Suasana desa itu menjadi lebih sunyi lagi saat satu-satunya sumber suara yang sedari tadi mengisi kesunyian, kini sudah tidak terdengar. Hanya suara kerikan serangga yang saling bersautan saja yang membuat suasana malam hari di desa itu semakin terasa. Dinginnya angin malam yang bertiup sepoi-sepoi sama sekali tidak menggoda Kyuhyun untuk memejamkan matanya barang sejenak. Seandainya saja hatinya tidak gundah, Kyuhyun akan dengan senang hati menerima tawaran asistennya untuk menggantikan pekerjaannya, dan ia akan beristirahat tenang seraya menikmati suasana alam terbuka seperti ini. Namun, tampaknya ketenangan tidak berpihak padanya beberapa hari terakhir ini.

Kyuhyun jelas tahu bahwa dirinya lah yang menyebabkannya seperti ini. Keraguan serta ketololannya sudah menyakiti seorang wanita yang telah menghiasi hidup serta hatinya selama dua bulan terakhir. Ia tidak tahu apakah ini yang disebut cinta. Yang ia tahu, dirinya selalu merasa tenang jika berada di dekat Seohyun. Melihat senyum tulus dan tawa ceria dari wanita itu membuatnya merasa damai tanpa ia sadari sendiri dengan gamblang. Sambutan senyum wanita itu kala ia baru saja datang dari pekerjaannya, celoteh wanita itu kala makan bersama, aroma indahnya… sungguh Kyuhyun selalu menginginkan itu semua. Ia tidak mau jika apa yang ia dapatkan dari wanita itu lenyap sampai kapan pun, dan oleh siapa pun. Termasuk seseorang yang ia anggap lawan dari dulu, Jung Yonghwa.

Rasa panas dengan cepat menjalari hatinya ketika ia melihat sebuah pemandangan yang menyesakkan dadanya beberapa hari yang lalu. Saat ia hendak mengajak Seohyun makan siang bersama di luar rumah untuk yang pertama kalinya. Berkali-kali Kyuhyun menegaskan hatinya bahwa alasannya mengajak sang istri makan siang adalah karena sang istri tidak sempat sarapan karena bangun lebih siang dari biasanya−walaupun Kyuhyun sendiri tahu alasan lain dari sikapnya yang tidak biasa−. Seorang perawat yang memberitahunya bahwa Seohyun tengah berada di taman rumah sakit, segera menuntun langkahnya untuk menemui wanita itu. Kyuhyun mempercepat langkahnya saat ia melihat sosok yang ia cari tengah duduk di bangku taman, namun langkahnya terhenti begitu saja saat ia menyadari Seohyun tidak sendirian di sana.

Seohyun yang dengan mudahnya tersenyum atau bahkan tertawa oleh pria lain, entah mengapa membuat hatinya panas. Kyuhyun tidak akan mempermasalahkan hal itu jika saja pria itu adalah Minho, atau pria-pria lain yang ia tahu memang selalu membuat lawan bicaranya tertawa. Tapi ini adalah Yonghwa, seorang Dokter dari Busan yang ia tahu memiliki pribadi tak jauh darinya. Dan yang semakin membuatnya ingin menghajar pria itu adalah gerakan kepalanya yang mendekat seolah-olah ingin mencium istrinya, sebelum pria itu kembali ke posisinya yang semula. Tanpa menunggu kemungkinan lain yang bisa membuat amarahnya memuncak oleh ulah Dokter itu, Kyuhyun segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.

Marah dan panas. Kyuhyun merasakan hal itu hingga ke sumsum tulang belakangnya. Bisa-bisanya istrinya bergaul begitu dekat dengan seorang pria hingga membuatnya merasa kalap seperti ini? Apa Kyuhyun harus memarahi Seohyun? Membentak wanita itu dengan kejam? Atau bahkan menyingkirkan wanita itu begitu saja seperti ia menyingkirkan orang yang tidak ia sukai? Tidak. Kyuhyun paham bahwa ia tidak akan bisa melakukan itu semua, apalagi harus melakukan pilihan ketiga. Melakukakannya, sama dengan menghancurkan hidupnya. Orang tolol macam apa yang sanggup melakukan hal seperti itu? Dan Kyuhyun pun memilih diam sebagai luapan emosinya. Mendiamkan Seohyun sampai emosinya mereda, dan memberi kesempatan wanita itu untuk lebih memahami apa yang ia inginkan tanpa pernah membicarakannya sedikit pun.

Kyuhyun menghela napas panjang. Ia sungguh menyesal. Mendiamkan Seohyun ternyata tidak menyelesaikan masalahnya dengan mudah seperti yang ia pikirkan. Kyuhyun bisa saja menutup diri dari istrinya, namun hatinya tidak bisa dibohongi. Bertemu dan melihat tatapan mata Seohyun merupakan masalah lain bagi Kyuhyun. Mata coklat itu selalu membuatnya tersadar dalam pikiran yang selalu Kyuhyun hindari. Menyadarkannya bahwa hal lain yang membuatnya marah adalah rasa kegagalannya mempertahankan Seohyun di sisinya. Seharusnya ia langsung tidur saja malam itu, melihat bulan serta bintang yang bersinar indah malah membawanya ke dalam permasalahan pelik yang sama sekali tidak ia inginkan.

Saat ia merasakan kehadiran Seohyun tepat di sampingnya, Kyuhyun sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. Suara wanita itu begitu membuat Kyuhyun ingin menatap pemiliknya. Hanya sekilas, dan Kyuhyun tidak merasa cukup puas. Saat ia kembali menatap istrinya, sekelumit rasa cemas menghampirinya. Seohyun terlihat pucat, dan tatapan wanita itu yang mengarah padanya terlihat kosong. Walaupun pada awalnya Kyuhyun hanya berniat mengecek suhu badan Seohyun dengan menempelkan punggung tangannya di kulit leher wanita itu, jiwanya sebagai pria normal membuatnya ingin menyentuh Seohyun lebih jauh. Sebutir air mata yang jatuh dari pemilik bola mata bulat itu memang membuat Kyuhyun heran untuk beberapa detik, namun ketika sosok itu beranjak meninggalkannya, Kyuhyun benar-benar tidak rela.

Kyuhyun berhasil menahan Seohyun, ia juga berhasil menyentuh wanita itu lebih jauh. Sentuhan yang semakin lama semakin membuatnya terlena dan menggila. Keraguan Kyuhyun sirna saat sang istri dengan sangat baik menyambutnya dan membalasnya. Namun keraguan itu kembali muncul dengan skala yang lebih besar dari sebelumnya saat Seohyun mengucapkan kata yang seolah menghantamnya.

‘Aku mencintaimu, Kyuhyun’

Begitu besar pengorbanan Seohyun, dan begitu kuat cinta wanita itu untuknya. Menyentuhnya tanpa membalas cintanya sama saja akan menyakiti Seohyun. Kyuhyun tahu ia begitu munafik untuk mengakui bahwa ia juga mempunyai perasaan yang sama, namun ia juga tidak mau sesumbar atas sesuatu yang tidak begitu ia yakini dengan sepenuh hati. Segalanya terasa membingungkan hingga ia sendiri tidak bisa mengungkapkannya, dan memilih meninggalkan Seohyun tanpa memberikan penjelasan apa pun pada wanita itu. Seandainya saja saat itu ia berhenti hanya untuk sekedar berbalik, permasalahannya tak akan serumit ini. Baik hati serta pikirannya tidak siap untuk bertemu dengan istrinya lagi.

Seandainya saja, Seohyun…

.

.

.

Bergaul begitu dekat dengan pria lain dalam kondisi dirimu telah bersuami. Seohyun paham itu adalah teori yang salah, apalagi sampai memeluk pria lain dengan sangat erat. Entah apa yang merasukinya hingga berbuat seperti ini. Ia bahkan tidak pernah merasakan pelukan yang begitu dalam hingga membuatnya tenang dari suaminya sendiri. Semuanya mengalir begitu saja, baik perasaan gundah dan air matanya. Yang ingin ia rasakan adalah sebuah ketenangan, dan seorang pria yang tidak terpikir sedikitpun olehnya,−Yonghwa−telah membuatnya merasakan hal itu.

.

.

.

[TBC]

279 Tanggapan to “LOVE ME [ CHAPTER 8 ]”

  1. utami astria putri Agustus 17, 2016 pada 7:22 am #

    Yaampun, permasalahan lagi dan itu biang keroknya yonghwa!

  2. kyuniewiress18 Agustus 10, 2016 pada 2:48 pm #

    Woo.. Emangnya dich 7 apa siih, kok di ch ini, seokyu kayak ada masalah ya

  3. bya2518 April 27, 2016 pada 9:18 pm #

    Haah permasalahan lagi-_-,sebel ih sm yonghwa nehh

  4. fannya Januari 11, 2016 pada 12:54 pm #

    Aaaak please seo extra sabar krn kyu udh suka sama seo. Please jgn berpaling dr kyu 😢😢 kyu tolong jgn dingin sama seo 😢😢

  5. asrielf rahmawati Desember 31, 2015 pada 12:55 pm #

    bagi pw chap 7 nya dong.ngegantung nih

  6. asrielf rahmawati Desember 31, 2015 pada 2:47 am #

    kemarin manis eh sekarang ginu
    btw,aku minta pw chap 7 nya dong

  7. HildAce Desember 15, 2015 pada 4:53 am #

    Lagi-lagi masalah komunikasi….
    Seandainya mereka mau saling terbuka, semua itu takkan terjadi…

  8. Amelia November 27, 2015 pada 4:16 am #

    Seohyun butuh pelarian! T.T

  9. sulistiowati_06 Oktober 30, 2015 pada 11:59 pm #

    nah lho ati2 kyuppa, jangan2 seohyun udah berubah perasaannya. ati2 dah jangan sampek kyuppa nyesel kalo nanti ditinggal sama seohyun

  10. sulistiowati_06 Oktober 30, 2015 pada 11:46 pm #

    kyuhyun gengsi banget sama perasaannya. kasian seohyun, bener2 udah dikecewain banget sama kyuhyun. sabar ya seobaby

  11. iraseokyu Oktober 12, 2015 pada 4:42 am #

    Hufftttttt sesak banget eonni *sumpah* kata2nya itu lohhh bikin buliran bening ini mengalir…..
    Aigoooo kyuppa itu namanya cinta, engak usah ragu lagi…..

  12. ain Oktober 10, 2015 pada 3:45 pm #

    wahhh mkin seru seru seru…aku suka🙂 kyuhyun oppa knp msih mrs ragu dg.perasaanmu thdp seohyun eonni hem?? kau sudah mncintai istrimu oppa percayalah🙂 hehehe boleh minta pw nya yg part 7 ndak chingu??..boleh ya? ^^…gomawo….🙂

  13. verrenratanap Juli 14, 2015 pada 5:09 pm #

    aku suka fanficnya yea!!

  14. angela agatha Juli 9, 2015 pada 3:24 am #

    Ceritanya makin seru pas ada yonghwa. Tapi kenapa kyuhyun bisa benci ama yonghwa?

  15. kyumaelf Juni 28, 2015 pada 2:29 pm #

    aduh bisa ancur nih kalo kyu terus diam

  16. Andi Juni 10, 2015 pada 12:18 am #

    Kyuhyun tampaknya mulai terbakar cemburu nih.
    Nice thor ceritanya makin seru.

  17. forseokyu April 24, 2015 pada 8:23 am #

    Kyu kok gt sih, kan kasian seo didiemin gt..
    Blm dpt pw buat part 7 nih. Penasaran bgt apa yg terjadi di part 7. Minta pwnya dong eon, gomawo😀

  18. nae_lee April 3, 2015 pada 9:08 am #

    apa yg trjd d part 7 hingga SeoKyu jd saling bersitegang spt ini😥

  19. inndahhlestarii Maret 3, 2015 pada 8:30 am #

    OMG. apa hubungan kyuhyun dan yonghwa?

  20. nadud Februari 25, 2015 pada 6:17 am #

    akhirnya kyu oppa cemburu juga😀

  21. kimhaera Februari 19, 2015 pada 2:50 pm #

    belum baca yang ke 7 jadi agak kurang ngerti gitu deh. tapi brrrrrrrrrrrr😦

  22. Iyank EternalMagnae Januari 15, 2015 pada 2:20 am #

    sbnrnya agak bingung bca chapter nie,cz q bcanya loncat!!
    q blm bca yg part 7,cz blm dpt pw ny!!
    author mnta pw part 7 donk q pnsran ap yg trjdi ma seokyu!!

    hadeeeeeuuuuh kyuppa klo cmbru blng aj g ush pke gengsi sgla!!
    jdinya kn klian brdua yg trskiti!!

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: