LOVE ME [ CHAPTER 10 ]

2 Des

love me

Judul/Title : Love Me 

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it

Length : 1 of …………….

Genre : Romance, Sad, Family.

Author Notes (A/N) : Annyeong wiresdeul *bow* saya balik lagi dengan ff lanjutan LOVE ME

Bisa juga kalian temukan beribu-ribu(lebay) Typos yang merajalela di sepanjang ff

Udah deh cekidot sajaaa…..jangan lupa comment ya eheheh Gomawo thanKyu :*

PLEASE DON’T BE A PLAGIATOR!

Seohyun selalu berharap suaminya menikahinya karena memang mencintainya. Bukan hanya untuk mengembalikan Perusahaan-nya.

.

.

LOVE ME

CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3 | CHAPTER 4 | CHAPTER 5 | CHAPTER 6 | CHAPTER 7 | CHAPTER 8 | CHAPTER 9

.

.

Rasa dahaga yang Seohyun rasakan kala membuka matanya di pagi hari, memaksa wanita itu untuk turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Walaupun pusing di kepalanya belum sepenuhnya reda, kalau untuk berjalan menuju dapur rumahnya, Seohyun yakin ia bisa. Saat langkahnya hampir saja memasuki dapur, indera penciumannya mencium bau sedap masakan dari arah dalam. Dan benar saja, di atas meja makan rendah di dalam sana tersedia banyak macam makanan yang mungkin akan terasa lezat bagi perutnya yang belum terisi apapun sejak kemarin.

“Kau sudah bangun?” Suara berat itu dengan cepat membuat Seohyun membalikkan badannya. Tepat di belakangnya, Kyuhyun berdiri dengan membawa bungkus belanjaan yang berisi berbagai macam buah-buahan.

Untuk beberapa detik, Seohyun terdiam. Ternyata kejadian tadi malam adalah nyata. Kyuhyun yang memeluknya kemarin adalah hal nyata. Dan permintaan maaf itu… ternyata nyata.

“Kau pasti lapar.”

Ucapan Kyuhyun membuat Seohyun tersadar dari pikirannya sendiri. “Ya.” Seohyun mencoba menanggapi pria itu dengan setenang mungkin.

Kyuhyun melewati Seohyun yang masih saja diam berdiri di tempatnya, meletakkan sebagian buah yang ia bawa di dalam lemari penyimpan makanan. “Duduklah, kita sarapan bersama,” ucapnya sembari meletakkan sisa buah lainnya di atas meja makan.

Menuruti perkataan sang suami, Seohyun duduk tepat di depan sisi pria itu dengan secuil keraguan. Kepalanya sedikit tertunduk sehingga membuat sebagian rambut depannya yang berwarna coklat itu menutupi wajahnya.

Tenang, Seohyun.

 

“Makanlah.”

Seohyun mengangkat kepalanya untuk melihat pemilik suara datar itu. Hanya sekilas menatap mata hitam yang ada di depannya, sebelum kembali menundukkan kepalanya untuk memperhatikan beragam makanan yang ada di depannya. “Kau yang membeli ini semua?” Seohyun tahu ini adalah pertanyaan bodoh, tapi menurutnya, pertanyaan ini juga sekaligus mencairkan suasana di sana yang sedikit kaku.

“Hmm.”

“Pasti memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mengumpulkan semua makanan ini.” Tanpa repot-repot memandang suaminya lagi, Seohyun meraih sumpit yang ada di depannya dan mengambil beberapa potong lauk. “Selamat makan.”

Suasana dapur di rumah itu terasa lebih sunyi dan kaku saat Seohyun memilih untuk memakan sarapannya dalam diam. Wanita itu tak membuka mulutnya sedikitpun untuk berbicara. Sungguh kontras dengan pribadinya yang seperti biasa. Apa yang dilakukannya kali ini, tanpa ia sadari telah membuat hati pria yang ada di depannya merasakan kesunyian yang tak kalah besar dari suasana dapur itu.

.

.

.

LOVE ME

.

.

“Kau akan ke rumah sakit pagi ini?”

Seohyun menghentikan kegiatannya menguncir rambut dan menolehkan kepala. Ia tampak tidak begitu terkejut. “Oh, kau sudah bangun, Kyuhyun~ah?”

“Kau akan ke rumah sakit?” ulang Kyuhyun.

“Ya, aku sudah absen beberapa hari. Pekerjaanku pasti sudah menumpuk banyak.” Seohyun melanjutkan lagi mengikat rambutnya yang sempat tertunda. “Bagaimana denganmu?”

“Nanti siang aku akan pergi ke Mokpo lagi, untuk memeriksa proyek.”

“Sampai berapa lama?”

Mendengar pertanyaan sang istri yang menanyakan kepulangannya mau tak mau membuat hati Kyuhyun terasa hangat di pagi hari yang dingin itu. “Mungkin hanya tiga hari.”

Seohyun mengangguk paham. Senyum kecilnya tersungging saat melihat pantulan penampilannya di meja rias. “Baiklah, kalau begitu aku berangkat sekarang,” ucapnya untuk sang suami yang masih duduk di atas ranjang dengan wajah mengantuk.

“Seohyun?”

“Ya?” Seohyun menghentikan langkahnya dan kembali menatap sang suami.

Dengan perlahan, Kyuhyun menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, dan berjalan mendekati Seohyun yang berdiri di depan pintu kamar. Untuk sepersekian detik, Kyuhyun menatap pemilik bola mata coklat  yang lebih pendek darinya. “Apa kau sudah sepenuhnya sehat?”

Seohyun tersenyum simpul. “Ya, aku yakin itu. Kau bisa melihatnya sendiri kan?”

Kyuhyun hanya diam mendengar jawaban sang istri. Kekecewaan sedikit tergambar di wajah datarnya. Ia memang senang jika istrinya sudah kembali sehat, namun entah mengapa ia juga merasa berat jika melihat istrinya sehat dan kembali menjalani aktifitas seperti biasa. Entah mengapa jika akan terpisah seperti ini, membuatnya merasa… hampa.

“Ah, hampir saja aku lupa. Aku sudah menyiapkan sarapan di dapur, jadi kau tidak perlu memasak lagi nanti. Sampai jumpa,” sambung Seohyun sebelum melangkahkan kakinya. Namun belum satu langkah penuh ia raih, sebuah tangan menahan lengannya.

“Jaga dirimu baik-baik,” ucap Kyuhyun lirih. Mata hitamnya yang biasanya tajam, kini terlihat lembut di mata Seohyun.

Perlu jeda beberapa saat hingga Seohyun kembali tersadar dengan apa yang baru saja terjadi. “Ya. Kau juga, Kyuhyun~ah,” ucapnya yang terdengar kaku, bahkan di telinga Seohyun sendiri.

Setelah merasa Kyuhyun melepaskan lengannya, Seohyun segera melenggang pergi dari sana, dan menghilang di arah tangga. Melihat tatapan yang diberikan suaminya tadi membuatnya merasakan desiran halus di pembuluh darahnya. Harus ia akui, sulit sekali menghilangkan perasaan aneh itu saat ia berdekatan dengan Kyuhyun. Setelah semua hal yang terjadi pun, perasaan itu masih tetap tersisa di benaknya. Tidak ingin memikirkan perasaan itu lebih jauh, Seohyun mempercepat langkahnya untuk menuju rumah sakit.

.

Seohyun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mengetahui siapa pasien yang harus ia tangani pagi itu. Di atas ranjang kamar pasien itu, seseorang tengah tergeletak lemas dengan sepasang mata yang tertutup. Sepasang mata yang menenangkan itu, kini tertutup dan terlihat tak berdaya di mata Seohyun. Sebelum memasuki kamar ini, ia memang tidak membaca profil singkat pasiennya. Yang ia tahu adalah ia harus merawat seorang pasien yang ditemukan pingsan kemarin malam.

“Yonghwa~shii?” bisik Seohyun lirih seraya menghampiri Yonghwa.

Tak ada respon dari Yonghwa. Bahkan ketika Seohyun menyentuhkan telapak tangannya ke dahi pria itu untuk mengecek suhu tubuhnya, matanya masih terpejam rapat. Sekelumit rasa hampa pun dengan cepat menghampiri Seohyun yang mulai sudah terbiasa dekat dengan Yonghwa. Menghela napas pelan, Seohyun memindahkan telapak tangannya untuk menyentuh pergelangan tangan pria itu, sebelum menyentuh bagian dada.

“Seohyun?”

Tanpa menghentikan kegiatannya, Seohyun menolehkan kepalanya. “Yonghwa~shii? Anda sudah sadar?”

Yonghwa tersenyum tipis. “Kukira tadi siapa, ternyata kau.” Suara pria itu terdengar lebih lirih dari biasanya. “Kau sudah sembuh?”

“Ya, seperti yang anda lihat.” Kali ini giliran Seohyun yang tersenyum, namun senyumnya kali ini adalah senyum prihatin. “Tapi kenapa sakit kita bergantian seperti ini, sih?”

Senyum Yonghwa masih belum beranjak dari tempatnya. Senyum yang hanya ditujukan untuk wanita yang mengobatinya. Seohyun.

“Ah, Yonghwa~ya? Anda sudah sadar?”

Baik Yonghwa maupun Seohyun segera memusatkan perhatian pada sumber suara.

“Seharusnya kau mengetuk pintu dulu, Luna.”

Wanita yang dipanggil Luna itu tersenyum menyesal. “Mianhe, Yonghwa~ya. Sebelumnya aku tidak tahu kalau anda sudah sadarkan diri,” ucapnya seraya menghampiri Yonghwa dan Seohyun. Iris matanya yang gelap menatap Seohyun yang juga menatapnya. “Hai, Seohyun~ah. Apa kabar? Lama tidak berjumpa.”

Seohyun tersenyum. “Kabarku baik, Luna~shii.”

“Kudengar kau sudah menikah, apa itu benar?”

“Ya, sudah hampir tiga bulan ini.”

“Wah, kalau begitu kuucapkan selamat atas pernikahanmu, Seohyun~ah. Semoga pernikahan kalian selalu bahagia.”

“Terimakasih.”

Yonghwa yang diam sejak dua wanita di depannya ini saling berbincang, kali ini memilih menyela Luna yang akan kembali membuka mulut untuk berbincang dengan Seohyun. “Kau dari mana saja, Luna?”

Luna segera mengalihkan perhatian pada pimpinannya yang entah mengapa berwajah sedikit kaku sekarang. “Tadi aku baru saja menemui Yoona~ya di rumahnya.”

“Kau memberitahukan keadaanku padanya?”

“Ya,” jawab Luna sembari menganggukkan kepalanya. “Lalu tadi aku juga memberi tahu para perawat pembimbing untuk menunda pertemuan dengan anda.”

Tanpa mengindahkan rasa pusingnya, Yonghwa segera mendudukkan tubuhnya dan menatap tak percaya pada Luna. “Apa? Kenapa harus ditunda?”

“Tidak baik mengadakan rapat dengan kondisi tubuh anda yang seperti sekarang, Yonghwa~ya.”

“Ck, aku bisa!”

“Tapi, Yonghwa~ah−“

“Apa yang dikatakan Luna benar, Yonghwa~shii.” Perkataan Seohyun seketika itu juga menghentikan gerakan Yonghwa yang  baru saja menyingkap selimut. “Rapat ini bisa ditunda, tapi kesehatan anda tidak.”

Yonghwa terdiam memandangi Seohyun yang menatapnya tegas.

“Jika harus memimpin rapat pun, aku yakin tubuh anda tidak akan sanggup bertahan,” sambung Seohyun.

Bukan hanya Yonghwa yang terdiam, Luna pun juga terdiam memandangi dua orang di depannya secara bergantian. Terlebih untuk Yonghwa. Yang ia tahu selama ini, pimpinannya itu akan selalu keras kepala dan teguh dengan keputusannya, tapi mengapa wanita berambut coklat di depannya ini mematahkan itu semua?

Seohyun melangkahkan kakinya untuk lebih mendekati Yonghwa, menyentuh bahu pria itu dan sedikit memaksanya untuk kembali berbaring. “Bersabarlah sampai kondisi tubuh anda sudah membaik,” ucap Seohyun seraya membenahi selimut Yonghwa. Setelah itu, ia pun kembali melanjutkan pemeriksaan kepada Yonghwa.

Yonghwa masih diam, Luna juga. Entah mengapa wanita berambut coklat itu sekarang merasa kikuk melihat dua orang yang ada di hadapannya.

“Luna?”

Luna mengerjap kaget. “Ah, i−iya, Yonghwa~ya?”

“Temui Yoona sekarang! Bilang padanya supaya tidak terlalu mengkhawatirkan keadaanku.”

“Baik.” Luna mengangguk patuh sebelum berbalik dan berjalan. Tangannya baru saja akan menggapai daun pintu sebelum Yonghwa kembali bersuara.

“Tunggu! Bilang juga padanya untuk membujuk Yonghe agar mau kuajak jalan-jalan lain kali.”

“Saya mengerti, Yonghwa~ya.”

Setelah pintu tertutup, suasana kamar itu tidak langsung sunyi karena kekehan pelan Seohyun. “Aku tidak menyangka kalau anda begitu menyukai anak kecil, Yonghwa~shii. Bahkan sampai harus membujuknya.”

“Jika tidak dibujuk, dia tidak akan mau.” Yonghwa memperhatikan telapak tangan Seohyun yang kali ini sedikit berpindah ke samping kanan dadanya. “Karena tumbuh di sini, dia jadi tidak mengenaliku sebagai pamannya.”

“Anda seorang paman yang manis.” Seohyun kembali terkekeh. “Jika anda mempunyai anak, anda pasti akan sangat menyayanginya.”

Seohyun tidak tahu bahwa perkataannya barusan telah membuat pria yang ia obati kini tengah merasakan bahagia yang begitu besar. Senyum Yonghwa terukir jelas, dan hatinya menghangat mendengar perkataan itu, terlebih dari Seohyun. Ambisi yang ia pendam selama ini terasa ingin keluar, meledak, dan ingin ia laksanakan saat itu juga.

“Anda terlalu memaksakan tubuh anda, Yonghwa~shii, Seharusnya anda−“ perkataan Seohyun menghilang begitu saja ketika ia merasakan sebuah telapak tangan tengah menggenggam tangannya yang berada di atas dada Seohyun.

“Seohyun…”

Seohyun menatap Yonghwa, merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat ketika tangan pria itu meremas tangannya perlahan. “A−ada apa?”

Yonghwa tidak mengeluarkan suara sama sekali setelah itu. Matanya menatap wanita yang ada tengah mengobatinya dengan sorot penuh kesulitan, sedangkan bibirnya membuat gerakan seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi secara berulang kali.

“Ada yang ingin anda sampaikan padaku?” Mengesampingkan rasa tidak nyamannya yang terus berlanjut, Seohyun malah sedikit mendesak pemimpin desa angin itu karena penasaran.

Yonghwa masih tetap diam. Namun kali ini bibirnya terkatup rapat.

“Yonghwa~shii?”

“Aku ingin tidur,” jawab Yonghwa pada akhirnya. Pria itu dengan perlahan melepaskan tangan Seohyun sebelum meremasnya sejenak, dan memalingkan wajahnya ke arah yang tidak bisa Seohyun lihat. “Jika kau sudah selesai, jangan lupa untuk menutup pintu.”

Seohyun terdiam di tempatnya. Sebelumnya, ia sempat berpikir bahwa Yonghwa akan mengatakan sesuatu yang penting padanya−jika dilihat dari sorot mata serta remasan pelan tangan pria itu di tangan Seohyun−, namun ketika Yonghwa hanya mengatakan kalau pria itu ingin tidur, rasa penasarannya malah bertambah besar. Ia bahkan melupakan niatnya yang telah disiapkan sejak awal untuk mengucapkan terimakasih pada Yonghwa

.

.

.

Kyuhyun melangkahkan kakinya di sepanjang koridor rumah sakit petang hari setelah ia baru saja pulang dari Mokpo. Dengan masih memakai jas kerjanya, ia berjalan menuju sebuah ruangan yang sudah tak asing baginya. Setelah membuka pintu ruangan itu, yang ia dapati hanyalah kekosongan. Sosok yang ia cari tidak ada di sana. Ruangan itu gelap, hanya cahaya rembulan yang menerobos jendela kaca yang hanya menjadi penerangnya. Memantapkan hatinya sekali lagi, Kyuhyun melangkah masuk ke dalam ruangan itu, dan menutup pintu yang ada di belakangnya.

Cukup lama Kyuhyun berada sendirian di sana, tidak melakukan apa-apa, dan hanya menunggu. Menunggu istrinya. Untuk apa? Ia sama sekali tidak tahu. Ia hanya menuruti kata hatinya yang menuntut untuk menemui sang istri. Entah mengapa tiga hari tidak bertemu wanita berambut coklat itu membuat hatinya resah berat, padahal sebelum-sebelumnya ia tak pernah merasa seresah ini walaupun tidak saling bertemu selama lebih dari seminggu. Apakah ini yang dinamakan rindu?

“Kyuhyun?”

Keadaan ruangan yang tiba-tiba terang membuat Kyuhyun membalikkan badannya yang sedari menatap jendela.

“Ah, ternyata benar kau.” Seohyun menurunkan jemarinya yang menempel pada saklar lampu, memberi tatapan bertanya pada sang suami sebelum berjalan mendekat. “Ada apa ke sini?”

Kyuhyun tak beranjak dari tempatnya, matanya hanya tertuju pada wanita yang kini tengah mendekatinya. “Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?”

Seohyun mengangguk, memperhatikan setiap inci dari tubuh Kyuhyun mulai dari wajahnya, hingga kaki.

 “Seohyun?”

Seohyun mendongakkan kepalanya dan mendapati tatapan mata Kyuhyun yang tepat mengarah padanya.

“Kita pulang bersama.” Suara Kyuhyun terdengar lirih, namun lebih terkesan ragu di telinga Seohyun.

Seohyun terdiam. Dasar perutnya terasa tergelitik sesuatu yang tak kasat mata. Ia bahagia, ia ingin tersenyum, atau bahkan tertawa saat itu juga, namun entah mengapa rasa kecewa yang pernah ia rasakan lebih memilih hadir untuk melenyapkan itu semua. “Aku…” Perkataan Seohyun menggantung bibirnya. Ia menunduk sejenak untuk memejamkan mata seraya menarik napas dalam. Haruskah ia menolak ini? Padahal inilah salah satu hal yang membuat perasaannya pada Kyuhyun kembali kuat. “Setelah aku membereskan semuanya,” ucapnya mantap seraya menatap mata Kyuhyun

“Hmm.” Dalam gumamannya, Kyuhyun menyeringai tipis.

Seohyun tahu ia hanya berusaha untuk mengulur waktu. Namun sepertinya apa yang diharapkan Seohyun di dalam hatinya sama sekali tidak dilancarkan Kyuhyun.

.

Ketika Kyuhyun membelokkan langkahnya di tengah jalan dan memasuki sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, Seohyun memperhatikan sekelilingnya. Ini adalah rumah makan, untuk apa Kyuhyun masuk ke sini?

“Kita makan malam di sini,” ucap Kyuhyun seolah paham apa yang tengah dipikirkan istrinya.

“Kenapa tidak di rumah saja? Bahan makanan yang kubeli kemarin juga masih segar.” Kini Seohyun duduk berhadapan dengan suaminya di salah satu meja di sudut rumah makan itu. “Malam ini aku ingin mencoba resep baru, Kyuhyun~ah.”

Kyuhyun tersenyum tipis melihat tingkah istrinya yang sedikit menunjukkan kekesalannya. “Kalau begitu kau bisa melakukannya lain kali,” ucapnya seraya menerima daftar menu yang baru saja diberikan oleh pelayan rumah makan itu. “Lagipula kau baru saja sembuh, tidak baik jika tubuhmu terlalu lelah.”

Untuk yang kedua kalinya malam itu, Seohyun merasakan hal sama karena perkataan Kyuhyun. Ia pun menenggelamkan hidungnya di daftar yang menu karena kembali tak sanggup menatap pria yang duduk di depannya sekarang.

Kenapa seperti ini?

 

“Kau banyak pasien hari ini?”

Seohyun menatap Kyuhyun yang sudah selesai memesan makanan. “Ya, terutama anak-anak,” jawabnya singkat sebelum menyebutkan makanan apa yang ia pesan kepada pelayan.

Meja pasangan suami istri itu kembali hening. Tak ada satu pun di antara mereka yang berniat untuk melanjutkan pembicaraan−terlebih untuk Kyuhyun−. Keduanya lebih memilih untuk tenggelam di pikiran masing-masing.

Setelah mendengar ucapan maaf dari Kyuhyun beberapa malam yang lalu, Seohyun sempat berpikir bahwa Kyuhyun tengah mengajaknya untuk memulai semuanya dari awal. Sebuah kehidupan pasangan suami istri yang dimulai dari nol. Walau tanpa ada kata lain dari Kyuhyun yang menguatkan perkiraannya, Seohyun tak bisa membohongi perasaan bahagianya kala Kyuhyun memeluknya malam itu. Sejak malam itu pula, sikap Kyuhyun terasa lebih hangat.

Pernah suatu malam ketika kondisi Seohyun belum sepenuhnya sehat, dan saat ia sedang tidak benar-benar terlelap dalam tidurnya, ia merasakan Kyuhyun memeluk tubuhnya. Sebuah pelukan yang Seohyun rasakan sebagai ungkapan rindu dari pria itu untuknya. Tidak, bukan hanya rindu. Mungkin juga sedikit ambisi untuk memiliki, jika dirasakan lagi betapa kuatnya lengan Kyuhyun memeluknya. Mata Seohyun terpejam, namun jiwanya terjaga. Dan karena pelukan yang ia rasakan itulah yang membuat perasaannya berkecamuk saat itu juga. Antara bahagia, sedih, dan tak ingin percaya.

Semua itu tidaklah mudah untuk ditanam di lubuk hati Seohyun, sekalipun dengan paksaan. Sebagian dari dirinya lebih condong memilih untuk menolak dengan alasan trauma. Andai saja… jika saja Kyuhyun menegaskan apa yang ia maksud dengan semua sikapnya kali ini, mungkin tembok yang selama ini mengganggu benak Seohyun akan runtuh dalam sekejap. Namun Seohyun juga tidak ingin terlalu berharap sekarang.

“Jadi… kau suka makan di sini, Kyuhyun~ah?” tanya Seohyun berbasa-basi untuk melenyapkan keheningan seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah makan itu.

“Tidak. Ini adalah pertama kalinya aku makan di sini.”

“Lalu kenapa memilih tempat ini?”

“Apa kau mau bilang kenapa kita tidak makan malam di rumah saja untuk menikmati masakanmu?”

Seohyun membelalakkan matanya, ia yakin sekali jika suaminya itu menyeringai kecil saat bertanya kalimat terkahir. “Bu−bukan begitu. Aku hanya ingin bertanya saja, Kyuhyun~ah. Jangan berpikir sejauh itu!”

“Aku tahu.” Seringai itu kini tampak jelas terukir di wajah Kyuhyun. “Aku hanya ingin… sekali-kali…” Kyuhyun memalingkan wajahnya sebelum melanjutkan kalimat. “−kita bisa makan malam bersama seperti ini.”

Kali ini Seohyun merasa tersentuh, relung hatinya yang paling dalam seolah baru saja disiram dengan perasaan bahagia. Entah apa yang membuat senyumnya berkembang seperti saat ini. “Bukankah selama ini kita selalu makan malam bersama?” Senyum tulus Seohyun belum beranjak ketika ia kembali membuka mulutnya. “Bagiku, makan malam biasa pun akan selalu menjadi istimewa jika dilakukan bersama.”

“Benarkah?”

“Tentu saja,” jawab Seohyun seraya menganggukkan kepalanya.

Kyuhyun terdiam, mata hitamnya nya kini terlihat sejuk di mata Seohyun. Namun hal itu tak berlangsung lama ketika pelayan rumah makan itu datang mengantarkan pesanan. Setelah Seohyun mengucapkan terima kasih, pelayan itu membungkukkan badannya sebentar sebelum pergi dari meja pasangan suami istri itu.

Selamat makan.” Seohyun menggigit sedikit daging yang ia sumpit dan merasakan makanan itu dengan seksama. “Hmm… ini enak. Seleramu bagus dalam memilih tempat, Kyuhyun~ah.”

“Hmm.”

“Kau tidak memakan makananmu?”

Sebenarnya ada satu hal yang membuat Kyuhyun bahkan belum menyentuh sumpitnya saat ini. Ia ingin sekali mengatakan satu hal pada istrinya. Namun tampaknya, keraguan sedikit mempersulitnya saat ini. “Ada yang ingin kau kubicarakan denganmu, Seohyun.”

“Apa?” Seohyun menurunkan sumpitnya dan menatap Kyuhyun seksama.

Susah payah Kyuhyun mempertahankan sifat tenangnya di depan sang istri. Ia menarik napas dalam-dalam. “Sebenarnya aku−“

“Seohyun?”

Baik Kyuhyun maupun Seohyun reflek menolehkan kepalanya ke arah sumber suara tersebut.

“Yoona~ah?”

“Ah, ternyata benar kau.” Yoona segera menghampiri meja Kyuhyun dan Seohyun. “Aku sedikit ragu, maka dari itu aku memanggilmu dari jauh.”

Seohyun tersenyum simpul menanggapi wanita berambut coklat itu. “Apa kau sendirian, Yoona~ah?”

“Tidak, rombonganku ada di sana,” ucap Yoona seraya menunjuk sudut lain dari rumah makan itu. “Ada Ryeowook di sana, Yonghwa juga.”

“Yonghwa~shii?”

“Ya.”

Tanpa Seohyun sadari, seseorang yang juga ada di sana yang sedari tadi diam merasa tak nyaman saat nama Yonghwa mulai disebut-sebut dalam pembicaraannya.

Seohyun menajamkan pandangannya ke arah yang tadi ditunjuk oleh Yoona. Benar. Di sana memang terlihat sejumput rambut berwarna hitam yang menyembul dari balik dinding kayu pembatas. “Bukankah Yonghwa~shii masih harus dirawat di rumah sakit?”

Yoona tertawa kecil. “Yah, kau tahu Yonghwa, kan? Di sangat keras kepala.”

Seohyun mengangguk setuju dengan ucapan Yoona.

“Hei, Seohyun. Bagaimana kalau kalian ikut bergabung dengan kami?”

“Bergabung?”

“Ya.” Yoona mengangguk antusias. Matanya menatap pasangan suami istri di depannya secara bergantian. “Aku yakin adikku tidak akan keberatan.”

Seohyun memberi tatapan bertanya kepada Kyuhyun, namun pria itu tampaknya sedang menghindari tatapannya. “Umm… maaf, Yoona~ah. Tapi sepertinya… kami tidak bisa.”

Walaupun raut kekecewaan sempat tergambar di wajah Yoona, wanita Busan itu memberikan senyumnya untuk pasangan suami istri yang ada di depannya. “Baiklah, sepertinya aku tidak bisa mengganggu acara spesial kalian. Kalau begitu aku kembali dulu.” Yoona menganggukkan kepalanya pelan kepada Kyuhyun sebelum beralih ke Seohyun. “Annyeong, Seohyun.”

Annyeong.”

Setelah Yoona menjauh, Kyuhyun mengatakan sesuatu yang membuat Seohyun sedikit terkejut. “Pergilah kalau kau ingin bergabung dengan mereka.”

“Kalau kau tidak ingin melakukannya, aku juga sama. Lagipula ada yang ingin kau sampaikan padaku, bukan?” Seohyuun memberikan tatapan penuh harap untuk suaminya

“Tidak ada,” jawab Kyuhyun datar. Pria itu meraih gelas dan menenggak isinya sedikit sebelum mulai memakan makanannya.

Dan jawaban Kyuhyun jelas membuat hati Seohyun sedikit kecewa.

.

Perjalanan pulang terasa lebih kaku dari sebelumnya bagi Seohyun. Sesekali ia menatap wajah datar Kyuhyun. Mencoba memahami apa yang tengah dipikirkan suaminya itu sekarang. Wajah itu memang selalu datar, tapi mengapa sekarang terlihat lebih dingin dan kaku? Bahkan, Seohyun juga merasakan sedikit rasa acuh yang tergambar di sana. Hingga ketika keduanya sudah sampai di kediaman mereka, Seohyun tak mendengar sepatah kata pun yang terlontar dari bibir suaminya. Pria itu langsung saja menuju kamar mandi yang berada di kamar mereka, dengan masih mengacuhkan Seohyun yang hendak menawarkan air hangat untuk mandi.

Seohyun menghela napas pelan seraya melemparkan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya mengira-ngira lebih lanjut hal apa yang sebelumnya terjadi hingga membuat Kyuhyun seperti itu.

Suasana hatinya cepat sekali berubah−batin Seohyun.

Suara pintu kamar mandi yang dibuka membuat Seohyun bangun dari posisinya. Matanya mengawasi sang suami yang bertelanjang dada yang baru saja keluar dari sana. “Kau sudah selesai, Kyuhyun~ah?”

“Hmmm.” Kyuhyun berjalan melewati Seohyun dan berhenti tepat di depan lemari pakaian. Pria itu membuka lemari dengan sedikit kasar sebelum mulai mencari pakaiannya. Nampaknya butiran air yang terus menetes dari rambut hitamnya yang basah sama sekali tak membuatnya memiliki niat untuk mengeringkannya lebih dulu.

“Baiklah.” Seohyun bangkit seraya meraih handuknya yang ia letakkan di atas ranjang. Saat ia baru saja meraih daun pintu kamar mandi, ia membalikkan badan karena telinganya menangkap suara dentuman yang tidak terlalu keras di belakangnya. “Astaga! Kau kenapa, Kyuhyun~ah?”

Seohyun segera menghampiri tubuh suaminya yang terjatuh di samping ranjang. Melingkarkan lengannya di kulit tubuh Kyuhyun, dan membantu pria itu untuk berdiri. “Kau terpeleset?”

Kyuhyun memalingkan wajahnya karena merasakan rasa hangat yang menjalar di sana. Bagaimanapun, itu adalah hal yang sangat memalukan baginya. “Sedikit.”

“Duduklah.” Perlahan Seohyun sedikit mendesak Kyuhyun untuk menuruti perintahnya, meraih handuk yang sempat terjatuh, dan menggunakan benda itu untuk mengusap rambut kelam suaminya. “Seharusnya kau mengeringkan rambutmu dulu.”

“Aku tak apa-apa.” Kyuhyun jelas masih mencoba untuk meredam rasa malu dengan suara datarnya. Namun dibalik rasa malu itu, ia menikmati setiap usapan lembut yang diberikan sang istri di atas kepalanya.

Kegiatan Seohyun terhenti saat matanya menangkap sebuah luka dengan darah yang sudah mengering, melintang dari bahu hingga punggung kiri Kyuhyun. “Apa ini?” Seohyun menyentuh luka itu, dan raut kesakitan yang ditujukan Kyuhyun, membuat Seohyun  memiliki keberanian untuk menatap suaminya itu dengan galak. “Ini Luka akibat Proyek mu itu hah ? kenapa kau tak bilang Kyuhyun~ah ?! kenapa kau tak jujur? Sudah ku katakan jangan terlalu turut serta dalam pembangunan itu!”

“Lukanya tidak terlalu sakit, Seohyun.”

“Aku tahu kau sedang berbohong.” Seohyun menekankan suaranya di setiap kata yang ia ucapkan.

Lengkap sudah momen memalukan bagi seorang Cho Kyuhyun di depan sang istri. Ia tidak menyangkal lagi setelah kalimat terakhir dari Seohyun. Bibirnya terkatup rapat, dan telinganya mendengar setiap gerutuan yang keluar dari bibir Seohyun yang sedang mengobati lukanya. Sesekali senyum yang teramat tipis menghiasi wajah Kyuhyun ketika ia mencuri-curi pandang untuk menatap sang istri.

Seohyun menuju lemari pakaian dan mengambil sepotong baju atasan milik Kyuhyun. “Setelah ini cobalah untuk beristirahat,” katanya sembari membantu sang suami untuk memakai baju. Dengan perlahan, Seohyun mendorong tubuh Kyuhyun untuk berbaring. “Mungkin besok lukamu sudah tidak terasa sakit lagi.”

“Jadi begini?”

Seohyun menatap Kyuhyun. Kedua tangannya yang tengah memakaikan selimut untuk suaminya, terhenti di atas dada pria itu. “Apa maksudmu?”

“Rasanya menjadi pasienmu.”

Senyum Seohyun berkembang mendengar perkataan suaminya. “Kau berbeda dengan semua pasienku. Kau pasien yang spesial, Kyuhyun~ah.”

Ah, nampaknya Kyuhyun menangkap satu kata yang menarik dari Seohyun. “Spesial?”

“Ma−maksudku… Ummm−“ Seohyun merutuki bibirnya yang secara tiba-tiba mengucapkan hal itu tanpa ia sadari. Ia pun memutar otaknya untuk mencari jawaban yang lebih masuk akal lagi. “Yah, kau spesial, Kyuhyun~ah. Semua pasienku harus berbaring di atas ranjang sempit yang sedikit keras, sedangkan kau berada di sini. Di rumahmu sendiri, dan di atas ranjang tidur yang lebih luas dari mereka.” Senyum Seohyun sekarang terlihat seperti orang yang menahan sakit, atau mungkin malu?

Kyuhyun diam, mata hitamnya mengarah tepat ke mata coklat milik istrinya yang sekarang duduk di sampingnya. Melihat kegugupan sang istri yang terlihat lain dari biasanya membuatnya tak berusaha menyembunyikan seringai tipisnya.

“Aku… aku harus mandi, Kyuhyun~ah.”

“Hei.”

Langkah Seohyun terhenti saat ia mendengar suara Kyuhyun . Ia pun membalikkan badannya menghadap pria yang sedang berbaring itu.

“Gomawo.”

Satu kata, namun terdengar indah di telinga Seohyun. “Cheonmayo.”

Walaupun Seohyun mengatakannya dengan senyuman, Kyuhyun yakin bahwa wanita itu masih merasa gugup. Ia pun tersenyum saat sosok sang istri menghilang di balik pintu kamar mandi. Entah mengapa rasa kesal yang sempat ia rasakan untuk Seohyun kini sudah tak ada. Rasanya memang tidak akan mudah, apalagi jika ada pengganggu hubungannya dengan Seohyun seperti sekarang. Namun Kyuhyun akan berusaha mengembalikannya. Mengembalikan saat-saat dimana wanita pemilik mata coklat itu selalu menatapnya dengan sorot cinta. Dan nampaknya, ia harus meyakinkan istrinya itu lebih dalam lagi.

.

.

.

[TBC]

 

 

267 Tanggapan to “LOVE ME [ CHAPTER 10 ]”

  1. kyuniewiress18 Agustus 11, 2016 pada 6:23 am #

    Senyum senyum bacanya.. Kyuhyun mah pake acara jatoh segala, tp gapapa deh tmbah moment seokyu. Ciehh.. Kyuhyun jadi pasien spesialnya seohyun

  2. zakhiya19 April 24, 2016 pada 4:02 am #

    Haduh si kyu mintanya diapanin sifatnya campur campur kayak gado2 . Pengen gue cincang sangking gregetnya

  3. fannya Januari 11, 2016 pada 2:36 pm #

    Kyu omaigat haha jadi ngebayangin wajah malunya dia wkwk cuw anet pasti deh 😁😁

  4. asrielf rahmawati Desember 31, 2015 pada 2:50 am #

    kyu ya ampun
    btw pw nya skalian sama chap 11 dong

  5. santi Desember 30, 2015 pada 1:03 am #

    Suka banget sama ni ff… Aaaa klw dibikin drama kayakx seru jgaa

  6. santi Desember 30, 2015 pada 1:01 am #

    Kak.. Kata sandi chapter 7 sama 11 apa?

  7. Amelia November 27, 2015 pada 4:58 am #

    Gak bisa ngebayangin gimana cool nya seorang kyuhyun yg tiba2 terpeleset, wkwkwk itu sangat menyenangkan :p

  8. sulistiowati_06 Oktober 31, 2015 pada 12:14 am #

    astaga lucu sekali kyuhyun, ternyata disikap dinginnya ada kelakuan malu2in didepan seohyun. haha bener2 tanpa diduga kelakuannya kyuppa

  9. iraseokyu Oktober 12, 2015 pada 11:11 am #

    Cayooo kyuppa… Yakinkan seonni lagi spya seperti kayak dlu yg menatap kyuppa dengan binar cinta yg penuh dimata *kekkkkk
    Ffnya makin ke part selanjutnya makin daebaakkkk eonniii

  10. angela agatha Juli 9, 2015 pada 5:25 am #

    Nggak ngebayangin kalo cerita ini beneran dibuat dramaaaa

  11. kyumaelf Juni 28, 2015 pada 3:00 pm #

    ya kyu harus berjuang lagi

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: