LOVE ME [ CHAPTER 13 ]

9 Jan

love me

Judul/Title : Love Me

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr ]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it

Length : 1 of………..

Genre : Romance, Sad, Family. Little bit NC

Author Notes (A/N) : Annyeong wiresdeul *bow* aku bawa ff lanjutan LOVE ME lagi nih hehehe setelah itu author akan benar-benar fokus dengan UAS hingga 2 minggu ke depan😉

Bisa juga kalian temukan beribu-ribu(lebay) Typos yang merajalela di sepanjang ff

Udah deh cekidot sajaaa…..jangan lupa comment ya eheheh Gomawo thanKyu :*


PLEASE DON’T BE A PLAGIATOR!

Kyuhyun memperhatikan dengan seksama wajah Seohyun yang terlelap sambil sesekali mengusap kening istrinya yang terus saja menghasilkan bulir keringat. Seohyun baru saja terlelap beberapa menit yang lalu setelah menangis cukup lama di dadanya. Sebuah tangis pilu yang tidak dapat dimengerti olehnya sedikitpun. Kyuhyun merasa bahwa istrinya sekarang tengah mempunyai beban pikiran yang berat, namun ia sendiri tidak tahu itu apa. Dan sepertinya Kyuhyun harus mencari tahu penyebabnya.

.

.

Seohyun selalu berharap suaminya menikahinya karena memang mencintainya. Bukan hanya untuk mengembalikan Perusahaannya-nya.

.

.

LOVE ME

CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3 | CHAPTER 4 | CHAPTER 5 | CHAPTER 6
CHAPTER 7 | CHAPTER 8 | CHAPTER 9 | CHAPTER 10 | CHAPTER 11 | CHAPTER 12

.

.

Seohyun membuka matanya perlahan saat dirasa sinar matahari yang menerobos gorden kamar membanjiri wajahnya. Dengan perlahan, wanita itu mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar pada sandaran ranjang tidurnya. Untuk sesaat, Seohyun hanya memandang  linglung sekeliling kamarnya. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi padanya sebelum ia tidur. Entah mengapa sekarang benaknya terasa sangat sesak.

Ah, Seohyun ingat. Semalam ia menangis sambil memeluk Kyuhyun sebelum jatuh tertidur karena kelelahan. Ia juga ingat alasan mengapa ia merasakan sedih yang teramat sangat.

Helaan napas panjang keluar dari mulut Seohyun. Mengingat apa yang terjadi kemarin malam membuat kepalanya terasa pening secara tiba-tiba, dan… juga akan menambah rasa bersalahnya kepada suaminya.

“Kepalamu terasa pusing?”

Suara itu membuat Seohyun menghentikan gerakannya memijat kepala kepala. Tak sepatah katapun  jawaban yang ia tujukan untuk suminya. Mata coklatnya terlihat sayu saat memperhatikan Kyuhyun berjalan mendekatinya.

“Kau harus makan,” ucap Kyuhyun lagi. Kali ini pria itu sudah duduk tepat di depan Seohyun. “Semalam suhu badanmu tinggi.”

Seohyun menolehkan kepalanya ke arah jam yang menggantung dinding kamarnya. “Aku sudah terlambat.”

“Jangan bodoh.” Dengan pelan, Kyuhyun mencegah tangan  Seohyun yang mulai menyingkap selimut. “Kau hanya akan menjadi pasien jika masih bersikeras ke sana.”

Senyum tipis tergambar di bibir  Seohyun. Wanita itu tahu bahwa saat ini suaminya tengah mengkhawatirkannya. “Baiklah. Hari ini aku akan beristirahat di rumah.”

“Bagus. Akan kuambilkan sarapan untukmu,” ucap Kyuhyun seraya melangkahkan kakinya pergi dari kamar itu.

Seohyun melenyapkan senyumnya saat Kyuhyun meninggalkannya sendiri. Ia tahu bahwa seharusnya ia tak merasa bahagia sekarang. Wanita itu menundukkan kepalanya dalam dan membiarkan beberapa helai rambutnya tersibak ke depan.

Juga… membiarkan air matanya kembali berlinang membasahi kedua pipinya.

Aku harus bagaimana, Ya Tuhan?

.

.

.

Berada sendirian di rumah karena libur dari  kantor membuat Kyuhyun memilih bersih-bersih rumah untuk mengisi waktu kosongnya. Tadi pagi Seohyun kembali bekerja di rumah sakit, dan dengan membersihkan rumah, ia juga akan meringankan pekerjaan istrinya yang baru saja beristirahat selama satu hari. Akan terasa sangat menyenangkan jika ia mendapat pujian dari Seohyun saat makan malam nanti.

Kyuhyun mendengus geli. Ia pun melanjutkan menyapu lantai rumahnya. Memikirkan hal tadi membuatnya malu sendiri.

Tak butuh waktu lama bagi Kyuhyun untuk menyudahi kegiatan menyapu lantai dasar rumahnya. Semuanya sudah tersapu, dan hal selanjutnya yang ia lakukan adalah mempersiapkan ember berisi air untuk mengepel lantai rumahnya. Hal ini tidak terlalu sulit bagi pria sepertinya, karena sebelum menikah pun ia terbiasa membersihkan rumahnya seorang diri.

Helaan napas lega berhembus dari mulut Kyuhyun. Tinggal ruang depan saja yang belum ia bersihkan. Pria itu baru saja akan memindahkan ember air yang ia gunakan untuk mengepel ketika tiba-tiba ia mendengar ketukan pintu yang cukup keras dari depan. Dengan meninggalkan ember airnya, Kyuhyun lebih mengutamakan untuk membuka pintu rumahnya.

Perubahan raut wajah Kyuhyun terlihat  ketika ia mengetahui siapa orang yang mengetuk pintu rumahnya. Kyuhyun terkejut, namun ia terlalu pandai untuk mempertahankan emosinya. “Apa maumu?” ucapnya dingin.

Yonghwa pun juga terlihat sama. Siapa yang diharapkan Dokter itu, ternyata bukan orang yang membukakan pintu untuknya. “Aku ingin bertemu Seohyun.”

“Tidak ada.”

Yonghwa tampak sangat tidak puas dengan jawab Kyuhyun. Pria itu bahkan mengintip sedikit ke arah belakang Kyuhyun. “Jika dia sudah datang, katakan padanya bahwa hari ini aku kembali ke Busan,” ucap Yonghwa setelah diam untuk beberapa detik.

“Memang seberapa penting keberadaanmu bagi istriku?” Jika saja Kyuhyun tidak mengatakan hal itu, mungkin sekarang Yonghwa sudah berbalik badan. “Kau tidak di sini pun, dia tidak akan peduli.” Kyuhyun dengan jelas menunjukkan seringai mengejeknya.

Kekehan sinis keluar dari bibir  Yonghwa. “Oh… tapi setidaknya, dia pasti akan peduli saat-saat di mana kami menghabiskan waktu bersama.”

Kerutan samar tergambar di kedua alis Kyuhyun.

“Saat itu… terasa sangat manis,” lanjut Yonghwa. “Sepasang bibirnya… Aku yakin kau juga pernah merasakannya, tapi−”

Perkataan Yonghwa terpotong begitu saja ketika Kyuhyun dengan sangat cepat melayangkan sebuah bogeman kuat ke arah pria berambut coklat tersebut. Tubuh Yonghwa terpelanting beberapa meter dari beranda rumah itu hingga menabrak tembok yang berada di depan halaman rumah Kyuhyun. Tanpa memberi kesempatan Yonghwa untuk bangkit, Kyuhyun kembali bergerak cepat untuk menindih tubuh Yonghwa dan mencengkeram bagian dada Dokter tersebut dengan kuat. Matanya tak lagi berwarna kelam, dan tangan kirinya yang siap kembali menyerang Yonghwa.

“Sekali lagi kau berkata sampah, akan kupastikan dadamu berlubang saat itu juga,” desis Kyuhyun tepat di depan wajah Yonghwa.

Namun Yonghwa sama sekali tidak menunjukkan rasa takutnya. Pria itu kembali tersenyum  sinis walaupun salah satu sudut  bibirnya terhiasi cairan merah kental. Ternyata apa yang sudah  ia perhitungkan sebelumnya terjadi juga. “Kau terlalu munafik, Cho Kyuhyun. Kau takut?”

“Pergi. Dari sini. Sekarang  juga!” Kyuhyun kembali berdesis dengan penekanan di setiap kalimatnya.

Senyum sinis Yonghwa  berubah menjadi sebuah senyum simpul. Entah mengapa Kyuhyun merasa jika terdapat ketidakrelaan dalam senyum itu.

“Keberadaan Seohyun di dekatku tetaplah menjadi satu hal yang sangat indah.” Yonghwa mendorong tubuh Kyuhyun hingga membuat Presdir Cho Corpuration itu sedikit terhuyung ke belakang. Awalnya Kyuhyun mengira Dokter itu akan berbalik menyerangnya, namun hal yang terjadi berikutnya membuatnya mengerutkan kedua alisnya semakin dalam. “Kau beruntung sekarang karena kau belum mengulangi kesalahanmu sehingga membuat Seohyun tidak bisa lepas darimu. Tapi ingat! Aku tak akan pernah menarik ancamanku padamu sebelumnya.”

Itulah kalimat terakhir Yonghwa sebelum ia melangkahkan kakinya pergi dari kediaman Kyuhyun. Senyum simpulnya kembali mengembang. Ibu jarinya mengusap sudut bibirnya yang tadi terkena pukulan pria berambut gelap itu. Dalam hati, ia rela mendapatkan hal itu karena memang ia pantas untuk mendapatkannya. Melihat apa yang dilakukan Kyuhyun tadi setidaknya mengurangi rasa khawatirnya terhadap Seohyun. Wanita yang ia cintai, ternyata mendapatkan cinta juga dari pria yang dicintai wanita itu.

Bahkan Yonghwa merasa… cinta Kyuhyun lebih besar dari rasa cintanya untuk Seohyun.

.

Heh… ada apa, Yonghwa? Kau merasa kalah, eh?

.

.

Seohyun mempercepat langkahnya secepat ia bisa saat perjalanan dari rumah sakit menuju rumahnya. Jantungnya berdetak lebih kencang dari keadaan normal, dan keringat dingin membasahi pelipis serta lehernya. Ia merasa sedikit takut. Sepanjang perjalanan, mata coklatnya memperhatikan dengan tajam sekelilingnya. Beruntung sore itu gerimis kecil tengah memerciki jalanan Seoul, sehingga tak banyak orang yang berada di luar. Dan juga sekaligus memudahkannya untuk memperhatikan sekitarnya.

Rasa takut yang dirasakan Seohyun sekarang tidak akan terjadi jika saja Tiffany tidak memberitahunya bahwa Yonghwa telah mencarinya saat ia keluar dari rumah sakit untuk memeriksa Taeyeon di kediaman Park beberapa jam yang lalu. Tiffany tidak mengatakan alasan mengapa Yonghwa mencarinya, mungkin juga karena Yonghwa memang sengaja tidak mengatakannya. Namun Seohyun tidak peduli. Ia tidak ingin mengetahui alasan Yonghwa mencarinya. Sama sekali tidak.

Saat membuka pintu rumahnya, Seohyun langsung menyadari bahwa sang suami tengah berada di rumah karena pintu rumahnya yang tidak dikunci. “Annyeong,” ucap Seohyun seraya membuka pintu.

Hening. Tak ada yang menyahuti salam Seohyun. Wanita itu pun melanjutkan langkahnya menuju dapur, namun tiba-tiba berhenti ketika matanya menangkap sosok sang suami yang tengah duduk bersandar di pintu beranda rumah dengan posisi membelakanginya.

“Kyuhyun~ah?” panggil Seohyun lirih, namun Kyuhyun masih tidak menyahutinya. Seohyun pun mendekati pria itu, dan senyum manisnya terukir saat mengetahui suaminya tengah memejamkan matanya.

Kyuhyun tengah tertidur di sana. Raut damai pria itu membuat Seohyun sedikit tidak tega jika harus membangunkannya. “Kyuhyu~ah?” panggil Seohyun sekali lagi, dan kali ini dengan menyentuh lengan suaminya.

Tak butuh panggilan yang kedua kalinya untuk membuat Kyuhyun membuka mata.

“Kenapa tidur di sini? Pintunya masih terbuka, kau bisa sakit nanti.”

Kyuhyun hanya memandangi Seohyun.

“Cepat mandi. Setelah itu kita makan malam bersama.” Seohyun bangkit dari posisinya dan berjalan menuju dapur tanpa menoleh lagi ke arah Kyuhyun.

Bahkan… wanita itu tak menyadari perubahan tatapan mata Kyuhyun untuknya.

.

Gerimis yang tadi hadir, sekarang telah berubah menjadi rintikan hujan yang deras. Kini baik  Kyuhyun dan Seohyun sedang menikmati makan malam bersama mereka. Rintikan hujanlah  yang menjadi satu-satunya sumber suara bagi sepasang suami istri itu, karena keduanya memilih untuk diam sambil menikmati makanan mereka. Namun hal itu tidak berlangsung lama ketika Seohyun membuka pembicaraan seperti biasa.

“Apa Minho juga memberimu libur hari ini?”

“Hn.”

“Sampai kapan?”

Kyuhyun meletakkan mangkuknya dan menatap Seohyun. “Lusa,” jawabnya singkat.

Seohyun mengangguk paham. Wanita itu menyumpit sepotong daging bakar dan meletakkannya tepat di atas mangkuknya. “Kudengar ada perubahan pola keamanan pembangunan di Mokpo. Apa itu benar?”

“Ya. Darimana kau tahu?” tanya Kyuhyun sebelum meraih gelas di depannya.

“Leeteuk~ya,” jawab Seohyun santai. “Tadi aku ke rumahnya karena harus mengobati Taeyeon.”

Dalam diamnya, Kyuhyun menemukan jawaban dari salah satu pertanyaan yang sedari  tadi mengusik pikirannya. Bukan masalah darimana Seohyun mengetahui hal yang ia tanyakan, tapi alasan mengapa Yonghwa tidak bisa menemukan Seohyun sehingga membuat Dokter itu mencari istrinya di rumah.

Selesai menenggak habis minumannya, Kyuhyun langsung berdiri begitu saja dan meninggalkan Seohyun yang masih melanjutkan makannya. Berada di dekat Seohyun membuatnya semakin ingin mencerca wanita itu dengan berbagai pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Dan langkah Kyuhyun berhenti tepat di beranda rumahnya, memilih sudut itu lagi untuk merenungkan semua hal yang mengganggunya. Pria itu sama sekali tak merasa kedinginan saat angin malam yang membawa percikan air hujan berhembus dari pintu beranda yang masih terbuka lebar.

Apa yang ada di dalam benaknya sekarang, lebih dingin dari apapun juga.

.

“Jangan terlalu lama di sini, Kyuhyun~ah. Hujan diluar cukup deras.”

Suara lembut itu membuat Kyuhyun mengalihkan perhatiannya sejenak dari hujan.

“Ini sudah malam, lebih baik kau beristirahat.”

Kali ini Kyuhyun merasakan seseorang hadir dan duduk tepat di sebelahnya.

Seohyun memiringkan kepalanya, menunggu respon dari Kyuhyun yang menatap langsung matanya. “Mau kubuatkan Teh?” tanyanya setelah Kyuhyun tak kunjung meresponnya.

“Temani saja aku di sini,” jawab Kyuhyun datar.

Seohyun mengangguk pelan. Ia pun menyamankan lagi duduknya dengan menggantungkan kedua kakinya seperti yang dilakukan Kyuhyun. Wanita bermata coklat itu juga memandang tanah di depannya yang diguyur hujan. Genangan air yang tercipta di sana membuatnya terhanyut dalam keheningan yang menenangkan antara ia dan suaminya. Sudah lama ia tidak duduk berdampingan dengan suaminya seperti ini dan dalam suasana tenang seperti ini. Rasanya seperti−

“Tadi sore Yonghwa mencarimu.” Walaupun singkat dan datar, perkataan Kyuhyun mampu membuat Seohyun dengan cepat menolehkan kepalanya. “Dia bilang akan kembali ke Busan.”

Jantung Seohyun serasa berhenti berdetak saat itu juga. Ia mengalihkan pandangannya ke depan untuk menghindari tatapan suaminya. “Oh ya?” Suara Seohyun seperti tercekat di ujung tenggorokannya.

Hening kembali tercipta di sana. Dan untuk keheningan kali ini, Seohyun tidak bisa menikmatinya sedikitpun. Kedua tangannya yang bertautan di atas kakinya saling meremas untuk meredam rasa gugupnya. Ia sama sekali tidak menyangka Yonghwa mendatangi rumahnya dan menemui Kyuhyun. Yonghwa sungguh nekat. Bagaimana jika Yonghwa mengatakan hal yang tidak-tidak pada suaminya? Bagaimana jika Kyuhyun tahu apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang harus ia lakukan?−Pertanyaan itu seakan berputar hebat di benak Seohyun. Ia memang mampu menutupi rasa gugupnya, tapi bahasa tubuhnya tetap terbaca oleh suaminya.

“Memang seberapa dekat hubunganmu dengannya?”

Ya Tuhan….

Seohyun semakin gugup sekarang. Sebisa mungkin ia mempertahankan suaranya agar terdengar normal. “Kita hanya rekan. Yonghwa~ah… adalah pasienku,” jawab Seohyun seraya menundukkan kepalanya.

“Benarkah?” Suara Kyuhyun seakan terdengar sangat jauh dan dingin di telinga Seohyun.

“Ya,” jawabnya sambil terus menundukkan kepala. Namun itu hanya berlangsung sejenak sebelum Seohyun memberanikan diri membalas tatapan Kyuhyun.

Sumber cahaya dari ruang tengah membuat  Seohyun tidak bisa melihat dengan jelas wajah Kyuhyun yang tengah menatapnya, tapi ia yakin bahwa sorot mata Kyuhyun begitu dingin ketika menatapnya.

“Bisakah kupegang kalimatmu, Seohyun?” tanya Kyuhyun sekali lagi seraya lebih mendekatkan tubuhnya.

Seohyun sedikit menjauhkan kepalanya. Lidahnya terasa kelu saat menatap mata kelam Kyuhyun yang berjarak sangat dekat dengannya. Mata itu, selain terlihat dingin dan tajam, entah mengapa  Seohyun merasa tersimpan banyak emosi di sana. “Ke−kenapa bertanya seperti itu, Kyuhyun~ah?”

“Bisakah kupegang kalimatmu, Seohyun?” Kyuhyun kembali mengulang pertanyaannya hingga membuat emosi Seohyun sedikit tersulut.

“Apa kau tidak memperca−” Perkataan Seohyun terpotong begitu saja ketika Kyuhyun menutup jarak di antara keduanya dengan ciuman yang sedikit kasar. Seohyun sangat terkejut dengan hal itu, apalagi ketika Kyuhyun meraih tengkuknya untuk memperdalam ciumannya. Kyuhyun bahkan sedikit mendorong tubuh Seohyun hingga punggung wanita itu menyentuh pintu kayu geser yang ada di sampingnya. Kedua tangan Seohyun yang bebas, mencoba untuk meraih kepala Kyuhyun dan menjauhkan pria itu darinya. “Kyu−”

Kyuhyun kembali memotong kalimat Seohyun, namun kali ini dengan ciuman yang lebih lembut dari sebelumnya. Bibir Kyuhyun menekan secara lembut dan dalam hingga membuat  Seohyun tersentuh. Tak butuh waktu lama hingga  Seohyun kembali menemukan kesadarannya. “Kyuhyun,” panggil Seohyun yang kali ini berhasil menghentikan Kyuhyun.

Kedua mata sepasang suami istri itu bertemu dalam diam. Hanya suara gemericik hujan, serta nafas yang saling terengah yang bisa didengar oleh keduanya. Bagi Seohyun, ini bukanlah perkara mudah. Apapun yang akan dijelaskannya akan menjadi percuma jika Yonghwa sudah mengatakan semuanya pada Kyuhyun. Namun bagi Kyuhyun, apapun jawaban Seohyun adalah penentu baginya. Emosinya yang meluap-luap mati-matian ia tahan saat melihat sepasang mata coklat kristal istrinya. Benar atau tidak, bohong atau tidak… yang diharapkan Kyuhyun saat ini hanya keberadaan Seohyun untuk tetap di sampingnya. Dan juga… keberadaan Seohyun untuk tetap menjadi miliknya.

Perlahan, Kyuhyun mengangkat sebelah telapak tangannya untuk menyentuh sisi wajah Seohyun. Ibu jari pria itu mengusap lembut kulit yang ada di sana hingga terus turun menuju dagu dan berhenti di sudut bibir Seohyun. Mata hitamnya terlihat sendu menatap daging berwarna merah muda tersebut.

Seohyun menegang dalam diamnya. Sentuhan tangan Kyuhyun terasa dingin di kulitnya, namun secara bersamaan sentuhan itu juga membawa rasa damai dan nyaman di hatinya. Nuraninya seakan berteriak menyuruhnya untuk hanyut dalam sentuhan tersebut. Dia selalu menginginkan hal ini, dan tak butuh waktu lama hingga Seohyun meraih kedua sisi wajah Kyuhyun dan memberi sentuhan lembut di bibir pria itu.

Lembut dan hangat. Kyuhyun merasakan hal itu ketika Seohyun menciumnya. Ia bahagia, namun sebagian hatinya masih bertanya-tanya. Sebelah tangannya yang bebas meraih pinggang istrinya untuk lebih mendekatkan wanita itu ke dalam pelukannya. “Bisakah kupegang−” bisik Kyuhyun di sela ciumannya, “−kalimatmu, Cho Seohyun?”

Seohyun tak menyahut, namun anggukan kepala yang diberikan wanita itu sudah sangat cukup bagi Kyuhyun untuk mengetahui jawabannya. Apapun yang terjadi setelah ini, ia akan memegang jawaban istrinya dengan tak mempedulikan kemungkinan rasa sakit yang akan ia temui di masa mendatang. Kyuhyun tidak ingin memikirkannya saat ini, yang ia inginkan hanya Seohyun. Hanya istrinya.

… dan sentuhan bibir itu, berlanjut hingga ke segala titik sensitif yang dapat memancing suhu tubuh keduanya. Malam ini, dengan hujan dan lantai kayu sebagai saksi, sepasang suami istri itu kembali merajut cinta untuk yang kedua kalinya di sana.

.

.

.

Waktu terus berjalan. Musim hujan yang menemani Seoul selama beberapa bulan terakhir kini sudah tergantikan dengan musim panas yang menyengat. Semua orang  yang bekerja di bawah suhu panas seperti ini, kemungkinan besar akan cepat mengeluh karena tidak tahan. Namun berbeda dengan Seohyun, wanita itu malah menampakkan senyumnya sepanjang  ia melaksanakan tugasnya sebagai seorang Dokter. Ia merasa senang saat mengobati pasien yang juga merupakan anak dari gurunya sendiri.

“Nah, retak tulang kakimu sudah sembuh, Onew. Hanya tinggal menunggu waktu untuk memulihkannya,” Senyum Seohyun tak lepas untuk anak laki-laki berumur tiga tahun itu.

Onew menolehkan kepalanya ke arah wanita berambut hitam yang memeluknya. “Haha-ue,” rengeknya pelan.

“Ssshh… tak apa. Sudah berakhir, Onew~ah.”

Senyum Seohyun beralih untuk istri gurunya. “Memang apa yang terjadi sebelumnya dengan Onew, Yuri Seosangnim ?”

“Dia terjatuh dari pohon,” jawab Yuri seraya mengusap sisa air mata anak laki-lakinya. “Karena Sulli baru bisa memanjat pohon, dia mengendong  Onew untuk bisa menemaninya ke puncak. Tapi yang terjadi malah keduanya jatuh, dan Onew  yang pertama kali menyentuh tanah.” Yuri mengakhiri kalimatnya dengan senyum geli.

“Ya Tuhan.” Seohyun memandang tak percaya ke arah Onew yang kini sudah berada di gendongan Ibunya. “Lalu bagaimana dengan Sulli? Apa dia baik-baik saja?”

“Sulli baik-baik saja. Dia hanya takut jika Appa-nya tahu tentang hal ini.”

“Jadi Yseung seosangnim belum mengetahuinya?”

Yuri menggelengkan kepalanya. “Padahal aku sudah mengatakan bahwa Appa-nya tidak akan memarahinya, tapi Sulli tetap mengurung diri di kamarnya,” terang Yuri masih dengan senyum yang lekat di bibirnya.

Seohyun terkekeh geli mendengarnya. Ia benar-benar terkejut dengan anak-anak gurunya.

“Baiklah, Seohyun. Terimakasih atas pertolongannya kali ini,” ucap Yuri seraya membungkukkan badannya. “Aku tadi sempat tidak tahu harus berbuat apa.”

“Sama-sama, Seosangnim.” Seohyun mengikuti langkah Yuri  yang berjalan keluar ruangan. “Jaga dirimu baik-baik, Onew~ah,” ucapnya seraya mengusap kepala Onew.

Yuri tersenyum sebelum mebungkukkan badannya lagi. “Kami pamit dulu, Seohyun.”

“Ya, Seosangnim. Hati-hati.”

Mata Seohyun terus mengawasi punggung Yuri yang berjalan. Ia berniat akan kembali ke ruangannya ketika sosok Yuri menghilang di ujung lorong. Namun hal itu urung terjadi ketika ia melihat pria yang dikenalnya berjalan dengan tergesa-gesa dan memasuki sebuah ruangan yang terletak tidak jauh dari ruangannya.

Changmin? Apa yang dilakukannya?

.

“Annyaeong.”

Changmin dan Sooyoung seketika menoleh ke arah yang sama ketika mendengar suara itu.

“Seohyun?”

“Hai, Changmin,” sahut Seohyun  seraya tersenyum terhadap Changmin. Setelah itu pandangannya beralih ke wanita yang  terbaring di atas ranjang rumah sakit. Senyum lemah dari wanita itu terukir untuk Seohyun. “Ya Tuhan, apa yang terjadi denganmu, Sooyoung?”

Sooyoung semakin mengembangkan senyumnya ketika Seohyun berjalan mendekatinya. “Hanya kecelakaan kecil.”

“Ini bukan kecelakaan kecil, Sooyoung,” sahut Changmin cepat. Wajah pria itu terlihat sedikit keras.

Kali ini Sooyoung terkekeh. “Baiklah, Yeobo. Ini bukan kecelakaan kecil.”

Seohyun hanya memandang sepasang suami istri itu bergantian sebelum kembali membuka suara. “Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah…” Kalimat Seohyun terhenti saat tatapannya mengarah ke arah perut Sooyoung.

“Tidak, Seohyun. Dia baik-baik saja,” jawab Sooyoung seakan paham apa yang dipikirkan sahabatnya.

“Dia hampir tidak baik-baik saja.” Sekali lagi  Changmin membenarkan perkataan istrinya.

Perlahan Sooyoung bangkit dari posisi tidurnya untuk bersandar di sandaran ranjang rumah sakit. Tangan wanita itu terlihat begitu lemah saat meraih tangan suaminya. “Changmin,  lebih baik kau pulang untuk beristirahat. Sudah semalaman suntuk kau tidak tidur.”

Changmin mengerutkan alisnya. “Kalau aku pulang, siapa yang akan−”

“Ada Seohyun di sini,” potong Sooyoung lirih. “Aku yakin Tiffany pasti akan memberinya waktu lebih untuk beristirahat.”

“Sooyoung −”

Sentuhan  tangan Sooyoung di pipi  Changmin kembali memotong perkataan pria bermata hitam itu. “Pulanglah, Yeobo. Aku baik-baik saja di sini.”

“Sooyoung benar, Changmin. Ada aku di sini,” timpal Seohyun.

Changmin  terlihat seperti  mempertimbangkan sesuatu sebelum ia bangkit dari duduknya. “Baiklah, Sooyoung. Aku akan pulang.”

Sooyoung tersenyum manis saat Changmin mencium keningnya.

“Jaga dirimu baik-baik,” sambung Changmin. “Seohyun, aku titip Sooyoung.”

“Ya,” sahut Seohyun seraya tersenyum tulus. Mata coklat wanita itu mengawasi punggung Changmin yang keluar dari ruangan sebelum memberikan sebuah senyuman simpul kepada Sooyoung. “Dia sangat mencintaimu.”

“Aku tahu.” Sooyoung merapikan lagi selimut yang menutupi kakinya. “Aku jadi merasa bersalah karena telah membuatnya khawatir.”

“Apa Changmin yang membawamu kemari?” Seohyun mendudukkan dirinya di depan Sooyoung.

“Ya. Dia langsung membawaku kemari begitu menemukanku pingsan.”

“Kau pingsan?” Nada bicara Seohyun terdengar sedikit meninggi.

Sooyoung mengangguk pelan. “Kelelahan,” jawabnya seraya tersenyum kecil.

“Dasar! Seharusnya kau lebih bisa memperhatikan kesehatanmu dan juga bayimu.”

“Kau menasihatiku seakan kau sudah pernah hamil saja,” ucap Sooyoung geli.

Seohyun dapat merasakan kedua sisi wajahnya memanas. “Kau− Haah, lupakan! Kau menyebalkan, Sooyoung.”

Tawa Sooyoung meluncur begitu saja saat melihat perubahan raut wajah Seohyun. Sudah lama ia tidak menggoda sahabat merah muda-nya itu seperti saat ini. “Kapan kau akan menyusulku?” goda Sooyoung lagi. “Apa Kyuhyun tidak mampu melakukannya, hah?”

“Kubilang berhenti, Choi Sooyoung! Itu memalukan.”

“Baiklah baiklah.” Sooyoung mengakhiri tawanya dengan hembusan napas kuat. Sorot mata jahilnya berubah lembut saat ia menatap Seohyun lebih dalam lagi. “Apa yang kau takutkan sepertinya tidak terjadi, Seohyun. Benar begitu?”

Seohyun mengerutkan alisnya.

“Kyuhyun mencintaimu, kan?”

Pertanyaan  Sooyoung begitu menohok Seohyun. Apakah suaminya mencintainya? Ia tidak tahu. Ia tidak bisa memastikan hal itu. “Aku… tidak tahu.”

Kali ini Sooyoung yang memandang Seohyun dengan heran. “Tidak tahu?”

“Ya−” Seohyun mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Ia merasa suaranya tertahan di ujung tenggorokannya. “Entahlah, Sooyoung. Kyuhyun… dia tak pernah mengatakannya.”

Keheningan menyelimuti kedua sahabat itu. Keduanya tak tahu harus mengatakan apa lagi setelah ini, terlebih untuk Sooyoung. Ia mearasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Seohyun.

“Kurasa Kyuhyun bukan tipe orang yang mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, Seohyun,” ucap Sooyoung setelah terdiam selama beberapa saat.

“Tapi aku butuh kepastian, Sooyoung.” Seohyun meninggikan nada bicaranya. Ia menatap Sooyoung dengan sungguh-sungguh. “Aku ingin mengetahuinya. Aku… aku ingin tahu siapa orang yang benar-benar mencintaiku.”

Ingatan tentang Yonghwa melintas di benak Seohyun saat ia baru saja mengakhiri kalimatnya. Di dalam hati, wanita itu tersenyum miris. Bagaimana bisa ia memikirkan pria lain ketika ia membicarakan tentang suaminya dengan sahabatnya? Andai saja Kyuhyun melakukan apa yang dilakukan Yonghwa, kebimbangan hati Seohyun tidak akan sepelik ini.

“Seohyun,” ucap Sooyoung seraya meraih tangan Seohyun dan menggenggamnya. “Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.”

Seohyun mengangkat wajahnya dan memandang Sooyoung.

“Tapi aku percaya, Seohyun. Suamimu… Cho Kyuhyun, mencintaimu dengan caranya sendiri.”

.

.

.

Petang hari di dapur sederhana di kediaman Cho, Seohyun melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri dengan gembira. Sebenarnya tidak ada yang spesial hari ini, hanya saja Seohyun merasa bahagia karena ia akan makan malam dengan Kyuhyun setelah suaminya itu melaksanakan pekerjaannya selama lima hari. Selama lima hari itu pula Seohyun tidak bertemu Kyuhyun, dan beberapa menit yang lalu, pria itu baru saja datang dari tugasnya.

Seohyun menyandarkan tubuhnya setelah meletakkan piring terakhir di atas meja. Ia mengusap bulir keringat yang tampak di dahi dan lehernya.

“Kau sakit?”

Suara berat itu segera membuat Seohyun menolehkan kepalanya. Ia tersenyum. “Tidak. Aku hanya lelah, Kyuhyu~ah.”

Kyuhyun melangkahkan kakinya lagi dan duduk tepat di depan Seohyun. “Lelah? Kukira selama ini kau punya tenaga ekstra.”

Seohyun mendengus geli. “Hentikan, Kyuhyu~ah,” ucapnya seraya meletakkan serbet di atas meja makan dengan sedikit kasar.

Kali ini Kyuhyun yang mendengus geli. “Kau sudah mandi?”

“Ya,” jawab Seohyun seraya mengambilkan makanan untuk Kyuhyun. “Memangnya kenapa? Apa aku terlihat seperti belum mandi?”

“Tidak, kau terlihat sama saja.”

Seohyun menyerahkan mangkuk untuk Kyuhyun sambil menautkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti apa maksud dari perkataan suaminya.

“Apa yang kau makan?” Nada bicara Kyuhyun terdengar sedikit tinggi dari biasanya.

“Asinan sayur. Aku baru membelinya tadi sore, kau mau?” tanya Seohyun polos.

Kyuhyun mendecakkan lidahnya. “Kau tidak makan nasi dan malah memakan asinan?”

Kali ini Seohyun menyadari kesalahannya. “Oh, malam ini aku sedang tidak ingin makan nasi, Kyuhyun.”

Kyuhyun menghela napas pelan sebelum menikmati makanannya.

“Kyuhyun~ah?”

“Hn?”

Seohyun meletakkan sumpitnya dan menatap Kyuhyun dengan menumpukan kedua lengannya di atas meja. Emerald wanita itu terlihat berbinar-binar. “Kau ingat kari ayam yang kau beli dua minggu yang lalu?”

Kyuhyun menghentikan makannya dan menatap balik sang istri. “Kari ayam pedas yang tidak kau sukai itu?”

Perubahan drastis terjadi di wajah Seohyun. Kali ini bias merah samar menghiasi kedua sisi wajahnya. “Emm… waktu itu aku memang tidak menyukainya… Tapi bisakah kau membelikannya lagi untukku?”

“Percuma jika kau tidak memuntahkannya lagi seperti waktu itu.”

“Aku akan memakannya,” sahut Seohyun cepat. Wajah wanita itu menampakkan kesungguhan yang luar biasa. “Aku berjanji akan memakannya, Kyuhyun~ah.”

Kyuhyun tertawa lirih. Menurutnya, sifat  istrinya kali ini sedikit aneh. “Kau tidak menyukai makanan pedas, Seohyun.”

“Tapi aku ingin memakan kare itu lagi.” Seohyun terus berusaha meyakinkan Kyuhyun. “Maukah kau membelikannya lagi untukku?”

“Hn,” sahut Kyuhyun. “Akan kubelikan.”

“Secepatnya.”

Kyuhyun mengurungkan niat untuk menyumpit nasinya dan memberi tatapan terkejut untuk Seohyun. “Secepatnya?”

Seohyun mengangguk semangat.

Untuk sejenak, Kyuhyun hanya memperhatikan istrinya. Saat ini wanita itu benar-benar aneh. “Ya. Akan kubelikan besok.”

“Ahhh, gomawo, Kyuhyun~ah.” Seohyun jelas sangat senang mendengar jawaban suaminya. “Aku pasti akan menghabiskannya. Jika aku memuntahkannya lagi, kau boleh meminta ganti rugi padaku.”

“Terserah kau saja,” ucap Kyuhyun seraya melanjutkan makannya. Seohyun sama sekali tidak sadar jika pria itu tersenyum dalam jawawabannya.

Seohyun tertawa kecil. Wanita itu meraih gelas kosong yang ada di depannya, dan berniat mengisi gelas itu dengan sirup yang tadi ia buat untuk Kyuhyun. Ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju konter. Tak ada yang salah dengan tubuhnya sebelumnya, namun ketika ia menuang sirup itu ke dalam gelas yang ia bawa, pandangannya menghitam seketika.

“Seohyun.”

… dan hanya suara Kyuhyun yang sanggup Seohyun tangkap sebelum ia kehilangan kesadarannya.

.

.

.

[TBC]

210 Tanggapan to “LOVE ME [ CHAPTER 13 ]”

  1. fannyap12 Januari 23, 2016 pada 11:52 am #

    Seohyun hamil kah?????? Duhhhhh bikin penasaran bgt 😂😂

  2. asrielf rahmawati Januari 1, 2016 pada 2:53 am #

    aku kira mereka akan ngelakuin itu pas kyuahyun dlm keadaan maabuk

  3. Amelia November 27, 2015 pada 5:36 am #

    Seohyun hamil????😮 semoga😀

  4. sulistiowati_06 Oktober 31, 2015 pada 12:42 am #

    sepertinya seohyun hamil. mudah2an aja deh seobaby hamil. bener bisa akur sekarang

  5. iraseokyu Oktober 12, 2015 pada 10:23 pm #

    Omo~~~~ seonni knpa tuh ?

  6. kyumaelf Juni 28, 2015 pada 3:31 pm #

    wah kyknya berita bagus

  7. nae_lee April 4, 2015 pada 1:15 am #

    dg PD nya yonghwa dtg ke rumah SeoKyu -_-
    smoga ajja stlh ini gda pengganggu lg :@

    eoh,, mrk brcinta d luar kamar😮 #syok😀

    Seo ngidam ??😮 asyiikk lah klo dy hamil :3

  8. nadud Februari 25, 2015 pada 7:40 am #

    seo eonni kenapa yah ??
    kq kayak orang ngidam😀

  9. Iyank EternalMagnae Januari 16, 2015 pada 11:16 am #

    wuach jgn2 seo hmil!!
    sngnya bkln ad baby cho d antra mreka!!

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: