LOVE ME [CHAPTER 16]

7 Mei

love me

Judul/Title : Love Me

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr ]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it

Length : 1 of………..

Genre : Romance, Sad, Family. Little bit NC

Author Notes (A/N) : Annyeong wiresdeul *bow* aku bawa full part16 LOVE ME nih hehehe

akhirnya aku dan teman ku bisa menyelesaikan ini semua hahah

Bisa juga kalian temukan beribu-ribu(lebay) Typos yang merajalela di sepanjang ff

Udah deh cekidot sajaaa…..jangan lupa comment ya eheheh Gomawo thanKyu :*

PLEASE DON’T BE A PLAGIATOR!

Seohyun mengangkat kepalanya yang baru saja tertunduk seraya mencakupkan kedua tangannya pelan. Matanya yang baru saja tertutup, kini menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Setidaknya, ia merasa sedikit lega setelah berdo’a di hadapan Sang Penguasa. Tak ada hal muluk yang ingin ia capai. Hanya kedamaian hati. Seohyun sadar bahwa ia sungguh ingin mendapatkannya kembali. Dan juga…

…Seohyun menunduk seraya mengelus pelan perutnya yang sedikit membuncit.

Jaga dia untukku, Tuhan. Aku rela kehilangan apapun, asalkan jangan dia…

.

.

.

Seohyun selalu berharap suaminya menikahinya karena memang mencintainya. Bukan hanya untuk mengembalikan Perusahaan-nya.

.

.

.

LOVE ME

CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3 | CHAPTER 4 | CHAPTER 5 |CHAPTER 6 | CHAPTER 7 | CHAPTER 8 CHAPTER 9 | CHAPTER 10 |CHAPTER 11 | CHAPTER 12 | CHAPTER 13 | CHAPTER 14 | CHAPTER 15

.

.

.

Setelah keluar dari gereja, Seohyun melangkahkan kakinya menuju mobil dan sopir pribadinya. Pagi ini, matahari bersinar begitu hangat di kulitnya, namun nampaknya suasana hatinya yang masih buruk tak mampu membujuknya untuk merasakan kenikmatan Sang Kuasa walau hanya sejenak.

Kyuhyun. Wajah dingin pria itu kembali terlintas di pikiran Seohyun. Cukup lama ia bersedih semalam suntuk, dan kali ini ia tidak ingin mengingat hal itu lagi. Sejak kemarin malam, Kyuhyun sama sekali tak mengajaknya bicara. Bahkan pria itu sudah meninggalkan rumah saat Seohyun membuka matanya di pagi hari. Kali ini, Seohyun ingin melupakan semuanya untuk sejenak. Dan satu hal yang ingin Seohyun lakukan sekarang hanyalah memenuhi janjinya untuk bertemu Yonghwa sebelum dokter itu meninggalkan Konoha.

.

.

“Siapa lagi yang kau tunggu, Yonghwa?” Minho kembali menggerutu kesal saat Yonghwa kembali menghentikan langkah dan menoleh ke belakang saat hampir mencapai pintu bandara.

Yonghwa menatap Minho sejenak, namun pria itu tak membuka mulutnya sama sekali. Setelah itu, kepalanya saja yang bergerak menengok ke kanan dan ke kiri.

“Atau sebenarnya kau tidak ingin pulang hari ini?”

Tatapan Yonghwa kembali terarah untuk Minho. “Tidak.”

Minho menghela napas pasrah. “Terserah kau saja,” ucapnya seraya membalikkan badan dan mulai berjalan menjauh.

Pekerjaan Minho di kantor sudah menumpuk banyak. Ratusan lembar dokumen yang harus ia periksa dan tandatangani, pengajuan proyek dari klien, pengaduan konsumen dan pegawai yang harus ia hadapi setiap hari cukup membuat kepalanya hampir pecah. Apalagi kisruh di perusahaan barunya yang ada di Mokpo bisa jadi mengancam keamanan semua pegawainya semakin membuat emosinya gampang terpancing. Tadi pagi ia bahkan sedikit membentak Krystal saat wanita itu memaksanya untuk sarapan. Dan pagi ini ia menyempatkan diri hanya untuk mengantarkan Yonghwa hingga pintu bandara. Meninggalkan sebentar pekerjaannya yang mungkin akan berimbas kepada telatnya jam pulang ia nanti.

Namun sekarang, apa yang Yonghwa lakukan? Sedari tadi pria berambut merah itu berjalan seperti siput. Ketika hampir melewati pintu bandara pun, Yonghwa beberapa kali menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang? Apa maksudnya?

“Yonghwa-ssi.”

Suara samar itu menghentikan langkah Minho yang berjalan lumayan jauh dari tempat Yonghwa berdiri. Ia mengenal dengan jelas suara itu. Dengan cepat, Minho membalikkan badannya.

“Seohyun?” bisik Minho lirih.

Apa yang dilakukannya?

.

.

“Kukira kau tidak akan datang,” ucap Yonghwa seraya menyunggingkan senyum tipisnya.

Seohyun tak langsung menjawab, melainkan mempercepat langkahnya untuk mendekati Yonghwa. “Aku adalah orang yang selalu menepati janji, Yonghwa-ssi.”

Yonghwa mendengus pelan.

“Oh ya.” Seohyun merogoh saku roknya dan mengeluarkan kantong kecil berwarna biru dari sana. “Kubawakan jimat. Semoga perjalanan anda selamat sampai tujuan.”

Tangan Yonghwa terulur untuk menerima pemberian Seohyun. Mata pria itu seegera menatap lurus Seohyun setelah mengamati jimat yang ada di tangannya selama beberapa detik. “Kau baru saja dari gereja?”

Seohyun mengangguk.

Ada yang salah, dan Yonghwa dapat merasakannya saat menatap sepasang mata milik Seohyun. Menurutnya, sepasang mata itu tak secerah kemarin malam. Bahkan entah mengapa Yonghwa juga merasa bahwa sepasang mata itu baru saja mengeluarkan air mata. Ada apa? Apa yang sudah terjadi? Apakah karena Kyuhyun lagi?

Yonghwa masih tak mengeluarkan sepatah katapun seraya memandang Seohyun. Seohyun pun nampaknya mulai sedikit risih dengan tatapan Yonghwa. “Apa ada yang salah denganku?” tanya Seohyun sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.

Pertanyaan Seohyun seolah membuat Yonghwa tersadar akan ambisi lamanya yang tadi sempat muncul. Tidak. Ia tidak boleh mengulangi kesalahannya lagi. “Tidak,” jawab Yonghwa seraya menundukkan kepala untuk mengamati jimat yang ada di tangannya. “Terimakasih untuk jimatnya.”

Seohyun tersenyum tulus. “Sama-sama.”

Kepala Yonghwa kembali terangkat untuk menatap Seohyun, dan kembali menatap wanita itu untuk beberapa detik. “Kau harus tahu bahwa  aku akan selalu mengharap kehadiranmu, Seohyun.” Yonghwa tersenyum kecut. Entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari sepasang bibirnya. Tak mau membiarkan keadaan mengusik hatinya, Yonghwa bersiap untuk membalikkan badannya dan mengucap salam perpisahan. Namun hal itu terhenti ketika sepasang lengan yang lebih kecil darinya terlingkar begitu saja di sekeliling pundaknya.

Arigatou, Yonghwa-sama.”

Memerlukan sepersekian detik sebelum Yonghwa tersadar bahwa Seohyun tengah memeluk pundaknya.

“Anda pria yang baik, banyak wanita di dunia ini berlomba-lomba untuk menjadi pendamping anda. Namun anda harus tahu bahwa tidak semua hal bisa didapatkan dengan mudah, termasuk cinta.” Seohyun memberi jeda sejenak untuk ucapan pelannya di telinga Yonghwa. “Dan juga… maafkan aku. Sepahit apapun kehidupan yang kujalani dengan Kyuhyun, sesakit apapun waktu yang kuhabiskan dengannya… aku tidak berniat sedikitpun untuk melepaskannya. Dia… suamiku… dan aku sangat mencintainya.”

Yonghwa merasakan sebelah pundaknya sedikit basah, tubuh Seohyun juga bergetar pelan saat memeluknya. Instingnya benar, ada yang salah dengan Seohyun. Di saat bersamaan, wanita itu terlihat rapuh dan juga kuat. Tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir Yonghwa. Tak pernah ia rasakan perasaan tak rela sebesar ini saat ia harus kembali berpisah dengan Seohyun. Tak pelak, Yonghwa pun hanya bisa membalas pelukan wanita bermata hijau itu dengan penuh rindu.

“Aku tahu, Seohyun,” bisik Yonghwa pelan seraya membenamkan wajahnya di pundak Seohyun.

.

.

Senja berarak datang. Matahari nampaknya ingin berpamit pulang. Semua orang akan memilih untuk menyambut bulan dengan berada di rumah secepatnya dengan keluarga karena cuaca hari ini yang terasa bersahabat. Tapi… nampaknya hal itu tidak sepenuhnya benar.

Seohyun menyilangkan kedua lengannya sembari menatap bias keemasan dari jendela ruang kerjanya. Rasanya damai sekali kala melihat senja. Ia menghembuskan napas pelan. Untuk yang pertama kalinya, Seohyun merasa sangat enggan untuk pulang ke rumah, sangat enggan untuk menyudahi keberadaannya di sini, dan sangat enggan untuk bertemu dengan suaminya.

“Belum pulang, Seohyun?”

Suara itu membuat Seohyun membalikkan badannya. Terlalu asyik memandang senja hingga tak sadar ada orang yang membuka pintumu, eh? “Aku masih ingin di sini, Eonni.”

Tiffany sedikit memanyunkan bibirnya dan memandang Seohyun tak percaya. “Seperti bukan kau yang biasanya,” ucapnya seraya meletakkan sebuah map di atas meja.

“Apa ada surat perintah dari rumah sakit pusat?” tanya Seohyun setelah membaca sekilas tulisan yang tertulis di atas map.

“Ya. Mereka meminta beberapa dokter untuk ditugaskan ke Mokpo.”

“Kapan?”

“Mulai besok pagi,” ucap Tiffany seraya mendudukkan tubuhnya di kursi. Wanita itu tampak nyaman saat punggungnya menyentuh sandaran kursi. “Aku sudah menugaskan tiga orang untuk besok pagi. Untuk seterusnya, bisakah kau membantuku untuk memilih dan mengurus siapa saja dokter yang akan berangkat?”

Seohyun memandang Tiffany sejenak. “Apakah wabah penyakit di sana semakin parah?”

Tiffany mengangguk. “Yang kudengar terakhir kali, penyakit langka itu semakin menyebar parah.”

Seketika itu juga, benak Seohyun dipenuhi dengan sosok suaminya. Sekelumit rasa khawatir pun hadir begitu saja. Kyuhyun tengah bertugas di Mokpo, dan ia pun tak menampik bahwa ia mendengar banyak kabar tentang parahnya wabah penyakit langka itu.

“Lebih baik kau segera pulang, Seohyun. Jangan biarkan tubuhmu terlalu lelah.”

Senyum kecil Seohyun tergambar di wajahnya. “Setelah kuselesaikan tugas darimu.”

Sepasang mata gelap Tiffany membulat. “Kau bisa mengerjakannya besok. Ayolah, jangan menyiksa dirimu sendiri!”

“Tak apa,” ucap Seohyun seraya duduk dan mulai membuka-buka tugas barunya.

“Ya, Tuhan… terserah kau saja.”

.

.

Bulan sudah sepenuhnya datang sejak beberapa jam yang lalu. Sesekali ketika mengerjakan tugasnya, Seohyun memandang pintu ruangannya resah. Hatinya seringkali bertanya-tanya kapankah benda yang terbuat dari kayu itu akan terbuka dan menampakkan sosok yang diinginkannya? Bukankah sosok itu terbiasa hadir dan menggenggam tangannya untuk pulang?

Seohyun menggeleng keras. Nampaknya lelah membuat perasaannya semakin resah. Mengesampingkan ego-nya untuk tetap berada di sini, Seohyun memilih untuk menyudahi semuanya dan bersiap pulang. Setelah menutup map yang sedari tadi ia tekuni, Seohyun beranjak dari kursi untuk menutup gorden jendela. Untuk sejenak, manik sewarna hutan itu memandang sayu ke arah bulan, sebelum cahaya bulan yang menyinarinya benar-benar tertutup.

.

Annyeong.”

Tak ada sahutan, dan Seohyun tak butuh mengucapkan salam kedua kalinya untuk memastikan keberadaan Kyuhyun. Keadaan rumah yang masih gelap, pintu rumah yang masih terkunci kala ia datang cukup menjadi penanda bahwa suaminya tidak ada atau bahkan belum menginjakkan kakinya ke rumah. Seketika Seohyun teringat tentang ricuh di perusahaan baru Kyuhyun dan Minho di Mokpo. Bisa saja suaminya tidak akan pulang ke rumah malam ini karena harus mengawasi daerah itu. Bukankah tadi pagi Kyuhyun juga berangkat pagi-pagi buta? Ya. Pasti seperti itu, tegas Seohyun di dalam hatinya.

Seohyun menghela napas berat. Saat ini ia tengah merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamarnya. Keadaan fisiknya yang lelah membuatnya enggan untuk membersihkan diri sejenak sebelum beristirahat. Sekali-kali tak membersihkan diri sebelum tidur juga tidak apa-apa, kan?

Di saat rasa kantuk semakin kuat menghinggapinya, Seohyun menolehkan kepalanya ke sisi dimana Kyuhyun selalu tidur si sampingnya. Kemanakah pria itu? Apa pria itu sudah makan? Sedang apakah dia sekarang? Terluka kah dia? Ah… rasa khawatir Seohyun kembali tumbuh dengan skala yang lebih besar. Tak pelak, tangannya pun terulur untuk mengusap permukaan seprai di sana.

Dingin. Tak ada kehangatan sedikit pun yang tersisa, dan senyum tipis Seohyun pun terukir.

Yah… memang selalu dingin.

Tapi apakah akan selalu dingin untuk selamanya?

Pertanyaan itu seakan melunturkan senyum Seohyun. Wanita itu kembali menghela napas pelan. Ia tidak tahu, dan nampaknya ia juga belum siap untuk mengetahuinya. Menarik selimut setinggi dadanya, Seohyun menutup sepasang matanya dan berharap mimpi akan membuatnya terbuai sejenak dari realitas yang ada.

.

.

.

Bulan kembali menyapa Seohyun lewat sinarnya yang menembus jendela ruang kerja Seohyun. Hari ini, Seohyun memutuskan untuk berada lebih lama di rumah sakit untuk yang kedua kalinya. Ia merasa, mungkin hari ini Kyuhyun tidak akan pulang lagi. Jika berdiam diri sendiri di rumah, ia pasti akan merasa kesepian.

Suara ketukan pintu membuat Seohyun mengalihkan perhatiannya dari kegiatan menulis laporan kesehatan pasiennya.

Annyeong, Seohyun-ssi.”

Seohyun menyunggingkan senyumnya. “Annyeong, Victoria-ssi.”

Victoria membalas senyum Seohyun. Setelah menutup pintu, wanita itu berjalan mendekat dan duduk tepat di depan meja Seohyun.

“Hari ini kau kelihatan bahagia, Victoria-ssi.”

Victoria terkekeh pelan. “Tidak, Seohyun-ssi. Tidak ada apa-apa.”

Seohyun semakin melebarkan senyumnya. Raut wajah Victoria yang sedikit bersemu membuatnya ingin terus menggoda wanita itu. “Apa Tiffany-eonni menagih tugasnya yang kemarin?” tanya Seohyun seraya kembali menulis.

“Ya. Tapi Tiffany-eonni bilang kau tidak perlu menyelesaikan semuanya. Hanya berkas untuk tiga hari kedepan sudah cukup untuknya.”

“Sayang sekali, Victoria-ssi.” Seohyun menghentikan sejenak menulisnya untuk meraih map yang tergeletak di sudut mejanya. “Aku sudah menyelesaikannya untuk seminggu ke depan,” ucapnya seraya menyerahkan map itu untuk Victoria. Senyum kecilnya tak lupa ia tujukan untuk wanita itu.

“Ya Tuhan… kalau Tiffany-eonni tahu ini semua, ia pasti akan memarahimu, Seohyun-ssi.”

Seohyun terkekeh geli.

“Ia pasti akan memarahimu karena memaksa untuk menyelesaikan tugasnya dalam waktu singkat.” Victoria menghela napas pelan. “Kau benar-benar ibu hamil yang keras kepala.”

Kekehan Seohyun bertambah keras. “Ne, ne, Victoria-san. Aku minta maaf karena telah menyelesaikan tugasku secara singkat.”

Kali ini Victoria ikut tertawa. “Harusnya kau lebih banyak beristirahat di rumah.”

Seohyun mengangkat kedua tangannya ke udara seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Wanita itu menghela napas pelan sebelum sedikit memutar kursinya ke arah jendela. “Aku bosan jika terus berada di rumah,” ucapnya lirih. “Tak ada hal menarik yang bisa kulakukan sendirian.”

“Cho-ssi pasti sangatlah sibuk.”

Kepala Seohyun menoleh ke arah Victoria.

Victoria menyunggingkan senyum sebelum membuka mulutnya. “Semoga anak kalian kelak bisa menemanimu hari-harimu. Jadi kau tidak akan kesepian lagi, Seohyun-ssi.”

Entah mengapa, Seohyun merasa lidahnya kelu saat itu juga. Ia bahkan tak mengatakan apapun saat Victoria berpamitan padanya. Setelah pintu kembali tertutup, Seohyun kembali mengarahkan pandangannya keluar jendela. Tanpa sadar, sebelah tangannya mengusap pelan perutnya.

Apa yang Seohyun pikirkan sekarang? Mengapa hatinya seakan membeku saat mendengar kalimat itu? Seharusnya ia merasa senang, bukan?

Pintu ruangan kembali terbuka, dan kali ini Seohyun tak menolehkan kepalanya. Mungkin Victoria, pikirnya. Wanita itu pasti melupakan sesuatu sehingga harus kembali masuk ke ruangannya. Namun setelah beberapa saat, Seohyun merasa aneh. Jika memang Victoria, mengapa tak ada suara dari wanita itu? Hanya kesunyian yang ada. Perlahan, Seohyun kembali menolehkan kepala, dan sepasang pupil Seohyun melebar saat ia melihat siapa orang yang baru saja memasuki ruangannya.

“Kyuhyun?”

Kyuhyun berdiri di sana. Tidak seperti biasanya, pria itu mengenakan pakaian rumahnya. Wajah pria itu juga terlihat segar. Berbeda kala ia selalu menjemput Seohyun dengan wajah lelah dan mengenakan seragam jas kerja-nya.

“Kau sudah bisa pulang sekarang?” tanya Kyuhyun.

Hanya mendengar suara Kyuhyun, Seohyun bisa merasakan dadanya bergemuruh hebat. Tak dapat ia pungkiri, bahwa ia sangat merindukan suara dingin tersebut. Dan juga… hatinya bertambah bahagia saat mengetahui sang suami berdiri di depannya, dan menjemputnya pulang seperti biasa.

Tak pelak, Seohyun pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

.

“Kapan kau pulang?”

Pertanyaan itu terlontar dari bibir Seohyun saat ia sudah tak tahan dengan kesunyian di antara dirinya dan Kyuhyun.

“Tadi siang,” sahut Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan gelap yang ada di depannya.

Seohyun mengangguk paham. “Apa kau lelah?”

“Tidak.”

Saat melewati sebuah kedai makanan, Seohyun kembali membuka mulutnya. “Kau sudah makan?”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu kau ingin makan apa? Aku akan memasakkannya untukmu.”

“Tidak usah.”

Senyum Seohyun yang tercipta saat pertama kali memulai percakapan dengan Kyuhyun, perlahan memudar. “Kenapa?” tanyanya pelan.

“Aku sudah membeli makanan.”

Seohyun kembali mengarahkan pandangannya lurus ke depan. Kenapa seperti ini lagi? Kenapa hatinya harus kembali runtuh jika sebelumnya telah membumbung tinggi?

.

.

Makan malam di kediaman Cho berlangsung jauh lebih sunyi dari sebelum-sebelumnya. Baik Kyuhyun maupun Seohyun nampaknya tidak ada yang ingin memulai untuk mencairkan suasana. Kyuhyun terus saja memakan makan malamnya dengan diam, sedangkan Seohyun lebih memilih menunduk seraya sekali-kali menjeda kegiatan makannya. Wanita itu terlihat tak begitu menikmati berbagai jenis masakan yang tersaji di depannya. Sepasang matanya memandang semua itu dengan enggan.

“Seharusnya kau tidak usah menjemputku hari ini.”

Pada akhirnya, Seohyun lah yang membuka suara. Namun wanita itu sadar, bahwa ia bicara bukanlah untuk mencairkan suasana, melainkan untuk mengungkapkan isi hatinya.

Kyuhyun tak menjawab. Pria itu bahkan tak mengangkat kepalanya hanya untuk melihat istrinya.

“Atau… mulai besok dan seterusnya, kau tidak usah menjemputku ke rumah sakit lagi,” ucap Seohyun karena merasa ucapannya yang sebelumnya tak digubris oleh Kyuhyun. Mati-matian ia mempertahankan suaranya agar terdengar normal seperti biasa. “Lebih baik jika kau beristirahat di rumah saja daripada harus menjemputku.”

Kali ini, Kyuhyun menghentikan makannya. Memerlukan beberapa detik sebelum pria itu membuka suaranya. “Aku hanya ingin memastikan anakku baik-baik saja.”

Seohyun terdiam. Seluruh organ tubuhnya seakan dipelintir sesuatu yang kasat mata. Hanya untuk anaknya? Selama ini hanya untuk anaknya?

Dengan keras, Seohyun menggebrak meja makan rendah di depannya seraya berdiri. Perilaku Kyuhyun yang mengatakan hal itu tanpa sedikit pun memandangnya seakan memancing emosi Seohyun. “Aku ibunya!” teriak Seohyun. “Tanpa kau pun aku bisa menjaganya sendiri. Aku cukup mampu melakukannya sendiri, Kyuhyun!”

Perlahan, Kyuhyun mengangkat kepalanya dan memandang Seohyun tanpa emosi. Tak pernah sekalipun ia melihat Seohyun membentaknya seperti ini. Nafas wanita itu juga tersengal-sengal karena menahan amarah.

“Jangan pernah berpikir aku tak bisa menjaganya!” sambung Seohyun dengan nada yang lebih lirih dari sebelumnya. Setelah itu, Seohyun melangkahkan kakinya dan berniat untuk pergi dari sana. Air matanya seakan ingin keluar, dan ia tidak ingin hal itu terjadi di depan suaminya.

Namun sebelum Seohyun benar-benar keluar dari dapur rumah itu. Sebuah tangan kekar menarik salah satu lengannya dan menarik tubuh Seohyun hingga punggung wanita itu membentur tembok. Seohyun meringis kecil karena benturan itu. Saat ia membuka matanya, yang terlihat di depannya pertama kali adalah Kyuhyun yang tengah mencengkeram kedua lengannya. Rahang pria itu mengeras, dan tatapan mata sekelam malam itu terlihat begitu tajam menatapnya. Tak bisa Seohyun pungkiri, hatinya menciut karena merasa takut dengan tatapan suaminya.

“Kau pembohong.”

Lirih, tapi begitu menancap benak Seohyun. Suara Kyuhyun bergetar seolah-olah pria itu tengah menahan diri untuk tidak teriak.

“Apa yang kau lakukan dengan Yonghwa dibelakangku?”

Jantung Seohyun seakan berhenti berdetak saat itu juga.

Yonghwa? Kenap−

“Kau membohongiku, bukan? Mengatakan tidak ada yang terjadi di antara kalian berdua.” tanya Kyuhyun seraya semakin mendekatkan wajahnya. Pria itu menyeringai sinis. “Hanya sebatas teman, eh?”

Seohyun mencoba untuk membuka bibirnya. Namun nihil. Tak ada sepatah katapun pembelaan diri yang mampu ia katakan kepada suaminya. Semuanya terasa terlalu sulit untuk diucapkan sekarang. Kedua lutut Seohyun pun mulai terasa lemah. Andaikan Kyuhyun tak mempertahankan posisi tubuhnya di tembok, bisa saja Seohyun ambruk ke lantai saat itu juga.

“Perkataanmu sama sekali tak dapat kupegang, Seohyun.” Suara Kyuhyun yang berbisik di telinganya membuat Seohyun tak sanggup untuk menatap mata pria itu lagi.

Air mata Seohyun pada akhirnya menetes saat cengkraman Kyuhyun terlepas. Kyuhyun berjalan meninggalkannnya sendirian di dapur, sedangkan Seohyun masih berdiri di tempatnya. Otaknya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Sempat terbesit di benaknya untuk mengejar Kyuhyun, namun ketika terdengar dentuman suara pintu rumah yang ditutup keras, tubuh wanita itu meringsut ke bawah karena tak mampu lagi untuk berdiri. Seluruh tubuhnya melemah saat itu juga. Tangisannya pun bahkan tak bersuara.

“Tidak… itu tidak benar,” bisiknya di sela-sela isakannya yang bertambah hebat.

.

.

Mianhe, Kyuhyun… Mianhe…

.

.

.

Tak seperti hari-hari biasanya di mana Minho selalu ingin tiba di rumahnya dengan cepat, malam ini pria berambut hitam itu merasa enggan untuk meninggalkan ruang kerjanya. Sedari tadi, ia hanya berjalan mondar-mandir di sekitar ruangan yang sudah mulai gelap itu. Nampaknya karena resah menunggu, ia bahkan lupa untuk menyalakan lampu.

Sajangnim.”

Suara itu menghentikan Minho. Lihat? Karena terlalu resah, ia bahkan tak menyadari ada seorang pegawai yang kini sudah berdiri di samping jendela ruangannya. “Bagaimana hasilnya?” tanya Minho seraya mendekat.

“Sudah dipastikan masyarakat di sekitar sana akan mulai berdemo besok pagi.”

Rahang Minho mengeras. “Apa? Kau yakin dengan apa yang kau katakan?”

Pegawai itu mengangguk mantap. “Juru bicara yang kita kirimkan tidak mampu membujuk mereka untuk tidak anarkis.”

“Sial!!” Minho mengumpat pelan. “Tak kusangka para warga itu bertindak sejauh ini.”

Jeda beberapa saat sebelum pegawai itu kembali membuka suaranya. “Apa yang harus kita lakukan sekarang, Sajangnim?”

Minho menatap pegawai di depannya tajam. “Sementara, perintahkan keamanan untuk berjaga-jaga di dekat sana. Sebisa mungkin, jangan sampai ada warga yang merusak. Segera melapor padaku jika terjadi sesuatu yang mengganjil. Jika kalian mengalami kesulitan, segera minta bantuan kepada seluruh pegawai.”

“Baik,” sahut pegawai itu patuh. Baru saja ia membalikkan badannya, pertanyaan Minho menghentikannya.

“Bukankah tadi kusuruh kau menghubungi Kyuhyun? Dimana dia?”

Mian-hamnida,” ucap pegawai itu seraya membungkukkan badannya. “Cho-sajangnim sedang berada di kedai minuman, Sajangnim. Saya rasa dia tak ingin diganggu.”

Kedua alis Minho berkerut dalam. “Tak ingin diganggu?” tanyanya untuk memastikan perkataan pegawai di depannya. “Apa-apaan itu?”

Hanya keheningan yang diberikan pegawai itu sebagai jawaban. Kepalanya tertunduk ke bawah, entah tengah melihat apa.

“Antarkan aku padanya! Biar aku yang akan mengganggunya,” ucap Minho seraya mulai berjalan meninggalkan ruang kerjanya. “Kyuhyun Babo!”

.

Kyuhyun terlihat duduk di salah satu kursi di depan meja bar kedai itu. Tangan kirinya yang menopang kepala membuat setengah wajah pria itu tertutupi, sedangkan sebelah tangannya yang lain hanya memainkan jarinya di atas permukaan gelas soju-nya. Dilihat dari jauh saja, Minho merasa ada yang aneh dengan sahabatnya. Mata hitam itu seakan enggan melihat siapapun yang berada di dekatnya. Seolah ingin tenggelam, dan tak ingin ada satu orang pun untuk menciptakan riak di sana.

“Pergilah dan laksanakan semua perintahku! Aku akan kembali satu jam lagi,” titah Minho untuk pegawai yang berdiri di sampingnya.

Pegawai itu membungkukkan badannya sekilas sebelum berlalu dari sana. Setelah itu, Minho memutuskan untuk menghampiri Kyuhyun yang tengah duduk sendirian.

Presdir macam apa yang datang ke tempat seperti ini malam-malam begini?

Di dalam hati, Minho mengutuk Kyuhyun yang membuatnya harus melakukan hal ini.

“Tumben kau ada di sini, Kyuhyun?” tanya Minho mencoba untuk berbasa-basi. “Tapi… kebetulan juga yah? Kita sudah lama tak minum-minum bersama sejak sama-sama menikah. Hahaha.”

Kyuhyun tak merespon Minho. Pria itu tetap mempertahankan posisinya seolah-olah tak ada suara yang mengajaknya bicara. Hanya sepasang matanya saja yang bergerak untuk meilirik Minho yang duduk di sampingnya.

“Tolong beri aku satu gelas,” seru Minho kepada pria yang tengah berdiri di belakang meja bar.

Pandangan Minho kembali terarah ke sahabatnya. Minho tahu, Kyuhyun belum mabuk sekarang. Dari dulu, Kyuhyun selalu bisa mempertahankan kesadarannya saat meminum soju. Berbeda dengan dirinya yang gampang mabuk walau minum sedikit.

“Kau tahu?” ucap Minho kembali membuka obrolan. “Terkadang aku merasa hidup ini tidak selalu penuh dengan kejutan. Semua hal mengejutkan yang telah terjadi… bisa saja karena ulah kita sendiri.”

Kyuhyun menurunkan lengan yang menopang kepalanya, namun pria itu masih tak menanggapi perkataan rekan kerja sekaligus sahabat karibnya yang ada di sebelahnya.

“Asal kau tahu saja, aku adalah orang yang sangat cocok untuk diajak berce−”

“Aku hanya tidak ingin kehilangan Seohyun,” potong Kyuhyun.

Minho memperhatikan wajah Kyuhyun secara seksama. Jadi karena Seohyun? Seketika itu pula Minho teringat tentang apa yang dilihatnya tadi pagi di pintu bandara. Pria berambut hitam itu menghela napas pelan. Apa yang ia curigakan sejak awal ternyata membawa masalah sekarang.

“Dia tak akan pergi kalau kau mencintainya dengan hatimu.”

Setelah sedari tadi terpaku dengan gelas soju-nya, Kyuhyun menolehkan kepalanya untuk pertama kali.

“Kau mencintainya, kan?” tanya Minho untuk lebih menjawab keraguan yang ada di dalam benaknya.

Tak ada jawaban dari Kyuhyun. Pria itu kembali memandang gelas sebagai objek pandangannya.

“Jangan memalingkan wajahmu, Kyuhyun!” desis Minho. Entah mengapa ia merasa panas menjalari seluruh tubuhnya saat Kyuhyun memilih untuk memalingkan muka daripada menjawab pertanyaannya.

“Aku tidak tahu,” jawab Kyuhyun datar.

Minho membelalakkan matanya. “Jawaban macam apa itu? Jangan membuatku ingin memukul wajahmu saat−”

“Aku hanya tidak ingin kehilangan Seohyun,” potong Kyuhyun seraya menatap tajam Minho. “Aku tak akan pernah melepaskannya.”

Minho merasa udara di sekelilingnya tersedot habis secara tiba-tiba. Bagaimana bisa? Mengapa selama ini ia tak mengetahui apa yang terjadi di antara kedua sahabatnya? Pernikahan macam apa yang terjadi di antara keduanya? Air mata Seohyun pagi tadi… apakah karena hal ini juga?

“Kau takut Yonghwa merebut Seohyun-ah dari sisimu?”

Lagi-lagi Kyuhyun tak menjawab. Pria itu memalingkan wajahnya, sedangkan rahangnya terlihat mengeras.

“Kau bodoh!” ucap Minho seraya menyeringai. “Benar-benar bodoh.”

“Kau tidak tahu−”

“Aku melihatnya,” potong Minho cepat. “Aku melihat bagaimana Seohyun-ah menangis saat melepas Yonghwa tadi pagi. Aku memahaminya, Kyuhyun! Itu bukanlah tangis perpisahan, melainkan tangis untuk orang lain. Yaitu kau!”

Kerutan jelas tergambar di kedua alis Kyuhyun.

“Sampai kapan kau tidak jujur terhadap dirimu sendiri?” Kali ini suara Minho terdengar lebih lirih sebelumnya. “Sampai semua yang kau miliki pergi darimu? Apa yang pernah kukatakan tentang menjaga istri dan calon anakmu, hah? Kenapa yang kukatakan seperti tak ada artinya bagimu?”

Kyuhyun menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya. Pembicaraan ini membuatnya semakin lelah. Ingin sekali ia menanggapi perkataan Minho. Tapi apa? Ia bahkan tak cukup paham dengan apa yang dikatakan Minho. Semuanya terasa berputar-putar di dalam kepalanya. Nampaknya alkohol sudah sedikit mencemari kesadarannya, dan di dalam tangkupan kedua tangannya, Kyuhyun menghela napas berat.

“Katakan saja apa tujuanmu kemari,” ucap Kyuhyun seraya menyapu rambut dengan kedua tangannya ke belakang kepala.

Minho menghela napas pelan. Ia sedikit menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri yang mulai ikut campur kehidupan rumah tangga sahabatnya. Sebenarnya bukan itu juga tujuan Minho, ia hanya merasa iba.

“Para warga itu berencana melakukan demo besok pagi. Kita semua harus waspada.”

Kyuhyun terdiam sejenak tanpa mengatakan apa-apa. Raut wajah pria itu mulai melunak. “Ayo,” ajaknya seraya beranjak pergi dari kedai minuman itu.

.

.

Keesokan paginya, suasana hati Seohyun semakin buruk. Keributan semalam, serta ketidakpulangan suaminya nampaknya menjadi momok Seohyun di pagi hari yang cerah ini. Semalam suntuk ia duduk terdiam seraya bersandar di tembok dapurnya sehingga menyisakan sedikit rasa ngilu di punggungnya. Sama sekali tak berniat untuk beranjak dari sana hanya untuk menanti kepulangan suaminya. Namun kenyataannya? Pria itu tak menampakkan wajahnya lagi sejak kemarahannya semalam. Seohyun sendiri tak bisa melupakan raut marah suaminya pada terakhir kalinya.

Seohyun melangkahkan kakinya malas menuju rumah sakit Seoul. Entah mengapa, tiba-tiba ia teringat perkataan Yonghwa pada dua hari sebelumnya. Tentang dimana Yonghwa akan selalu menanti kedatangannya. Namun seketika itu pula, Seohyun juga teringat akan perkataannya sendiri. Apapun yang terjadi, ia akan selalu berada di samping Kyuhyun. Menemani suaminya itu dengan bagaimanapun keaadaanya. Ia sadar, tidak hanya rasa cinta pada pria itu saja yang membuatnya bertahan, melainkan kepribadian dan sosok Kyuhyun sendiri.

Helaan napas pelan keluar dari mulut Seohyun. Mengapa semalam ia harus terpancing emosi seperti itu? Jika hal itu tidak terjadi, keadaan rumah tangganya tidak akan serumit ini. Namun Seohyun juga menyadari bahwa kemarahan Kyuhyun semalam bukan hanya karena dirinya yang marah lebih dulu. Pria tersebut juga melibatkan Yonghwa, bukan? Apa saat itu Kyuhyun sedang cemburu? Jika tidak, mengapa pertanyaan pria itu semalam seolah meyiratkan bahwa pria itu tak menyukai sebuah penghianatan dari Seohyun?

Tidak. Seohyun tidak ingin memikirkan hal itu sekarang. Seohyun harus berpikir bagaimana caranya untuk menyelesaikan ini semua. Ia tidak boleh jika terus berdiam diri seperti sebelumnya. Di dalam hatinya, ia bertekad akan menyelesaikan semua masalah rumah tangganya bersama Kyuhyun secepat mungkin. Ia tidak mau hal semalam terjadi lagi.

Saat baru saja sampai di depan pintu utama rumah sakit, Victoria memanggilnya seraya berlari kecil dari kejauhan. Mau tak mau, Seohyun pun menghentikan langkahnya.

“Maaf sudah mengganggumu pagi-pagi begini, tapi Tiffany-ssi memintamu datang ke ruangannya.”

Kedua alis Seohyun bertaut samar. “Ada apa, Victoria-ssi?”

“Aku kurang tahu, Seohyun-san. Lebih baik langsung temui Tiffany-ssi di ruangannya. Dia juga baru datang,” saran Victoria.

Setelah Victoria mengatakan hal itu, Seohyun berjalan menuju di mana ruangan Tiffany berada. Ruangan Tiffany berada tidak jauh dari ruangannya, bahkan satu lantai. Jadi tidak akan menyusahkan dirinya sendiri yang sekarang sering mudah lelah jika naik turun tangga.

“…keadaan para pasien itu sudah semakin memburuk.”

Saat berbelok menuju lorong di mana ruangan Tiffany berada, suara itu tertangkap jelas di indera pendengaran Seohyun. Walau sedikit ragu, Seohyun mendekat untuk melihat apa yang terjadi di sana.

Tiffany berdiri tepat di depan pintu ruang kerjanya seraya mendekap mulut dengan sebelah tangannya. Benar apa kata Victoria, Tiffany baru saja datang, dan nampaknya wanita itu bahkan belum masuk ke ruangannya. Di depan Tiffany, berdiri tiga pria, dua diantaranya adalah dokter muda, dan sisanya adalah pria yang sangat Seohyun kenal.

“Banyak diantara mereka yang mengeluhkan penanganan yang begitu lambat. Kami benar-benar kekurangan tenaga medis.”

Sebelah tangan Tiffany yang tadi membekap mulut, sekarang berpindah ke belakang tengkuknya. Tiffany tampak jauh lebih resah.

“Biar aku saja, Suho.”

Suho, Tiffany, beserta dua dokter muda yang tengah berdiri di sudut lorong menoleh begitu terdengar suara Seohyun. Dengan mantap, Seohyun melangkah mendekat.

“Biar aku saja yang pergi ke sana,” sambung Seohyun.

Sepasang mata Tiffany memandang tak setuju. “Tidak, di sana berbahaya, Seohyun. Kau−”

“Sertakan juga Hyoyeon-ssi dan Sohee-ah, eonni. Aku berjanji semuanya akan baik-baik saja.”

Tiffany nampak menimbang keputusan. “Apakah harus mengirim tim medis ke sana? Tidak bisakah memindahkan sebagian pasien itu ke sini? Di sini semua peralatannya lengkap, akan sangat mudah jika−”

“Itu hanya akan membuang-buang waktu Tiffany-ssi,” potong Suho cepat.

Sekali lagi, Tiffany harus menelan kekecewaan. Apa yang dikatakan Suho memang benar. Jarak Mokpo dengan Seoul tidaklah sedekat rumah sakit dengan bandara yang bisa ditempuh dalam waktu lima belas menit. Pandangan Tiffany terarah ke Seohyun. Bukan masalah siapa yang bisa menangani pasien-pasien itu yang membuatnya resah, tapi juniornya yang berambut merah coklat itu. “Aku yakin Sooyoung tidak akan mengijinkanmu pergi.”

“Sooyoung akan mengijinkannya jika kau juga mengijinkanku, eonni.” Seohyun mendekat dan meraih sebelah tangan Tiffany. “Kau harus mempercayai kami. Para juniormu.”

Luluh sudah hati Tiffany menghadapi Seohyun. Walaupun berat, anggukkan kepalanya pun akhirnya terjadi juga.

.

Tidak mudah menundukkan Sooyoung untuk mengijinkannya pergi ke Mokpo. Wanita berambut hitam itu bersikeras bahwa kehamilan Seohyun lah yang menjadi alasannya. Berkali-kali Seohyun meyakinkan semuanya akan baik-baik saja, namun berkali-kali juga Sooyoung menolaknya dengan mentah. Perdebatan antara Seohyun dan Sooyoung yang berlangsung lebih dari sepuluh menit, akhirnya harus berkesudahan dengan jawaban malas Sooyoung yang menyetujui keberangkatan Seohyun.

“Kenapa harus mengungkit hal itu? Kau benar-benar tahu cara meluluhkanku,” gerutu Sooyoung seraya menyandarkan punggungnya di tembok dekat pintu ruangannya.

Seohyun menyunggingkan senyum manisnya. Dihampirinya sahabatnya tersebut, dan memeluknya erat. “Terimakasih sudah mengijinkanku.”

Sooyoung bergumam seraya membalas pelukan Seohyun. “Berhati-hatilah. Jangan pernah keluar sendiri jika memang tidak terjadi sesuatu di luar. Kau sama sekali tidak tahu daerah sana.”

“Ya,” sahut Seohyun seraya menganggukkan kepalanya.

“Jangan jauh-jauh dari para dokter dan perawat yang lainnya.”

Kepala Seohyun kembali terangguk. Setelah Sooyoung mengacak puncak kepalanya sekilas, Seohyun membuka pintu rumah Sooyoung, dan berjalan beriringan dengan Suho yang akan mengawal dirinya.

.

Seohyun sadar, ia mempunyai maksud lain saat memaksa untuk pergi ke Mokpo. Apalagi kalau bukan untuk menemui suaminya?

.

.

Rasanya seperti sama saja saat Seohyun memasuki rumah sakit di Mokpo dengan di Seoul. Aroma obat-obatan segera menyeruak masuk indera penciumannya saat ia baru saja membuka pintu ruang pasien. Lebih dari lima dokter tampak berada di sana. Salah satunya adalah Sohee, gadis berambut pendek yang tengah mengamati apa yang dilakukan oleh wanita di sebelahnya yang bernama Hyoyoen. Entah mengapa, melihat Sohee seperti melihat dirinya di masa lalu yang bersikeras ingin mendalami ilmu kedokteran.

“Maaf aku terlambat,” ucap Seohyun. “Perijinan dari sahabatku sedikit berbelit-belit.”

Hyoyien dan Sohee pun menolehkan kepalanya bersamaan. “Tak apa, Seohyun-ssi,” sahut Hyoyeon. “Kami juga masih mencari tahu penyebab penyakit mereka.”

Seohyun mendekat. Disentuhnya kening salah satu pasien yang terkapar di sana. “Suhu badan mereka tinggi. Apakah ini smeacam virus?”

“Aku juga berpikir begitu.”

Baru saja Seohyun meraih jas, serta masker medisnya, suara pria dari luar ruangan memanggil namanya.

“Seohyun-ssi?” panggil pria itu lagi. Kali itu pria itu sudah masuk ke ruangan. Ia adalah Suho.

“Ada apa?”

“Salah satu pasien yang ada di ruang sebelah sedang kolaps,” ucapnya seraya menyerahkan data pasien. “Panas tubuhnya melebihi batas parah.”

Seohyun mengamati kertas tersebut lekat-lekat. Ya, dari gejalanya memang mirip seperti virus.

Ya Tuhan, berapa lagi pasien yang kolaps seperti itu?” Di belakang, Hyoyeon berkata seolah tak percaya.

“Pasien ini biar aku dan Sohee-ah yang menangani. Harus ada salah satu orang yang membantu Hyoyeon-ssi,” perintah Seohyun. Tak butuh perintah yang kedua, para petugas medis itu segera melaksanakan apa yang Seohyun katakan. Sepasang mata Seohyun menangkap Sohee yang berjalan takut ke arahnya. Seohyun pun tersenyum, yang membuat berbeda antara dirinya dan Sohee adalah sifat Sohee yang pemalu. “Ayo berjuang, Sohee-ah,” seru Seohyun yang disambut senyuman oleh lawan bicaranya.

.

Hampir satu jam Seohyun dan para petugas medis lain yang berada di dalam satu ruangan dengannya berkutat dengan para pasien. Obat yang dibuat Hyoyeon sudah jadi, dan Seohyun pun juga hampir menyelesaikan obat yang ia buat. Setelah selesai, Seohyun merasa tubuhynya begitu lelah. Ia pun memilih untuk beristirahat sejenak, dan membeli sekaleng minuman dingin.

“Minho, petugas keamanan itu banyak yang terluka.”

Seohyun mengentikan gerakan tangannya yang akan mengambil minuman untuk sejenak. Ia mengenal suara itu.

“Aku sudah melihat keadaan mereka. Tak apa, mereka tidak ada yang sampai terluka parah.”

Kali ini Seohyun membalikkan badannya. Dadanya bergemuruh hebat saat ia melihat sosok yang tengah berbincang melalui ponsel itu. Sosok yang sangat ingin ia temui. Cho Kyuhyun, suaminya.

“Hn, baiklah. Akan kukabari keadaan mereka satu jam lagi.”

Seohyun tak mendengar suaminya berkata lagi. Kyuhyun hanya terdiam seraya menutup ponselnya. Tanpa melihat wajahnya pun, Seohyun tahu kalau suaminya tengah berpikir.

Tak lama setelah terdiam, Kyuhyun melangkah keluar menjauh. Ingin sekali Seohyun menghentikan pria tersebut, namun panggilan itu tak juga keluar dari sepasang bibirnya. Alhasil, ia hanya mampu mengikuti Kyuhyun keluar setelah meletakkan kembali minuman kalengnya.

“Sampaikan pada petugas keamanan untuk tetap memblokir gerakan para pendemo itu,” ucap Kyuhyun kepada beberapa bawahannya saat di depan lobby rumah sakit.

Usai mengatakan hal itu, seluruh pegawai tersebut segera menghilang ke berbagai arah. Hanya Kyuhyun yang tertinggal di sana. Pria itu terlihat kembali membuka ponselnya. Kelegaan hinggap di hati Seohyun saat mengetahui suaminya tidak pergi seperti yang lainnya. Dengan keberanian yang tersisa, Seohyun melangkah mendekati suaminya.

“Kyuhyun?”

Panggilan itu menghentikan Kyuhyun yang baru saja menutup ponsel dan berlalu dari sana. Pria itu pun menolehkan kepalanya, dan menemukan Seohyun yang tengah berlari kecil ke arahnya. Sekilas, ia menatap kaget sebelum raut wajahnya kembali tenang seperti biasa.

“Ada apa?” Suara Kyuhyun terdengar datar seperti biasanya.

Seohyun membuka bibirnya, tapi tak ada satu katapun yang langsung terucap. Wanita itu menundukkan kepala untuk mengambil napas sebelum kembali memandang suaminya. “Bisa kita bicara? Hanya sebentar.”

“Tak bisakah kau menundanya? Ini bukan saat yang tepat.”

“Tapi ini penting.” Seohyun paham, sangat malah. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan masalahnya. Namun keegoisannya mendesaknya untuk menyelesaikan semuanya secepat mungkin.

“Sepenting apa?”

Sepenting apa? Seohyun terdiam tak bisa menjawabnya. Hal ini memang penting untuknya, tapi apakah juga penting untuk suaminya?

“Seharusnya kau tidak berada di sini,” ucap Kyuhyun seraya membalikkan badannya dan kembali berjalan menjauh.

Seohyun memandang punggung Kyuhyun sendu. Punggung itu, ingin sekali Seohyun memeluknya seraya menyampaikan semua isi hatinya. Namun punggung itu lagi-lagi menjauh darinya. Meninggalkannya, dan menyisakan rasa sedih untuknya.

Ya, seharusnya aku tak usah berada di sini…

DUARRR

Seohyun menoleh kaget ke arah tembakan pistol dari seorang pria yang tak jauh berdiri di samping Kyuhyun. Sedetik setelahnya, puluhan orang yang berada di sana berteriak ketakutan. Sekilas Seohyun memandang Kyuhyun yang sedang tiarap. Pria itu tidak apa-apa, dan kini mulai berdiri lagi.

“Kyuhun!” teriak Seohyun dari kejauhan. Wanita itu berlari mendekat ke arah Kyuhyun.

DUARRR

Lagi-lagi tembakan dari pria asing tersebut tidak dapat mengenai Kyuhyun.

“Cepat pergi dari sini,” teriak Kyuhyun.

“Tapi kau−”

“Aku tak apa, cepat pergi!” ucap Kyuhyun seraya berlari menjauh.

Seohyun terlihat gelagapan karena tak tahu apa yang harus ia katakan. Namun wanita itu tetap menuruti perkataan suaminya untuk menjauh. Di dalam hatinya, ia berdo’a kepada Tuhan agar selalu menjaga suaminya dari pria asing tersebut yang juga mengejar suaminya.

CKIIIIIIITTTT… BRAK

Tubuh Seohyun dengan sukses menghantam batang pohon di belakangnya sehingga membuat batang pohon yang besar itu bergetar hebat. Seluruh tubuhnya merasakan ngilu yang teramat sangat, dan ketika tubuhnya merosot ke bawah dengan posisi terduduk, penderitaannya bertambah parah. Tidak hanya punggung dadanya yang terasa sakit, perut bagian bawahnya pun terasa seperti diremas dan dikoyak sesuatu yang kasat mata. Di dalam ambang batas kesadarannya, Seohyun pun masih dapat mendengar rintih kesakitannya sendiri dan teriakan kaget dari orang-orang yang berada di sekitarnya.

Tiba-tiba Seohyun merasa takut. Tangan kirinya yang sebentar lagi akan mati rasa, meraba perutnya yang terasa sangat sakit. Rasa takut itu semakin menjadi-jadi, Seohyun pun menundukkan kepalanya, dan memastikan apa yang ia takutkan sekarang tidaklah nyata.

Darah?

Seohyun memaksakan kedua matanya yang seakan memaksa tertutup untuk terus terbuka. Apakah yang dilihatnya kali ini nyata? Apa darah itu nyata?

Di dalam hatinya, Seohyun tersenyum sedih. Jadi sampai saat ini saja akhir hidup anaknya? Mengapa Tuhan tidak memberinya kesempatan untuk bertemu buah hatinya? Padahal di dalam hidupnya, salah satu keinginan Seohyun adalah ingin mengecup pipi dan puncak kepala anak-anaknya.

Dan… mengapa Tuhan tidak memberinya kesempatan untuk melihat pria yang ia cintai untuk yang terakhir kalinya?

.

Kyuhyun… kau di mana?

.

.

.

.

.

Rasanya baru saja Seohyun menutup kedua matanya sebelum sebuah suara yang sangat ia kenal pada awalnya terdengar menjauh, kini semakin terdengar dekat seiring kesadaranya kembali terkumpul.

“Seohyun! Buka matamu!”

Entah kalimat itu seperti mantra atau bukan, perlahan-lahan Seohyun seolah menarik dirinya kembali dari kegelapan hanya untuk mendapatkan sinar agar bisa melihat pemilik suara tersebut.

“Kau bisa mendengarku? Buka matamu!”

Kali ini mata coklat itu terbuka walaupun tidak sampai setengah. Tapi setidaknya dari balik alat bantu pernapasan yang kini sudah terpasang di hidungnya, ia bisa melihat samar siapa sosok yang kini menyentuh bahu dan pipinya. Andaikan ia memiliki kekuatan hanya untuk sekedar tersenyum, Seohyun pasti akan melakukannya hanya untuk pria yang kini berada di dekatnya. Kyuhyun, suaminya.

Raut wajah lega tergambar jelas di wajah Kyuhyun. Sebelah tangannya bergerak untuk mengusap keringat di dahi dan aliran darah kecil di sudut bibir Seohyun. “Tetap sadar, Seohyun. Kita pulang sekarang,” ucapnya lirih.

Seohyun tak menggubris apa yang akan terjadi setelah ini. Kesadarannya seolah kembali menghilang perlahan-lahan saat ia merasa sudah berada di atas ranjang ambulan. Sedetik setelahnya, ia melihat langit biru seolah berjalan di atas sana.

Mianhe,” bisik Seohyun sangat lirih. Bahkan Seohyun seperti tidak mengeluarkan speatah katapun. Entah wanita itu sadar atau tidak apa yang dikatakannya. Sepasang matanya pun kembali menutup perlahan.

“Tetap buka matamu, Seohyun! Seohyun! Se−”

.

.

Gelap sudah pandangan Seohyun setelahnya…

.

.

Terimakasih karena memberiku kesempatan melihat suamiku, Ya Tuhan… Aku sangat mencintainya.

 

 

[TBC]

308 Tanggapan to “LOVE ME [CHAPTER 16]”

  1. fannyap12 Januari 24, 2016 pada 12:51 am #

    Seo sadar, please seo harus sadar 😢😢

  2. asrielf rahmawati Januari 1, 2016 pada 2:50 am #

    JANGAN BILANG BAYI DAN SEOHYUN MENINGGAL!!
    AKU GK RELA!!

  3. Amelia November 27, 2015 pada 8:49 am #

    Sedih bae T.T jangan bilang seohyun sama bayi nya meninggal? Nggak kan? Huaaa😥

  4. Syugaaa.r November 7, 2015 pada 3:02 pm #

    Gilee. Feelnya dapet banget thor pas di akhirnya sih bru ngena banget hehe. Nice thor. Keep writing!

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: