LOVE ME [CHAPTER 17]

9 Sep

Judul/Title : Love Me

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr ]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it

Length : 1 of………..

Genre : Romance, Sad, Family. Little bit NC

Author Notes (A/N) : Annyeong wiresdeul *bow* aku bawa full part17 LOVE ME nih hehehe

sepertinya aku hiatus terlalu lama bukan? hahah banyak banget yang sms nagih fanfiction hiwiwi tapi makasih eonni-ya dongsaeng-ah sarangheeee:*

Bisa juga kalian temukan beribu-ribu(lebay) Typos yang merajalela di sepanjang ff

Udah deh cekidot sajaaa…..jangan lupa comment ya eheheh Gomawo thanKyu :*

 

Sosok itu… Seohyun mengenalinya. Sosok kecil yang kini tengah mengulurkan kedua lengan ke arahnya. Mata itu, rambutnya, tawanya… Seohyun benar-benar yakin bayi itu adalah dirinya. Tapi… mengapa terlihat semakin buram dan jauh? Mengapa juga terlihat begitu rapuh? Kemana tawa lepasnya yang tadi?

Pandangan Seohyun berubah. Ia melihat sosok yang lain. Sosok yang punggungnya selalu ingin ia gapai. Punggung itu menjauh. Tak peduli seberapa cepat Seohyun mengejarnya, punggung itu melesat menjauh tanpa sedikit pun menampakkan wajah pemiliknya.

“Kyuhyun!”

Teriakan Seohyun menggema hebat, bahkan terasa memekakkan telinganya sendiri. Namun ia tak peduli. Tangannya terulur untuk mencoba menggapai punggung itu. Mencoba… dan terus mencoba…

Kyuhyun…

.

.

Seohyun selalu berharap suaminya menikahinya karena memang mencintainya. Bukan hanya untuk meneruskan perusahaan-nya.

 

.

.

LOVE ME

.

.

 

Cahaya matahari yang seolah-olah mengetuk-ngetuk kelopak mata Seohyun itu pada akhirnya mampu sedikit menampakkan sepasang mata coklat yang tak menampakkan dirinya selama beberapa hari. Seohyun memejamkan matanya sekali lagi. Ia seperti mendengar suara yang ia kenal.

“Tak apa, kita tunggu saja sampai dia siuman.”

Yah… kira-kira itulah yang sayup-sayup tertangkap di telinga Seohyun. Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu yang ditutup. Seohyun pun memiringkan kepalanya ke kanan dan kembali membuka matanya perlahan.

Terlihat Tiffany ada di sana. Wanita itu membelakangi pandangan Seohyun. Berusaha mengeluarkan suaranya yang entah kenapa susah sekali untuk keluar, Seohyun menyebut nama wanita itu untuk pertama kalinya setelah siuman. “Tiffany Eonni?”

Tiffany tak langsung menoleh? Apakah suara Seohyun kurang keras? “Tiffany Eonni?” panggilnya lagi. Tentunya dengan suara yang menurutnya lebih keras dari sebelumnya.

“Ahh… Seohyunnie.” Pekikkan itulah yang pertama kali keluar dari Tiffany. Wanita itu segera mendekat dan menampakkan raut wajah yang sulit diartikan. “Yatuhan… kau sudah bangun. Syukurlah… kau ingin minum?”

Seohyun mengangguk lemah. Tenggorokannya memang terasa kering.

Tiffany membantu Seohyun untuk menyamankan posisi minumnya. Mata wanita itu terlihat begitu lega. “Kami semua menghawatirkanmu, Seohyunnie.”

Tak ada tanggapan dari Seohyun. Wanita itu mengedarkan pandangannya seraya mengingat apa yang baru saja terjadi.

Ini di rumah sakit. Ya. Tapi kenapa dirinya berada di sini?

“Apa kau merasa pusing, Seohyun? Adakah bagian tubuhmu yang sakit?”

Sakit?

Kilasan ingatan tentang rasa sakit yang teramat sangat hadir di pikiran Seohyun bagaikan sebuah gambar gerak lengkap dengan suara dan latar belakangnya. Rasa sakit itu… bukan hanya fisik, melainkan juga batinnya. Seohyun tentu tak lupa bagaimana rasa takut dan panik menyelubunginya kala itu. Rasa takut yang tak akan bisa ia lupakan sampai kapanpun. Dan Tiffany yang menyadari hadirnya keringat di pelipis Seohyun, memegang sepasang tangan wanita bermata coklat itu yang saling bertutan dan gemetar. “Hyunnie? Ada apa?”

Seohyun menoleh cepat. Bibir wanita itu bergetar. “Bayiku. Bayiku, Eonni.”

Tiffany menegang sesaat. Ia sudah memperkirakan hal ini sebelumnya.

“Apa aku kehilangan dia?”

Remasan Tiffany di tangan Seohyun mengeras. Ia ingin memberi kekuatan lewat sana. “Maaf,” jawab Tiffany lirih. “Saat kau dibawa ke sini, dia sudah tak terselamatkan.”

Separuh nyawa Seohyun bagaikan tercabut perlahan. Tubuh wanita itu melemas seketika. Segalanya terasa begitu berat, bahkan untuk mengambil nafas sekalipun. Sepasang matanya buram, tertutupi air mata yang entah kapan mulai menggenang. Isakan kecilnya tertahan di ujung tenggorokan. Semangat hidupnya kembali memudar pelan-pelan.

YaTuhan…

Pintu ruangan yang terbuka tiba-tiba membuat kedua wanita yang ada di dalamnya menegang. Terlebih untuk Seohyun. Sosok yang kini berdiri memandanginya di ambang pintu itu hanya menatapnya tanpa mengucap satu kata pun. Mata hitam pria itu membawa gelombang perasaan yang Seohyun sendiri tak dapat memahaminya. Rindu, sedih, takut, dan sesak yang menjadi satu.

Langkah Tiffany yang menuju pintu ruangan menjadi sumber suara yang paling jelas di sana. Wanita itu tiba-tiba berhenti tepat di samping Kyuhyun, membisikkan sesuatu terhadap pria itu, dan dibalas dengan anggukan terimakasih.

Kyuhyun melangkahkan kakinya mendekat dengan masih tak menoleh istrinya yang mulai terisak pelan. “Kau tak sadarkan diri selama tiga hari. Dan setelah sadar kau langsung menangis?” tanya Kyuhyun seraya meletakkan kantong buah yang ia bawa di meja samping ranjang. Perhatian pria itu kini kembali terarah ke Seohyun.

“Maaf,” jawab Seohyun disela isakannya. Ia benar-benar tak memiliki keberanian untuk menatap suaminya.

“Untuk apa?”

Isakan Seohyun semakin hebat. Wanita itu menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Ujung tenggorokannya terasa sakit karena menahan tangis dan kehancuran yang ia rasakan. Sakit dan sesak, keduanya terasa sulit sekali untuk dilepaskan. Namun saat Seohyun merasa seseorang mendekap tubuhnya, tangisnya pecah seketika.

“Berhenti, Seohyun.” Kyuhyun membenamkan kepalanya di pundak Seohyun. Aroma wanitanya yang sama sekali tak berubah membuat Kyuhyun lebih mengeratkan pelukannya. “Jangan menangis.”

Seohyun tak menggubris perkataan suaminya. Seluruh tubuhnya bergetar, dan tangisnya semakin kuat seiring rasa bersalah yang ia rasakan kian besar. “Maaf… maaf… maafkan aku. Ini semua salahku, maafkan aku,” ucapnya lirih.

“Tak ada yang perlu disalahkan.”

“Dia tak pantas menerima ini, harusnya aku. Aku salah, Kyuhyun. Maafkan aku.”

Kyuhyun menjauhkan tubuhnya. Mata hitamnya menatap Seohyun dengan sorot mata yang keras. “Tak ada yang perlu disalahkan,” ulangnya dengan nada tajam. “Dan tak ada yang perlu dipantaskan.”

Tangis Seohyun sedikit mereda. Wanita itu menahan mati-matian tangisnya setelah menyadari nada bicara Kyuhyun. Kepalanya sedari tadi masih tertunduk, tak berani memandang suaminya walau hanya sekilas.

Sebelah tangan Kyuhyun terulur untuk mengusap bekas luka yang masih terlihat samar di dagu Sakura, lalu bergerak dan berhenti di sisi wajah wanita itu. Tatapannya kembali melunak. Sebagian perasaannya terasa seperti tercubit melihat keadaan istrinya. Wanita itu kini terlihat begitu hancur oleh perasaan bersalah. Tak ada lagi aura kehangatan yang Kyuhyun rasakan dari dirinya. Mata coklat kristalnya yang biasanya memancarkan kedamaian, kini seolah meredup dan hampa.

Sehancur inikah Seohyun saat kehilangan seorang anak yang Kyuhyun inginkan kehadirannya?

“Jangan menyalahkan diri seperti itu,” ucap Kyuhyun seraya mengusap jejak air mata di pipi Seohyun. “Tak ada satupun dari kita yang menginginkan hal ini.”

Seohyun kembali menangis. Kali ini tangisnya tak sekeras sebelumnya, namun terasa lebih menyayat hati.

Kyuhyun menghela nafas pelan. Tak mudah memang, apalagi dengan keadaan Seohyun yang baru saja mengetahui semuanya. Berbicara banyak pun juga akan sama saja. Di dalam hati Seohyun, perasaan bersalah itu pasti sudah bercokol paten di sana. Mendekatkan tubuhnya lagi, Kyuhyun kembali mencoba untuk menenangkan istrinya lewat pelukan. Tak ada kata-kata lagi, hanya pelukan.

.

.

.

Ini adalah hari ketiga semenjak kesadaran Seohyun. Selama tiga hari itu pula, banyak teman-teman terdekatnya dan Kyuhyun yang datang silih berganti untuk menjenguknya. Sebagian dari mereka mungkin merasa iba karena selama ini mereka tahu Seohyun begitu menginginkan kehadiran seorang anak di dalam rumah tangganya.

“Mau kukupaskan apel, Seohyun Eonni?” tanya Krystal. Saat ini, wanita yang tengah hamil tua itu duduk berdampingan dengan Seohyun di taman rumah sakit.

Seohyun mengangguk seraya memaksakan senyumnya. Sesedih apapun hatinya, ia akan berusaha untuk terlihat tegar di depan teman-temannya. Hal itu ia lakukan selama tiga hari ini. Tak ada lagi tangis seperti saat ia baru saja mengetahui semuanya. Semua tangis itu, Seohyun tahan di dalam hatinya.

Krystal pun tersenyum manis. Tangan wanita itu bergerak semangat ketika mengupas apel pertama, sedangkan bibirnya bergerak untuk menceritakan sesuatu yang tidak Seohyun pahami.

Tak jauh dari sana, Minho dan Kyuhyun berdiri memperhatikan kedua wanita itu. Keheningan menyelimuti keduanya. Entah terlalu sakit untuk dibicarakan, atau terlalu sedih untuk diingat.

“Seohyun terlihat begitu murung. Dia juga lebih kurus.” Minho berusaha membuka pembicaraan. “Aku minta maaf karena baru bisa mengunjungi Seohyun hari ini. Kemarin Krystal sedang tidak enak badan.”

“Tak apa.”

“Dan juga… maaf untuk ketololanku.”

Kyuhyun menoleh.

“Andaikan saat itu aku tetap tak mengijinkan Seohyun, hal ini pasti tidak akan pernah terjadi.”

“Jangan menyalahkan dirimu, Minho. Semuanya memang sudah tergaris seperti ini.”

Minho ganti memandang sahabatnya, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dirasakan pria Cho itu. Sedih? Ya, Minho percaya Kyuhyun akan merasakannya. Namun bagaimana perasaan Kyuhyun terhadap Seohyun setelah ini semua terjadi?

Yah, apa yang dipikirkan Minho juga tengah menghantui benak Seohyun saat ini. Suara Krystal yang terdengar dari samping bagaikan angin lalu baginya. Mata coklat wanita itu hanya memandang kosong ke depan. Otaknya seakan memaksanya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Kyuhyun begitu menginginkan kehadiran darah dagingnya. Mendapatkannya tidaklah semudah yang Seohyun kira pada saat sebelum menikah. Semua hal itu bahkan mengundang air matanya. Namun kenapa hasil yang seharusnya pantas ia dapatkan malah seperti ini? Apa salahnya? Tidakkah Tuhan mengerti betapa besar Seohyun menyayangi dan menantikan kelahiran buah hatinya?

Ini semua salahnya. Ya, salahnya. Kyuhyun pasti kecewa terhadapnya.

Seohyun memperhatikan sepasang pria dan wanita yang tengah berjalan dari kejauhan. Jika dilihat dari pakaian pasien, bisa dipastikan sang wanita baru saja melahirkan, apalagi terdapat seorang bayi yang terbungkus selimut biru tebal digendongan wanita itu. Mereka terlihat bahagia, bahkan sesekali sang pria mengusap kepala bayi itu dan mengecupnya.

Jika saja hal yang membuat seluruh hatinya hancur itu tak terjadi, sah-sah saja jika Seohyun membayangkan wanita itu adalah dirinya di masa mendatang. Kyuhyun yang bahagia atas kelahiran anaknya, dan Seohyun yang bahagia atas kelengkapan hidupnya. Tak akan ada rasa menyakitkan seperti ini. Tak akan ada air mata yang ia tumpahkan. Dan tak akan ada ketakutan yang ia rasakan.

Mengapa ia harus melihat kebahagiaan orang lain di saat dirinya terpuruk seperti ini? Seharusnya ia yang berada di sana. Ia yang tersenyum di sana. Ia yang menggendong dan mengecup bayinya.

Yah… seharusnya bayi itu adalah miliknya… kebahagiaan itu adalah takdirnya…

…..

“BERHENTIIII!!!”

Teriakan Seohyun dengan cepat menjadi pusat perhatian di taman rumah sakit tersebut. Krystal yang ada di sebelah wanita itu hanya bisa menatap Seohyun yang kini berdiri dengan terkejut.

“Seo−”

“Berhenti di sana! Berhenti sekarang.” Seohyun seolah tak menghiraukan Krystal yang menyebut namanya. Hatinya terasa panas, dan amarah terasa memuncak di kepalanya ketika sepasang pria dan wanita yang ia panggil tak jua menghentikan langkah. Wanita itu pun bergerak mendekat. Langkahnya semakin cepat seiring jarak yang mulai dekat. Ia berpikir, miliknya memang harus berada di tangannya.

“Kubilang berhenti!” Teriakan Seohyun yang terakhir mampu menghentikan pria dan wanita tersebut. Keduanya berbalik, dan menatap Seohyun heran. “Kembalikan milikku!”

Pria dan wanita itu semakin heran. Mereka hanya bisa terpaku sesekali seraya bertukar pandang. Untuk apa wanita berambut merah muda itu meneriaki mereka? Lalu mengapa juga ia terlihat marah?

Jarak Seohyun hanya tinggal beberapa langkah. Sedikit lagi, ia akan mendapatkan miliknya. Tangannya terulur, bersiap untuk menggapai haknya. Namun sosok pria yang tiba-tiba hadir di depannya, menghentikan langkahnya seketika.

“Ada apa denganmu?” tanya Kyuhyun. Kedua tangannya menahan pundak Seohyun yang mencoba untuk berontak.

“Lepaskan!”

“Seohyun!”

“Lepaskan aku!”

Sekuat apapun Seohyun memberontak, ia tetap tidak bisa lepas. Genangan air matanya terkumpul seiring melemahnya ia berontak. “Lepaskan aku, kumohon!” ucapnya lebih lirih. “Anakku, anakku…”

Seakan ada sebuah pisau kecil yang menguliti dadanya, Kyuhyun tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata. Sekujur tubuh pria itu menegang, cengkraman di pundak istrinya bergetar. Sebisa mungkin pria itu tetap mempertahankan istrinya untuk berada di dekatnya. “Sadarlah, Seohyun!” Suara Kyuhyun bagai tercekik di tenggorokannya.

“Tidak, lepaskan aku!”

“Seohyun!” Gertakan keras Kyuhyun pada akhirnya membuat perhatian Seohyun teralih sepenuhnya. Mata coklat wanita itu yang sebelumnya terlihat kosong, kini seolah fokus lagi. “Ada apa denganmu?”

Tak ada jawaban dari Seohyun. Matanya kini memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya. Krystal masih berada di tempat semula, berdiri, seraya memeluk kedua lengannya sendiri. Di depannya, tak jauh dibelakang Kyuhyun, terlihat Minho yang membungkuk terhadap dua orang yang ia teriaki tadi. Keadaan seluruh taman tersebut berubah hening, bahkan terkesan tegang. Astaga… apa yang telah dilakukannya? Apa yang sudah ia perbuat?

YaTuhan…                                                                                                                     

Sapuan perasaan sedih secara cepat membelenggu Seohyun. Wanita itu dengan cepat memeluk suaminya, dan kembali meneteskan air mata. “Kyuhyun… Kyuhyun…” gumam Seohyun di dada suaminya. Wanita itu terus memanggil nama Kyuhyun dalam tangisnya, seolah hanya dengan nama itulah yang sanggup mengulurkan tangan untuk menolongnya.

.

.

“Obat penenangnya sudah bekerja. Kita biarkan dia istirahat dulu,” ucap Tiffany seraya membenarkan selimut di dada Seohyun.

Baik Kyuhyun, Minho, dan Krystal yang ada di dalam ruangan itu mengangguk.

Beberapa saat yang lalu, Seohyun mendapatkan suntikan penenang karena tak berhenti menangis setelah kejadian di taman rumah sakit. Wanita berambut merah muda itu kini sudah tak sadarkan diri akibat suntik yang ia terima di lengan kanannya. Matanya yang menutup, kini terlihat bengkak.

“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Kyuhyun saat Tiffany berjalan mendekat.

Tiffany menatap Seohyun, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Seohyun mengalami depresi pasca kegugurannya.”

“Depresi?” kali ini Minho menyahut dengan intonasi meninggi.

Tiffany mengangguk. “Bagaimana kalau kita bicarakan di luar?” tawarnya. “Biarkan Seohyun beristirahat dengan nyenyak.”

Dengan patuh, Kyuhyun dan Minho mengikuti Tiffany yang melangkah keluar ruangan. Ketiganya berhenti tak jauh di samping pintu ruangan. Di lorong yang sepi itu, Tiffany kembali membuka mulutnya.

“Depresi wajar terjadi pada wanita yang baru saja mengalami keguguran. Jika dilihat dari keseharian Seohyun pasca kegugurannya, dia memang mengalami depresi.” Tiffany menjeda kalimatnya seraya ganti memandang Kyuhyun. “Tiga hari ini dia terlihat murung, sungguh berbeda dari Seohyun sebelumnya. Ia tak banyak bicara dan lebih memilih diam. Nafsu makannya menurun drastis, bahkan hanya untuk memakan makanan ringan pun ia tak mau. Aku berpikir, pola tidurnya pun juga mungkin terganggu karena mimpi buruk.”

Kyuhyun mengangguk. Apa yang dikatakan Tiffany memang benar, apalagi untuk pola tidur. Tiap malam saat Kyuhyun menemaninya, Seohyun hampir tak memejamkan matanya dengan nyenyak. Seohyun selalu saja menggumam dalam tidurnya, bahkan sampai membuat wanita itu bangun dan terjaga hingga pagi tiba.

“Bukankah depresi bisa menyebabkan kegilaan?” tanya Minho.

“Itu bisa saja terjadi jika kita membiarkan Seohyun terus berada dalam perasaan sedih dan takut.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Kali ini Kyuhyun yang bertanya. “Depresi pasti dapat disembuhkan, kan?”

“Tentu saja,” sahut Tiffany sumringah. “Cobalah untuk sering mengajaknya berkomunikasi. Dengarkan semua yang ada di hatinya, biarkan pula dia mengekspresikan apa yang dia rasakan. Jangan lupa juga untuk memberinya semangat dan pernyataan bahwa semua hal yang sudah terjadi bukanlah kesalahannya. Yang terpenting adalah tunjukkan bahwa dia sangat dibutuhkan dan dicintai oleh orang-orang sekitarnya.”

Minho menyelipkan kedua tangan di kantong celananya. “Hmm… itu tidak sulit.”

“Memang. Semua ini pasti akan berlangsung cepat. Oh ya−” Tiffany menghentikan kalimatnya dan ganti memandang Kyuhyun. “Kurasa suasana rumah jauh lebih bisa cepat membantu Seohyun daripada di sini. Dengan berada di rumah, dia akan menemukan dirinya yang dulu sebagai sang nyonya rumah, dan seorang istri yang dicintai di keluarganya.”

.

.

Sore hari berganti malam dengan cepat. Suasana ramai rumah sakit pun kini berubah menjadi sunyi. Di dalam ruangan itu, ditemani cahaya bulan yang membagi sinarnya lewat jendela, Kyuhyun hanya berdiam diri seraya memperhatikan wajah damai Seohyun. Menuruti saran Tiffany, setelah Seohyun sadar nanti, Kyuhyun akan segera membawanya pulang ke rumah, dan mungkin itu akan terjadi esok pagi.

Tangan Kyuhyun terulur untuk menyentuh wajah istrinya. Membelai lembut bagian tersebut selama beberapa saat, hingga ia menarik tangannya kembali.

Berbagai perasaan tengah Kyuhyun rasakan sekarang. Melihat keadaan Seohyunseperti ini, membuatnya ingin selalu berada di samping wanita itu untuk memeluknya dan menenangkannya. Semuanya akan berlalu cepat.

Yah… ia percaya semuanya akan kembali seperti semula dengan cepat.

Dan esok hari pun datang. Membawa harapan baru bagi setiap orang yang menantikannya. Dengan membawa Seohyun pulang, Kyuhyun banyak berharap atas kesembuhan wanitanya. Tak ingin muluk untuk harapan barunya, ia hanya ingin melihat senyum Seohyun lagi.

“Kau ingin makan?”

Seohyun yang sedari tadi memperhatikan dapur pun menoleh ke arah Kyuhyun. Ia baru saja menginjakkan kakinya di rumah, ketika melihat dapur entah mengapa seakan memancingnya untuk menghabiskan waktu di sana seperti yang biasa ia lakukan. Pada akhirnya Seohyun pun menggeleng lemah. “Aku hanya ingin istirahat.”

Hening sesaat selama Kyuhyun melepaskan alas kakinya. “Naiklah ke kamar. Akan kupanggil ketika makan siang,” ucap Kyuhyun seraya lebih mendekati istrinya.

Setelah mengangguk singkat, Seohyun pun beranjak dari sana. Meninggalkan Kyuhyun yang mengawasi langkahnya. Namun sebelum langkah itu lebih menjauh, Kyuhyun menghentikannya.

“Seohyun?”

Seohyun menoleh, dan tak membuka mulutnya sedikitpun ketika Kyuhyun mengecup lembut dahinya.

.

.

.

.

Hari-hari yang berlanjut setelahnya tidak jauh berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Kyuhyun yang selama tiga hari ini diberi jatah libur, tak bisa berbuat banyak ketika ia hanya berdua dengan Seohyun di rumah. Seohyun begitu menutup diri. Wanita itu sering sekali menghabiskan waktu di kamar hanya untuk memandang awan, atau duduk di beranda belakang rumah seraya melamun. Sesekali Kyuhyun mengajaknya berbicara, namun respon singkat yang ia berikan menjadi kendala lain. Seohyun menjadi irit berbicara, bahkan terkadang ia sendiri tak tahu arah pembicaraannya. Berbicara ketika makan bersama pun hanya seadanya, sungguh berbeda dengan Seohyun yang dulu selalu menjadi pembuka topik pembicaraan di antara dirinya dan Kyuhyun.

Pernah sekali Kyuhyun untuk mengajak istrinya berjalan-jalan untuk melepas penat, namun Seohyun menolaknya. Tak ada alasan pasti mengapa Seohyun menolaknya. Ketika Kyuhyun menanyakan alasannnya, wanita itu terus menunduk dan menggeleng lemah. Setelah itu, dengan cepat ia meninggalkan Kyuhyun yang kini mulai terbiasa menatap punggungnya yang berjalan menjauh.

Seperti malam ini, Seohyun hanya terdiam menatap makanan yang ada di depannya. Tangannya yang menggenggam sumpit, hanya memainkan benda kayu tersebut di atas meja.

“Kau tak suka makanannya?”

Pertanyaan Kyuhyun segera membangkitkan Seohyun. Wanita itu menggeleng cepat. “Tidak.”

“Kau tidak lapar?”

Sebenarnya bukan itu yang mengganggu Seohyun, tapi… “Aku ingin memasakkan makanan untukmu.”

Kedua alis Kyuhyun bertaut samar.

“Sudah lama aku tak memasak. Dan…” Pandangan Seohyun beralih ke semua makan di atas meja. “Kasihan jika kau harus selalu keluar rumah hanya untuk membeli makanan.”

Perlahan tapi pasti, senyum tipis Kyuhyun pun terukir. Sebagian hatinya terasa sejuk kala mengetahui perkembangan istrinya walaupun sedikit. “Terserah. Masakkan aku sebanyak kau mau.”

“Sebanyak kumau?”

Kyuhyun mengangguk. “Pasti akan kuhabiskan semua.”

Seohyun terdiam memandang suaminya. Tatapan herannya pun masih tertinggal di wajahnya.

“Lakukan apapun yang kau mau. Jadilah dirimu yang seperti dulu.”

Ah… Seohyun mengerti. Wanita itu pun mengangkat ujung bibirnya seraya menunduk. Ia baru saja akan memulai makan malamnya, sebelum gerakan tangannya berhenti. Seohyun kembali mengangkat kepalanya. “Besok aku akan belanja. Akan kumasakkan makanan yang kau suka.”

Kali ini Kyuhyun tak mampu lagi menahan senyumnya.

.

.

Kyuhyun melangkahkan kakinya cepat saat ia baru saja memasuki distrik rumahnya. Di bawah sinar matahari yang terik ini, hatinya bersemangat melihat apa yang dilakukan Seohyun sekarang. Sesaat sebelum Kyuhyun pergi menemui Minho untuk mengurus bebefapa tugas yang harus diselesaikan, Seohyun berpamitan padanya untuk pergi berbelanja. Ketika Kyuhyun menawarkan diri untuk mengantarnya, Seohyun menolak. Saat itu, Seohyun memiliki alasan bahwa ia ingin berlama-lama berbelanja karena sudah lama tak melakukannya. Kyuhyun menerima alasan tersebut, lagipula masih ada hal lain yang harus ia lakukan.

Annyeong,” salam Kyuhyun ketika ia baru saja membuka pintu rumah.

Tak ada jawaban. Mungkin Seohyun sedang beristirahat, pikir Kyuhyun. Tak berniat mengucap salam lagi, Kyuhyun segera melepas alas kakinya dan berniat mengganti pakaiannya. Baru saja beberapa langkah ia ambil, Kyuhyun yang kebetulan melihat dapur saat ia berjalan, mau tak mau menghentikan langkahnya. Dapur rumahnya begitu kotor. Potongan sayur, saus, minyak yang tumpah di atas lantai, dan kompor yang masih menyala. Pemandangan sekilas itu memancing rasa heran Kyuhyun.

“Seohyun?”

Tetap tak ada jawaban. Jika dapur dalam kondisi seperti itu, seharusnya ada orang kan di sana?

“Seohyun?” panggil Kyuhyun kembali seraya lebih mendekat.

Kyuhyun terkejut sesaat saat mengetahui kondisi keseluruhan dapur. Berbagai makanan yang tidak Kyuhyun ketahui melalui bentuknya bertebaran di atas meja makan rendah di ruangan itu. Beberapa peralatan makan berserakan di atas lantai dan konter, bahkan sebagian diantaranya pecah. Noda bumbu masakan, serbuk tepung, semuanya ada di mana-mana. Dapur itu seakan seperti sebuah ruangan yang baru saja dihembus angin topan. Dan yang paling mengejutkan di sana adalah sosok Seohyun yang duduk beringsut di sudut dapur.

“Seohyun!”

Seohyun terlihat memejamkan mata, namun bibir wanita itu menggumam sesuatu yang lirih.

“Hei, kenapa ada di sini?” Kyuhyun mulai memegang kedua bahu istrinya dan menggoyangkannya pelan.

“Aku yang salah… aku yang salah…”

Untuk sesaat, Kyuhyun terdiam mendengar gumaman Seohyun. Wanita itu pasti tengah bermimpi buruk.

Mendekatkan tubuhnya lagi, kali ini Kyuhyun meraih kedua sisi wajah Seohyun. “Seohyun? Bangunlah, jangan tidur di sini! Seohyun?”

Perlahan, Seohyun membuka matanya. Ia terlihat bingung. Sepasang manik coklat itu pun terlihat terselubungi oleh air mata. “Kyuhyun?”

“Tidurlah di kamar, jangan di sini.”

Seohyun mengedarkan pandangannya. Keadaan dapur ini adalah ulah dari emosinya. Ia yang melakukan ini semua. Semua sayuran itu… piring dan mangkuk… semua adalah perbuatannya. Baru saja ia membuka mulut, Kyuhyun menyelanya.

“Tak apa, beristrirahatlah. Biar aku yang membersihkannya.”

“Tapi−”

Perkataan Seohyun terpotong saat Kyuhyun menarik tubuhnya untuk berdiri. “Kau lelah. Beristirahatlah dulu,” ucap Kyuhyun tegas.

Air mata Seohyunmulai menggenang. Ia hanya menurut ketika Kyuhyun meraih pundaknya dan menuntunnya untuk berjalan menuju kamar. “Maafkan aku. Aku mengacaukan semuanya,” bisik Seohyun disela isakan kecilnya. Kali ini ia tengah duduk di sisi ranjang tidurnya. “Tadi−”

“Sudahlah,” ucap Kyuhyun seraya mengusap air mata yang tampak ingin jatuh di sudut mata Seohyun. “Jangan terlalu dipikirkan.”

Seohyun menatap suaminya penuh perasaan bersalah. Padahal ingin sekali ia membuatkan makan untuk suaminya, tapi mengapa malah seperti ini?

“Kyuhyun…”

Kyuhyun meraih sebelah tangan Seohyun. Pria itu meremasnya lembut seraya mengusap punggung tangan wanitanya. Matanya yang saling bertemu dengan mata Seohyun terlihat sendu. Yah, kali ini Kyuhyun harus menelan rasa kecewa. Seohyun yang ia pikir mulai berangsur membaik, ternyata masih jauh dari harapannya. Apa yang dilihat Kyuhyun kali ini adalah Seohyun yang masih diselimuti emosi dan kebingungan. Menjulurkan tangannya, Kyuhyun mengusap kepala Seohyun. “Beristirahatlah.”

.

.

Bintang yang bertaburan di luar sana, hitamnya malam, serta awan tipis yang menghiasi langit. Seohyun begitu menikmati pemandangan tersebut di dalam kamarnya. Melalui jendela kaca besar sebagai pembatasnya, Seohyun tak hanya menikmati pemandangan tersebut di atas sofa kesayangannya, tetapi di atas ranjang. Ia bahkan merebahkan tubuh di sisi ranjang yang biasa ditempati Kyuhyun.

Seohyun mendengar suara pintu yang dibuka dari belakang punggungnya, namun ia tak menolehnya sedikit pun. Bahkan saat ia menyadari seseorang yang mendekatinya, Seohyun masih setia dengan objek pandangannya. Hening sesaat karena Seohyun tak mendengar lagi langkah kaki yang mendekat, namun suara itu kembali terdengar, tak lama kemudian, Seohyun mendapati Kyuhyun yang turut merebahkan diri di sisi ranjang kosong di sebelahnya.

Kyuhyun tak berkomentar apapun, tetapi hanya memandang Seohyun. Mata hitamnya terlihat lelah, entah karena apa.

Perlahan Kyuhyun memiringkan tubuhnya sehingga menghadap tepat ke arah Seohyun. Pria itu mendekatkan tubuhnya, sedangkan sebelah tangannya terangkat untuk mengusap lembut rambut Seohyun.

Jujur Seohyun sedikit bingung dengan perlakuan suaminya, namun ia tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Kebingungannya bertambah saat Kyuhyun meraih salah satu tangannya yang berada di samping bantal, dan mengecup pergelangan tangannya lama.

“Kau sungguh berbeda, Seohyun,” ucap Kyuhyun singkat, namun mampu menciptakan kerutan dalam di kedua alis Seohyun. Kali ini, Kyuhyun mengusap-usap pergelangan tangan Seohyun dengan ibu jarinya. “Semua hal yang terjadi telah membuatmu berbeda. Tahukah kau bahwa itu begitu menyiksa?”

Tak ada hal pasti yang Seohyun rasakan. Ia hanya bisa terdiam meresapi kalimat Kyuhyun tadi.

“Kembalilah seperti dulu, lalu kita bisa memulai semuanya dengan yang baru. Harapan baru, serta kehiduapan yang baru.”

Kyuhyun memajukan kepalanya, dan mengecup bibir Seohyun lama. Kecupan itu begitu dalam hingga membuat Seohyun turut memejamkan matanya. Perasaan wanita itu entah mengapa terasa lega seketika, seakan baru saja ada orang yang baru saja mengangkat semua bebannya. Matanya kembali terasa basah, namun Seohyun tidak merasakan kesedihan di sana. Semuanya hanya terisi perasaan lega.

“Aku merindukanmu,” ucap Kyuhyun seraya menarik Seohyun untuk berada di dekapannya. Membelenggu wanita iu dalam berbagai perasaan yang tak dapat diutarakan. “Kembalilah seperti dulu,” ucap Kyuhyun menutup malam bagi dirinya dan Seohyun.

Wanitanya…

.

.

.

ONE MORE CHAP AGAIN

.

.

.

Pengennya ini jadi chap terakhir. Tapi kalau dijadiin chap terakhir, takutnya ntar malah aneh karena banyak scene yang dimasukin.

Oke, terimakasih sudah membaca. Kritik dan saran ya? Chap depan kita harus ucapain selamat tinggal untuk Love Me soalnya, hehe ^^

184 Tanggapan to “LOVE ME [CHAPTER 17]”

  1. fannyap12 Januari 24, 2016 pada 1:22 am #

    Yaampun depresi post abortus 😢😢 semoga seo cepet sadar dr depresinya 😂😂😂

  2. asrielf rahmawati Januari 1, 2016 pada 3:13 am #

    syukur kalo seo baik baik aja
    gk papa dia ke guguran.anak bisaa bikin lagi/? :v

  3. Amelia November 27, 2015 pada 9:10 am #

    Kenapa jdi ke gini toh?? T.T kasian seokyu😥

  4. Syugaaa.r November 7, 2015 pada 10:43 pm #

    Nice. Part ini sdky membuka jalan baru bagi keduanya eaea haha. Keep writing👍

  5. sulistiowati_06 Oktober 31, 2015 pada 1:41 am #

    kasuan seohyun sampek depresi gegara keguguran. seohyun harus kuat ngejalani hidupnya. sedih banget bacanya

  6. iraseokyu Oktober 13, 2015 pada 1:42 pm #

    Jeongmal daebakkk ffnya eonni (y)
    Kasiannnn seonni, depresinya hebat banget… Untung ada kyuppa… Kyuppa berikan semangat untuk istrimu *wanitamu oppaaa

  7. kyumaelf Juni 28, 2015 pada 4:29 pm #

    kyu emang bener2 cinta sama seo

  8. nae_lee April 5, 2015 pada 3:02 am #

    tekanan batin,, Seo dr awal menikah jg spt trkekang😦
    cinta yg d berikan Kyu sangat samar ._.

  9. nadud Februari 25, 2015 pada 8:49 am #

    kasihan seo eonni gara2 keguguran sampai depresi😦

  10. seokyu111209 Desember 28, 2014 pada 5:05 am #

    hwa nyesek😥
    seonni jangan sedih dong

  11. aista Desember 15, 2014 pada 1:43 pm #

    ksihan seohyun eoni jdi depresi gara* khilangan bayinya, kyuppa perhatian bnget sma seoni

  12. loveseokyu Desember 5, 2014 pada 9:06 am #

    Oppaaaa…knpa gak dari dulu sih sadarnyaaa..
    knpa harus ada masalah dan yg bersangkutan terpurukkk…
    km terlalu egois

  13. Ji Hye November 5, 2014 pada 12:05 am #

    Seo eonni jd berubah kyk gitu..sedih banget bca part ini😥
    Seharusnya dr dulu kyu oppa perhqtian ama seo eonni..bkn hanya disaat seo eonni terpuruk seperti ini..

  14. sooyeon_choi November 2, 2014 pada 3:57 pm #

    Setelah semuanya terjadi,,, kenapa baru sekarang Oppa sadar,,, kenapa setelah SeOnnie terpuruk,,, Oppa baru sadar akan cinta Oppa untuk Onnie…

  15. Aan's L-hope Oktober 17, 2014 pada 1:54 am #

    Part ini bikin nangis… kasihan seohyun😥
    Ayoooo Kyu ungkapin smua perasaanmu melalui kata” n’ tindakan supaya seohyun kmbli sprti dlu lagi… Seokyu Fighting🙂

  16. Agustin Dinda Oktober 14, 2014 pada 1:55 pm #

    tuhkannn…apa aku bilangggg..sedihh ahh sedihhhh jangan kaya ginii…bikin sedih taau

  17. RukaChan Oktober 7, 2014 pada 9:16 am #

    aaaa seohyun knp jdi gini ?? T.T

  18. rosepink Oktober 5, 2014 pada 2:08 am #

    Kyuhyun perhatian bgt sm seo :’)
    Seo kasian bgt😦

  19. Leli Kiminoz Oktober 4, 2014 pada 10:43 am #

    Ya ampuun kasian seohyun.. Semoga cpt kembali spt dulu. Semua ini ada hikmahnya, salah satunya kyu yg lebih peehatian dan menunjukkan kasih sayangnya sama seo..

  20. Priska September 23, 2014 pada 9:33 pm #

    Smg seo bs tegar menghadapi cobaan

  21. lyma choseo Juni 25, 2014 pada 1:28 pm #

    kyuhyun perhatian bgt ama seohyun. semoga seohyun cepat sembuh

  22. Riwoon Juni 12, 2014 pada 12:00 am #

    Ahh jadi nangis baca part ini….ngebayangin sndri klo seandainya aku yg jdi seo…depresi berat bgt kyaknya…ahh nunggu next chap nya🙂

  23. layli Mei 29, 2014 pada 2:55 pm #

    mau abis ya chapternya..
    hemmm.. nyesek ati aku baca yg part ini…

  24. Alfiana tri wulandari Mei 24, 2014 pada 3:08 pm #

    seonni balik dong , jangan sedih gitu:/

  25. linaseokyu Mei 20, 2014 pada 3:59 pm #

    huaaaaaaaa😥 nangis aku bacanyaaaa😥 kasihan seo keguguran sampe depresi gitu😥 ahh kyu ayo bantu seo kembali seperti dulu lagi, buat seo ngerasa lebih baik dan yg plg penting nyatakan perasaan mu appa :’)
    lanjut baca last part🙂

  26. clara April 26, 2014 pada 10:51 am #

    Seoo jadi depresiii…kyuu semangat ya buat seo balik seperti dlu lagi dengan kehangatan kyuuu

  27. Made Yunii utamii putrii April 20, 2014 pada 11:12 am #

    Ўªªά̲̣̣̣̥ά̲̣̣̣̥ªª ternyata seo keguguran,,tapi πğğãќp̅ãp̅ã dengan begitu kyuppa tambah perhatian ma seo,, “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮

  28. asih Maret 20, 2014 pada 2:37 pm #

    Author hrs tangung jwb.. Udh bkn.. Banjir ruanganq.. Hikzzz aigo thor q bc part ini sampk sesegukkan… Nthlahh mngkin bsk bangun pahi mataq lgsung bengkak.. Huaaa mnguras emosiii . Nthlh q sdh tk bs berkoar2 kt2q sdh hbs.. Hnya datu the best dachhh pntr bgt bkn readeras ikut terombang ambing…

  29. septiana123e Februari 27, 2014 pada 9:50 am #

    kasian seo, ….
    hwaiting seo

  30. abel Januari 6, 2014 pada 7:44 pm #

    move on seokyu, hwaiting!!

  31. Kim Jihyun Januari 3, 2014 pada 12:03 pm #

    hufft.. seokyu kasian😦

  32. ita Desember 19, 2013 pada 8:34 pm #

    lanjut thor =]

  33. milasill Desember 16, 2013 pada 9:30 pm #

    ayoooooo seohyun , kembalilah dengan dirimu yg dulu . jangan seperti ini terus , mulailah hidup baru. moga dengan adanya kejadian ini mereka berdua bisa introspeksi diri menjadi yg lebih baik dan membangun keluarga yg baik. sweet banget moment nya disini , like it !!

  34. qieseo Desember 12, 2013 pada 7:56 am #

    hoaaahhh …. akhirnya mncul juga ni ff… smoe lupa aku ama critanya..hhe

    gila,, ksian bgt seo.. nyesekkk bgtt….😥
    okelah.. aku next dlu baca yaa thor,, cz aku ktggalan buanget…kkkk~

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: