BLACK ROSE [CHAPTER 5]

26 Okt

Title : Black Rose

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr ]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it 

Length : 1 of ………

Rate : M (Mature/17+)

Genre : Romance/Angst/and little bit action

Hai aku kembali lagi hehe. Sepertinya aku sudah cukup lama tidak kembali ah bukan cukup lama tapi sangat lama. Maaf sebelumnya membuat kalian banyak menunggu :’) terlalu banyak tugas kuliah yang menumpuk dirumah dan minta untuk segera dikerjakan. Masih pada inget Black Rose kah? atau mungkin sudah pada lupa? huhuh. Ah iya, untuk Eonni deul, Dongsaeng deul dan Chingu deul yang sms aku maaf engga aku bales soalnya hpnya jarang ada pulsa hehe jadi yang mau minta pass fanfiction aku bisa langsung DM ke twitter ku Rivanawr🙂 ah sepertinya aku terlalu banyak bicara! jadi mari silahkan membaca :))

 “BLACK ROSE”

Bau masakan ini terasa begitu sedap dan nikmat ketika dihirup. Seohyun yang masih terlelap dalam tidurnya pun sampai-sampai melihat berbagai macam masakan yang tersaji di dalam mimpinya. Seohyun tak tahu pasti masakan apa saja yang ada di sana, namun ia yakin bahwa semua makanan itu terasa enak jika dilihat dari lezatnya warna dan bentuk yang menggiurkan.

Satu sentakan dan segalanya berubah cerah. Seohyun membuka matanya perlahan dan menyipit karena belum beradaptasi dengan terangnya cahaya di sana. Ini di ruang tengah, batin Seohyun. Otaknya mencoba mengingat mengapa ia tidur di sini.

Kyuhyun. Ya, pria itu meninggalkannya sendiri di atas sofa setelah membuatnya merasa kesakitan sore kemarin.

Bau masakan yang tiba-tiba menyeruak di indera penciumannya membuat Seohyun reflek menolehkan kepala ke arah dapur. Wanita berambut panjang itu menemukan Kyuhyun yang mengenakan t-shirt hitam lengan panjang dengan bagian tangan yang dilingkis sampai lengan berdiri di depan meja sambil mengiris sesuatu di sana. Benak Seohyun yang sedetik sebelumnya merasa jengkel karena mengingat perilaku suaminya, kini entah mengapa terasa bergetar melihat pemandangan ini semua. Dengan cepat, Seohyun memalingkan wajahnya.

Hembusan nafas berat keluar dari mulut Seohyun. Ia tidak ingin terlalu dalam memikirkan hal tersebut. Tak penting. Yang lebih penting untuk dipikirkan adalah bagaimana cara dia untuk berjalan ke kamar mandi dengan kondisi kaki seperti saat ini. Seohyun meraba pergelangan kakinya dan menekan-nekannya pelan. Tidak sesakit kemarin. Perlahan, Seohyun menurunkan kedua kakinya ke lantai dan menggerakkan kesepuluh jari kakinya. Tak sakit, dan itu membuatnya yakin untuk sekedar berdiri.

Seohyun berhasil, ia bisa berdiri. Otaknya tiba-tiba penasaran dengan apa yang sudah dilakukan Kyuhyun kemarin hingga bisa membuat kondisi kakinya jauh lebih baik dari kemarin.

“Perlu bantuan?”

Kepala Seohyun menoleh cepat, di belakangnya Kyuhyun berjalan mendekat seraya mengelapkan kedua tangannya pada sebuah serbet.

“Kurasa tidak,” jawab Seohyun sambil memalingkan wajahnya ke kedua kakinya. Entah mengapa merasa aneh jika berlama-lama menatap suaminya. “Aku sudah bisa berdiri.”

Kyuhyun hanya diam memandangi Seohyun, seolah menunggu apa yang akan terjadi jika wanita itu nekat berjalan.

Perlahan Seohyun menggerakkan kakinya, dan nyeri itu tiba-tiba menjalar dari telapak kaki hingga pahanya. Namun aneh, nyeri tersebut tetap bisa membuat Seohyun kuat untuk berjalan. Merasa satu langkah berhasil ia gapai, Seohyun bersemangat untuk terus mencoba berjalan hingga pada langkah keempat ia berhenti. Seohyun berbalik, dan mendapati Kyuhyun berjalan menuju dapur dan melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda. Perlu beberapa detik bagi Seohyun untuk memalingkan muka dan kembali melanjutkan jalannya yang tertatih.

Tak tahu kenapa, namun ia merasa sedikit kecewa tepat di bagian terdalam hatinya.

.

.

Seohyun menatap dress putih yang ia kenakan sekarang. Di antara semua pakaian di dalam lemarinya, mengapa Kyuhyun memilih mengambil dress ini? Ini adalah dress yang ia kenakan saat pertama kali hadir di rumah pria itu. Sebuah dress putih selutut tanpa lengan.

Kepala Seohyun yang tadinya menunduk, kini terangkat dan memperhatikan Kyuhyun yang sedang menata makanan di atas meja makan. Ingatan Seohyun akan pria itu beberapa saat yang lalu kembali berputar. Saat keluar hanya mengenakan jubah mandi, Kyuhyun memerintahkan Seohyun untuk segera memakai baju biasa. Namun karena keterbatasan kemapuan untuk menuju ke kamar yang ada di lantai dua, Seohyun mengelak bahwa ia tak apa-apa jika harus memakai jubah mandi saja. Tanpa berucap, saat itu Kyuhyun pergi begitu saja dari hadapan Seohyun menaiki tangga rumah. Seohyun yang saat itu masih berdiri di depan pintu kamar mandi, sempat mengira Kyuhyun akan meninggalkannya lagi seperti kemarin. Ternyata tidak. Tak sampai tiga menit, Kyuhyun kembali datang dan menyerahkan dress yang Seohyun kenakan sekarang.

“Kau kira kau pantas memakai jubah mandi sambil sarapan?” ucap Kyuhyun saat pria itu kembali menghampiri Seohyun untuk menyerahkan dress yang ia bawa.

Seohyun mendesah pelan. Ia menusuk-nusuk sayuran yang tersaji di piringnya dengan garpu yang sedari tadi ia pegang. Ia merasa, Kyuhyun adalah pria yang sama sekali tidak bisa ia tebak.

“Tak suka dengan makanannya?”

Kepala Seohyun tegak seketika. Di depannya tersaji makanan lagi yang baru saja Kyuhyun letakkan di atas meja. “Aku belum mencobanya.” jawab Seohyun pelan.

Kyuhyun hanya meliriknya, lalu duduk tepat di depan wanita tersebut. Pria itu tak berbicara lagi dan memilih untuk memulai memakan sarapannya. Sudah biasa pria itu lebih memilih untuk diam, namun kali ini hal itu membuat benak Seohyun tiba-tiba tersapu oleh perasaan bersalah. Wanita itu dengan segera meraih sumpit dan mencoba makanannya.

Enak. Sangat enak malah. Gigitan pertama saja lezatnya seolah menyebar ke seluruh bagian mulut Seohyun. Ia tak menyangka bahwa seorang Kyuhyun yang ia kenal adalah orang yang cukup lihai memasak. Senyum wanita itu pun terukir tanpa ia sadari, bahkan ia juga tak sadar memanggil nama suaminya tersebut.

“Kyuhyun?”

Kyuhyun mengangkat kepalanya.

Senyum Seohyun terukir lebar. “Masakanmu sangat enak.”

Hanya hening yang ada. Kyuhyun menggumam tidak jelas sebelum kembali melanjutkan makannya.

Perasaan kikuk kini menghampiri Seohyun. Rasa panas kini sedikit terasa di kedua pipinya. Ia pun buru-buru menundukkan kepalanya, meremas garpunya, dan mengumpat di dalam hati.

Seohyun bodoh!!

Tahu mendapat reaksi seperti itu dari Kyuhyun, harusnya tadi Seohyun tak mengatakan apapun dan hanya makan dengan diam. Wanita itu merasa, memuji pria dingin seperti Kyuhyun tak akan berarti apa-apa. Sedikitpun.

Suara dering ponsel dari ruang tengah membuat Kyuhyun dan Seohyun mengangkat kepala bersamaan. Hanya selang dua detik, Seohyun bergerak turun dari kursi dan berniat untuk mengambil ponselnya sebelum Kyuhyun bersuara.

“Mau kemana?”

Seohyun urung melangkahkan kakinya dan menoleh Kyuhyun. “Mencari ponselku. Ada pesan masuk,” jawab Seohyun.

Kyuhyun menatap Seohyun beberapa saat sebelum kembali menyumpit makanannya. “Duduk,” ucap pria itu tanpa melihat Seohyun.

Alis Seohyun mengerut samar. “Ada pesan masuk yang  ̶”

“Duduk,” potong Kyuhyun pelan. Pria itu mengangkat wajahnya. “Habiskan dulu sarapanmu.”

Mau tak mau Seohyun menurut dan kembali duduk. Ia tentu tak ingin melihat Kyuhyun yang marah karena dirinya yang membangkang pria tersebut. Tak rela memang. Benak Seohyun pun berharap Kibum lah yang mengiriminya pesan pagi ini. Karena tanpa ia sadari, Seohyun sedikit banyak mulai bergantung untuk berkomunikasi dengan pria tersebut selama dua hari ini.

Suara bel rumah yang terdengar nyaring lagi-lagi membuat pasangan yang berada di dapur tersebut menoleh ke arah yang sama. Kyuhyun meletakkan sumpitnya, dan berjalan menuju ruang tamu tanpa bicara. Seohyun yang selama beberapa saat sendirian di dapur, memiliki keinginan sesaat untuk mengambil ponselnya selama Kyuhyun tidak ada. Namun sayang, belum sempat ia melangkah, suara langkah kaki yang lainnya membuatnya urung untuk melakukan hal itu.

“Apa kabar, Seohyun?”

Seohyun menoleh dan mendapati Yesung berjalan mendekatinya seraya membawa seikat bunga. Mau tak mau Seohyun tersenyum lebar. “Yesung-oppa,” sapanya.

Yesung memilih duduk kursi di samping Seohyun dan mengamati wanita itu lekat-lekat. “Kau belum menjawab pertanyaanku, Seohyun!”

Kali ini kekehan kecil yang meluncur dari mulut Seohyun. “Aku baik-baik saja, Oppa.”

“Ibuku menelepon. Dia bilang kemarin kau habis jatuh.”

Seohyun mengangguk. “Memang benar. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa, coba lihat,” ucap Seohyun sambil merentangkan kedua tangannya.

Selama beberapa detik Yesung terlihat berpikir sebelum menyandarkan punggungnya sambil menghela napas lega. “Syukurlah kalau begitu.”

“Boleh kutahu bunga itu untuk siapa?” Seohyun mencoba memancing.

“Ah, hampir lupa. Tentu saja untukmu,” jawab Yesung cepat sambil menyerahkan bunga yang ada di tangannya.

Seohyun tertawa lepas dan menerima bunga pemberian Yesung. “Terimakasih. Bunganya cantik sekali.”

Yesung terlihat berpikir kembali. “Aku heran apa yang dilakukan suamimu hingga kau bisa jatuh seperti itu. Apa dia tidak menjagamu dengan benar?”

Sedetik setelahnya, Yesung mendapat lemparan kunci mobil tepat di belakang kepalanya. Pria sipit itu pun mengaduh sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang terkena lemparan.

“Itu untuk teledor memarkirkan mobil dan mulutmu yang berbicara seenaknya sendiri,” ucap Kyuhyun sambil berjalan mendekat.

Seohyun merapatkan bibirnya, berusaha menahan tawa yang siap meluncur kapan saja. Harus ia akui, adegan kakak adik sepupu itu cukup bisa membuatnya tertawa. Apalagi mengingat kepribadian antara kakak dan adik sepupu itu yang jauh berbeda.

“Hei, aku tidak bertanya padamu!” teriak Yesung yang berbalas acuhan dari Kyuhyun.

“Itu tidak benar, Oppa.” Seohyun mencoba menengahi. “Kyuhyun selalu menjagaku, aku saja yang teledor saat itu.”

“Ah… kau hanya berusaha membelanya saja, Seohyun.”

Seohyun hanya tersenyum. Yah, apalagi ekspresi yang harus ia tunjukkan mengingat apa yang dikatakan Yesung sangat benar. Ia hanya membela Kyuhyun, suami palsunya.

“Ada perlu apa kau kesini?” tanya Kyuhyun sebelum meminum air mineral di gelasnya.

“Tentu saja menjenguk istrimu.”

Kyuhyun meletakkan gelasnya dan beranjak dari kursi. “Istriku tidak perlu dijenguk olehmu,” ucap Kyuhyun sambil berjalan mengitari meja makan dan berhenti di samping Seohyun. Tanpa diketahui Seohyun, Kyuhyun mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanannya. “Iya kan, Sayang?”

Seohyun membelalakkan kedua matanya lebar-lebar. Ia pun dengan cepat memegang pipinya dan menoleh ke arah Kyuhyun yang berjalan menuju lemari es. Namun itu hanya berlangsung sebentar, sebelum dirinya mendapati Yesung yang turut menatap Kyuhyun dengan tatapan yang tak bisa ia artikan maknanya.

“Um… Oppa?”

Yesung menoleh Seohyun yang baru saja memanggil namanya.

“Bagaimana hari-harimu di café?” tanya Seohyun mengalihkan topik.

“Café yah?” Yesung memajukan badannya dan melipat kedua lengannya di atas meja. “Sebenarnya aku sudah mulai merasa bosan?”

“Bosan?” Seohyun melirik kecil Kyuhyun yang berjalan mendekat.

Yesung mengangguk sambil menatap kaca meja. “Terkadang aku menginginkan hal yang beda.”

Kyuhyun duduk di samping Seohyun dan menggelindingkan sebuah minuman kaleng ke arah Yesung di atas meja.

“Mungkin sekarang kau mengalami titik jenuh, Oppa.”

Tak ada sahutan dari Yesung. Pria itu memilih untuk diam dan mengamati kaleng dingin yang ada di genggamannya. Merasa hanya ada hening yang tercipta, Seohyun menoleh ke samping dan mendapati Kyuhyun yang juga mengamati kaleng minuman yang ada di tangannya. Bedanya, Kyuhyun terlihat seperti memperhatikan sesuatu pada sampul kemasan. Tidak seperti Yesung yang terlihat kosong.

“Kau benar, mungkin aku sudah mulai jenuh,” ucap Yesung pada akhirnya.

Seohyun yang menatap Yesung menyunggingkan senyum tulusnya. “Kenapa tidak mencari hal-hal yang baru untuk dilakukan?”

Yesung turut menatap Seohyun. “Mulai lusa aku akan mencarinya,” sahutnya semangat.

Tawa kecil Seohyun terdengar lembut. “Kenapa harus menunggu lusa?”

“Karena besok tidak mungkin aku melakukannya.”

“Kenapa?”

“Besok ada pawai bunga yang melintas di depan café, otomatis aku akan disibukkan dengan pengunjung seperti tahun-tahun sebelumnya.”

Seohyun terdengar tertarik. “Pawai bunga?”

“Ya.” Yesung kembali menyandarkan punggungnya. “Setiap tahun ada pawai bunga yang kebetulan melintas di depan café. Bisa dibilang, ini acara tahunan di kota ini.”

“Waaah… pasti sangat indah.”

“Datang saja besok. Pawainya dimulai di balai kota sekitar pukul sepuluh pagi, yah.., paling tidak pukul setengah sebelas sudah melintas di depan café.”

Raut wajah Seohyun yang perlahan berubah. Wanita itu sedikit menoleh ke sampingnya. Mana mau Kyuhyun diajak melihat pawai bunga seperti itu? Pria itu pasti akan menolak permintaannya mentah-mentah, bahkan sebelum Seohyun menanyakannya.

Seohyun kembali menatap sarapannya yang belum habis sepenuhnya. Di dalam hati, tanpa ia sadari ia berharap Kibum lah yang nantinya mengajaknya pergi.

.

.

Pukul dua belas siang lebih sepuluh, Yesung meninggalkan rumah Kyuhyun. Seohyun yang saat itu sudah berpindah di ruang tengah, meraih remote televisi dan menyalakannya saat ia melihat Kyuhyun yang baru saja mengantar Yesung ke depan tengah menutup pintu rumah.

Kyuhyun menaiki tangga begitu saja tanpa melihat Seohyun walaupun wanita itu dari tadi memperhatikannya. Seohyun kembali memfokuskan pandangannya ke televisi saat ia tak melihat sosok Kyuhyun lagi di tangga. Tak sampai tiga menit, perhatian Seohyun kembali terusik saat ia mendengar langkah kaki menuruni tangga.

“Kyuhyun?” panggil Seohyun saat melihat Kyuhyun tengah membuka pintu.

Tanpa menyahut, Kyuhyun menoleh dan menunggu Seohyun.

“Kau mau kemana?”

“Supermarket.”

“Aku ikut,” ucap Seohyun cepat.

“Tidak usah,” ucap Kyuhyun seraya kembali melebarkan pintu.

“Aku mohon,” teriak Seohyun yang lagi-lagi menghentikan Kyuhyun. Wanita itu terlihat kesusahan untuk berdiri. “Aku tak mau sendirian di sini.”

“Jangan manja.”

Seohyun memandang suaminya tak percaya. “Tak ada hal yang bisa kulakukan di sini.”

“Cara jalanmu hanya akan memperlambat saja.”

“Setidaknya bawa aku keluar rumah. Aku bisa menunggumu di luar supermarket dan tak akan memperlambatmu.”

Kyuhyun menghela napas dan membuang muka.

“Aku janji.” Nada Seohyun terdengar menjanjikan. “Aku akan menunggumu di luar sampai kau selesai berbelanja.”

.

Pada akhirnya, Kyuhyun membolehkan Seohyun ikut dengannya. Seohyun pun meremas ponselnya dan memandang jalanan di samping dan depannya dengan kelegaan yang membuncah saat ia duduk di dalam mobil. Pasalnya, jika ia tidak berada di ruang tengah rumah selama hampir seharian seperti kemarin dan tak melakukan hal apa-apa kecuali berkomunikasi dengan Kibum lewat pesan, Seohyun tidak akan merasakan kelegaan seperti ini saat melihat jalanan luar.

Merasakan getaran dan nada di ponselnya, Seohyun segera menatap benda yang sedari tadi berada di tangannya tersebut. Saat itu juga, Seohyun teringat akan pesan yang tadi masuk saat ia sarapan dan belum sempat ia buka sampai sekarang.

Seohyun mengerutkan kening saat nama dan salah satu nomor asing yang terpampang di layar ponselnya bukanlah orang yang ia harapkan.

‘Anakku, bagaimana kabarmu?”

Tangan Seohyun dengan cepat membalas pesan tersebut.

‘Aku sudah baikan, Bu. Bahkan tadi pagi aku sudah bisa berjalan.’

Setelah mengirim pesan tersebut, Seohyun membuka sebuah pesan dari nomor asing yang sedari tadi pagi belum ia buka.

‘Selamat pagi, Seohyunku sayang… Rindukah kau denganku?”

Lagi-lagi Seohyun mengerutkan keningnya. Apa-apaan pesan tersebut? Lagipula, siapa pengirimnya? Seohyun bahkan tak mengenal deretan nomornya. Mencoba tak mempedulikannya, Seohyun mengunci ponselnya dan mengarahkan pandangan ke depan saat ia merasa Kyuhyun memelankan mobilnya.

Kepala Seohyun mendongak dan mengamati secara seksama bangunan di sampingnya dari dalam mobil. Seohyun merasa ini bukanlah supermarket, melainkan sebuah restoran dengan model café di luar gedungnya.

“Turunlah, tunggu di tempat ini.”

Seohyun memutar kepalanya menghadap Kyuhyun. “Tapi ini bukan supermarket.”

“Memang bukan,” ucap Kyuhyun sambil menelengkan kepalanya malas ke arah Seohyun. “Maka dari itu kau tunggu di sini.”

Untuk sesaat Seohyun terlihat sedikit bingung. “Tak apa, aku bisa menunggumu di depan supermarket.”

Kyuhyun mulai terlihat bosan. “Di depan supermarket tidak ada tempat teduh dan tempat duduk seperti di sini.”

Pada akhirnya, Seohyun sadar maksud Kyuhyun menurunkannya di sini. Wanita itu mengangguk kecil dan menggumam ‘oh’ pelan. Saat baru saja Seohyun akan membuka pintu, sebuah tangan mencengkeram lengannya dan menghentikannya.

“Mana jaketmu?” tanya Kyuhyun.

Jaket? Seohyun menatap tubuhnya sendiri. Ya Tuhan, bagaimana ia bisa tidak memperhatikan apa yang ia kenakan? Seohyun hanya mengenakan dress putih selutut tanpa lengan dengan sandal jepit rumahan berwarna merah. Ia pun juga tidak menyisir rambutnya sebelum pergi, alhasil rambut panjangnya yang tadi pagi ia cuci terlihat sedikit berantakan dan mengembang.

“Aku…” Seohyun mengangkat kepalanya dan melihat Kyuhyun. “Aku lupa.”

Kyuhyun memalingkan muka dan menoleh ke bagian belakang mobil. Sebelah tangannya tengah meraba sesuatu di kursi belakang.

Seohyun kembali akan membuka pintu mobil. “Tak masalah, lagipula aku tak membutuhkan  ̶”

“Pakai ini,” potong Kyuhyun cepat seraya menyerahkan sebuah jaket berwarna abu-abu gelap.

Selama beberapa detik, Seohyun hanya memandangi jaket yang berada di pangkuannya tanpa berkata-kata. Tanpa berkata-kata pula, Seohyun menuruti perintah Kyuhyun dan memakai jaket pemberian pria tersebut. Tanpa Seohyun tanyakan, Seohyun tahu jika jaket tersebut adalah milik Kyuhyun jika dihirup dari aromanya.

Khas Kyuhyun.

.

.

“Kau ingin melihatnya?”

Seohyun menandaskan lemon tea-nya sebelum menjawab pertanyaan seseorang dari ponselnya. “Sesungguhnya iya,” jawabnya lirih.

“Ya sudah, lihat saja. Bukankah kau suka dengan bunga?”

Helaan napas berat Seohyun keluar dari mulutnya. Andaikan segampang itu, pikirnya. Seohyun masih berpikiran bahwa Kyuhyun tidak akan pernah mau menuruti keinginannya tersebut.

“Kau tidak ada teman untuk melihatnya?”

Suara di seberang tersebut kembali membuat Seohyun berpikir.

“Atau jika kau mau, kita bisa melihatnya bersama?”

Sepasang mata Seohyun melebar. “Kita?”

“Ya. Jika kau mau tentunya.”

Andaikan pria di seberang telepon itu tahu betapa inginnya Seohyun melihat parade bunga bersamanya, mungkin pria itu tak akan mengatakan hal tersebut. Baru saja Seohyun akan membuka mulut, pria di seberang telepon itu melanjutkan kalimatnya.

“Dan jika diizinkan suamimu juga.”

Entah benda apa yang kini menohok dada Seohyun. Tak ada sahutan yang ia berikan selama beberapa detik. Otaknya seakan dipaksa untuk memikirkan suatu hal bahwa suatu ketidakmungkinan ia meminta izin pada suaminya untuk pergi dengan pria lain.

“Seohyun?”

“Ah ya, halo?” sahut Seohyun gelapan.

“Kau bisa mendengar suaraku?” Suara dari ponsel Seohyun terdengar sedikit khawatir.

“Tentu saja.” Seohyun menyelipkan anak rambutnya yang tertiup angin di belakang telinga. “Suaramu terdengar sangat jelas.”

“Hm… baguslah.” Jeda sesaat sebelum suara pria di seberang telepon Seohyun melanjutkan kalimatnya. “Maaf, tapi aku harus mengakhiri perbincangan ini secepatnya.”

“Oh ya, tentu saja tidak apa-apa.”

“Yah, akan kututup teleponnya.”

“Silahkan.”

Seohyun menunggu, lebih tepatnya menunggu nada tanda panggilan yang diakhiri. Namun selama beberapa detik ia menunggu, telepon tidak terdengar dimatikan dari seberang. Baru saja Seohyun akan memencet tombol merah di ponselnya, suara dari seberang menghentikannya.

“Dan juga… kuharap kau mempertimbangkan ajakanku.”

Senyum Seohyun terukir lambat. Wanita itu menunduk. “Ya, akan kupertimbangkan. Tentu akan kupertimbangkan, Kibum.”

Kibum terdengar mengeluarkan tawa kecil. “Sampai jumpa, Seohyun. Aku akan sangat merindukanmu.”

“Sampai jumpa,” sahut Seohyun masih dengan senyum yang terpatri di bibirnya.

Seohyun meletakkan ponselnya di samping gelas lemon tea­-nya yang sudah kosong. Ia menghela napas, lalu mengamati sekitarnya. Saat sepasang matanya terpaku pada pemandangan seorang ibu yang tengah menyebrang jalan seraya mendorong kereta dorong bayi, pikiran Seohyun melayang memikirkan obrolannya dengan Kibum melalui telepon barusan.

Kibum mengajaknya melihat parade bunga. Seohyun senang? Yah tentu saja, sangat malah. Dari awal, hal inilah yang Seohyun idam-idamkan. Hanya berdua, dengan seorang pria yang berarti baginya. Secepatnya Seohyun akan membalas ajakan Kibum. Namun tentu saja, mau tak mau Kyuhyun harus mengetahuinya. Yah, tak apa. Seohyun akan memberanikan diri untuk memberitahu Kyuhyun secepatnya.

Seakan teringat sesuatu, Seohyun menyambar kembali ponselnya dan membuka pesan dari Taeyon yang belum sempat ia buka sedari tadi karena sedang bertelepon.

‘Syukurlah. Oleh-oleh untukmu sudah Ibu siapkan. Oh ya, apakah Kyuhyun sudah berangkat ke supermarket? Ibu menyuruhnya untuk membeli beberapa kebutuhan yang belum sempat Ibu beli.’

Decit kursi yang ditarik membuat Seohyun mengangkat kepala dari layar ponselnya. Dilihatnya kini, Kyuhyun tengah duduk di kursi yang ada di depannya. “Kyuhyun? Kapan kau datang?” tanya Seohyun.

Kyuhyun tak menjawab, melainkan hanya memandang gelas lemon tea kosong milik Seohyun.

“Aku menemukan beberapa lembar uang di jaketmu, jadi kurasa aku bisa meminjamnya untuk membeli itu,” terang Seohyun cepat. “Aku akan menggantinya sesampai di rumah.”

Kyuhyun mendengus. Tidak, Seohyun bersumpah melihat pria itu tertawa kecil. “Jadi kau belum makan siang?” tanya Kyuhyun.

Seohyun menggeleng dan sedikit mengerucutkan bibirnya. “Uang di saku jaketmu bahkan tidak cukup untuk membeli kentang goreng di sini.”

“Kalau begitu kita makan siang di sini.”

“Sungguh?” sahut Seohyun antusias.

Kyuhyun sedikit mengerutkan alis, dan dengan cepat Seohyun menyadarinya.

“Ehm…,” gumam Seohyun seraya menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. “Maaf, aku sudah sangat lapar. Dari tadi aku hanya menelan ludah saat melihat beberapa orang yang makan siang di sini. Jadi saat kau bilang kita akan makan siang di sini, aku…”

Kyuhyun menunggu Seohyun melanjutkan kalimatnya.

“…aku…”

“Kau?” desak Kyuhyun.

Seohyun menggigit kecil bibirnya. “Aku sangat senang,” ucapnya lirih.

Untuk yang kedua kalinya sejak duduk bersama istrinya di meja ini, Kyuhyun tertawa kecil. Pria itu segera memanggil pelayan dan memberi kesempatan Seohyun untuk memesan apa saja yang wanita itu inginkan. Seohyun kembali terlihat antusias saat memilih menu makan siangnya. Dari balik daftar menu yang menutupi wajahnya dari depan, Kyuhyun memperhatikannya diam-diam.

Sepanjang mengenal Seohyun hingga sekarang, saat-saat inilah Seohyun terlihat menjadi dirinya sendiri saat hanya berdua dengannya, bukan menjadi Seohyun yang terlihat takut bahkan untuk menatapnya secara langsung. Seohyun yang sedikit polos dan ekspresif. Tanpa Kyuhyun sadari, dirinya menyunggingkan sebuah senyum untuk wanita di depannya sebelum beralih ke daftar menu yang kini ada di tangannya.

Tipis sekali.

.

.

.

Seohyun duduk di atas sofa ruang tengah dengan dagu yang ia tumpukan ke sandaran sofa. Ia tengah memperhatikan Kyuhyun yang berjalan ke sana kemari menata barang-barang yang tadi pria itu beli dari supermarket. Wanita itu menoleh ke arah jam dinding. Lima menit belum berlalu, dan barang-barang tersebut sudah mulai habis. Cepat juga, batin Seohyun.

Kyuhyun terlihat berjalan mendekat setelah sebelumnya berjongkok cukup lama di depan lemari es. Sedikit gelagapan, Seohyun mengubah posisi duduknya dan memperhatikan Kyuhyun yang menyalakan televisi sebelum duduk di sampingnya dan menghela nafas berat.

Selama beberapa saat, Seohyun tak tahu harus bagaimana. Alhasil, ia kembali menatap Kyuhyun dan bertanya. “Kau lelah?”

Tak ada jawaban dari Kyuhyun. Pria itu menyandarkan punggungnya dengan tak melepas pandangannya sedikitpun dari televisi.

Seohyun merapatkan bibirnya.

Kesalahan, batinnya. Ya, kesalahan karena bertanya hal tersebut kepada Kyuhyun.

“Mau kubuatkan minuman segar?” tanya Seohyun lagi, berusaha memperbaiki pertanyaan sebelumnya.

Lagi-lagi Kyuhyun menghela nafas berat sebelum menoleh Seohyun. “Aku mengantuk,” ucapnya datar.

“Oh…,” respon Seohyun yang tidak tahu lagi harus berkata apa.

Kyuhyun memalingkan muka ke arah televisi, Seohyun pun juga. Namun bedanya, wanita itu kembali bergelut dengan pemikirannya sendiri.

Apakah sekarang waktunya?

Seohyun ingin sekali membicarakan ajakan Kibum untuk melihat parade bunga besok, namun ia tidak tahu harus memulai semuanya darimana. Berbasa-basi? Percuma, Kyuhyun bukanlah orang yang bisa diajak basa-basi. Contoh terbarunya adalah saat ia menawari pria itu minuman sesaat yang lalu. Langsung menuju inti? Seohyun tak tahu apa yang akan terjadi jika tiba-tiba dirinya meminta izin untuk pergi dengan pria lain di saat situasi seperti ini. Berbohong dan nekat pergi tanpa izin? Hembusan nafas Seohyun jauh lebih berat dari sebelumnya. Sama saja dengan bunuh diri, batinnya.

Beberapa saat telah berlalu, Seohyun merasa begitu hening walaupun terdapat seseorang di sampingnya. Perlahan ia menoleh, dan menemukan Kyuhyun yang tengah memejamkan matanya. Sedikit penasaran, Seohyun mendekatkan kepalanya untuk memastikan apakah pria di sampingnya kini benar-benar tertidur atau hanya sekedar memejamkan mata. Dan, jawabannya adalah yang pertama.

Dengan hembusan nafas keras, Seohyun menyandarkan kembali punggungnya. Hilang sudah kesempatannya untuk membicarakan apa yang ingin ia sampaikan kepada Kyuhyun. Suaminya sudah tidur, tidak mungkin bukan membicarakan hal ini. Lagipula,  ̶Seohyun menoleh ke arah Kyuhyun  ̶ pria itu juga terlihat kelelahan. Perlahan namun pasti, Seohyun mengembangkan senyumnya. Seumur-umur mengenal Kyuhyun, belum pernah ia melihat pria itu tidur dari jarak sedekat ini. Kyuhyun yang tidur bukanlah Kyuhyun si dingin yang selama ini Seohyun kenal. Kyuhyun yang saat ini Seohyun lihat nampak damai dan tenang dalam tidurnya, sama sekali tidak berbahaya. Semakin lama, senyuman Seohyun berubah menjadi dengusan hingga sebuah tawa.

Menyenangkan sekali.

.

.

Hari sudah benar-benar malam  ̶ jika dilihat dari gelapnya ruangan tersebut  ̶ ketika Kyuhyun merasa lengan kirinya kesemutan. Pria itu mengerjapkan kedua mata berkali-kali untuk menyesuaikan cahaya terang televisi yang masih menyala di depannya. Menoleh ke samping, pria itu menemukan kepala Seohyun yang menyandar di lengan kirinya. Wanita itu tengah tertidur.

Pantas.

Kyuhyun memutar kepalanya mencari letak jam dinding di ruang tersebut. Dari gelapnya ruangan, samar-samar ia melihat jarum jam berada di angka sepuluh. Kurang lebih enam setengah jam ia tidur dalam posisi duduk seperti ini. Perlahan, Kyuhyun menegakkan badannya. Seohyun sempat menggeliat sedikit saat Kyuhyun memindahkan kepalanya, namun tidak sampai membuka mata. Dengan hati-hati, Kyuhyun memindahkan tubuh Seohyun di dalam gendongannya.

.

.

Suara dering ponsel dari ruang tengah membuat Kyuhyun yang saat itu duduk di meja makan menoleh. Pria itu mengenal dering tersebut, milik Seohyun. Meraih cangkir kopinya, pria itu berjalan menuju ruang tengah.

Kepala Kyuhyun mencari letak jam dinding di ruangan yang kini sudah terang tersebut. Pukul satu dini hari. Siapa juga yang mengirim pesan kepada istrinya tersebut pada saat seperti ini? Meraih ponsel Seohyun, Kyuhyun ingin mencari tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri.

Sebuah nomor yang tidak terdaftar terpampang di atas layar. Dengan enteng, Kyuhyun mengusap layar ponsel sentuh tersebut dan membaca isi pesannya.

‘Andai saja malam ini kau menghabiskan waktu denganku seperti dulu. Oh, Seohyun… kali ini giliranku yang begitu merindukanmu.’

Alis Kyuhyun mengerut dalam. Siapa ini? pikirnya. Dengan segera Kyuhyun mencari tahu kemungkinan pesan masuk dari nomor yang sama. Beberapa pesan telah terlewati, Kyuhyun tetap tak dapat menemukannya. Hanya nama Kim Kibum yang menghiasi kotak pesan masuk ponsel Seohyun. Pertanyaan Kyuhyun tentang siapa yang mengirim pesan kepada istrinya tadi dengan segera berubah menjadi siapa sebenarnya Kim Kibum. Melihat nama pria itu hampir di semua kotak pesan masuk istrinya entah mengapa membuat Kyuhyun merasa kebas. Sedikit penyesalan tiba-tiba merasuki benak Kyuhyun saat teringat akan malam sebelumnya yang tidak ia gunakan untuk mengorek lebih dalam sosok Kim Kibum.

Siapa Kim Kibum? Seberapa penting orang ini? Apa hubungan pria itu dengan Seohyun? Mengapa Seohyun begitu sering berkomunikasi dengannya? Apakah Seohyun menceritakan semuanya pada pria ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berputar dan terasa begitu mengganggu Kyuhyun. Dan sisa malam itu, Kyuhyun habiskan hanya untuk membaca semua isi pesan Kibum yang berada di ponsel istrinya.

.

.

.

.

Sesekali Seohyun bersenandung kecil dan mengangguk-anggukkan kepalanya seiring nada yang ia nyanyikan. Sejak pagi-pagi sekali, ia sesegera mungkin untuk menyiapkan sarapan. Dan kali ini ia tengah menumis daging di atas kompor di dapur rumahnya.

Seohyun terbangun pukul empat pagi tadi. Seingatnya, semalam ia duduk berdampingan dengan Kyuhyun menonton sebuah reality show di ruang tengah hingga matahari terbenam   ̶bahkan saat turun ke dapur pun, Seohyun menemukan ponselnya pun masih ada di atas sofa ruang tengah.  ̶ Namun saat terbangun, Seohyun sudah berada di kamarnya dan dengan Kyuhyun yang tidur di sofa kamar seperti biasa. Merasa merepotkan Kyuhyun karena harus mengangkat tubuhnya ke kamar tidur, Seohyun memilih untuk menebus rasa bersalahnya dengan memasakkan makanan kesukaan suaminya untuk sarapan. Cerita ibu mertuanya tentang hal-hal yang disukai Kyuhyun membuat Seohyun sedikit terbantu kali ini.

Seohyun mengangkat teflon dari atas kompor dan menuangkan isinya ke sebuah piring besar. Saat sarapan nanti, Seohyun berniat untuk membicarakan rencananya pergi ke parade bunga dengan Kibum. Kali ini Seohyun berpikir lebih matang dan berani lagi, ia juga siap jika nanti Kyuhyun marah padanya atau melarangnya. Setidaknya Seohyun harus mencobanya. Yah, dia harus berani untuk mencoba. Lagipula jika dilihat dari hubungannya dengan Kyuhyun yang akhir-akhir ini semakin dekat, Seohyun yakin pria itu akan mengizinkannya jika Seohyun juga membicarakannya secara baik-baik.

Sebuah dering ponsel membuat Seohyun yang tengah meletakkan peralatan masak yang kotor ke konter, menoleh ke arah sumber suara. Wanita itu mengelapkan telapak tangannya ke apron sebelum meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja makan.

‘Bagaimana kalau aku menjemputmu pukul sembilan?’

Seohyun tertawa geli. Berkali-kali ia mengatakan kepada Kibum kalau ia tidak bisa memberi kepastian sebelum membicarakannya dengan Kyuhyun, namun Kibum tetap saja mencari alasan untuk tetap pergi ke pawai bunga bersamanya.

‘Sudah kubilang bukan? Akan aku beri kepastiannya setelah sarapan. Kau ini, kalau begitu ingin pergi kenapa tidak sendirian atau mengajak orang lain saja sih? Kekasihmu mungkin?’

Setelah menekan tombol kirim, Seohyun meletakkan ponselnya lagi di atas meja makan. Dalam keheningan dapur tersebut, ia tersenyum penuh arti. Tak lama, ponselnya kembali berdering.

‘Ayolah… kau tahu siapa wanita yang ingin aku jadikan kekasih, Seohyun.’

Kali ini tak hanya senyuman, melainkan sebuah tawa. Baru saja ia akan membalas pesan Kibum, sebelum sebuah suara langkah kaki yang mendekat dan aroma segar sabun membuatnya menoleh.

“Selamat pagi,” sapa Seohyun disertai senyuman yang terpatri di wajahnya. “Kau sudah selesai mandi?”

Kyuhyun balas menatapnya, menggumam pelan sebelum duduk di salah satu kursi di meja makan.

“Pagi ini aku memasak tumis daging. Kata Ibu kau paling suka dengan tumis daging.” Seohyun sama sekali tak menyurutkan senyumnya saat berbicara.

Tak ada respon dari Kyuhyun. Pria itu hanya menatap Seohyun yang terus berbicara padanya.

“Aku ambilkan nasi dan lauknya ya?” tawar Seohyun seraya mengambil piring kosong di depan Kyuhyun. “Aku baru meminta resep masakan ini dari Ibu pagi tadi. Ibu juga bilang, tidak semua tumis daging selalu kau sukai karena hanya tumis daging Ibu yang paling kau suka.”

Kyuhyun menyatukan kedua tangan di depan wajahnya. Matanya sama sekali tak melepas pandangan dari Seohyun.

“Silahkan.”

Tatapan Kyuhyun beralih ke piring yang baru saja dihidangkan Seohyun di depannya. Selama beberapa saat ia hanya menatap makanan tersebut sebelum kembali menatap Seohyun yang masih tersenyum kepadanya.

“Terimakasih.”

Walaupun datar, entah mengapa begitu menyenangkan bagi Seohyun. “Sama-sama,” jawabnya.

Sarapan pasangan itu pun berlangsung dengan keheningan di antara keduanya. Hanya suara alat makan yang beradu dan jam dinding yang berdetak menjadi sumber suara paling jelas di sana.

“Setelah sarapan, cepat bersiaplah.”

Seohyun mengangkat kepalanya, merasa sedikit heran dengan perkataan Kyuhyun. “Memangnya ada apa?”

“Kita ke café Yesung,” ucap Kyuhyun seraya mengelap mulutnya.

Kening Seohyun berkerut dalam. “Tunggu, untuk apa?” Tangan Seohyun reflek menahan lengan Kyuhyun yang akan beranjak dari duduknya.

“Melihat parade bunga.”

Kedua mata Seohyun membelalak. “Tapi aku  ̶”

“Cepat selesaikan sarapanmu dan bersiaplah,” potong Kyuhyun pelan, namun langsung menghentikan perkataan istrinya.

Kyuhyun pergi begitu saja saat cengkraman Seohyun di tangannya mengendur. Seohyun yang kini kembali sendirian di ruang makan, mencerna lagi apa yang telah Kyuhyun katakan.

Tiba-tiba saja, ia merasa sangat sedih.

Oh… Kibum.

65 Tanggapan to “BLACK ROSE [CHAPTER 5]”

  1. hoir Mei 16, 2016 pada 4:14 pm #

    Yah.. kasian kibum padahal dia yang ngebet pingin lihat parade bunga dengan seo eonnie. Tuh kyuhyun lihat sms nya seo eonnie ya jadi dia ngajak seo einnie lihat oarade bunga sa ma dia . Aslinya si kyu itu cemburu yaa
    Nice

  2. Nisa Maret 15, 2016 pada 4:58 pm #

    Aduuuh~ Makin sini Kyuhyun nya makin bikin greget… Sikapnya dingin-dingin perhatian gitu…😀

  3. Haznita Utami Februari 28, 2016 pada 6:10 pm #

    heenim mulai terornya nih ~
    yeye aku knpa ? huhu
    seokyunya udh mulai byk kemajuan yaaa
    jngn sampai kibum benr2 narik seohyun dari kyuhyun deh

  4. Syugaa.r Agustus 13, 2015 pada 9:51 am #

    Next thor! Gak next barbel melayang

  5. ginakyunah Agustus 9, 2015 pada 11:38 am #

    Kyuu cerita nya cemburu nihh..

  6. kyumaelf Juli 23, 2015 pada 3:03 pm #

    cemburu nih

  7. avisca Mei 27, 2015 pada 10:11 am #

    author kapan si lanjutan ff ini keluar, udah lumutan banget nungguin lanjutan ff ini keluar
    mau baca ff lain, nggak ada yg segreget ini 😭😭😭
    please thor lanjutin ff ini 🙏🙏🙏

  8. Dewik Februari 28, 2015 pada 6:25 am #

    entah kenapa kok aku malah berpihak ke kibum -_- suka aja sama interaksi dan hubungan diantara SeoBum🙂 hehehe next part bikin moment mereka ya eonnie😀

  9. Iyank EternalMagnae Januari 21, 2015 pada 9:52 am #

    kyuppa mlai nruh prhatian nich ma seo!!
    seo jgn ska ma kibum donk!!

  10. Fle Januari 18, 2015 pada 4:49 am #

    Mian, aku baru comment di chapter ini.
    Wahh,, daebak. Penasaran sma kelanjutannya. Cepat lanjut yah thor🙂

  11. maharani Januari 13, 2015 pada 10:47 am #

    baru ngecek ff ini lagi.. kyu udah mulai suka? siapa yang ngirim pesan ke seo??

  12. ana Januari 13, 2015 pada 8:14 am #

    Aq baru tau klu ni ff udh part 5, ku kira udh g dilanjut krn udh lama makanya ga nengokin.
    Aaciiieee kyu udh suka tuh ama seo, seo juga kan cuma dia msh bingung dg kibum. Walau kecewa g bisa nonton parade bunga ama kibum tp seo sukakan pergi ama kyu. Pasti kyu g mau yuh seo pergi ama kibum ke parade makanya diajaklah seo. Ayo donk dilanjut lagi, aq suka bgt nih ma ff, FIGHTING YA CHINGU mudahan ada wkt luang plus ide mengalir buat lanjutin ni ff, soalnya aq sgt berharap ff ni dilanjut sampe end gumawo.

  13. Son Kyu Januari 12, 2015 pada 10:53 am #

    sihiw, kyu mulai ada rasaa
    Kurang momen seokyuu nya😀
    Dilanjut dong, udh nnggu eon

  14. Lilian Januari 3, 2015 pada 8:07 am #

    Gak bisa komen apa-apa, ini udah bener-bener keren banget. Please lanjutin lagi secepatnya thor. FIGHTING

  15. kyuseolove Januari 2, 2015 pada 9:20 pm #

    kyu dh mulai prhatian nih ma seo.. pi seo’@ msh ngrepin rang lain..moga ja mereka tr nikah bnran & saling suka.

    Next jangn Lama” y thor

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: