BLACK ROSE [CHAPTER 6]

2 Nov

Title : Black Rose

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr ]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it 

Length : 1 of ………

Rate : M (Mature/17+)

Genre : Romance/Angst/and little bit action

Huaaaa aku kembali lagi setelah satu tahun vakum hehe. alasan sebenarnya vakum sih karna aku lupa sama password wordpress ini :)) udah ah yuk lanjut bacanya

Seohyun menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Di dalam sepasang matanya yang kini terlihat sendu, Seohyun lagi-lagi membatin sedih. Ponsel yang berada di tangannya ia genggam seerat mungkin. Terlintas sejenak di kepalanya ia ingin menangis, namun ia sadar bahwa itu merupakan hal bodoh. Keadaan ini tidak akan membaik walaupun ia menumpahkan air matanya sebanyak apapun.

Kepala Seohyun sedikit memiring. Wanita berambut panjang itu menatap jalanan dengan tatapan kosong. Memorinya berputar pada saat ia mendengar suara kekecewaan dari mulut Kibum lewat ponsel saat ia memutuskan janji dengan pria tersebut sesaat setelah Kyuhyun pergi meninggalkannya sendirian di dapur.

“Boleh kutahu alasannya?”

Ingatan akan suara Kibum begitu kuat hingga membuat Seohyun menutup mata dan memutar ingatannya.

“Apakah suamimu tidak mengijinkanmu pergi?”

Saat itu, Seohyun yang bingung harus berbicara seperti apa hanya menggeleng. Ia tak sadar bahwa apa yang ia lakukan saat itu tak akan menjawab pertanyaan Kibum.

“Seohyun?”

“Ya?” ucap Seohyun reflek.

Kibum tak langsung bersuara saat itu, melainkan hanya menghela nafas.

“Maaf, ta-tapi aku mendengarkanmu dari tadi.”

Giliran Kibum yang diam.

“Kibum?” panggil Seohyun. “Kau marah padaku?”

“Tidak.”

Seohyun menghela nafas lega.

“Hanya saja… aku merasa suamimu memang tak mengijinkanmu untuk pergi.”

Butuh beberapa detik sebelum Seohyun berani membuka mulutnya. “Bukan, bukan seperti itu. Dia…” Saat itu, Seohyun merasa udara begitu menjauh dari dirinya. “…dia yang mengajakku pergi ke parade bunga.”

“Oh…”

Seohyun menutup kedua matanya. Dadanya begitu nyeri saat Kibum hanya menanggapinya dingin.

“Baiklah kalau begitu, mungkin di lain waktu saja.”

“Maaf,” ucap Seohyun penuh penyesalan.

“Kau tak perlu meminta maaf.”

“Tidak, Kibum. Aku harus. Aku salah, dan-”

“Aku mohon, Seohyun. Jangan merasa kau yang bersalah atas ini semua,” potong Kibum pelan. “Aku tak sanggup melihatmu menyesali dirimu sendiri.”

Udara kembali terasa jauh bagi Seohyun. Wanita itu menutup matanya dan mencoba bernafas senormal yang ia bisa. “Lain kali, aku janji,” ucap Seohyun pada akhirnya.

.

.

.

Kecepatan mobil yang semakin pelan memaksa Seohyun untuk melepaskan ingatannya. Wanita itu menoleh saat Kyuhyun yang sedari tadi menyetir dan tak mengucapkan satu patah kata, memanggil namanya.

“Masuklah dulu, temui Yesung,” ucap Kyuhyun saat mobil yang dikendarainya berada di depan café.

Seohyun menurut. Tanpa bersuara, ia keluar dari mobil dan berjalan menuju café. Tak pernah ia sadari bahwa pria yang ia tinggalkan di mobil kini tengah menatap punggung kecilnya yang perlahan menjauh dengan tatapan yang tak lagi datar dan tak lagi tak  berarti.

.

.

Seohyun melangkah pelan saat ia baru saja membuka pintu café. Hari ini, café terlihat begitu ramai. Kemanapun Seohyun menolehkan kepalanya ke penjuru ruangan, tempat itu penuh dengan orang.

“Seohyun!”

Kepala Seohyun menoleh, dan melihat Yesung berjalan mendekat ke arahnya. Senyum Seohyun turut berkembang saat Yesung menampilkan senyum cerahnya.

“Kau datang sendirian?” tanya Yesung.

“Tidak, aku datang bersama Kyuhyun.”

Yesung menoleh ke arah pintu.

“Dia masih memarkirkan mobil,” ucap Seohyun yang mengerti pikiran Yesung. “Ngomong-ngomong, café begitu ramai.”

“Yah…” Yesung menatap ke seluruh café-nya dan menghela nafas berat. “Entah aku harus bersyukur atau bagaimana.”

Seohyun tertawa pelan.

“Mari duduk, kau kelihatan haus,” ajak Yesung sambil merentangkan sebelah tangannya ke arah mini bar. Seohyun menurut, ia mengikuti dorongan pelan tangan Yesung yang berada di punggungnya. “Apa yang ingin kau minum?” tanya Yesung.

Kepala Seohyun menggeleng. “Aku tidak haus, oppa. Terimakasih.”

“Bagaimana kalau aku?”

Baik Yesung dan Seohyun menolehkan kepalanya ke arah wanita yang kini berdiri di samping Seohyun.

“Boleh aku minta vanilla late, Yesung?”

Seohyun memperhatikan wanita itu mulai dari bawah hingga puncak kepalanya. Wanita yang cantik. Rambut cokelat gelap panjangnya tergerai lurus hingga punggung. Setelan rok putih selutut serta blouse coklat tanpa lengan membuat penampilan wanita berkulit mulus tersebut semakin terlihat sempurna.

“Tentu saja, Yuri. Memang apa yang tidak untukmu?” sahut Yesung dengan senyum simpulnya.

Wanita bernama Yuri itu terkekeh pelan.

“Bagaimana kabarmu? Hampir dua tahun kita tidak berjumpa.”

Yuri tersenyum. Cantik sekali. “Aku baik, Yesung. Seperti yang kau lihat sekarang.”

“Yang kulihat sekarang kau semakin cantik.”

Lagi-lagi Yuri terkekeh. Seohyun hampir gelagapan saat Yuri memandangnya. “Kekasihmu?” tanya Yuri kepada Yesung.

“Bukan, dia adikku.”

“Sejak kapan kau memiliki adik perempuan?” tanya Yuri penuh ketidakpercayaan.

“Dia-”

Yuri memotong Yesung dengan mengangkat sebelah tangannya. “Tidak perlu dijelaskan, aku sudah sangat paham tabiatmu. Kutunggu vanilla late-ku di meja.”

Yesung menggeleng-nggelengkan kepalanya seraya mendengus geli. “Dimana kau duduk?”

“Jika aku tak kembali ke sini berarti aku mendapatkan sudut favoritku.”

“Baiklah.”

Yuri pergi. Dari belakang, wanita itu berjalan dengan langkah kaki yang penuh percaya diri.

“Dia siapa, oppa?”

Pertanyaan Seohyun mengembalikan kesadaran Yesung. “Tetanggaku. Tetangga Kyuhyun juga.”

Saat Seohyun kembali mengamati tempat terakhir Yuri menampakkan punggungya, seseorang memeluk perutnya dari belakang hingga membuat Seohyun sedikit terperanjat.

“Sepuluh menit lagi paradenya lewat.”

Kyuhyun ada di sana. Tangan pria itu masih melingkari tubuh istrinya.

“Kalian ke sini karena melihat parade?” tanya Yesung.

Seohyun mengangguk.

Yesung tak berkomentar lagi. Pria itu tampak memikirkan sesuatu.

“Yesung, aku tak mendapatkan tempatku.”

Ketiga orang yang ada di sana menoleh begitu suara Yuri lagi-lagi terdengar. Yuri terpaku di tempatnya. Wanita itu membeku seketika dan hanya memandang Kyuhyun yang kini turut berdiri di hadapannya.

Kyuhyun pun seolah terkejut, namun pria itu lebih bisa mengontrolnya daripada Yuri.

“Kyuhyun?” Bibir Yuri penuh hati-hati saat mengucapkan nama tersebut.

Tiba-tiba Kyuhyun tersenyum tipis. Pria itu mengulurkan tangannya. “Apa kabar, Yuri?”

Yuri terperangah, namun tetap membalas jabatan tangan Kyuhyun. “Baik. Sangat baik,” jawab Yuri dengan senyumnya yang begitu lepas.

Kyuhuyun semakin mengembangkan senyumnya. “Kau ke kota ini bersama ayahmu?”

“Ya, seperti biasa.” Yuri melepaskan tangan Kyuhyun. “Tidak banyak hal yang berubah darimu.”

“Kau juga.”

Tawa Yuri lepas begitu saja. “Kau sendirian?”

“Tidak.” Kyuhyun kembali melingkarkan tangannya di pinggang Seohyun. “Aku bersama istriku.”

Seohyun paham benar perubahan raut wajah Yuri. Yuri terdiam seketika walaupun bibirnya sedikit terbuka, sedangkan sepasang mata wanita itu membulat.

“Istri?” tanya Yuri lirih.

“Benar kan kalau kubilang dia adikku?” timpal Yesung.

Yuri menoleh Yesung yang kini tersenyum sombong. Tak lama, ia beralih menatap Seohyun yang sedari tadi tak mengeluarkan suaranya. Perlahan, Yuri mengulurkan tangannya.

“Hai, namaku Yuri.”

Seohyun sedikit terkehut dengan uluran tangan Yuri. “Seohyun,” ucap Seohyun sambil menjabat tangan Yuri.

“Sampai berapa lama kau di Seoul?”

Yuri menoleh Kyuhyun. “Mungkin satu bulan.”

“Tumben lama?” timpal Yesung lagi.

“Yah… Ibuku sedang sakit.”

Yesung tak bersuara, namun menganggukkan kepalanya pelan.

“Datanglah ke rumah. Ibuku pasti senang melihatmu datang,” ucap Kyuhyun.

Yuri hanya tersenyum kecut. “Bagaimana keadaan Bibi? Apa jantungnya masih sering kambuh?”

Kyuhyun menggeleng. “Dia lebih sehat sekarang.”

Yang terjadi selanjutnya, Seohyun hanya memperhatikan ketiga orang di dekatnya saling berbicara satu sama lain tentang hal yang membosankan baginya. Masa kanak-kanak, kenangan lama, hingga kenangan konyol yang pernah terjadi di antara mereka. Namun tetap seperti biasa, Kyuhyun tidak banyak berbicara. Pria itu hanya memperhatikan Yuri yang berbicara sambil terkadang tersenyum simpul saat Yesung ataupun Yuri mengeluarkan gurauannya.

Entah dari mana datangnya sebuah pemahaman baru di otaknya, namun Seohyun mulai yakin bahwa Yuri adalah wanita terdekat Kyuhyun selain Taeyeon dan dirinya.

.

.

Atau mungkin masih banyak lagi? Entahlah… Seohyun sama sekali tidak tertarik hal itu saat ini.

.

.

.

.

Jalanan terasa begitu penuh dan sesak bagi Seohyun. Untunglah ini adalah musim hujan, sehingga cuaca tidak terasa menyengat di kulit. Jadinya, Seohyun yang memutuskan untuk melihat parade cukup jauh dari café Yesung sendiri karena dirinya yang tak tertarik dengan nostalgia tiga orang di dalam café, tak merasa enggan walau harus berhimpitan dengan orang lain.

Hampir dua puluh menit berlalu. Sepanjang menit itu, Seohyun tak merasa begitu senang walaupun puluhan mobil berhias bunga-bunga cantik telah lewat di depannya. Wanita itu lebih banyak menghabiskan menatap layar ponselnya yang sengaja ia matikan daripada mengamati maupun mengagumi parade bunga tersebut. Kini, benak wanita berambut panjang itu tengah bergejolak.

Haruskah ia menelepon Kibum dan menyuruh pria itu datang menemuinya sekarang?

Seohyun menghela nafas frustasi seraya memperhatikan awan mendung yang merambat pelan. Ia kecewa, marah, dan ingin menangis. Jika tau Kyuhyun tak benar-benar mengajaknya melihat parade bunga seperti ini, mungkin Seohyun tidak akan merasakan segala emosi tersebut.

Tau seperti ini, ia akan nekat pergi dengan Kibum.

Tubuh Seohyun oleng saat ia merasakan beberapa pengunjung parade yang saling berhimpitan dengannya menekannya dari segala arah. Seohyun sempat panik, dan keseimbangan tubuhnya semakin tidak dapat ia kontrol. Sekelilingnya begitu ramai akan teriakan maupun gerutuan orang-orang. Saat dirinya hampir terjungkal, sebuah tangan menarik lengannya ke dalam keramaian dan terus membawanya ke belakang hingga keluar dari desakan orang-orang.

“Kemana saja kau?”

Seohyun mengangkat kepalanya dan melihat Kyuhyun yang kini menatapnya tajam. Cengkeraman tangan pria itu di lengannya masih belum melonggar. “Ak-aku….”

“Ponselmu tidak dapat dihubungi, dan kau jauh dari café,” potong Kyuhyun cepat.

Kepala Seohyun tertunduk. Wanita itu merasa takut. “Maaf. Da-dari tadi aku di sini, me-melihat parade,” ucap Seohyun lirih.

“Apa harus sejauh ini dari café?”

Seohyun tak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berbagai emosi yang tidak sanggup ia sampaikan untuk Kyuhyun berkecamuk di dadanya kali ini. Marah, takut, benci, ingin memukul, ingin memarahi, semuanya bergumul di dadanya hingga membuatnya sesak.

“Kita pulang.”

Kaki Seohyun menurut saat Kyuhyun menarik tubuhnya untuk semakin menjauhi kerumunan orang-orang. Wanita itu tetap menunduk, menahan air matanya yang terbentuk karena berbagai emosi yang ia rasakan. Kyuhyun menariknya pelan, namun tetap menyakitkan rasanya bagi Seohyun. Ia tetap menunduk dan tak bersuara hingga Kyuhyun membawanya menuju mobil dan pulang.

.

.

.

.

Cukup lama Kyuhyun berdiam diri di depan kamarnya. Dengan seksama ia mendengarkan isakan tangis Seohyun yang samar-samar terdengar dari luar sejak tadi. Masih tak bereaksi apa-apa, Kyuhyun memilih menjauh dan berjalan menuju ruang tengah.

Kyuhyun menyandarkan bahu dan lehernya di sandaran sofa saat pria itu memilih menonton tv untuk mengisi waktu siangnya. Berkali-kali pria itu memencet remote untuk mencari tontonan yang mungkin bisa menghiburnya, namun nihil. Meletakkan remote, Kyuhyun memilih untuk merogoh ponselnya yang berada di saku celana.

Sebuah pesan terpampang di sana. Dan nama yang tertera membuat Kyuhyun menghembuskan nafas panjang. Pria itu semakin menyamankam posisinya. Untuk saat ini, Shindong merupakan orang yang paling dihindari olehnya.

Tak lama kemudian, ponsel Kyuhyun berdering. Kali ini bukan hanya pesan, melainkan sebuah panggilan masuk. Selama beberapa saat Kyuhyun hanya menatap layar ponselnya, dan dengan rasa enggan yang jauh lebih besar dari sebelumnya, Kyuhyun mengarahkan ponselnya ke telinga.

“Kenapa tak membalas pesanku?”

“Aku baru selesai mandi,” dusta Kyuhyun untuk orang di seberang sana. “Ada apa, Shindong?”

Shindong menggumam kesal. “Bila perlu bawa ponselmu bahkan saat kau bercinta dengan para wanita sekalipun.”

“Ada apa?” ulang Kyuhyun, ada nada penegasan untuk Shindong agar tidak perlu berbasa-basi.

“Mengenai keinginanmu untuk mundur,” jawab Shindong dengan intonasi yang lebih pelan. Shindong menjeda kalimatnya. “Seperti yang kubilang sebelumnya, ini semua tak akan mudah.”

Kyuhyun mendengarkannya dengan seksama.

“Para orang tua itu tidak ingin kehilangan orang terbaiknya.”

“Lalu?”

“Bagaimana kalau besok kau menemui mereka sendiri?” tanya Shindong. Suara pria itu terdengar putus asa. “Sejujurnya aku pun juga tidak rela jika kau ingin hengkang, namun aku tetap menghargai permintaanmu. Setelah ini akan kucoba lagi merundingkan dengan para orang tua itu, berdo’a saja agar mereka mampu memahamimu.”

Helaan nafas berat itu lolos dari mulut Kyuhyun. Pria itu menunduk, entah memperhatikan apa di sana.

“Sebenarnya siapa yang mendasarimu untuk mundur?”

“Kita sudah pernah membicarakan in-”

“Aku tak mempercayainya, Kyuhyun,” potong Shindong pelan. “Jika memang karena Ibumu, harusnya kau mengundurkan diri saat Ibumu terkena serangan jantung.”

Entah mengapa, kini Kyuhyun merasakan rasa takut menyergapnya.

“Jujurlah padaku. Siapa orang itu?”

Kyuhyun menelan ludah, merasa butiran keringat mulai menghiasi keningnya. “Aku tak memiliki siapapun selain Ibuku.”

“Apa mungkin seorang wanita?” tanya Shindong tak ingin kalah.

Jeda beberapa saat Kyuhyun gunakan untuk mengatur nafas dan nadanya. Ia tak ingin kelepasan dalam pembicaraan ini. “Terserah kau berpikir seperti apa.”

Kali ini giliran Shindong yang menghela nafas berat. “Bukan seperti itu yang kumaksud, kawan. Aku hanya ingin melindungimu dan keluargamu.”

Alis Kyuhyun berkerut samar. “Maksudmu?”

“Seperti yang kubilang, para tetua begitu enggan untuk melepasmu. Yang aku khawatirkan, mereka akan bertindak di luar batas jika kau memaksa diri untuk lepas.”

“Di luar batas?” Rahang Kyuhyun mulai mengeras.

“Seperti menyingkirkan orang-orang yang kau miliki.”

Rahang Kyuhyun mengeras sempurna. Pria tersebut meremas ponselnya yang masih berada di telinga. Suara Shindong selanjutnya seakan seperti dengungan lalat bagi Kyuhyun. Pria itu menjauhkan ponselnya, mematikan benda tersebut, dan melemparnya ke atas meja.

Sepasang mata tajam Kyuhyun masih tak ingin lepas dari benda persegi berwarna hitam tersebut. Ia tak bisa menerima ini, jika memang dirinya dipaksa untuk mengikuti alur ini, ia akan menerimanya tentu dengan senang hati.

.

.

.

Sebuah belaian tangan menyapu wajah Kyuhyun singkat. Pria itu berusaha membuka matanya ketika belaian itu diiringi sebuah suara yang begitu familiar baginya.

“Kyuhyun? Bangun. Kau lupa mematikan televisi.”

Walaupun mata Kyuhyun belum terbuka sempurna, pria itu tahu siapa yang telah mengganggu tidur singkatnya.

“Ibu?” Suara Kyuhyun terdengar serak khas orang baru bangun tidur. “Kapan datang?”

“Baru saja. Dimana Seohyun?”

Kyuhyun menolehkan kepalanya ke arah jam dinding. Pukul delapan malam, sudah berapa jam ia terlelap?

“Kyu?”

Kepala Kyuhyun menoleh ibunya malas. Nada ibunya sudah tidak bisa ditunda.

“Ibu?”

Baik Kyuhyun dan Taeyon menoleh ke arah sumber suara secara bersama. Seohyun berjalan mendekati Taeyon dengan senyum yang terlihat sumringah.

“Anakku,” ucap Taeyon seraya menyambut Seohyun dengan pelukan. “Syukurlah kau sudah bisa berjalan.”

Seohyun tersenyum. Wanita itu memeluk Taeyon erat dan mengusap punggung ibu mertuanya dengan sayang. “Aku rindu Ibu.”

Tak hanya Taeyon yang menangkap nada Seohyun yang terdengar aneh, Kyuhyun pun juga.

“Aku sudah di sini.”

Pelukan Seohyun semakin mengerat. Isakan kecil lolos begitu saja dari bibirnya tanpa sanggup ia bendung.

Taeyon terpaku sejenak. Ia ingin memastikan Seohyun tak menangis, namun menantunya itu begitu kuat memeluknya. “Seohyun?” panggil Taeyon lirih. “Ada apa?”

Seohyun menggeleng pelan dalam pelukan ibu mertuanya. “Aku hanya bahagia Ibu sudah datang.”

“Oh… sayaaaang.” Taeyon pun turut mengeratkan pelukannya dan mengusap puncak kepala Seohyun.

Kyuhyun mengamati baik-baik kedua wanita yang kini berpelukan di depannya. Namun ia lebih terfokus kepada air mata Seohyun yang tak kunjung berhenti.

Ada apa dengannya?

.

.

“Makan yang banyak. Ibu membawa ini untuk kalian.”

Kyuhyun melihat semua makanan di depannya tanpa ekspresi. Ibunya yang gemar membeli oleh-oleh bukanlah hal yang baru baginya, maka dari itu ia nampak biasa. Sedangkan Seohyun sebaliknya, wanita itu terlihat tidak nyaman dengan macam makanan yang berada di depannya. Kedua alis wanita itu menaut samar dengan bibir sedikit terbuka. Melihat pemandangan di depannya kali ini sedikit membuat Kyuhyun tertarik. Pria itu mengangkat sedikit sudut bibirnya.

“Ibu membeli ini semua sendiri?” tanya Seohyun.

“Ya. Kau kira dengan siapa?”

“Bibi Victoria mungkin?”

Taeyon terkekeh seraya mengangsurkan piring ke Kyuhyun. “Victoria tidak berbelanja, dia terlalu sibuk melepas rindu dengan putranya.”

“Leeteuk?” sahut Kyuhyun.

“Ya. Mereka bertemu saat di Mokpo, kebetulan Leeteuk juga sedang dinas di sana. Victoria bilang Leeteuk akan ke sini tepat setelah Leeteuk menyelesaikan dinasnya.”

Seohyun terdiam. Orang baru lagi, pikirnya. Mau tak mau ia terpaksa harus beradaptasi lagi.

“Kyuhyuh, kau yang memimpin do’a.”

Kyuhyun menegakkan punggungnya. Matanya menangkap sepasang mata Seohyun yang turut memperhatikannya, namun dengan tatapan yang berbeda.

Yah… berbeda karena Seohyun menatapnya dengan tatapan takut seperti semula.

.

.

Makan malam keluarga itu berlangsung selama satu jam. Celoteh Taeyon tentang pengalamannya menjelajah Mokpo membuat makan malam tadi terasa lebih hidup. Seohyun senang, akhirnya karena akhirnya ibunya sudah pulang. Taeyon yang nampak begitu sehat juga merupakan kelegaan lain bagi Seohyun mengetahui kondisi wanita paruh baya tersebut.

Suara piring-piring yang tengah diangkat dari meja makan membuat Seohyun yang tengah mencuci piring menoleh. Ia sudah menyuruh Taeyon untuk segera tidur, namun ternyata wanita itu masih berada di sana.

“Ibu, sudahlah-”

Perkataan Seohyun terhenti saat mengetahui siapa yang ternyata telah mengangkati piring-piring tersebut.

Kyuhyun pun turut menoleh, namun hanya sebentar sebelum pria itu melanjutkan kegiatannya.

Seohyun membalikkan tubuhnya lagi dan melanjutkan pekerjaannya. Ia merutuki dirinya sendiri yang telah salah memanggil orang. Tak lama kemudian, seseorang mendekat dari belakang. Pundak Seohyun sedikit menegang, apalagi ketika Kyuhyun berdiri di sampingnya untuk mencuci tangan.

“Ibu menghujaniku banyak pertanyaan,” ucap Kyuhyun tenang. Pria itu menoleh dan menatap Seohyun seksama. “Memang apa yang kau ceritakan kepada ibu?”

Kepala Seohyun menoleh. “Tidak ada. Sedikitpun aku tidak menceritakan apa-apa.”

Kyuhyun mematikan kran dan masih menatap Seohyun seksama. “Setidaknya jika kau tak ingin Ibu berpikir apa-apa tentang kita, jangan tunjukkan seolah-olah kau memiliki masalah di depan dia.”

Seohyun tercengang, tak tahu harus menjawab apa. Dari arah tangga, suara Taeyon terdengar semakin mendekat dan menggema memanggil nama Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas berat. “Berhenti bersikap seperti itu, aku tak mau kesehatan Ibu menurun karena hal sepelah seperti yang sudah kau lakukan.”

Langkah Taeyon semakin terdengar mendekat. Di samping itu, Seohyun menangkap ada yang aneh dari tatapan Kyuhyun malam ini. Sorot dingin itu tidak berkurang sama sekali, namun sorot itu mengandung sebuah kekhawatiran yang begitu besar dalam waktu bersamaan.

“Astaga, kau di sini rupanya.”

Kyuhyun dan Seohyun menoleh Taeyeon yang berdiri di samping meja makan.

“Ada apa, Bu?” tanya Seohyun.

“Bukan, aku mencari Kyuhyun. Ada beberapa laporan keuangan pabrik yang tidak bisa kupahami.”

Seohyun menoleh Kyuhyun yang menghela nafas berat. Tanpa bicara, Kyuhyun berjalan mendekati Ibunya.

“Aku sama sekali tak paham format laporan yang baru ini, Kyu,” ucap Taeyeon. “Kau kan pegawai bank. Paling tidak kau paham dengan laporan keuangan kan?”

Kyuhyun tak menjawab, melainkan hanya merangkul pundak Ibunya dan membawa wanita paruh baya itu naik lagi ke atas.

.

.

Semua sisi tanaman itu telah usai Seohyun siram. Perintah Taeyeon pagi-pagi terasa menyenangkan bagi Seohyun untuk dia lakukan karena perintah itu berhubungan dengan bunga dan tanaman.

“Kau suka bunga-bunga itu?”

Seohyun menolehkan kepalanya ke arah pintu. Senyum Seohyun pun terukir. “Mereka semua cantik, Bu.”

Taeyeon mendekat, mengeluarkan ponsel, lalu mengambil gambar bunga-bunganya. Tak ada komentar dari Seohyun, melainkan hanya melihat Ibu mertuanya dengan seksama.

“Bagaimana menurutmu kalau bunga-bunga itu dijadikan motif kain?”

“Itu pasti sangat bagus, Bu.”

“Kalau begitu bersiaplah sebentar lagi, Seohyun,” ucap Taeyon seraya berjalan menuju rumah. “Sepuluh menit lagi kita berangkat. Kau harus ikut aku.”

Dengan tergopoh Seohyun menjatuhkan selang penyiram dan berjalan cepat menuju pintu rumah.

.

.

Seohyun masih menatap bangunan di depannya dengan berbagai pikiran yang berkecamuk menjadi satu. Sejak datang, masuk, bertemu dengan ratusan orang dan hingga akan kembali seperti saat ini, Seohyun tetap mencoba untuk berada di permukaan pemikirannya sendiri. Bangunan di depannya, adalah sebuah pabrik tekstil milik keluarga Cho.

“Ah, itu dia taksinya.”

Kepala Seohyun menoleh saat Taeyeon mengucap hal tersebut penuh dengan rasa syukur. Benar, tak jauh di darinya, sebuah taksi melaju semakin pelan dan akhirnya berhenti tepat di depannya.

“Ayo masuk,” ajak Taeyeon.

Seohyun menurut. Membuka pintu taksi yang berada di seberang Taeyeon, dan masuk ke dalamnya. Saat taksi mulai melaju, Taeyeon kembali membuka mulutnya.

“Sebenarnya aku kasihan kepada Kyuhyun.”

“Kenapa, Bu?”

Taeyeon menoleh Seohyun. “Aku sengaja membuatnya sibuk hingga pukul setengah lima pagi tadi setelah memeriksa laporan keuangan sejak kemarin malam.”

Dahi Seohyun berkerut samar.

“Pada dasarnya aku hanya ingin dia tidak kembali bekerja hari ini.”

Bibir Seohyun terbuka, namun dirinya sadar bahwa ia sendiri tak tahu harus menanggapi seperti apa.

“Sama seperti sekarang. Jika ia kembali bekerja, berarti ia kembali pula ke Busan.” Taeyeon memalingkan mukanya ke jalanan kota. “Aku tak pernah suka Kyuhyun bekerja menjadi pegawai bank.”

Seohyun menelengkan kepalanya. Menarik. “Kenapa, Bu? Bukankah Kyuhyun juga harus bekerja untuk menghidupinya dan keluarganya?” pancing Seohyun.

“Haaahh… omong kosong,” sahut Taeyeon cepat. “Pabrik ayahnya juga membutuhkan dirinya untuk tetap hidup.”

Kepala Seohyun menunduk untuk memandangi ponselnya yang ia genggam di atas pahanya. Ia mengerti keadaan sekarang, namun tetap tak bisa menanggapinya seperti apa.

“Sampai sekarang aku tidak paham mengapa ia tidak ingin menuruti permintaan terakhir Ayahnya.” Pandangan Taeyeon semakin menerawang. “Aku yakin ia tak menceritakan hal ini padamu.”

Tak ada tanggapan dari Seohyun. Namun di dalam hatinya, wanita itu mengangguk membenarkan perkataan Taeyeon.

“Jika perkataan Ibunya tak mau ia dengar.” Taeyeon menjeda kalimatnya dan menoleh Seohyun. “Kuharap kau sebagai istrinya mau membantuku.”

“Aku rasa Kyuhyun tidak bisa dipaksa, Bu.”

“Aku tahu. Tapi bagaimana pun aku tidak bisa selamanya menjalankan bisnis penginggalan Ayah Kyuhyun. Apa yang tersisa dari keluarga Cho kalau bukan pabrik tersebut?”

Seohyun meraih tangan Taeyeon dan meremasnya pelan. Senyum optimisnya ia tujukan kepada wanita di depannya yang sudah ia sayangi layaknya ibunya sendiri. Seohyun tak berkata apa-apa, namun senyumnya bisa membuat Taeyeon sedikit merasa lega.

.

.

.

.

Sinar matahari sore selalu menjadi kesukaan Seohyun. Kilau emasnya yang tiada dua selalu tampak indah dan sayang untuk dilewatkan. Di depan jendela besar di dapur, Seohyun duduk memangku tangannya dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Aroma teh hangat di sampingnya yang baru ia seduh pun mendukung suasana tersebut. Menenangkan.

Pandangan Seohyun turun ke ponselnya yang terletak di samping cangkir teh. Lama sekali Seohyun menatap benda tersebut, berharap pria yang tanpa sadar ia rindukan mengirimkan sebuah sapaan selamat sore atau sebuah pertanyaan tentang apa yang dilakukan Seohyun sekarang. Lebih dari seminggu, ia tak pernah berhubungan lagi dengan pria itu.

Tangan Seohyun pun terulur meraih ponselnya. Namun tetap, ia hanya bisa menggenggam benda tersebut sebagai pelampiasan rasa rindunya.

Menyiksa sekali.

Sebuah derap langkah yang mendekat membuat Seohyun menoleh. Tampak di sana Kyuhyun berdiri mengenakan baju santai dengan rambut yang masih setengah basah. Wajah pria itu tampak begitu segar, berbeda dengan beberapa saat yang lalu saat ia baru datang dari Busan.

“Dimana Ibu?”

Seohyun sedikit terkesiap. Wanita itu menegakkan tubuhnya. “Menemui anak temannya.”

“Siapa?” tanya Kyuhyun lagi.

“Aku tidak tahu, tapi Ibu bilang rumah temannya yang hanya tiga blok dari sini.”

Kyuhyun tampak berpikir, sebelum berjalan mendekati lemari es.

Seohyun memalingkan mukanya, memilih lagi pemandangan halaman belakang yang terbanjiri sinar matahari sore sebagai objek pandangannya. Melihat Kyuhyun entah mengapa membuat hatinya berkecamuk. Segala emosinya berbenturan satu sama lain hingga membuat Seohyun sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Walaupun sudah tiga hari tak bertemu dengan pria itu, emosi itu masih tersimpan tatkala Seohyun melihat Kyuhyun. Emosi yang Seohyun sendiri tidak tahu bagaimana menjabarkannya.

Dering ponsel yang beradu dengan meja kayu tersebut membuat Seohyun terjingkat. Sesaat setelah ia membaca nama yang tertera di sana, senyumnya tersungging lebar. Suasana hatinya pun berubah cerah. Dengan segera Seohyun beranjak dari kursi dan berjalan menuju halaman belakang.

Dari jendela dapur, Kyuhyun memperhatikan baik-baik Seohyun yang sedang berbicara lewat ponsel di halaman belakang. Walaupun membelakanginya, Kyuhyun tahu bahwa wanita itu tengah tertawa jika dilihat dari pundaknya yang sesekali berguncang. Perkiraan Kyuhyun pun diperkuat saat Seohyun membalikkan badannya sambil terlihat menawan tawa dengan cara menutup mulutnya. Seohyun nampak tersipu, terkadang wanita itu juga nampak kehabisan kata-kata jika dilihat dari caranya menggigit bibir bawahnya. Pemandangan kali ini, sungguh beda dengan saat ia memandang Seohyun di dapur beberapa saat yang lalu. Sangat berbeda.

Kyuhyun meletakkan sodanya di samping cangkir teh Seohyun. Tanpa ia sadari, otaknya tengah mengira-ngira siapa yang mampu membuat Seohyun terlihat begitu sumringah seperti itu?

Pria bernama Kim Kibum itu kah?

.

Seohyun menggenggam ponselnya seraya masuk kembali ke dalam rumah dengan sumringah. Setelah berhari-hari tak berhubungan, Kibum meneleponnya dan mengajaknya keluar untuk makan besok siang. Bahagia? Tentu saja. Rindunya terhadap pria itu akan terbayarkan besok. Ya, besok.

Tepat saat ia menutup pintu dapur, Seohyun melihat Kyuhyun yang juga sedang menatapnya. Seohyun mendadak kaku, ia bahkan sempat tidak melakukan apa-apa selain menghindari tatapan suaminya. Kekakuan tubuhnya bertambah saat Kyuhyun berjalan mendekatinya dan berhenti tepat di depannya.

Seohyun sedikit mendongak, namun Kyuhyun tetap diam tak mengucap apa-apa. Raut wajah pria itu pun juga tetap tenang tanpa emosi. Ada apa ini? Seohyun yakin Kyuhyun tidak akan melakukan hal ini tanpa alasan. Namun apa? Seohyun juga tidak bisa menemukan jawaban tersebut dengan waktu yang singkat. Merasa risih, Seohyun mencoba menghindar. Namun gerakan tangan Kyuhyun lebih cepat. Pria itu meraih pundak dan pinggang Seohyun, lalu menundukkan kepalanya. Seohyun mengira Kyuhyun akan menciumnya, namun hal itu tak terjadi kala suara Taeyeon menggema di sana.

“Kalian sedang sibuk?”

Ah… jadi lagi-lagi karena Ibunya?

Baik Kyuhyun dan Seohyun menoleh Taeyeon yang tidak sendirian. Ada wanita yang Seohyun kenal di sana, menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca.

Raut wajah Kyuhyun nampak terkejut. Pria itu pun melepaskan pegangannya dan berjalan mendekat. “Yuri?”

Seohyun kembali membeku saat tangan Kyuhyun melepaskan pundaknya. Jika beberapa saat yang lalu ia merasa bingung, entah mengapa ada sedikit rasa ketidakrealaan saat kedua tangan besar itu terlepas dari pundak dan pinggangnya. Ditambah lagi, saat nama wanita itu terucap dari mulut Kyuhyun.

“Hai,” sapa balik Yuri.

“Aku yang terpaksa menjemputnya ke sini. Aku tak tahan dengan berbagai alasannya di telepon,” ucap Taeyeon.

Kyuhyun menoleh Taeyeon.

Taeyeon melanjutkan ucapannya seraya membelai rambut Yuri. “Dia bilang dia sibuk sampai hanya bisa mengubungiku lewat telepon tanpa bisa mengunjungiku ke sini. Aku sama sekali tidak mempercayainya. Dan benar saja, dia hanya sibuk dengan anjingnya saat aku datang ke rumahnya.”

Baik Taeyon dan Yuri langsung tertawa. Kyuhyun hanya tersenyum mendengar cerita dari Ibunya.

Seohyun merasa jauh. Baik tubuh dan raganya seolah tak ada di sana. Yuri. Selain dekat dengan Kyuhyun, wanita itu pun juga dekat dengan Taeyeon. Cara Taeyeon membelai rambut Yuri membuat Seohyun sadar akan posisinya sekali lagi.

Ya, ia memang bukan bagian dari keluarga ini.

34 Tanggapan to “BLACK ROSE [CHAPTER 6]”

  1. hoir Mei 16, 2016 pada 4:35 pm #

    Ada lagi pengganggu… udah seosuka sama kibum sekarang nambah yuri. Malah tu ibu kyu deket banget lgi sama yuri. Pan seo eonnie merasa tersisihkan
    Nice

  2. Nisa Maret 15, 2016 pada 5:08 pm #

    Yaaah… Pengganggunya nambah,,, Jangan bilang kalau Kyuhyun suka sama Yuri…
    Udah cukup Seo suka sama Kibum, Kyu jangan suka sama siapa-siapa selain Seo *eh😀

  3. Haznita Utami Februari 28, 2016 pada 6:31 pm #

    sama sama udh mulai cemburu yaaa ~
    aku rasa kyu sama yuri punya perasaan deh dulu .. ah ntahlah ! penasaran bgt !!!

  4. kimchan428 Februari 24, 2016 pada 4:31 pm #

    Akhirnya yang di tunggu2 muncul lagii.. aku gak sabar baca kelanjutannya..

  5. fisakurakyu Februari 17, 2016 pada 1:18 pm #

    lama tak baca jdi hampir lupa ma ceritanyya…untung d lanjut…………moga para tetua g bikin masalah..

  6. sooyeon_choi Januari 30, 2016 pada 1:30 pm #

    Akhirnya dilanjutin juga ff nya…
    Agak gimana gitu sama karakternya Seohyun Eonnie, yang agak takut-takut sama Kyuhyun Oppa..
    Aduh, ada Yuri Eonni…
    Keep writing…

  7. Anzai rena Januari 11, 2016 pada 4:44 am #

    maaf sy koment di akhir doang..
    but sy ikutin ceritanya dari awal..
    dan ceritanya sngat menarik..
    next part jngan lama2 yaa (y)

  8. Zia Januari 10, 2016 pada 9:27 am #

    Masih seru ^^mohon dilanjut

  9. kyumaelf Januari 9, 2016 pada 7:40 pm #

    bagus banget cuma sayang lama update

  10. sk Januari 9, 2016 pada 4:55 am #

    aigoo ini ff udah lama bnget ga dlanjut huhuhu jdi lupa ama critanya

  11. Yusniar Desember 30, 2015 pada 10:26 am #

    Eonn akhirnya balik lagi. Udah lama gak baca black rose hiks. Ahhh moment SK nya di tunggu lohhhh. Aku ufah gregetan wkwwk. Jangan lama lama ya eonn next partnya^^

  12. ZTA Desember 27, 2015 pada 10:49 pm #

    ya ampun nunggu ff ini keluar lama banget ampe lupa ama ff ini
    ditunggu kelanjutannya ya thor

  13. tazmadi Desember 25, 2015 pada 2:17 am #

    aaa akhirnya di post jg ff ini,next eonnie

  14. aista Desember 20, 2015 pada 3:16 pm #

    akhir setelah sekian lama nunggu di post juga, sampe’ hampir lupa ma jalan crita nya ._.

    Di tnggu kelanjutan nya eoni, fighting ne🙂

  15. nesyu Desember 20, 2015 pada 1:20 am #

    Waaaah, Kenalkan aku reader baru.. Ffnya seru, seokyu ky sama2 jeli ke kibum+yuri,, brarti sbnrnya mereka saling suka dong ^^

  16. wahyu Desember 19, 2015 pada 7:53 am #

    Kpan y mrka bz fallin love y…dah dteng org k 4 jg…lnjut..smnat y thor wat slesaiin crtaya..

  17. lusi Desember 16, 2015 pada 12:05 pm #

    aaaaaaaakkkkkhirrrrrnyyyaaa
    tambahin yadong yadong dong unnn wkwkwkkw

  18. lusi Desember 16, 2015 pada 12:00 pm #

    setelah sekian lama akhirnyaaaaa YaaAllah, kemana aja unn? jarang jarang ada ff kek gini, seokyu shipper banget nih. semangat buat ngelanjutinnya unn, jangan lama lama tapi yaa. ada yadong yadong nya unn, wkwkwk

  19. susan ayuni Desember 16, 2015 pada 5:44 am #

    kangen dengan ff ini .. semoga cepat di post next part 7 nya .. hwaiting pwnulis !

  20. Anya Desember 8, 2015 pada 12:55 pm #

    Keren bangettt. Wait satu tahun :’
    Lanjut minnn

  21. Roeskyu Desember 6, 2015 pada 2:45 pm #

    ahh..bingung dgn perasaan seokyu nih…yuri ma yesung aj deh..jgn ganggu seokyu yah..kibum gmn dong…jebal lanjut deh critanya drpd penasaran..gumawo

  22. f.devie Desember 6, 2015 pada 12:55 pm #

    Iseng2 buka page ini lg, akhirnya lanjutannya ff black rose di update jg 😄😄
    Hubungan seokyu semakin bikin penasaran, yuri bakalan jd orang ketiga kah diantara seokyu…
    Ditunggu lanjutannya… Jgn lama2 yaaa 🙏🙏😉

  23. ersi yolanda Desember 5, 2015 pada 6:09 am #

    aaa seohyun sama kyu itu udh sama sama suka ya? seru ff nya dilanjut ya thor fighting
    di Next secepatnya di tunggu banget yaa

  24. kyulovely Desember 5, 2015 pada 12:03 am #

    Ff nya update setahun sekali 😂 tp welcome back ya authornim…. Akhirnya nya dilanjutkan… Masih bingung sama perasaan seokyu disini… Mereka udah mulai saling suka tapi masih ada orang ketiga yg ada di dekat mereka. Ga suka deh hubungan antara Seohyun sama kibum…

  25. zakhiya19 Desember 1, 2015 pada 6:22 pm #

    Eh gak sengaja lagi kangen sama ff black rose akhirnya dilanjutin 😊😊😊
    Kyu masih misterius samq masih kaku cepet buat seo jatuh cinta nanti nyesel kalo udah diambil kibum

  26. neanra November 30, 2015 pada 6:01 pm #

    Ini namanya iseng2 berhadiah, ga tau knp tiba2 pengen buka blog ini dan jeng jeeng … Part 6 terpampang
    ceritanya makin seru krn ketambahan Yuri, mkn penasaran
    moga2 ada wkt yah biar lanjutannya ga nunggu setaon lg (^_^)

  27. Anonymous November 25, 2015 pada 1:13 pm #

    Hanjeeeerrr bagian terakhirnya kayak ada pait paitnya gitu ya :’v eh bdw gw baca ff ini udh lama, wkt gw masih jd sider wks :v maafin eaps._.v ditunggu pisannn chp 7

  28. fauziyahfarkha November 19, 2015 pada 11:40 am #

    Ahirnyaaaaa seneng banget ff ini dilanjuttt
    Huaaaaaa
    Sekarang ada yuri
    Itu si yuri kayanya palling in lop sama abang cho ya??
    Hiks hiks aku harap alasan kyuhyun keluar dari *kerjaannya* itu gara2 seohyun bukan yuri

  29. linslinaw November 14, 2015 pada 3:22 am #

    akhirnyaaaaaaaa dilanjut lagi senengnyaaaaaaa😀
    makin kesini hub mereka makin menurun … seo sibuk dengan kibum, kyu pun jd sibuk gara gara ada yuri… aigoooo segeralah bersatu yah seokyu ga pengen bgt sadend huhuhu
    ditunggu next nya eonni😀 jangan lama lama hehehe

  30. apriany November 7, 2015 pada 12:51 am #

    yaampun akhirnya ff ini dilanjut lagi >< semoga next gak terlalu lama lg yaaa hehe
    kyuhyun dan yuri kayaknya punya hubungan ya di masa lalu? abis dr tatapan yuri yg gak biasa ke kyuhyun bikin curiga.
    dan seohyun yg masih mengharapkan kibum atau bisa dibilang suka sm kibum akan bantu kyuhyun untuk bisa terlihat mengeluarkan apa yg dia rasain kah ke seohyun? hehe walaupun menurutku seohyun blm punya rasa apa apa ke kyuhyun tp semoga perasaan itu bisa segera muncul

  31. GamegaGyu November 6, 2015 pada 9:39 pm #

    Akhirnyaaaaaaa, update juga setelah sekian lama :’) aku masih nungguin iniiii, aaaaaaa kangeeeen, sekalinya muncul bikin cenat cenut gini. Seohyun suka kibum, Yuri masa lalunya kyuhyun. Hinggg Yuri mah sama yesung aja ih jangan deket2 sama kkyuhyun,sekalipun seo bahagia sama kibum tapi dia ngerasa cemburu liat kyuhyun sama cewek lain. Berarti ada rasa yaaa :3 Btw, kak chap ini agak banyak typo nih, tapi gapapa sih gak ganggu alur ceritanya juga😀 Sering2 update ff ini ya kaaaaak, aku nungguin selaluu, Semangaaaaat!

  32. amel sparkyu November 6, 2015 pada 1:24 am #

    huhuhu … akhirnya update juga ff ini.. oh tuhann… apa ini? kenapa yuri datang? yuri suka kyuhyun? kyuhyun suka yuri? berasa sedih juga kalau liat posisi seohyun terlupakan gitu😦
    oke, next part ditunggu unni. fighting!!

  33. Gyuuuu13 November 4, 2015 pada 1:09 pm #

    asliiii unn senenggg banget pas denger kalo ff nya udah dilanjut penantian nyaaaa akhir nya berhasilll hehe , seruuu bangetttt tapi pas tau tbc rasanya ga rela gitu yaaaaa ;( cepet lanjuttt unnnn jangan taun depan lagi lanjut nya :”) kutunggu ff muuuu ♡♡♡

  34. rosyochy November 2, 2015 pada 9:15 pm #

    Setelah sekian lama, akhirnya muncul juga, cepet di post ya eonni, aku udah ga sabar, kasian juga seohyun disini, yuri itu kayanya masa lalu kyuhyun ya? Ah pokoknya minta cepet lanjut deh ya, gomawo eonni, hwaiting!

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: