BLACK ROSE [CHAPTER 8]

21 Apr

Title : Black Rose

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr ]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it 

Length : 1 of ………

Rate : M (Mature/17+)

Genre : Romance/Angst/and little bit action

“BLACK ROSE”

Sesekali Kyuhyun mengubah posisi tidurnya untuk menghindari matahari. Namun sial, sinar terang yang berasal dari jendela besar kamar tidurnya sama sekali tak dapat dihindari. Menyerah, Kyuhyun pun memilih membuka mata dan beringsut duduk di atas sofa yang ia tiduri.

Selama beberapa saat Kyuhyun hanya mengusap wajah dan rambutnya. Sejujurnya ia masih sangat mengantuk. Ia baru masuk kamar pukul tiga dini hari, dan baru bisa memejamkan matanya pukul lima pagi. Sedangkan sekarang? Kyuhyun menolehkan kepala mencari jam dinding, pukul setengah tujuh. Menghela nafas, Kyuhyun berjalan menuju jendela untuk menutup gorden sehingga ia bisa melanjutkan tidurnya.

Kyuhyun baru saja akan menarik gorden sebelum matanya melihat mobil yang sangat ia kenali terparkir di halaman rumahnya. Kantuk yang Kyuhyun rasakan sebelumnya hilang, dengan segera pria itu turun tanpa menunggu detik selanjutnya.

Mau apa dia ke sini?

.

.

Sesekali Seohyun memperhatikan pria berkaca mata hitam lebar dan memakai bucket hat berawarna senada yang duduk di sudut kursi meja makan rumahnya. Pria itu tampak aneh, Seohyun tahu itu. Ia terlihat seperti akan bersiap memancing, tapi mengapa pria itu memakai jaket kulit?

“Apakah teh yang kuminta sudah selesai, Nona Seohyun?”

Seohyun gelagapan setengah mati. Tangannya bergetar saat menuang air panas. “Be-belum. Sebentar lagi.”

Pria itu tersenyum, lalu kembali mengamati sekitarnya.

Saat Seohyun menuangkan gula, telinganya mendengar langkah kaki yang terburu-buru menuruni anak tangga. Belum sempat ia menoleh, suara pria lain memanggil namanya dari ruang tengah.

“Seohyun?”

Kepala Seohyun menoleh Kyuhyun dan mendapati raut wajah yang tak terbaca dari pria itu. “Kyuhyun? Kau sudah bangun?”

Kyuhyun tak menjawabnya, melainkan menatap lekat ke arah pria lain yang ada di sana. “Dimana Ibu?” tanya Kyuhyun tanpa melihat lawan bicaranya.

“Keluar bersama teman-temannya. Katanya ingin berolahraga di taman komplek.”

Tatapan Kyuhyun tak lepas dari pria itu, dan pria itu pun turut mengembangkan senyum lebarnya untuk Kyuhyun. Merasa heran dengan tatapan Kyuhyun, Seohyun kembali membuka mulutnya.

“Ah… Paman ini, katanya dia adalah anak tetangga Ibu. Dia ke sini ingin mencari Ibu, tapi mereka belum sempat bertemu, makanya kuajak dia masuk ke dalam untuk menunggu Ibu sampai pulang.”

Pria asing itu mengangguk. “Benar sekali yang dikatakan Nona Seohyun. Biar kutebak, kau adalah Kyuhyun, kan? Wah… sekarang kau sudah besar ya? Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat.”

Seohyun tersenyum simpul, namun hal itu tak sama dengan yang dilakukan pria di sebelahnya. Wajah Kyuhyun tetap datar dari tadi, hanya mata pria itu yang terlihat menajam.

“Apa kau mengenalnya, Kyuhyun?” tanya Seohyun pelan.

“Tentu saja dia mengenalku, Nona Seohyun. Dulu dia masih sangat kecil saat aku sering membelikannya permen,” sahut pria asing itu seraya tertawa.

Seohyun lagi-lagi ingin tersenyum, namun urung saat ia belum melihat perubahan di wajah Kyuhyun.

“Seohyun, bisakah kau membersihkan kamar dan menyiapkan baju untukku?”

“Apa kau mengenalnya, Kyuhyun?” tanya Seohyun lagi lebih lirih. Air muka wanita itu kini berubah cemas.

Kyuhyun menoleh ke arahnya dan memandangnya lekat-lekat. “Ya, aku mengenalnya,” jawab Kyuhyun pelan, namun sangat menenangkan. “Aku ingin berbicara padanya setelah sekian lama tak bertemu, jadi bisa kau tinggalkan kami sebentar?”

Perlahan Seohyun mengangguk, raut cemasnya mulai pudar. Sebelum meninggalkan dua pria itu, Seohyun mengantarkan teh buatannya untuk pria asing yang bahkan setelah bermenit-menit mengobrol, ia belum tahu namanya.

“Terimakasih, Nona Seohyun.”

Seohyun tersenyum. “Sama-sama.”

“Ah… Senyummu manis sekali, mungkin itu yang membuat Kyuhyun terpikat kepadamu.”

Senyum Seohyun luntur seketika, ia tak tahu harus menjawab seperti apa. Dengan gugup, ia berpamitan kepada pria itu.

Kyuhyun tak pernah melepas tatapannya untuk pria itu. Setelah memastikan Seohyun cukup jauh dari sana, Kyuhyun pun mendekat.

“Apa maumu?”

Pria asing yang kini meminum teh-nya itu menatap Kyuhyun dengan tatapan tak percaya. “Tenang, kawan… Apa aku seperti hama bagimu sampai-sampai kau menyiapkan pistol di punggungmu seperti itu?”

“Aku tak butuh basa-basimu, Shindong. Cepat katakan apa maumu ke sini?”

Shindong terkekeh pelan. Pria itu melepas kacamatanya dan menatap Kyuhyun ramah. “Aku hanya ingin berkunjung.”

Kyuhyun mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke Shindong. “Alasanmu menjijikkan.”

“Woooow… santai, kawan,” ucap Shindong seraya kembali meminum teh-nya. “Kau tentu tidak ingin ada pertumpahan darah di sini kan?”

Wajah Kyuhyun mengeras. Tangannya yang mengacungkan pistol masih setia di sana.

Tatapan Shindong berubah prihatin. Pria tambun itu menyangga dagu dengan kedua tangannya. “Ada apa Kyuhyun? Kau tampak tak baik-baik saja.”

“Bukankah sudah pernah kubilang jangan pernah sentuh kehidupan pribadiku?”

Shindong menggeleng. “Bukan, bukan itu. Ada hal lain. Apa kau tak ingin membaginya padaku?”

Kyuhyun tak menjawab.

“Ayolah, kita bisa duduk santai untuk membicarakan ini tanpa harus kau mengacungkan pistol seperti itu.”

“Katakan dulu apa tujuanmu ke sini?”

Shindong menghela nafas berat. Pria itu menyandarkan punggungya ke kursi. “Aku ingin memastikan kalian baik-baik saja.”

“Kalian?”

“Ya. Kalian.” Shindong menjeda kalimatnya sesaat. “Kurasa mulai saat ini bukan hanya kau yang kupastikan baik-baik saja, Kyuhyun. Tapi ‘kalian’.”

Perlahan, Kyuhyun menurunkan pistolnya. Raut wajahnya melunak sebelum ia berlalu dari sana. “Tunggu di sini.”

.

.

Seohyun sedang mencincang daging saat Shindong yang sebelumnya melihat-lihat halaman belakang berjalan mendekatinya.

“Apa yang ingin kau masak, Nona Seohyun?”

Seohyun tersenyum. “Tumis daging.”

“Wah… kelihatannya enak.” Shindong menyandarkan pinggangnya di tempat cuci piring. “Kau suka memasak?”

“Terkadang.”

“Kau pasti pandai memasak.”

Seohyun menggeleng. Senyumnya masih belum pudar. “Ibu yang mengajarkannya.”

Shindong mengangguk-anggukkan kepala. Ini sudah memasuki menit kelima sejak Kyuhyun naik ke lantai dua, namun batang hidung pria yang lebih muda beberapa tahun darinya itu masih tak tampak.

“Apa memang Kyuhyun lama jika mandi?”

Gerakan tangan Seohyun sempat terhenti. “Tidak,” jawabnya cepat. “Mungkin sebentar lagi ia turun.”

“Begitu ya?” gumam Shindong. “Ngomong-ngomong, sejak kapan kalian menikah Nona Seohyun?”

“Hampir dua bulan.”

“Oh… kalian pasti masih mesra-mesranya.”

Seohyun menoleh, namun tak tahu harus menyahut seperti apa.

“Apa Kyuhyun masih nakal sperti dia kecil dulu?”

“Tentu saja tidak. Itu kan masa kecilnya.”

“Jadi?” Shindong menahan tawanya.

Tangan Seohyun kembali berhenti seketika. Wanita itu menatap Shindong dalam-dalam. “Suamiku pria yang baik. Dia melindungiku, dan selalu memperhatikanku,” jawab Seohyun mantap. Tak ada kebohongan yang terpancar dari matanya, wanita itu mati-matian berusaha menampilkan senyum tulusnya.

Shindong mengangguk-angguk seraya tersenyum simpul. “Aku percaya. Dia memang pria yang akan selalu melindungi keluarganya.”

“Shindong.”

Baik Shindong dan Seohyun kompak menolehkan kepalanya ke arah Kyuhyun yang baru datang seraya memakai jaket biru gelapnya.

“Ayo berangkat,” ucap Kyuhyun.

Seohyun nampak heran. “Kalian mau ke mana?”

“Sarapan di luar.”

Sepasang mata Seohyun berubah sendu. Wanita itu hanya menelan ludahnya seraya mengangguk pelan.

Shindong meraih kacamata hitamnya dan mendekati Kyuhyun. “Ayo.”

Mata Kyuhyun beralih ke Seohyun. “Hubungi aku jika ada apa-apa.”

Seohyun mengangguk. “Tunggu,” cegahnya saat Kyuhyun baru saja membalikkan badan. Seohyun berjalan menghampiri Kyuhyun seraya mengusap kedua tangannya di apron yang ia kenakan. Saat jarak mereka kian dekat, Seohyun berjinjit dan mencium singkat pipi kiri Kyuhyun.

“Hati-hati.”

Kyuhyun sempat mengerjap, namun hanya sesaat sebelum ia menggumam dan berjalan keluar rumah diikuti Shindong di belakangnya.

.

.

“Kenapa tidak sarapan di rumahmu saja? Istrimu tadi masak lebih enak dari sarapan yang kau belikan untukku sekarang.”

Shindong menatap burger di tangannya dengan tidak rela. Ia kini tengah duduk berdampingan dengan Kyuhyun di taman kota. Di depannya, sebuah danau luas dengan puluhan angsa terlihat begitu bahagia dengan cuaca pagi ini yang begitu sejuk.

“Masih untung kau kubelikan sarapan,” sahut Kyuhyun.

“Tau kau hanya membelikanku burger dan kopi seperti ini, aku akan tetap di rumahmu untuk menikmati tumis daging buatan istri-”

“Shindong,” sela Kyuhyun cepat. Pria itu menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Berhenti membicarakan dia. Sekarang jelaskan apa tujuanmu datang ke rumahku pagi-pagi!”

Shindong memperhatikan Kyuhyun lekat-lekat. “Mungkin inilah masalahmu,” ucapnya lirih.

Kyuhyun menoleh Shindong, memasang wajah heran versinya.

“Semuanya berhubungan dengan wanita itu, kan?”

Mulut Kyuhyun belum terbuka sepenuhnya sebelum Shindong mendahuluinya.

“Untuk apa kau memungut pelacur Donghae sebagai istrimu?”

Rahang Kyuhyun mengeras. “Sudah kubilang berhenti membicarakannya, Shindong.”

“Pembicaraan kita pun nantinya akan membahas dia, Kyuhyun.” Kini Shindong memandang Kyuhyun tak suka. “Kuharap dulu kau cukup sadar bahwa kita akan terlibat pembicaraan seperti ini sebelum kau menyeret wanita itu ke dalam kehidupanmu.”

Tak ada sanggahan lagi dari Kyuhyun. Pria itu memilih memperhatikan para angsa di depannya.

“Apa kau tak memikirkan nyawa Seohyun setelah para orang tua itu tahu kau sudah menikahinya?”

“Kami tak menikah sebagaimana mestinya.”

“Maksudmu?”

“Hanya untuk Ibuku.”

Shindong terdiam sesaat, membuang muka ke arah lain. “Terlepas dari tujuanmu, saat ini kau sudah membuat nyawanya terancam.”

Kyuhyun menundukkan kepalanya, kali ini memilih mengamati bebatuan di bawahnya. “Sebenarnya apa yang mereka inginkan?”

“Sederhana. Kau kembali menjalankan tugasmu seperti sebelumnya.”

“Aku harus bagaimana supaya mereka bisa memahamiku?”

Shindong menoleh Kyuhyun. Sepasang mata pria itu menyiratkan keprihatinan. “Mereka tidak akan mau kehilangan orang terbaiknya. Mengatakan kepada mereka tentang kondisimu yang sekarang pun akan semakin membahayakan orang-orang yang kau punya.”

“Aku bersumpah akan membakar mereka semua jika mereka menyentuh Ibuku.”

“Hei, ini bukan hanya Ibumu. Ini juga tentang Seohyun, kau ingat?”

Kyuhyun menatap Shindong, namun hanya sesaat sebelum ia kembali menatap ke depan. “Yang kumiliki hanya Ibuku, Shindong.”

Shindong mendengus. “Brengsek sekali kau mengatakan hal itu.”

“Aku tak peduli.”

Kali ini wajah Shindong turut mengeras. Berkali-kali pria itu menghela nafas kasar untuk meredam emosinya. “Jika seperti itu, kusarankan jangan pernah kau menyakiti hatinya. Lebih baik juga jangan kau lambungkan hatinya jika dia sekedar tameng untukmu dan keluargamu.”

“Kau tidak perlu menyusahkan diri untuk ikut campur di dalam kehidupanku, Shindong.”

Shindong memejamkan mata. Emosinya kembali memuncak sehingga untuk mengambil nafas pun ia merasa kesulitan. “Baiklah, kita selesaikan di sini secepatnya karena sekarang aku sudah ingin menenggelamkan wajahmu di danau saja.”

Kyuhyun meminum kopinya.

“Para orang tua itu kini sudah mengirim beberapa orang untuk melacak keberadaanmu. Mereka cukup kesulitan untuk mendapatkan info tentangmu dariku, maka dari itu mereka bergerak dengan cara mereka sendiri.”

“Sampai mana mereka bergerak?”

“Aku tak tahu,” jawab Shindong enggan.

“Ada lagi?”

Shindong lagi-lagi membuang muka. “Tak ada. Kau jelas tak tertarik dengan alasan utamaku ke sini.”

Kyuhyun menghela nafas pelan. Pria itu turut membuang muka ke arah lain.

“Bisa kita kembali ke rumahmu sekarang?” tanya Shindong.

.

.

Seohyun memandang bunga-bunga di depannya dengan perasaan kosong. Ia membatin, mengapa warna bunga-bunga di depannya ini beragam dan banyak? Mereka hanyalah bunga, bukan? Sedangkan dirinya, sebagai manusia ia tak merasa memiliki beragam warna seperti itu.

Ah… bahkan dulu saat ia masih menghibur para pria hidung belang pun, hatinya tak sekosong ini.

Ingatan Seohyun beralih beberapa saat yang lalu ketika ia memilih mencium pipi Kyuhyun sebagai bahan sandiwara yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang istri yang sangat mencintai pria itu. Penuh sandiwara, hidupnya kini penuh dengan sandiwara murahan yang ia ciptakan sendiri. Perlahan namun pasti, Seohyun membencinya. Sejak dulu ia membenci kebohongan, dan sekarang ia bahkan jijik dengan dirinya sendiri yang selalu bersandiwara dan menebar kebohongan.

Ya Tuhan… terkadang rasanya ia ingin kembali menjalani kehidupannya yang dulu. Walaupun gelap dan penuh dengan dosa, namun Seohyun bisa menjadi dirinya sendiri sebagaimana ia mau. Bukan seperti sekarang, layaknya boneka yang tak pernah tahu kapan akan dibuang.

Apakah nanti Kyuhyun akan membuangku?

Suara deru mobil yang memasuki pekarangan rumah membuat kepalanya menoleh enggan. Sebentar lagi. Sandiwaranya akan ia mulai lagi sebentar lagi.

.

Kyuhyun baru saja menutup pintu mobilnya sebelum ia menoleh seseorang yang tengah berjalan mendekatinya.

“Kalian cepat sekali kembali?”

“Shindong harus segera pulang.”

“Oh…” Seohyun kini mengamati seseorang yang tengah keluar dari pintu mobil seraya melepas kacamata. “Tapi Paman belum bertemu Ibu. Apa yakin harus segera pulang?”

Shindong tersenyum, lalu berjalan mendekati Seohyun. “Tak apa, Nona. Mungkin bisa lain kali.”

Seohyun tampak bingung, ia ingin berbicara sebelum Shindong mendahuluinya.

“Ngomong-ngomong, apakah tumis dagingmu sudah matang?”

Kepala Seohyun mengangguk.

“Bolehkah aku meminta sedikit untuk bekal perjalanan pulang?”

Lagi-lagi Seohyun nampak bingung. Wanita itu menoleh ke arah Kyuhyun untuk mencari jawaban, namun respon datar pria itu sama sekali tak membantu.

.

“Ini, Paman. Nasi dan tumis dagingnya sudah kupisahkan. Kau bisa memakannya sampai jam makan siang saja, selebihnya aku tak bisa menjamin rasanya akan sama.”

Shindong terkekeh seraya menerima uluran bingkisan dari Seohyun. “Terimakasih, Nona.”

Seohyun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, aku akan pulang sekarang. Tolong sampaikan salamku untuk Bibi.”

“Pasti,” ucap Seohyun mantap.

Shindong berjalan menuju pintu rumah. Di belakangnya, Seohyun mengekor dan berhenti di depan Kyuhyun yang duduk di ruang tengah. Kyuhyun mendongak.

“Tak ikut mengantarnya?” tanya Seohyun.

Kyuhyun nampak enggan, namun pria itu berdiri juga dan mengikuti Seohyun yang berjalan menuju halaman depan.

“Hati-hati, Paman. Jika lelah jangan memaksakan diri.” Seohyun mengikuti Shindong dan berhenti di belakang pria itu saat Shindong membuka pintu mobil. “Semoga selamat sampai tujuan.”

Shindong membalikkan tubuh, melirik sekilas ke arah Kyuhyun yang berdiri di depan pintu. “Terimakasih sekali lagi. Kau sangat baik, Nona Seohyun,” ucap Shindong seraya menatap Seohyun penuh arti.

Seohyun mengangguk dengan senyum tulusnya. Shindong sudah akan masuk ke dalam mobil, sebelum pria itu berbalik dan menatap Seohyun.

“Ngomong-ngomong, jangan panggil aku Paman.”

Mata Seohyun membelalak.

“Memang usiaku lebih tua dari Kyuhyun, tapi Paman juga terlalu tua untukku.” Wajah Shindong menyiratkan permohonan. “Panggil aku Oppa saja, ya?”

Tawa lirih Seohyun meluncur begitu saja. Shindong pun juga turut tertawa. Pria tambun itu lalu masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.

“Aku berangkat.”

“Hati-hati,” sahut Seohyun.

Shindong melajukan mobil dengan perlahan menuju gerbang. Tak ada sapaan terakhir untuk Kyuhyun, begitu pula Kyuhyun yang masih setia dengan wajah datarnya berdiri di depan pintu rumah. Saat mobil Shindong berlalu dari jangkauan pandangannya, Seohyun melihat Kyuhyun memasuki rumah begitu saja.

Sedikit pertanyaan melintas di kepala Seohyun.

Pertemanan macam apa itu?

.

.

.

Hari-hari selanjutnya dijalani Seohyun dengan perasaan datar seperti sebelum-sebelumnya. Entahlah, wanita itu hanya merasa semakin hari, ia semakin mati rasa dengan kehidupan yang ia jalani sekarang.

Sejak malam dimana Kyuhyun mengancamnya, Seohyun seolah-olah menutup lini dengan dunia luar. Ia tak pernah keluar rumah bahkan untuk membeli sesuatu. Berkali-kali Taeyeon mengajaknya untuk menemani wanita paruh baya itu ke supermarket atau ke pabrik, namun Seohyun selalu mencari alasan lain. Terkecuali jika Taeyeon mengajaknya ke rumah Victoria. Seohyun merasa, di rumah yang penuh dengan kehangatan itulah ia bisa merasa tenang. Tak ada intimidasi dari Kyuhyun, ataupun rasa lain yang berhubungan dengan pria itu. Berada di rumah Victoria merupakan pengalihan perasaan agar Seohyun sesekali dapat merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga. Ditambah lagi dengan adanya Min Ah, Taemin, Yoona dan Yesung. Sehari berada di rumah itu seakan-akan mengobati kebekuan hatinya selama berminggu-minggu. Walaupun ia sedikit menjaga jarak dengan Leeteuk, toh pria itu tetap menyambutnya dengan hangat. Beda dengan Kyuhyun yang notabennya adalah suaminya sendiri.

“Kudengar dari Ibu, Bibi semakin sering berolahraga di pagi hari.”

Seohyun yang sedang bermain dengan Taemin menoleh, lalu tersenyum. “Benar. Semakin hari dia semakin terlihat bersemangat, Unnie.”

Min Ah mengangguk-angguk. “Itu bagus. Pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti itu.”

“Apa?”

“Entahlah.” Min Ah berdiri dan menghampiri ranjang Yoona. “Sesuatu yang ia nantikan mungkin?”

“Cucu mungkin?”

Baik Seohyun dan Min Ah menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Leeteuk berjalan mendekat, lalu menggendong Taemin yang memanggil-manggilnya.

“Halo, Jagoan,” ucap Leeteuk sambil melempar pelan tubuh Taemin ke atas. “Apa kau makan dengan benar hari ini?”

Taemin mengangguk seraya tertawa. Lucu sekali.

“Sayang, kenapa aku tak tahu kalau kau sudah datang?” Min Ah menghampiri Leeteuk dan melepaskan dasi pria itu.

“Kalian terlalu asyik di sini, mana mungkin kau tahu aku datang?”

Seohyun terkikik melihat Min Ah yang berubah cemberut sambil menggumam maaf. Ah… indah sekali keluarga ini.

“Apa Ibu sedang arisan?”

Min Ah mengangguk.

“Kau datang sendirian, Seohyun?”

Pertanyaan Leeteuk membuat Seohyun sedikit gugup. “I-iya.”

“Dimana Kyuhyun?”

“Sedang berdinas di luar kota. Yessung-Oppa yang menjemputku siang tadi.”

Leeteuk mengangguk pelan, lalu sedetik kemudian wajahnya berubah jenaka. “Jadi… bagaimana jika yang dinantikan Bibi adalah seorang cucu?”

Wajah Seohyun pias. Bibirnya terbuka tertutup berkali-kali. “Yah… mung-mungkin itu yang memang dinantikan Ibu.”

“Lalu?”

Seohyun kini merasa disudutkan walau Leeteuk tak serius.

“Sudahlah kau ini! Jangan menggoda Seohyun!” ucap Min Ah. “Mereka kan juga masih berusaha.”

Leeteuk tertawa keras, lalu meminta maaf kepada Seohyun sebelum pergi dari ruang tengah bersama Taemin.

Untuk sesaat, Seohyun merasa lega. Pertanyaan seperti tadi memang bukan yang pertama kalinya, namun Seohyun merasa tidak tahu harus menjawab bagaimana selama ini. Hubungan ini rumit. Ia dan Kyuhyun memang sepasang suami istri, namun tidak sebagaimana mestinya. Tidak seperti Leeteuk dan Min Ah, dan tidak seperti yang lain.

Kyuhyun dan Seohyun hanyalah dua orang yang mengambil keuntungan yang tidak pantas juga jika dikatakan keuntungan. Memang keuntungan apa yang mereka berdua terima? Tak seperti pasangan pernikahan kontrak yang lain ataupun pernikahan dua orang karena perjodohan keluarga. Keuntungan yang mereka terima terkesan kasat mata dan berat sebelah. Keuntungan mereka adalah kasih sayang seorang Taeyeon. Hanya itu. Kyuhyun yang ingin mendapatkan kasih sayang Taeyeon lebih lama, dan Seohyun yang ingin mendapatkan kasih sayang seorang Ibu yang tak pernah ia kecap sebelumnya. Itu saja, tidak lebih.

Namun semakin ke sini Seohyun merasa, keuntungan yang ia peroleh selama ini tak sanggup untuk menutup perlahan luka hatinya yang semakin lama semakin melebar dan mengeras.

.

.

“Ah… lelah sekali.”

Seohyun yang sedang mengunci pintu rumah segera menoleh Taeyeon yang kini duduk di sofa ruang tamu. Raut khawatir segera terukir di wajah Seohyun, apalagi mendapati Ibunya yang terlihat pucat.

“Ibu, mau kubuatkan sesuatu?”

Taeyeon menyandarkan lehernya ke sandaran sofa dan menggeleng. Mata wanita itu terpejam.

“Mau kupijat?”

Mata Taeyeon terbuka, lalu tersenyum menatap Seohyun. “Boleh,” ucap Taeyeon sambil mengulurkan sebelah kakinya.

Seohyun tersenyum kecil meraih kaki Taeyeon dan mulai memijatnya perlahan.

“Padahal aku hanya pulang dua jam lebih terlambat, tapi mengapa rasanya lelah sekali, ya?”

“Setelah ini jangan terlalu lelah, Bu. Lebih baik Ibu pulang daripada menuruti permintaan teman-teman Ibu yang masih muda.”

Taeyeon terkikik. “Ya, mereka masih muda dan sehat. Tidak seperti aku.”

“Ibu terlihat sehat.” Seohyun menatap Taeyeon lurus-lurus. “Dan Ibu juga masih terlihat muda.”

“Sudahlah, Seohyun. Jangan coba-coba mengibuliku.”

Giliran Seohyun yang terkikik.

“Tapi… aku kan sudah berolahraga, mengapa malah gampang lelah, ya?”

Seohyun tak menyahut, karena jujur ia tak paham harus menjawab apa.

“Sudahlah, aku tidur saja,” ucap Taeyeon sambil menurunkan kakinya. “Besok pagi aku ingin berolahraga lagi.”

Taeyeon berjalan menuju tangga, namun langkahnya terhenti. “Oh iya, malam ini Kyuhyun pulang, kan?”

Seohyun mengangguk.

“Tolong suruh dia menemuiku setelah dia makan malam.”

“Iya, Bu.”

Setelah itu, Taeyeon melanjutkan langkahnya.

.

.

Pukul Sembilan tepat, saat Seohyun berada di ruang tengah memeluk setoples keripik kentang seraya melihat drama action favoritnya, suara deru mobil terdengar begitu nyaring dari halaman rumah. Seohyun menoleh arah pintu sesaat, lalu menghela nafas berat seraya menyandarkan punggungnya ke sofa.

Sungguh. Seohyun masih ingin beberapa hari lagi menikmati hari-harinya tanpa kehadiran Kyuhyun.

Meletakkan toples keripik kentangnya, Seohyun berjalan menuju dapur dan menyalakan lampu ruangan tersebut. Sudut matanya hanya melirik siluet Kyuhun yang baru masuk dan kini berjalan mendekat.

“Kau sudah makan?”

Kyuhyun menghentikan langkah dan menatap Seohyun. Pria itu diam sejenak sebelum berkata. “Dimana Ibu?”

“Sudah naik ke kamarnya. Ibu ingin kau menemuinya setelah kau makan malam,” sahut Seohyun.

Helaan nafas Kyuhyun cukup bisa didengar oleh Seohyun yang berdiri di belakang bar dapur. Sedikit rasa takut menyelimuti Seohyun. Apakah ia salah bicara?

Kyuhyun mendekat ke meja bar dapur. “Apa yang bisa kumakan?”

“Cu-cukup banyak bahan di lemari es.”

“Kalau begitu buatkan aku satu untuk makan malam.”

Seohyun hanya memandang punggung Kyuhyun yang menuju arah tangga. Entah benar atau tidak, Seohyun merasa Kyuhyun terlihat begitu lelah walaupun hanya sekejap ia melihat wajah pria itu dari dekat.

.

“Masih lama?”

Teriakan Seohyun tertahan di tenggorokkannya. Wanita itu terjingkat dan menjatuhkan pisau yang hampir saja mengenai kakinya.

“Astaga, kau mengejutkanku!” pekik Seohyun sambil berbalik tanpa merasa takut. Sedikit jengkel dengan suara Kyuhyun secara tiba-tiba tanpa didahului suara langkah kaki atau sebagainya.

Kyuhyun tak merespon, melainkan hanya melihat salah satu jari Seohyun yang meneteskan darah. “Bodoh. Jarimu teriris.”

Seohyun mengangkat tangan kirinya dan langsung merasakan perih di ujung jari telunjuknya. Sial, mengapa setiap luka baru terasa ketika Seohyun melihatnya? Dengan cepat wanita itu membuka kran cuci piring dan memasuh luka di jarinya.

Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Seohyun yang terluka, dan membubuhi cairan obat merah di atasnya. Seohyun sontak terkejut dan merasa semakin perih. Ingin sekali menjambak rambut pria di depannya.

“Bisakah kau melakukannya dengan pelan?” tanya Seohyun ketus sambil menarik tangannya. “Biar kulakukan sendiri.”

Kyuhyun menyerahkan sebuah plester luka, dan Seohyun meraihnya tanpa sopan. Seohyun berjalan menuju sofa ruang tengah, dan menangani lukanya sendirian. Benar, kan? Hidupnya tak pernah bahagia dan tenang jika Kyuhyun berada di dekatnya. Sial!

Diam-diam Seohyun melirik ke arah dapur. Terlihat di sana Kyuhyun duduk di salah satu kursi meja bar dapur memakan ramyeon buatannya. Mata Seohyun mencari irisan danging ayam yang ia iris tadi. Ternyata masih ada di tempat. Kasihan sekali Kyuhyun memakan ramyeon tanpa lauk apa-apa. Tapi… itu salahnya sendiri karena tidak sabar menunggu Seohyun mengiris daging ayam.

Seohyun mendecakkan lidah. Ia benci situasi seperti ini, dimana hatinya merasa gamang tentang apa yang harus ia lakukan. Tetap mempertahankan egonya atau memberi Kyuhyun lauk?

Pada akhirnya, pilihan kedua lah yang Seohyun ambil. Sambil berjalan mengikat gaun tidurnya yang mulai kendor, Seohyun mendekati Kyuhyun dan meraih mangkuk di depan pria itu.

“Hei!” hardik Kyuhuyn.

Seohyun tak menggubris. Tangannya terus menaburkan irisan daging ayam ke atas mangkuk tersebut hingga irisan tersebut habis. Seohyun kembali mendekati Kyuhyun dan meletakkan mangkuk itu di atas meja.

“Aku lupa lauknya,” ucap Seohyun lirih. Baru sekarang ia merasa menciut dengan hardikan Kyuhyun tadi.

Kyuhyun membuang nafas ke arah samping. Dapat Seohyun lihat perlahan wajah pria itu berubah tenang. Dasar tukang emosi!

“Mau kemana?” tanya Kyuhyun saat Seohyun akan beranjak dari sana.

“Sofa.”

“Di sini saja.” Kyuhyun mengaduk ramyeon-nya. “Kau bisa melihat televisi dari sini, kan?”

Seohyun bingung sesaat, namun toh wanita itu menuruti Kyuhyun dan duduk di depan pria itu. Matanya enggan melihat Kyuhyun yang sedang makan, melainkan terfokus pada televisi yang cukup jauh darinya.

“Kemana saja Ibu hari ini?”

Jadi karena ini?

Seohyun melipat kedua tangannya. Tanpa Seohyun sadari, ia sedikit merasa tak terima ketika tujuan Kyuhyun menyuruhnya duduk di depannya hanya untuk menanyakan kegiatan Taeyeon.

“Seperti biasa, pagi tadi Ibu berolahraga. Siang hingga sorenya Ibu ikut arisan bulanan dengan Bibi Victoria dan teman-temannya. Kami baru pulang pukul enam sore tadi, dan Ibu bilang dia sangat lelah. Maka dari itu ia naik ke kamarnya sejak tadi,” jelas Seohyun dengan mata yang tak terlepas dari televisi yang entah kini menampilkan apa.

“Kami? Kau ikut arisan?”

Menangkap ada sedikit nada heran dari pertanyaan datar Kyuhyun, Seohyun pun menatap pria itu. “Tidak. Tadi siang Yesung-oppa menjemputku untuk mengunjungi Taemin dan Yoona.”

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Seohyun hingga membuat wanita itu sempat kikuk. “Ambilkan aku minum,” ucapnya singkat.

Seohyun mengerutkan alis, tapi toh wanita itu beranjak juga untuk mengambilkan Kyuhyun segelas air putih. Saat Seohyun menyerahkan gelas tersebut, ia mendapati pria di depannya bersin lalu mengusap hidung.

“Kau flu?”

Kyuhyun tak menjawab. Hanya melirik Seohyun sedikit sebelum meminum air yang Seohyun bawakan.

Hal seperti ini sudah biasa. Seohyun pun tak mengambil pusing hal tersebut dan kembali duduk untuk melihat adegan aktor utama lompat dari tebing tinggi yang ditampilkan televisi.

Beberapa menit berlalu, tak ada suara selain suara televisi dan dentingan sumpit yang terdengar di lantai satu rumah itu. Kedua insan yang terlihat di sana tak ubanya seperti benda mati lainnya. Mereka dekat, namun tak lagi saling berkomunikasi sebagaimana mestinya. Hingga Kyuhyun berdiri dan berjalan menuju konter cuci piring, muncullah suara yang lain.

“Biar aku saja.”

Kyuhyun hanya memperhatikan Seohyun yang mengambil mangkuk serta gelas yang ada di tangannya.

“Lebih baik kau segera menemui Ibu.” Seohyun mulai membuka kran dan membasuh benda-benda di tangannya. “Setelah itu cepatlah beristirahat.”

Untuk  beberapa detik, Kyuhyun hanya berdiri di belakang Seohyun. Wanita itu dapat merasakannya dari hembusan nafas hangat pria itu yang samar-samar menyapu belakang kepalanya. Hingga Kyuhyun memutuskan untuk pergi tanpa suara, dan membuat Seohyun memandang punggungnya yang kian menjauh.

.

.

Rasanya Seohyun baru beberapa saat yang lalu bisa menutup mata, sebelum ia terusik dengan suara-suara yang mengganggu tidurnya. Beberapa kali Seohyun mencoba untuk mengacuhkannya, namun suara itu juga membuat sisi lain dari otaknya seakan-akan meneriakinya untuk membuka mata. Menyerah dari teriakan itu, Seohyun membuka mata perlahan dan menyesuaikan kegelapan cahaya kamarnya.

Seohyun mencari jam beker di samping ranjang tidur, pukul 12. Benar kan? Ia bahkan baru dua jam tidur. Menyingkirkan selimutnya, Seohyun berjalan menuju sumber suara yang berasal dari sofa yang biasa ditempati Kyuhyun untuk tidur.

Kyuhyun tidur dalam keadaan seperti biasa, namun kepala pria itu terus bergerak gelisah. Telrihat peluh membanjiri wajah dan lehernya, bahkan kaos pria itu tampak basah. Mata Kyuhyun masih terpejam, namun kerutan di dahi pria itu, geraman tertahan serta hembusan kasar nafasnya seolah-olah memperlihatkan jika pria itu nampak frustasi dalam tidurnya. Memberanikan diri mengulurkan tangannya, Seohyun menyentuh lengan suaminya.

“Kyuhyun?” panggil Seohyun ragu.

Tak ada yang berubah, Kyuhyun tetap seperti semula. Seohyun pun mulai menggoyang lengan Kyuhyun dan memanggil nama pria itu berkali-kali dengan suara yang lebih keras, namun hasilnya nihil. Mulai merasa cemas, Seohyun tanpa ragu menyentuh kening dan leher Kyuhyun untuk memastikan suhu tubuh pria itu.

Panas.

Seohyun dengan cepat duduk di samping Kyuhyun dan menepuk-nepuk pipi pria itu.

“Kyuhyun? Bangun! Hei!”

Terlihat sekali Kyuhyun begitu enggan membuka mata. Seohyun bahkan sampai harus menggoyang-nggoyangkan pundak pria itu untuk membuat pria itu bangun dan melihatnya.

“Bangunlah! Pindah ke ranjang!”

Pada akhirnya Kyuhyun membuka matanya walau tidak sepenuhnya. Ingin sekali rasanya membentak wanita di sampingnya ini karena semakin mengganggu tidurnya, namun  entah mengapa tubuh serta tenaganya seolah-olah tak mendukung. Ia merasa seluruh tulang-tulangnya seperti terlepas dari engselnya masing-masing. Ia sangat lelah, dan juga sangat merasa kesakitan di setiap sisi tubuhnya. Bahkan suaranya pun tenggelam entah kemana. Tenggorokkannya begitu kering dan perih untuk mengeluarkan suara.

Menyerah dengan usaha Seohyun yang ingin membangunkannya, Kyuhyun pun menurut saat Seohyun menarik lengannya hingga ia terduduk. Rasa pusing segera mendera Kyuhyun tanpa ampun sekarang. Oh, apa lagi ini?

“Kupapah kau ke ranjang, coba gerakan kakimu. Oke?” ucap Seohyun seraya melingkarkan satu lengannya ke pinggang Kyuhyun.

Kyuhyun ingin menolak dan tetap tidur di sini, namun ia bisa apa? Dengan sekuat tenaga pria itu menyeret kakinya hingga nafasnya terputus-putus, bahkan hanya untuk sekedar berjalan tak kurang dari tiga meter.

“Pelan-pelan.”

Seohyun membaringkan tubuh Kyuhyun. Wanita itu juga mengangkat kaki suaminya ke atas ranjang. Selanjutnya, Kyuhyun tak merasakan Seohyun ada di dekatnya. Bukan karena sedari tadi pria itu memejamkan mata, suara pintu yang dibuka lalu tertutup lah yang meyakinkannya. Memanfaatkan keadaan, Kyuhyun memilih untuk melanjutkan tidurnya yang terasa sangat tak nyaman.

Memejamkan mata saja ia merasa begitu resah, apalagi ketika membuka mata?

Beberapa menit berlalu, Kyuhyun tak juga bisa mencapai alam tidurnya. Ini benar-benar sangat mengganggu. Keringatnya terus-menerus mengalir, pusingnya semakin menjadi, dan nafas sesaknya tak kunjung reda. Lebih baik ia tertidur daripada harus seperti saat ini. Sadar, namun merasa kesakitan.

“Kyuhyun, Bangun!” ucap Seohyun seraya membuka pintu. Di tangan wanita itu kini terdapat nampan berisi gelas air, baskom lengkap dengan kain kompres, serta bungkus obat.

“Hei!” Kali ini Seohyun mendorong lengan Kyuhyun dengan cukup keras sebelum mendekati lemari.

Kyuhyun masih enggan  membuka mata walaupun ia masih cukup sadar dorongan Seohyun tadi semakin menyakiti tubuhnya yang kini entah mengapa terasa begitu rapuh dan renta. Mungkin setelah ia terlepas dari kondisi ini, Kyuhyun akan memberi Seohyun sedikit pelajaran bagaimana memperlakukan orang yang berada dalam posisinya.

Setelah meletakkan handuk dan sweater abu-abu di samping nampan, Seohyun menatap Kyuhyun seraya berkacak pinggang. Pria itu tak juga mau membuka mata. Menunggu Kyuhyun bangun untuk mengganti baju sendiri lalu meminum obat hanya mungkin bisa terjadi nanti besok siang jika melihat kondisi Kyuhyun seperti saat ini. Mengeratkan ikatan piyamanya, Seohyun merangkak naik ke ranjang setelah sebelumnya meraih sweater dan handuk yang tadi ia temukan.

Seohyun memulainya dengan mengangkat kaos Kyuhyun dari perut pria itu. Kyuhyun nampak tak melawan meskipun kepalanya bergerak ke sana kemari. Bahkan saat Seohyun sedikit mengangkat kepalanya untuk melepaskan kaos yang sebelumnya ia kenakan.

Ternyata tak hanya kaos Kyuhyun yang basah, keringat masih terlihat begitu jelas di tubuh Kyuhyun. Dalam hati, Seohyun sedikit mengerti salah satu alasan Kyuhyun nampak tak nyaman dalam tidurnya, mungkin karena keringat ini. Meraih handuk, Seohyun mulai mengelap seluruh bagian tubuh Kyuhyun yang dibanjiri keringat. Tak hanya tubuhnya, melainkan juga leher hingga wajah pria itu.

Setelah memastikan tak ada keringat yang tersisa, Seohyun memakaikan pakaian baru untuk Kyuhyun. Tak terlalu sulit untuk memakaikan pakaian, karena memang Kyuhyun pasrah dan tak melawan.

“Bangunlah! Buka matamu sebentar,” ucap Seohyun lagi, kini ia menepuk-nepuk pipi Kyuhyun. “Kau harus minum obat. Bangunlah, Kyuhyun!”

Kyuhyun tetap menutup matanya.

Tepukan Seohyun kini lebih keras dan lebih menyakitkan. “Kyuhyun! Buka matamu!”

Tak tahukah Seohyun bahwa sebenarnya Kyuhyun akan membuka matanya dengan senang hati jika ia bisa melakukannya? Oh… yang benar saja wanita ini!

“Sebentar saja. Ayo bangunlah!”

Dengan penuh perjuangan, Kyuhyun membuka sedikit matanya secara perlahan. Setelah titik fokus matanya terkumpul, yang ia lihat pertama kali adalah Seohyun yang mengulas senyum kelegaan yang tak pernah ia lihat. Namun hal itu berlalu begitu cepat karena yang terjadi selanjutnya, Seohyun mengangsurkan obat dan air minum ke arahnya. Tenggorokkan Kyuhyun terasa sedikit membaik saat cairan membasahinya. Walaupun terasa sangat nyeri saat ia menelan air, paling tidak kini tenggorokkannya terasa sedikit lebih segar.

“Bagus, sekarang lanjutkan tidurmu.”

Lega rasanya. Setelah ini tak akan ada yang mengganggu Kyuhyun dan memaksa pria itu untuk membuka mata.

.

.

Di lain sisi, Seohyun yang baru saja meletakkan kompres di kening Kyuhyun menghela nafas berat. Ia tak pernah melihat Kyuhyun seperti ini. Kyuhyun yang dingin, bengis, dan bahkan beberapa jam yang lalu masih menunjukkan sisi angkhunya, kini terbaring gelisah dalam ambang batas alam tidurnya.

Apa yang Seohyun rasakan kali ini? Merasa kasihan? Pantaskah seorang Cho Kyuhyun dikasihani?

Membuang nafas dengan kasar, Seohyun menampik semua pemikiran itu. Semua manusia mempunyai sisi lemah, Seohyun. Tekannya dalam hati.

Namun, sedikit rasa penasaran juga merambatinya. Apakah yang dibicarakan Taeyon bersama Kyuhyun tadi? Apakah besar kemungkinan hal tersebut mengakibatkan Kyuhyun seperti ini?

29 Tanggapan to “BLACK ROSE [CHAPTER 8]”

  1. anonymous Desember 6, 2016 pada 3:19 pm #

    chapter 9?

  2. syifa Oktober 28, 2016 pada 11:07 pm #

    Eonni. Next plis. Baguuusss. Penasarann

  3. safi Agustus 24, 2016 pada 2:30 am #

    mana lanjutannya…..gk sabar baca lanjutannya,bikin penasaran

  4. batubara lee Agustus 18, 2016 pada 6:44 pm #

    part 9 nya belum ada ya . . . udah penasaran lanjutannya nih. . .gemesh sama seokyu

  5. dini wulandari Juli 21, 2016 pada 3:34 pm #

    Br comment di part ni maf y…ni alurnya lmbat y…tp jln crtanya bgus tp agaknya ni pnjang krn mngkn ni bkal bnyk konflik…well apapun tu ditunggu next chapternya…hwaiting author…

  6. kenzi Juni 16, 2016 pada 12:37 pm #

    Author udah nunggu lamaaaa banget nih akunya😹 semoga celet release lagi yaaa next chapter nyaaa. Bagussss beneran bagusssss💞

  7. Dini Apriliani Juni 14, 2016 pada 1:12 am #

    Waahh eonni akhirnya dilanjut lgi ff ini,udah lama bgt nungguin kelanjitannya hehe,makin seru ceritanya,kasian juga ya kalo kyu sakit sampe segitunya lagi untung ada seo yg perhatian dan peduli juga.penasaran sama apa yg diomongin taeyon sama kyu..terus td sedih juga pas percakapan kyu sama shindong yg kyu ngomong dy cuma punya ibunya tapi ga peduli sama seohyun mudah2an nntinya itu ga jdi kenyataan ya,siapa tau tar kyu peduli juga sama seo bahkan ga mau kehilangan,pengen bgt cepet2 seokyu saling suka deh terus jdi suami istri sah ga kaya sekarang..
    Pkonya ditunggu aja deh eon kelanjutannya pasti seru bgt hehe,semangat eonni untuk melanjutkannya

  8. inunufi Mei 29, 2016 pada 4:50 pm #

    Author-nim pintar deh memainkan rasa penasaran pembacanya haha
    Kim kibum gak ada kabarnya ya setelah gagal makan siang sama seohyun?
    Apa yg akan dilakuin leeteuk juga masih belum ketebak, kim heechul-seohyun-kyuhyun dibikin ada di satu adegan seru kali ya haha
    Gaya penulisan kamu enak dibacanya, minim typo.
    Semoga ditengah kesibukanmu masih bisa nulis kelanjutannya dan segera dipost ya, semoga ff ini tidak terabaikan dan dilanjut terus sampai ending ^^ Fighting!

  9. Noel Seora Mei 23, 2016 pada 1:54 pm #

    makin lama mkin seru and keren crita nya..
    ksian seo trtkan trus kalo di dktnya kyu, kyu juga jngan trlalu bengis ke seo,pake ngancem juga!
    pnsaran yg di omngin taeyeon ama kyu apaaan?
    next dtnggu ya,, kalo bsa jngn trlalu lama ya chingu!!
    keep writing!

  10. kenzi Mei 21, 2016 pada 4:20 pm #

    Aaaaaaa seneng banget dilanjutin ffnyaa. Keren bangetttt. Next chap ya author😆

  11. hoir Mei 17, 2016 pada 7:41 am #

    Makin seru ceritanya…
    Penasaran sama next part
    Cepet di post yaaa
    Nice

  12. batubara lee Mei 8, 2016 pada 12:18 am #

    WOW ini ff makin menegangkan mengharukan makin kece…penulisannya alurnya ceritanya bikin selalu penasaran…lebih penasaran ama kelanjutan ini ff daripada nunggu nilai un keluar…..kkkkk…..semangat lanjutinnya ya…OK

  13. Haznita Utami Mei 6, 2016 pada 3:56 pm #

    Kyuhyun masih tega aja sama seohyun ya ~
    Itu para tetua siapa sih ?
    Penasaran bgt deh sama next partnya. Di tunggu next partnya yaa ~

  14. ZTA Mei 1, 2016 pada 4:26 pm #

    Yeyyyyssa 😄 ternyata syudah update lagi
    Dikira bakal update diatas bulan ke 9 ternyata lebih cepat dari perkiraan
    Keep fighting authorrrr 😁😊😄

  15. GamegaGyu April 29, 2016 pada 11:54 am #

    Hehe mau nambahin lagi nih kak. Makasih kak udah nge post ff ini, Makasih udah muasin kami yang rindu bacaan kamu, Makasih udah konsisten lanjutin ff ini🙂 Sebenernya tiap bulan liat blog kakak, aku suka cemas. Cemas kalo kakak tiba2 ngasih pemberitahuan kalo bakal berenti nulis. Saya berasa di php in kalo gitu:( Terlepas dari itu, saya ngerti banget kesibukan personal life kakak , jadi saya gak bakal nuntut buat update ff ini cepet2. Tetep semangat nulis ya! Terimakasih udah bikin ff sebagus ini🙂

  16. GamegaGyu April 29, 2016 pada 11:40 am #

    YAAMPUN AKHIRNYA DIPOST LAGIIIII SENENG MAKASIH KAAAAAK<3 Btw untuk part ini nano nano bikin senyum sendiri, bikin cemas juga iya. Terlepas dari kyuhyun yang sakit & pasrah meskipin ogah2an bangun, tapi seohyun nya careee bangeeeet, so sweet banget gitu sukaaa. Dari sini keliatan kalo seohyun udah Baper duluan, dia benci kyuhyun yang kasar tapi gak mungkiri juga dia cinta banget sama kyuhyun. Kyuhyun, tolong lindungi & cintai seohyun yaaa, jangan kasar2. Denger tuh nasihat shindong. Seohyun terancam sama orang2 kamu. Semoga kamu cepet insyaf & cinta sama seohyun. biar cepet bikin dedek bayii Luvv lah<3

  17. tiwiik April 25, 2016 pada 5:59 am #

    Aduuuuuuuuuh lagi asik2 baca tbtb tbc huhuu. Selalu suka sama ff ini karna masih greget bgt sama sikap kyuhyun wkwk. Sedikit seokyu momentnya justru bikin penasaran terus setiap baca, pokoknya wajib bgt di lanjutin… Ditungguuuuu

  18. Anonymous April 24, 2016 pada 7:42 am #

    Aaaa seneng bgt akhirnya keluar juga chapter 8:)))) makin seru dan susah ditebak-_- kyuhyun sampe sakit gitu grgr apasi:( ditunggu banget chapter selanjutnyaa❤️❤️

  19. lusi April 24, 2016 pada 2:49 am #

    ini apasih yg dibicarakan?

    .pdhal nunggu nc wkwk

  20. blue94 April 23, 2016 pada 6:47 pm #

    kyu masih dingin dingin aja nih huhu

  21. zakhiya19 April 23, 2016 pada 1:16 pm #

    Akhirnya ff nya dilanjutin . Sampe2 nya pas baca gak pengen selesai pengen terus wkwkwkwk .
    Kyuhyun beneran manfaatin seohyun gak si kalau beneran ya kyu memang pengecut gak punya malu sama pustolnya . Ibu taec bilang apa ke kyu sampe2 dia sakit . Saluut banget sama seohyun di part ini semoga aja ff nya cepet ngepostnya 😊

  22. neanra April 23, 2016 pada 12:01 pm #

    Makin ga bisa ditebak, sll ga sabar nunggu part selanjutnya
    Kyknya ini msh jauh dr klimaks cerita nya

  23. itsme April 23, 2016 pada 8:48 am #

    Eheeeemmm akhirnya updatenya eonnie. Hampir lumutan nunggunya #anggapajaiyaa 😂😂😂
    Kasian bgt seohyunnya wlwpun dicueki gitu msh ttp perhatian sm kyu. Buat author jgn lama2 donk publishnyaaaaaa 😍😄

  24. bya2518 April 22, 2016 pada 11:16 pm #

    Lanjuttt please…bikin penasaran sm kisah selanjutnyaa ^^

  25. dethachan15 April 22, 2016 pada 12:53 pm #

    Lanjut thorr , sumpahh epep ini keren banget ..
    Maaf juga aku baru komen ff ini😆
    fighting thorrr 😍😘❤

  26. lkanovi April 21, 2016 pada 3:07 pm #

    Akhirnya ff yg aku tunggu2
    yah makin seru nih,, please!! nextnya jangan lama ya hehe

  27. fauziyahfarkha April 21, 2016 pada 2:41 pm #

    Nah teyon udah tau kah??

  28. chohyunni11 April 21, 2016 pada 2:18 pm #

    Sudah sampai di part ini..
    Tapi hubungan mreka masih datar2 ajja..
    Akan jadi apa hubungan mreka ke depannya??
    Kalau diteliti lagi mank gak ada benang yg bisa menyatukan mreka..
    Rasanya semakin kesini semakin banyak ajja masalah yg muncul..
    Tapi biar bagaimanapun aku akan tetep sabar nunggu ff ini dilanjutin..
    Karena serius penasaran banget gimana nanti mereka akan memperbaiki hubungan yg buruk ini??

  29. Risty Elf April 21, 2016 pada 2:17 pm #

    ahirnya di post juga…apa jgn2 taeyeon sdh tau kalau seohyun wanita panggilan.next jgn lama2 thor….

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: