BLACK ROSE [CHAPTER 3]

2 Nov

Title : Black Rose

Author : Cho Jihyun [ @Rivanawr ]

Cast : Cho Kyuhyun & Seo Joohyun

Other Cast : You’ll find it 

Length : 1 of ………

Rate : M (Mature/17+)

Genre : Romance/Angst/and little bit action

“BLACK ROSE”

Kyuhyun menepikan mobilnya di depan salah satu cafe yang tidak seberapa jauh dari rumahnya. Cafe yang ia tuju kali ini memiliki arsitektur kuno dengan dominan kayu sebagai desain interiornya. Sungguh mencolok dari gedung di sekelilingnya yang menjulang tinggi dengan beton dan kaca-kacanya.

Ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya sejak kecil tengah memoles sebuah gelas dan berdiri memunggunginya, Kyuhyun berinisiatif untuk mengulang masa kecilnya lagi dimana ia selalu berbagi dengan orang itu, pergi kemanapun berdua, dan juga melampiaskan kejahilannya. Sebuah botol air mineral bekas yang berdiri di atas meja bar menjadi senjatanya.

“Ahh.” Erangan kesakitan yang keluar dari pria yang tengah memoles gelas itu terdengar keras di penjuru cafe. Pria itu memungut botol yang tadi mengenai kepalanya sebelum berbalik badan dengan sorot wajah emosi. “Kau?”

Kyuhyun tak menampakkan rasa bersalahnya sedikit pun. Bahkan pria itu duduk di salah satu kursi tinggi yang ada di meja bar itu. “Hai, Yesung.”

“Bisakah kau lebih sopan kepadaku?”

“Aku tidak mau,” jawab Kyuhyun enteng.

“Ayolah! Kau lebih muda dua tahun dariku. Seharusnya dari dulu kau memanggilku kakak,” perintah Yesung seraya meletakkan gelas yang ia bawa.

“Ayahku lebih tua empat tahun dari ibumu, dan aku tidak seperti dirimu yang sangat ingin dipanggil kakak.”

Yesung dengan cepat merubah raut wajahnya menjadi datar. Seharusnya dari awal ia sadar bahwa pria yang ada di depannya kali ini tidak akan bisa untuk diberi tahu walau dengan cara sopan sekalipun. “Haaah… dasar, Evil!”

.

“Ada kepentingan apa kau ke sini?” tanya Yesung seraya meletakkan secangkir vanila latte di depan Kyuhyun. Saat ini dua pria itu tengah duduk berhadapan di salah satu bangku di sudut cafe itu.

“Mengunjungi Ibu.”

Yesung mendengus kecil. “Percuma jika kau kesini hanya untuk pergi lagi seperti sebelum-sebelumnya.”

“Setidaknya aku tidak meninggalkannya sendirian.” Kyuhyun menyesap sedikit vanila latte-nya dan tidak menghiraukan tatapan heran dari Yesung.

“Maksudmu?”

“Ah, dari dulu kau memang bodoh, Yesung!”

“Kau ini berniat mengejekku atau apa?” tanya Yesung emosi.

Kyuhyun menyeringai kecil. “Sama sekali tidak.”

“Kau tahu?” Yesung menyandarkan punggungnya di sandaran kursi seraya menautkan kedua lengannya di depan dada. Matanya menatap Kyuhyun yang terus saja menyesap vanila latte. “Sifat menyebalkanmu itu tidak pernah hilang dari dulu.”

Keheningan yang menenangkan menyelimuti kedua sepupu itu. Kyuhyun masih saja diam seraya sekali-kali menyesap minumannya. Sedangkan Yesung tengah asyik memperhatikan pengunjung dan pegawainya yang mondar-mandir di ruangan itu.

“Datanglah ke rumah untuk makan malam.”

Yesung meluruskan pandangannya.

“Ajak bibi juga,” sambung Kyuhyun.

“Apa itu penting? Haruskah aku dan ibuku melakukannya?” tanya Yesung datar. Sekali-kali ia ingin melihat reaksi Kyuhyun jika ditanggapi dengan cara tidak sopan seperti tadi.

“Datanglah untuk makan malam jika kau sekali-kali ingin terlihat pintar.”

Ah, Yesung tahu seharusnya ia tidak melakukan hal itu.

.

.

“Kau baru saja datang dengan istrimu dan meninggalkannya selama beberapa jam. Sebenarnya siapa yang lebih penting? Istrimu atau Yesung?”

Kyuhyun tersenyum geli mendengar pertanyaan Ibunya. “Aku hanya mengundang Yesung ke sini, Bu.”

“Apa selama itu? Secerewet apa Yesung hingga mampu menahanmu selama hampir lima jam?”

Senyum maaf Kyuhyun kembali terukir untuk Ibunya. “Dimana Seohyun?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Ada di ruang tengah, mungkin sedang menonton televisi. Karena membantu Ibu membersihkan rumah dari tadi, Ibu menyuruhnya untuk beristirahat.”

Kyuhyun memperhatikan Ibunya yang terus saja berbicara seraya menenggak air mineral yang ada ditangannya. “Membersihkan rumah?” tanya Kyuhyun heran seraya melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.

Tampak dari belakang sofa, televisi berukuran sedang tengah menampilkan berita gosip. Sedangkan kepala seorang wanita berkuncir satu terlihat menyembul di sandaran sofa tersebut. Kyuhyun terus mendekat, berniat memberitahu Seohyun bahwa nanti malam akan ada kerabatnya yang akan bertamu. Namun niatnya sirna ketika ia melihat Seohyun tengah memejamkan matanya.

Kyuhyun mendengus kecil saat melihat Seohyun begitu nyenyak dalam posisi tidurnya. “Dasar,” ucapnya sebelum ia mengangkat tubuh Seohyun secara perlahan.

.

.

Seohyun membuka matanya perlahan saat apa yang ia lihat dalam mimpinya sirna. Sepasang mata wanita itu memandang canggung sekelilingnya. Ia sama sekali tidak tahu ini di mana dan kamar siapa.

“Seohyun, kau sudah bangun?”

Dengan cepat Seohyun bangun dari posisinya dan menoleh ke arah pintu. “Ah, Ibu. I−iya aku baru saja bangun.”

Taeyeon tersenyum anggun sebelum masuk dan duduk di depan Seohyun. “Sebentar lagi saudara sepupu Kyuhyun akan datang bersama Ibunya untuk makan malam bersama. Lebih baik kau mandi dan cepat turun ke bawah.”

Seohyun menampakkan raut wajah bersalahnya. “Ibu, maafkan aku. Aku tidak membantu Ibu untuk memasak makan malam.”

“Untuk apa kau meminta maaf?” tanya Teyeon heran. “Kau lelah, Seohyun. Perjalanan ke Seoul tidaklah sebentar, dan membersihkan rumah ini pasti menguras banyak tenagamu.” Seohyun yang tidak mengatakan apapun membuat Taeyeon melanjutkan ucapannya. “Sekarang cepat mandi, mengerti?”

Seohyun menganggukkan kepalanya. “Terimakasih, Bu,” ucapnya tersenyum.

Taeyeon mengusap kepala menantunya itu dengan penuh kasih sayang. “Anak baik.”

Senyum Seohyun masih belum lenyap saat Taeyeon keluar dari kamar. Hatinya terasa sejuk melihat perlakuan Taeyeon kepadanya.

Tuhan, inikah rasanya memiliki seorang Ibu?

.

.

“Letakkan saja itu di atas meja makan.”

“Ya,” sahut Seohyun. Ia pun menuruti perintah Taeyeon meletakkan piring yang ia bawa di ruang kosong di atas meja makan. Ia juga tak lupa untuk menata beberapa piring yang ada di sana agar menjadi rapi lagi.

“Yesung dan bibi sudah sampai, Bu.”

Suara Kyuhyun membuat Seohyun mengangkat kepalanya.

“Benarkah? Sebentar, aku ingin menyambut mereka,” ucap Taeyeon seraya meletakkan serbet yang ada di tangannya dan berlari kecil menuju ruang tamu.

Kini, di dapur itu hanya tinggal Kyuhyun dan Seohyun yang saling bertukar pandang. Mereka tidak memancing pembicaraan satu sama lain. Bagi Seohyun yang melihat penampilan Kyuhyun malam ini, pria acuh itu terlihat beda dengan t-shirt hitam yang melekat di tubuh tegapnya.

“Um… keluarlah. Sambut mereka juga.”

Perkataan Kyuhyun terasa aneh bagi Seohyun. Mungkin karena cara bicara pria itu yang entah mengapa terdengar sedikit kikuk. “Ya,” ucap Seohyun seraya mendekati Kyuhyun.

Kyuhyun ikut melangkahkan kakinya saat Seohyun berjalan melewatinya. Dalam langkah tegapnya, pria itu menghela napas pelan.

“Ahh… inikah menantumu, Taeyeon-unnie?”

Seohyun nampak sedikit terkejut saat wanita berambut coklat panjang yang baru ia temui tiba-tiba memeluknya dengan erat.

“Dia cantik sekali.”

Taeyeon hanya tersenyum simpul menanggapi pujian adik iparnya untuk Seohyun.

“Terimakasih,” ucap Seohyun seraya tersenyum kikuk.

“Siapa namamu?”

“Seohyun.”

“Ah.. namamu juga terdengar cantik.”

Taeyeon melangkah mendekat dan memegang punggung Seohyun dan adik iparnya. “Dia adalah adik iparku, namanya Victoria.”

Seohyun menganggukkan kepalanya singkat. “Senang bertemu dengan Bibi.”

“Ah, Seohyun kau manis sekali. Dari dulu aku selalu ingin mempunyai anak perempuan.”

“Ibu!”

Suara pria lainnya membuat Seohyun menoleh.

“Iya iya, Yesung. Ibu tahu maksudmu,” ucap Victoria seraya tak melepaskan pandangannya dari Seohyun. “Tapi kakakmu dan istrinya berada jauh dari sini. Apa salah jika Ibu masih merasa ingin punya anak perempuan?”

“Kalau begitu Yesung cepat menikah saja, dengan begitu Ibumu pasti tidak akan mengharapkan anak perempuan lagi,” celetuk Taeyeon yang langsung mengundang tawa kecil Kyuhyun dan Victoria.

“Mana bisa? Yesung tidak akan pernah laku,” timpal Kyuhyun.

“Kyuhyun!” Tatapan taeyeon seolah memberitahu Kyuhyun untuk menjaga mulutnya. “Ah, Seohyun. Ini adalah Yesung, dia kakak sepupu Kyuhyun,” ucap Taeyeon seraya menarik pelan Yesung untuk mendekat.

“Seohyun,” ucap Seohyun saat Yesung menjabat tangannya.

“Yesung.” Senyum tipis Yesung tak pernah tertinggal walau tangannya kini sudah tidak menjabat tangan Seohyun. “Aku yakin kau tidak mirip dengan suamimu yang berlidah tajam, Seohyun. Jadi jangan sungkan untuk memukul kepalanya jika dia kurang ajar padamu.”

Seohyun pun terkekeh kecil. Yesung pria yang baik, pikirnya saat ini.

.

“Jadi Leeteuk pindah kerja lagi?”

Victoria menatap Teyeon dan mengangguk. “Malah lebih jauh dari tempat kerjanya yang sebelumnya, unnie.”

Saat ini keluarga Cho sedang berkumpul bersama di meja makan. Percakapan yang terdengar kebanyakan berasal dari dua kakak adik ipar itu saja, sedangkan anak-anak mereka hanya makan dengan santai dengan sesekali menimpali percakapan ibu mereka.

“Kalau tempat kerjanya jauh, dia semakin jarang mengunjungiku,” sambung Victoria selama beberapa saat terdiam.

“Sabar,” ucap Taeyeon seraya menggenggam tangan adik iparnya. “Ini semua juga untuk kebaikan dia dan keluarganya kan?”

Victoria mengangguk dan tersenyum. Pandangan wanita itu segera beralih ke Kyuhyun. “Jadi… kapan kira-kira kau menyusul Leeteuk untuk segera memiliki momongan, Kyuhyun?”

Seohyun yang sedang memakan pasta-nya segera menghentikan kegiatannya ketika merasa akan tersedak. Mendengar pertanyaan bibi mertuanya sanggup membuatnya terkejut bukan main.

“Secepatnya,” sahut Kyuhyun santai.

“Jawab lebih konkrit lagi,” timpal Yesung. “Kapan tepatnya? Kau tidak ingin melihat bibi menggendong anakmu?”

Dari sudut matanya, Seohyun dapat melihat Kyuhyun mengelap mulutnya dengan tisu. Sama sekali tak tampak raut wajah yang berarti dari wajah pria itu.

Di sisi lain, Taeyeon hanya tersenyum geli. “Benarkah, Kyuhyun?”

“Hm,” gumam Kyuhyun seraya mengangguk pelan. Tanpa Seohyun ketahui sebelumnya, Kyuhyun meraih bahunya dan menarik tubuhnya untuk lebih dekat dengan Kyuhyun. “Kita tidak berencana untuk menunda momongan.”

Seohyun dapat merasakan jantungnya bedetak lebih cepat dari sebelumnya. Lubuk hatinya bertanya-tanya mengapa ia mendadak grogi seperti ini. Karena lengan Kyuhyun yang merangkulnya atau karena perkataan pria itu? Pasti karena perkataan pria itu.

Victoria tertawa seraya menepukkan tangan, Taeyeon pun juga melakukan hal yang sama. Hanya Yesung yang menatap Kyuhyun dan Seohyun dengan tatapan yang sedikit berbeda.

.

.

Bulan semakin menunjukkan kuasanya di langit malam. Kediaman Cho yang beberapa saat yang lalu ramai, kini sudah sunyi. Kedua tamu yang juga kerabat dekat Cho baru saja pulang, dan kini hanya tinggal Seohyun serta Taeyeon yang tersisa di dapur rumah itu.

“Seohyun?”

Seohyun yang sedang menata piring bersih menoleh. “Ya?”

Taeyeon tersenyum sebelum mendekati Seohyun. Wanita berambut pendek itu memeluk Seohyun dengan kasih sayang. “Terimakasih.”

“U-untuk apa, Bu?” Seohyun bergerak tak nyaman di dalam pelukan Taeyeon.

“Bersedia akan memberiku cucu.”

Seohyun terperangah. Ia tetap mengatupkan mulutnya saat Taeyeon melepaskan pelukan dan menatapnya dengan lembut. “Sudah malam, lebih baik kau cepat beristirahat.”

Punggung Taeyeon yang bergerak pergi seakan menghipnotis Seohyun untuk terus menatapnya. Apa yang baru saja dikatakan ibu mertuanya membuatnya semakin resah. Ia merasa, membohongi wanita yang sangat baik itu lebih hina dibandingkan pekerjaan lamanya.

.

“Ayolah, banyak pekerjaan yang menunggumu di sini. Mau sampai kapan kau berada di sana?”

Kyuhyun mengapit ponselnya di antara bahu dan telinga, sedangkan kedua tangannya bergerkan melepas t-shirt yang menempel di tubuhnya. “Mungkin sepuluh hari.”

“Sepuluh hari? Lama sekali?” Suara di seberang telepon itu terdengar seperti tak terima. “Bisakah kau pulang besok.”

“Tutup mulutmu, Shindong! Kau terus saja mengeluh seperti wanita.”

“Apa? Kau bilang aku− ahh… sudahlah. Terserah kau mau menyebutku seperti apa, yang terpenting kau sudah harus kembali besok.”

Sambungan telepon yang ditutup dari seberang membuat Kyuhyun menghembuskan napas lega. Bos-nya yang tambun itu begitu cerewet jika membicarakan soal misi.

Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka membuat Kyuhyun menolehkan kepalanya. Nampak di depan pintu sana Seohyun berdiri seraya memegangi daun pintu.

“Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Kyuhyun sedikit heran dengan Seohyun yang seolah terkejut menatapnya.

“Tidak,” sahut Seohyun menutupi rasa gugupnya. Di dalam hati, wanita itu mengutuk debaran jantungnya yang berdetak lebih cepat dari keadaan normal. Dengan langkah ragu, ia mulai masuk ke dalam kamar.

Kyuhyun hanya menatap Seohyun yang berjalan menuju lemari pakaian, sebelum wanita itu memilih menoleh ke arahnya.

“Tidakkah menurutmu ini semua sudah keterlaluan?”

Kedua alis Kyuhyun mengerut. “Maksudmu?”

“Membohongi ibu. Apa menurutmu itu benar?”

“Lalu apa kau berpikir kita akan mengatakan yang sebenarnya?”

Seohyun merasakan nada kalimat terakhir Kyuhyun terdengar lebih dingin dari sebelumnya. Karena tak menemukan jawabannya, Seohyun pun memilih untuk diam dan menundukkan kepalanya. Ia takut jika pria yang ada di hadapannya kali ini marah. Seohyun masih cukup ingat bagaimana cara pria ini melampiaskan amarahnya.

“Kau kubayar hanya untuk menjadi istriku, bukan menjadi penasehatku.”

Tundukkan kepala Seohyun semakin dalam. Kyuhyun yang mendekatinya, seolah-olah membuatnya sedikit susah untuk menarik napas. Seohyun berniat untuk membuang mukanya saat Kyuhyun semakin dekat, namun sebuah cengkraman di dagu Seohyun memaksa wanita itu untuk tetap mempertahankan posisi kepalanya.

Yang terlihat di mata Seohyun kali ini adalah sosok Kyuhyun saat pertama kali ia bertemu pria itu. Sosok Kyuhyun dengan garis rahang yang mengeras karena menahan amarah, pria yang menatapnya tajam bagaikan elang, dan orang kasar yang sanggup membuatnya menumpahkan air mata saat itu juga.

“Kau… hanya cukup menuruti semua perkataanku, dan aku tak akan segan untuk meledakkan kepalamu saat itu juga jika kau menghancurkan semua rencanaku.”

Kibatan tangan Kyuhyun yang mencengkeram wajahnya membuat tubuh Seohyun limbung ke samping. Tanpa berkata apa-apa lagi, Kyuhyun meraih sebuah bantal dari atas ranjang, dan melemparkannya di atas sofa yang terletak di dekat jendela yang membelakangi ranjang. Pria itu merebahkan tubunya yang masih bertelanjang dada, dan menutup kedua matanya dengan lengan kanannya.

Sedangkan Seohyun yang masih terpaku di tempatnya, hanya bisa memandangi Kyuhyun dengan sakit hati. Kedua mata wanita itu mulai tergenangi air mata yang siap tumpah kapan saja. Tak mau air matanya jatuh di sana, Seohyun memilih kamar mandi untuk melampiaskan segala emosinya.

.

.

Seohyun sadar, bukan perlakuan Kyuhyun yang membuatnya menangis seperti ini. Dari awal, ia sudah sedikit mengerti tentang watak pria itu. Namun… rasa kecewa karena telah mengira Kyuhyun sudah sedikit bersikap baik kepadanyalah yang mampu membuatnya meneteskan air mata.

.

.

.

“Aku tak habis pikir Kyuhyun lebih memilih pekerjaannya daripada menemani kita berbelanja.”

Sepanjang perjalanan, hanya omelan itulah yang terucap dari bibir Taeyeon. Menurut Seohyun, omelan kali ini tidak seberapa parah jika dibanding dengan omelan Taeyeon pada Kyuhyun saat sarapan dua hari yang lalu.

Dua hari yang lali, Kyuhyun berpamitan pada ibunya untuk kembali ke Busan. Pria itu berkata bahwa ia harus menyelesaikan urusan pekerjaannya sebagai pegawai bank. Sungguh kalimat dusta yang manis karena Seohyun sendiri mendengar percakapan pria tersebut dari balik pintu sebelum ke Busan esok paginya.

“Jika ada sesuatu yang kau inginkan, langsung ambil saja, Seohyun,” ucap Taeyeon seraya menutup pintu taksi. Di sebelahnya, Seohyun hanya mengangguk pelan seraya mengikuti ibu mertuanya berjalan menuju pintu supermarket.

Kedua wanita itu berjalan di antara rak-rak supermarket. Taeyeon terlihat sangat menikmati belanja perdananya bersama sang menantu. Andaikan dari dulu ia memiliki anak perempuan, ia mungkin tak akan sesenang ini saat belanja. Tak pelak, ia pun tak berhenti berbicara, entah itu tentang Kyuhyun, atau tentang teman-temannya.

Seohyun yang berjalan seraya mendorong troli, menanggapi perkataan Taeyeon dengan sesekali tersenyum kecil, atau bahkan tertawa hambar. Apa yang sudah terjadi beberapa malam yang lalu membuat mood-nya benar-benar hilang.

“Ah… Seohyun, Ibu lupa.”

Setelah lebih dari sepuluh menit berputar-putar, nampaknya hanya suara itulah yang membuat Seohyun benar-benar memperhatikan Taeyeon.

“Bisakah kau mencarikan pengharum ruangan? Kalau tidak salah ada di deretan rak paling kanan supermarket ini.”

Seohyun menolehkan kepalanya mengikuti petunjuk Taeyeon. “Baik, akan kuambilkan dulu.”

“Terimakasih.” Taeyeon tersenyum tulus melihat menantunya. “Um, tolong yang lavender ya? Ibu paling suka itu.”

“Baik, Bu.”

Setelah melepaskan pegangan di troli, Seohyun berjalan menuju bagian supermarket yang menjual berbagai pengharum ruangan. Banyaknya macam pengharum ruangan dan merk, sedikit membuat Seohyun susah untuk menemukan apa yang ia cari.

“Kau Seohyun, kan?”

Suara asing itu membuat Seohyun menoleh. Siapa pria yang memanggil namanya ini? Tak pelak, kedua alis Seohyun berkerut samar.

“Kau pindah ke Seoul?”

“Maaf,” ucap Seohyun sopan. “Anda siapa?”

Pria tampan di depan Seohyun nampak terkejut sebelum terkekeh pelan. “Kau lupa padaku?”

“Aku tidak ingat siapa anda.”

Senyum pria itu semakin membuat Seohyun bingung, namun senyum itu juga entah mengapa seakan membawa sekelumit ingatannya hadir kembali. Senyum itu seperti milik−

“Aku salah satu pelangganmu.”

Sepasang mata Seohyun membulat saat itu juga.

“Kukira kau akan mengenalku. Padahal kita sering ber−”

“Cukup.” Sepasang lengan Seohyun kini mencengkeram kedua lengan pria itu. Kepalanya menoleh ke sana kemari untuk memastikan dimana Taeyeon berada. “Aku mohon jangan diteruskan.”

Sebelah alis pria itu terangkat. “Ada apa?”

Seohyun melepaskan cengkeramannya perlahan. Ia menelan ludah sebelum kembali membuka mulutnya. “Setiap orang terkadang memiliki jalan hidup yang baru dari sebelumnya,” ucapnya seraya menundukkan kepala.

Untuk beberapa saat, pria itu hanya terdiam berusaha memahami perkataan Seohyun. Wanita yang dilihatnya kali ini memang berbeda dari wanita yang ia lihat beberapa bulan yang lalu. Dari penampilan, tutur kata, hingga fisiknya yang semakin memancarkan pesona tersendiri. Tak pelak, ia pun kembali menyunggingkan senyumnya. “Aku pun begitu, Seohyun.”

Kepala Seohyun terangkat.

“Aku bukan pria pemabuk dan pecandu narkoba yang sering berbuat onar seperti saat sering bertemu denganmu dulu. Aku sudah berubah.”

Ah… kali ini Seohyun benar-benar mengingat pria yang kini tengah tersenyum kepadanya. Kim Kibum. Pria malang yang tersesat dalam jalan hitam, dan selalu menumpahkan kesepian dengan menyewa jasanya.

“Seohyun?”

Suara Taeyeon membuat Seohyun dan Kibum menolehkan kepalanya.

“Kau tidak menemukannya?” tanya Taeyeon seraya mendekat.

“Um….” Tak ada hal lain yang Seohyun sampaikan kecuali gumaman tersebut.

Pandangan Taeyeon beralih ke pria yang saat ini berdiri di depan Seohyun. Mulutnya baru saja akan bersuara sebelum Kibum memilih untuk mendahuluinya.

“Salam, Bi. Namaku Kibum.”

“Dia temanku, Bu,” sahut Seohyun cepat. “Kita sudah lama tak bertemu.”

Taeyeon mengangguk-anggukkan kepalanya paham. “Oh… jadi begitu? Kukira tadi ada apa,” ucap Taeyeon dengan senyum leganya. “Aku Taeyeon, ibu mertua Seohyun.”

Kibum terdiam. Sepasang alisnya berkerut samar. Ibu mertua? Seketika pandangannya beralih ke Seohyun yang kini terlihat seperti menghindari tatapannya.

“Apa kau juga berasal dari Busan, Kibum?”

“Ah… tidak, Bi.” Pertanyaan Taeyeon mau tak mau membuatnya memalingkan muka dari Seohyun. “Aku lahir dan tumbuh di sini. Hanya saja semasa kuliah, aku memilih melanjutkannya di Busan.”

Sekali lagi Taeyeon menganggukkan kepalanya.

“Emm… bagaimana kalau kita makan siang bersama?” tanya Kibum kepada Seohyun.

Bukannya Seohyun yang menjawab, tetapi malah Taeyeon yang sepertinya ingin menolak keinginan Kibum. “Ah.. maaf. Tapi setelah ini kami harus segera pulang.”

“Begitu ya?” Kibum mengangguk. “Bagaimana kalau ku antar kalian pulang?”

“Aku minta maaf lagi, Kibum.” Lagi-lagi Taeyeon menyahut. “Suami Seohyun sudah menunggu kami dari tadi. Sebenarnya kami datang bertiga, hanya saja suami Seohyun memilih untuk tetap tinggal di mobil.”

Seohyun memandang heran ibu mertuanya. Apa-apaan itu?

Kibum tersenyum simpul. “Baiklah, tak apa-apa, Bi. Mungkin kita bisa melakukannya lain waktu.”

Taeyeon mengangguk semangat. “Ah, iya. Kalau begitu kami pamit, Kibum,” ucap Teyeon seraya menarik tangan Seohyun menjauh.

Baru beberapa langkah menjauh dari Kibum, Seohyun menolehkan kepalanya. Air mukanya seolah-olah mengungkapkan bahwa ia ingin meminta maaf. Kibum pun menanggapinya dengan senyuman yang membuatnya semakin terlihat tampan. Menurut Seohyun, pria itu tak banyak berubah. Tetap tampan dan menyenangkan seperti yang terakhir kali Seohyun lihat. Hanya saja, kali ini Kibum sudah menjadi pribadi yang jauh lebih baik baik dari sebelumnya. Dan hal itu pun terpancar dari sepasang mata hitamnya yang terlihat teduh. Tak pelak, Seohyun pun membalas senyuman Kibum sebelum sosok pria itu menghilang dari pandangannya.

.

.

“Haaah, akhirnya sampai juga di rumah.”

Seohyun yang sedang menutup pintu rumah, tersenyum kecil melihat tingkah ibu mertuanya yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tengah. Wajah wanita peruh baya itu terlihat memerah. Mungkin karena kelelahan.

“Minum ini, Bu,” ucap Seohyun seraya menyodorkan segelas jus jeruk kepada Taeyeon.

“Waah, terimakasih.”

Padahal hanya segelas jus jeruk, tapi Taeyeon begitu terlihat bahagia menerimanya.

“Um.. Seohyun?”

Seohyun yang kini duduk di seberang Taeyeon, menolehkan kepalanya. Kedua tangan wanita itu yang sedang membuka-buka tas belanja pun terhenti. “Ya?”

Taeyeon terlihat memikirkan sesuatu sebelum membuka mulutnya. “Pria tadi… yang bernama Kibum.” Taeyeon menjeda perkataannya untuk mengambil napas. “Apakah kalian teman dekat?”

Kedua alis Seohyun yang berkerut heran membuat Taeyeon memperbaiki pertanyaannya.

“Maksud ibu, dia terlihat begitu baik padamu. Apakah sebelumnya kalian pernah menjalin suatu hubungan?”

Kali ini Seohyun mengerti arah pembicaraan Taeyeon. Ia pun menundukkan kepala untuk kembali membuka tas belanjanya, namun hal yang sebenarnya terjadi adalah Seohyun berusaha memikirkan apa jawaban darinya. “Tidak, kami hanya berteman baik, Bu.” Seohyun kembali mengangkat kepalanya. “Sudah lama kami tidak saling bertemu. Tadi itu merupakan suatu kejutan.”

Taeyeon tetap menggukkan kepalanya lirih walaupun raut sedikit tak percaya terpasang di wajahnya.

Memang apa lagi yang harus Seohyun katakan? Mengatakan kalau Kibum itu adalah pelanggannya? Tidak mungkin. Namun Seohyun sendiri menyadari, bahwa hubungannya dengan Kibum tidak pantas juga jika disebut teman. Teman macam apa sering tidur bersama lebih dari puluhan kali? Entahlah, Seohyun sendiri tidak memahaminya.

.

.

.

Esok siangnya, Seohyun memutuskan untuk menemui Kibum di mana ia bertemu pria itu pada hari sebelumnya. Setelah baru saja turun dari taksi, wanita berambut hitam yang kini mengenakan dress tosca selutut itu berdiri tepat di depan supermarket. Angin yang berhembus di sana mengibarkan kunciran rambutnya yang diikat kebelakang. Panasnya cuaca di sana memang membuat Seohyun berkali-kali mengusap keringat yang mengalir di leher dan keningnya, tapi nampaknya wanita itu tetap pada pendiriannya untuk tetap berada di sana hingga pria yang ia cari tertangkap di  penglihatannya.

Hampir dua puluh menit berlalu, dan Seohyun masih tetap berdiri di depan supermarket dan rasa dahaga pun kini mulai menghinggapinya. Semangatnya untuk bertemu Kibum yang tadi sempat membuncah perlahan-lahan menguap seiring menit yang terus berjalan.

Seohyun tidak tahu. Sama sekali tidak tahu apakah sosok yang ia cari akan datang menemuinya juga atau tidak. Ia tidak yakin bahwa Kibum akan kembali muncul. Selalu seperti ini. Seohyun berpikir bahwa Kibum selalu muncul dan hilang seperti ini. Pria itu selalu datang padanya tepat di saat Seohyun membutuhkan teman yang dapat mengerti seluruh isi hatinya. Walaupun pada saat itu Seohyun hanya diposisikan sebagai wanita yang dibayar karena berjasa memuaskan para pria oleh Kibum, entah mengapa Seohyun merasa bahagia. Kibum beda dari semua pria yang sudah datang padanya. Kibum memiliki kelembutan hati tersendiri. Pria itu selalu membuat Seohyun seolah terjerat dalam tatapannya. Cara Kibum memeluknya, Seohyun sangat menyukainya hingga ia pernah bermimpi Kibum akan membawanya keluar dari jerat dunia gelapnya. Namun kenyataan yang terjadi sepenuhnya salah. Kibum menghilang, dan pria yang menariknya keluar dari dunianya dulu adalah pria yang tak pernah melintas barang sejenak di pikirannya.

“Soda?”

Kepala Seohyun terangkat cepat saat melihat uluran tangan yang menawarkan soda kepadanya. Sepasang matanya hanya bisa menatap kaget sosok itu.

Sosok itu mengembangkan senyumnya. “Di sini panas, kau pasti haus.”

Seohyun pun membalas senyuman itu. Penantiannya untuk bertemu Kibum terbalas sudah.

.

“Aku sudah mengira kau ada di sana.”

Seohyun mengalihkan perhatiannya dari pelayan yang baru saja mencatat pesanannya kepada Kibum yang duduk tepat di depannya. Untuk sejenak, wanita itu menyunggingkan senyum malunya. “Kau selalu sok tahu.”

Kibum mendengus geli. Pria itu menggeser maju kursinya, dan mencondongkan tubuh tegapnya ke arah Seohyun. “Jadi… bagaimana kabarmu? Aku lupa menanyakan hal ini kemarin.”

Senyum Seohyun bertambah lebar. “Aku baik. Kau sendiri?”

“Ya, aku juga,” jawab Kibum seraya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Apa kau ke supermarket untuk mencariku?”

Seohyun dapat merasakan kedua pipinya mulai sedikit memanas. Ia pun hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Kibum.

“Kenapa di supermarket? Kalau kau mengira aku bekerja di sana, kau salah.”

“Bukan begitu,” sangkal Seohyun cepat.

“Lalu?”

“A−aku kira…” Seohyun mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan perkatannya. “Aku kira aku akan bisa menemuimu seperti kemarin kalau aku ke sana.”

Sepasang alis Kibum berkerut samar, namun itu hanya sesaat sebelum pria itu tersenyum kecil. “Memang ada perlu apa kau menemuiku, Seohyun?”

“Hanya ingin meminta maaf.”

“Meminta maaf?”

Seohyun mengangguk. “Aku rasa kelakuan ibu mertuaku kemarin membuatmu terganggu.”

Raut wajah Kibum berubah seketika. Pria itu hanya terdiam untuk beberapa detik sebelum menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Ah… ya. Ibu mertuamu kemarin memang sedikit menjengkelkan,” ucap Kibum seraya memaksakan senyumnya.

“Lalu… apa kau memaafkanku?”

“Aku tak pernah menaruh dendam terhadapmu, Seohyun,” sahut Kibum dengan senyum tulusnya.

Seohyun tertawa malu. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang untuk mengantarkan makanan yang mereka pesan.

“Aku…” Kibum kembali membuka mulut di sela kegiatan makannya. “Aku tidak menyangka kau sudah menikah.”

Seohyun tak menyahut, melainkan hanya memperhatikan pria yang ada di depannya.

“Entah kenapa aku merasa waktu yang kita lalui terasa sangat singkat.”

“Jumlah waktu yang kita lalui memang terasa sangat singkat, Kibum.”

“Tidak, Seohyun,” sangkal Kibum. “Ketika berada di dekatmu aku selalu merasa waktu berjalan begitu lambat hingga aku menikmati setiap detiknya. Namun hal itu berubah saat aku tak melihatmu.”

Seohyun terdiam. Dasar perutnya seolah tergelitik oleh sesuatu yang kasat mata saat Kibum mulai meraih tangannya.

“Selama ini aku mencarimu. Saat itu aku kira akan sangat menyenangkan jika kita bisa bersatu dalam kehidupan yang disebut keluarga.”

Kali ini Seohyun benar-benar tak bisa berkutik. Ia bahkan tak bisa merasakan saat Kibum mulai meremas pelan tangannya. Apa yang dikatakan Kibum seolah-olah mengunci rapat bibirnya sehingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

“Tapi… tidak ada gunannya sekarang mengatakan hal itu,” ucap Kibum seraya melepaskan tangannya. Pria itu menyunggingkan senyumnya penuh arti. “Aku janji, di kehidupan lain aku akan mendapatkamu lebih dulu.”

Seohyun menundukkan kepala seraya menggigit bibirnya. Tidak. Ia tidak boleh gegabah. Bagaimanapun ia harus melakukan ini dengan selembut mungkin. Kyuhyun mungkin adalah faktor tersadis bagi Seohyun, namun Taeyeon adalah faktor yang sangat emosional baginya. Ya, semuanya harus dilalui dengan pelan-pelan.

.

.

“Kau yakin akan turun di sini?” tanya Kibum seraya memperhatikan sekelilingnya. “Tempat ini terlihat seperti cafe.”

Seohyun juga memperhatikan sekelilingnya. “Kurasa tempat ini memang cafe.”

“Kau dan ibu mertuamu janjian di tempat ini?”

“Ya, Ibu bilang tempat ini milik adik iparnya.” Seohyun menoleh ke arah Kibum yang duduk di sebelahnya. “Terimakasih sudah mengantarkanku.”

Kibum tersenyum. “Sama-sama.”

Sebelum Seohyun membukan pintu mobil, wanita itu menghentikan tindakannya dan menoleh ke arah Kibum. “Umm… bolehkah aku meminta nomor ponselmu?” tanya Seohyun ragu.

“Untuk apa?”

“T−tentu saja untuk berkomunikasi,” sahut Seohyun gugup. Sebelumnya ia tak memperkirakan jawaban Kibum akan seperti ini. Dengan cepat ia menyambung kalimatnya. “Tapi jika kau tidak mau tak apa. Hari ini aku cukup senang bertemu denganmu. Sekali lagi terimakasih.”

Seohyun baru saja akan melangkahkan kakinya keluar mobil sebelum panggilan Kibum menghentikannya.

“Seohyun?” panggil Kibum yang kini mencondongkan tubuh ke arahnya. “Jika kuberi nomor ponselku, maukah kau bertemu lagi denganku lain waktu?” tanya Kibum.

“A−apa?” tanya Seohyun untuk memastikan lagi apa yang baru saja ia dengar.

“Yaaah, kurasa itu yang disebut simbiosis di antara kita. Maukah kau melakukannya?”

Kibum tak pernah tahu sebesar apa Seohyun keinginan Seohyun untuk menerima permintaan itu. Pria itu juga tak pernah tahu bagaimana Seohyun menantikan momen seperti ini setelah waktu yang lama. Dan alasan itu pula lah yang memantapkan Seohyun untuk menganggukkan kepalanya.

.

Seohyun melangkahkan kakinya canggung saat ia memasuki cafe itu. Kepalanya menoleh ke sana-keamri karena tempat ini begitu asing baginya.

“Seohyun?”

Panggilan itu segera membuat Seohyun menoleh. Senyumnya berkembang begitu melihat sosok itu tersenyum padanya. “Ah, Yesung-hyung.”

Yesung berjalan mendekat seraya mengelap kedua tangannya dengan serbet. “Kau tidak kesulitan saat datang ke sini?”

Seohyun menggeleng.

“Baguslah. Para ratu gosip itu sudah menunggumu dengan tidak sabar.”

“Benarkah?” tanya Seohyun seraya berjalan mengikuti Yesung yang berjalan di depannya. Ia tentu tahu siapa para ratu yang dimaksud Yesung.

.

“Woaah, jadi ini menantumu, Taeyeon?”

“Siapa namamu, nak?”

Seohyun menelan ludah. Sebisa mungkin ia menyunggingkan senyum manisnya di hadapan belasan wanita yang ia pikir seumuran dengan ibu mertuanya yang berkumpul di depannya. “Anyyeong, Seohyun-imnida.”

“Ah, Seohyun kau cantik sekali. Darimana kau berasal?” celetuk salah satu wanita yang ada di sana.

“Busan,” jawab Seohyun santun.

“Astaga, kau lihat itu? Dia sopan sekali.” Komentar itu muncul dari wanita yang lain. “Kau sangat beruntung mendapat menantu seperti Seohyun, Taeyeon.”

Taeyeon tersenyum dan berdiri tepat di samping Seohyun. “Seohyun, mereka semua adalah teman arisan ibu dan Victoria. Ibu ingin kau mengenal mereka semua dengan baik.”

“Ya,” jawab Seohyun dengan senyum yang masih dipaksakannya. Ia mengira memperkenalkan diri di depan seluruh teman ibu mertuanya bukanlah hal yang mudah. Seohyun pun mulai berjalan mendekati kumpulan wanita itu dan mulai bercengkrama dengan mereka semua.

Tak pernah Seohyun sadari. Tak jauh dari tempatnya duduk, seorang pria memperhatikannya secara seksama dari meja bar. Sesekali pria itu mengerutkan dahinya seolah tak percaya dengan pemadangan yang kini ia lihat. “Yesung?” panggil pria itu seraya masih memperhatikan kerumunan dimana Seohyun ada di sana.

Yesung yang sedang mengelap gelas pun menolehnya. “Ya?”

Kini pria itu menghadap ke Yesung sepenuhnya. “Wanita-wanita yang duduk di sana… apakah mereka semua teman ibumu?”

“Ada kerabat kami di antara mereka. Kenapa, Heechul? Kau merasa terganggu dengan suara wanita-wanita itu?” tanya Yesung seraya terkekeh pelan.

Heechul mendengus, tapi tidak menjawab pertanyaan Yesung.

“Aku minta maaf kalau kau merasa terganggu. Mulai bulan ini ibuku bersikeras untuk melaksanakan arisan di sini, jadi kurasa lebih baik waktu berkunjungmu diganti tiap akhir bulan saja,” sambung Yesung dengan tawa sebagai penutupnya.

“Lalu apa dia juga akan rutin ke sini seperti teman-teman ibumu?” tanya Heechul seraya mengacungkan telunjuknya ke arah wanita yang kini duduk di tengah sofa panjang di cafe itu.

Yesung mengikuti arah tunjuk Heechul. Untuk sesaat, pria berambut ikal itu mengerutkan dahi. “Dia kerabatku.”

“Kerabat?”

“Ya,” sahut Yesung seraya kembali melakukan kegiatannya. “Dia istri Kyuhyun. Kau tau Kyuhyun, kan?”

Heechul mengangguk kaku. Ia masih ingat jelas bahwa ia pernah dikenalkan Yesung kepada Kyuhyun beberapa bulan yang lalu di cafe ini. Namun hal lain yang mengganggunya adalah status Seohyun sebagai istri Kyuhyun. Setahu Heechul, keluarga Cho adalah keluarga yang bersih dari segala komentar buruk. Keluarga Cho selalu menjunjung tinggi kehormatan keluarga mereka, itulah yang diketahui Heechul dari cerita Yesung. Tapi mengapa wanita seperti Seohyun bisa menyandang nama keluarga itu? Tidakkah ini aneh? Ataukah Seohyun sendiri yang memutarbalikkan fakta tentang dirinya? “Sudah berapa lama mereka menikah?” tanya Heechul setelah terdiam lama.

“Kurang lebih dua minggu yang lalu.”

“Darimana wanita itu…” ucapan Heechul memelan saat kepalanya kembali menoleh Seohyun.

“Seohyun,” potong Yesung cepat.

“Ah, ya. Darimana Seohyun berasal?

“Dia bilang dari Busan. Dia yatim piatu sejak kecil, dan tinggal di panti asuhan.” Yesung menghela napas dan turut memandang Seohyun. “Kyuhyun dan dia bertemu karena tempat kerja mereka yang dekat.”

Heechul menelan ludah. Jantungnya berdebar saat menanti jawaban apa yang akan dikatakan Yesung saat ia bertanya ini. “Apa pekerjaan Seohyun sebelumnya?”

“Pelayan restaurant.”

Heechul tercengang sesaat. Persekutuan ternyata, pikirnya. Dalam tundukkan kepalanya, pria itu menyeringai. Sepasang matanya mengikuti semua gerakan yang dilakukan Seohyun tidak jauh dari sana, termasuk saat Seohyun mulai melangkahkan kakinya menjauh dari sana.

.

Seohyun menyisir rambut panjangnya dengan sela-sela jemarinya. Wanita itu menghembuskan napas pelan seraya membasuh kedua tangannya di atas wastafel. Ia tak menyangka berbincang dengan wanita-wanita itu begitu melelahkan. Lama-lama Seohyun merasa bosan. Pembicaraan mereka tidak jauh lepas dari isu dan hobi masing-masing. Di dalam hatinya, Seohyun bertanya-tanya.  Apakah jika ia menjadi seorang ibu, ia juga akan bertingkah seperti itu?

Ah… Seohyun menggelengkan kepalanya saat kata ‘ibu’ melintas di otaknya.

Tak ingin berlama-lama lagi di dalam kamar mandi, Seohyun melangkahkan kakinya keluar dari sana. Tangannya baru saja akan meraih daun pintu, sebelum seseorang dari luar mendorong pintu itu lebih cepat.

Seohyun terkesiap. Ia memundurkan langkahnya reflek. Namun siapa yang ia lihat sekarang seakan membuat seluruh ototnya menegang. Jantungnya yang berdetak kencang secara tiba-tiba membuatnya tak sanggup mengucap sepatah kata walaupun sepasang bibirnya terbuka.

“Lama tak berjumpa, Seohyun.”

Sebisa mungkin Seohyun menguasai dirinya. “A−ah… Heecul-sshi,” sapanya gagap.

Heecul menyeringai. “Aku tahu kalau kau masih mengingatku.”

Seohyun menelan ludahnya. Bagaimana ia bisa melupakan pria ini? Pria ini adalah pelanggan terakhirnya sehari sebelum Kyuhyun membawanya pergi malam itu. “Tentu saja. Mana bisa aku melupakanmu begitu saja.” Seohyun merasakan perasaan canggung yang hebat.

“Ya. Tentu saja.” Heechul mengambil langkah untuk lebih mendekati Seohyun. “Kau tidak akan pernah bisa melupakanmu,” ucap pria itu seraya membelai lembut wajah Seohyun.

Kedua pupil Seohyun membesar. Wanita itu kembali memundurkan langkahnya. “Heechul-sshi!” gertaknya tertahan.

“Kenapa, Seohyun? Ada apa? Kenapa kau bersi−”

“Aku sudah menikah,” potong Seohyun cepat.

Heechul terkekeh lirih, namun hal itu berubah menjadi sebuah tawa hanya dalam beberapa detik. “Menikah? Pernikahan macam apa yang kau jalani sekarang, Seohyun sayang?”

Napas Seohyun seolah terhenti saat itu juga. Perkataan Heechul membuat bulu kuduknya meremang tiba-tiba. Pria di depannya ini bisa menjadi salah satu ancaman bagi hidupnya.

“Kenapa diam? Tidak menemukan kebohongan yang pas?”

Seohyun memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa sekarang.

“Sudahlah,” ucap Heechul lirih seraya membelai lengan Seohyun. “Aku tak peduli apa statusmu sekarang. Bagiku kau tetap si cantik Seohyun yang akan selalu menemaniku di saat aku membutuhkanmu.”

Udara yang ada di ruang sempit itu seolah-olah semakin menipis seiring semakin dekatnya jarak Heechl dengan Seohyun. Gerakan tangan Heechul yang meraih tengkuk Seohyun membuat wanita itu reflek memejamkan matanya.

“Tidakkah kau merindukanku?” bisik Heechul. “Kita bisa melakukannya sekarang jika kau mau.” Perkataan Heechul berakhir dengan kecupan pria itu di leher Seohyun.

Seohyun mengangkat kedua tangannya dan mendorong pria yang ada di depannya sekuat tenaga. Sepasang mata wanita itu melebar marah. “Jaga mulutmu, Heechul-sshi! Aku bukan orang yang seperti itu lagi.”

“Oh ya? Apakah ibu mertuamu mengetahui hal itu? Atau memang dari awal dia sudah tertipu oleh ucapan manismu? ”

Lagi-lagi, tak ada jawaban dari Seohyun. Hanya amarah yang tertahan yang tergambar di wajah wanita itu.

“Membuatmu hidup tak tenang sepertinya akan menyenangkan, Seohyun,” ucap Heechul dengan seringai yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. “Kau tetaplah kau. Wanita yang akan selalu haus akan kepuasaan dan belaian pria. Kau kira kau akan puas hanya dengan adik sepupu Yesung itu? Tidak akan. Akan kubuat kau merasa resah hingga kau mencari ketenangan di dalam diriku, karena aku tahu bahwa hanya aku yang akan bisa memberikan ketenangan serta kepuasan untukmu.”

Kali ini tidak ada tatapan marah dari mata Seohyun, melainkan keterkejutan. Ia tidak menyangka bahwa Heechul akan mengancamnya seperti itu.

“Sampai jumpa, sayang. Kupastikan kau tak perlu mencariku, karena aku akan selalu berada di sekitarmu.” Perkataan Heechul mengiringi kepergian pria itu dari sana, dan juga… mengiringi setetes air mata yang jatuh dari sepasang mata Seohyun.

.

.

.

Jeritan Seohyun menggema saat ia terbangun dengan bulir keringat yang membasahi kening dan lehernya. Nafas wanita itu tersengal-sengal karena merasakan sesak napas yang hebat. Sekelilingnya terlihat begitu gelap hingga membuat sesak napasnya bertambah parah. Seohyun memekik seraya mencengkeram dadanya yang terasa sakit. Di dalam pandangannya yang masih buram, ia melihat pintu kamarnya terbuka, dan tak lama kemudian kamarnya berubah terang.

“Seohyun!”

Yang dilihat Seohyun sekarang adalah Taeyeon yang berlari kecil menghampiri dirinya. Wajah wanita itu terlihat begitu cemas.

“Seohyun? Kau tak apa?”

Tak ada jawaban dari Seohyun. Tubuhnya melemas seketika saat Taeyeon memeluknya erat.

“Ya Tuhan, jangan membuatku takut, Seohyun. Apa yang terjadi padamu?” Suara Taeyeon bergetar seiring semakin eratnya ia memeluk menantunya. “Kau bermimpi buruk?”

Seohyun hanya bisa menganggukkan kepalanya lemas. Rasa sesak yang tadi ia rasakan, perlahan sirna dengan sendirinya.

.

“Kau membuatku takut, anakku,” ucap Taeyeon seraya menyerahkan secangkir teh hangat untuk Seohyun. Saat ini kedua wanita berbeda usia itu tengah berada di dapur rumah tersebut. “Apa yang kau mimpikan sampai berteriak seperti tadi?”

Seohyun terdiam. Haruskah ia menceritakan mimpinya? “Aku tidak ingat, Bu,” dusta Seohyun lirih.

Taeyeon menatap Seohyun iba. Tangannya terulur untuk membelai rambut menantunya. “Setelah ini tidurlah denganku. Aku takut kau bermimpi buruk lagi saat tidur sendirian.”

Senyum kecil Seohyun terukir. Ya, hanya senyuman karena ia tak bisa mengungkapkan apa yang tengah bergejolak di dalam pikirannya sekarang. Apa yang baru saja ia mimpikan beberapa saat yang lalu terlihat begitu mengerikan. Di dalam mimpi itu, ia melihat dirinya yang tergeletak tak bernyawa dengan kepala yang mengeluarkan banyak darah. Seohyun tak paham arti dari mimpi tersebut. Ia hanya merasa takut, takut yang teramat besar.

Suara deru mobil yang berasal dari luar membuat Taeyeon menolehkan kepalanya di luar jendela. Bertahun-tahun mengenal anaknya, ia tentu hafal dengan suara mobil Kyuhyun. Ditatapnya sekali lagi wajah Seohyun yang terlihat kosong. Mungkin Seohyun masih syok, batin Taeyeon. Tanpa berkata lagi, wanita paruh baya itu beranjak membukakan pintu untuk anaknya.

Taeyeon menangkap raut wajah terkejut Kyuhyun saat anaknya itu berjalan mendekati pintu rumah. Masih tak mengungkapkan kata-kata, Taeyeon hanya bersandar di pintu yang sudah terbuka seraya meletakkan kedua lengan di depan dadanya.

“Kenapa Ibu membukakan pintu? Ibu belum tidur?” tanya Kyuhyun. Kali ini pria itu berada tepat di depan ibunya.

“Ibu hanya menemani Seohyun.”

Dahi Kyuhyun berkerut. “Seohyun? Apa yang terjadi?”

Taeyeon menyingkir sejenak, memberi jalan anaknya untuk masuk ke dalam rumah. “Dia mimpi buruk. Tadi dia berteriak keras sekali. Ibu benar-benar khawatir padanya.”

“Mimpi buruk?”

“Ya. Apa mungkin dia merasa tertekan, ya?”

Kyuhyun semakin mengerutkan dahinya. Mengetahui Seohyun bermimpi buruk entah mengapa memunculkan sedikit rasa khawatir di dalam hatinya. “Dimana Seohyun sekarang?”

“Di dapur. Temui dan tenangkan istrimu sekarang, Kyuhyun. Ia mungkin merindukanmu.”

Perkataan Taeyeon sama sekali tak ditanggapi Kyuhyun. Merindukannya? Yang benar saja. Pria itu hanya melangkahkan kakinya menuju dapur tanpa berkata apa-apa lagi.

Seohyun terlihat di sana. Di dalam balutan selimut tebal, dan berdiri tepat di depan jendela. Tatapan mata wanita itu terlihat kosong, entah tengah memikirkan apa. Yang jelas, jika dilihat dari cengkraman wanita itu di lengannya sendiri, menunjukkan betapa wanita itu merasa takut yang teramat besar.

Khyuhyun melingkarkan sepasang lengannya untuk memeluk pundak dan perut Seohyun dari belakang. Dagunya ia letakkan tepat di atas bahu Seohyun. “Kau bermimpi buruk?” bisiknya lembut.

Seohyun menegang untuk beberapa saat. Ia sama sekali tidak menyangka akan ada orang yang memeluknya dari belakang saat ini, terlebih lagi orang itu adalah Kyuhyun.

“Tenanglah, itu hanya mimpi.” Kali ini Kyhyun memberikan kecupan ringan di bahu Seohyun.

Tak ada reaksi dari Seohyun. Ia terlalu terkejut dengan semua ini. Di dalam hatinya, wanita itu mencari-cari apa yang membuat Kyuhyun bersikap seperti ini.

Kyuhyun membalikkan tubuh Seohyun. Sekilas, Seohyun menangkap sosok Taeyeon yang berdiri tepat di bawah tangga. Ahh… jadi itu alasannya?

“Aku merindukanmu.”

Perkataan Kyuhyun membuat perhatian Seohyun teralih seutuhnya. Ditatapnya mata pria itu lekat-lekat. Mata hitam itu terlihat jauh lebih lembut dari yang pernah ia lihat. Tidak. Seohyun berpikir, inilah pertama kalinya ia melihat tatapan lembut dari pria yang kini berdiri di depannya ini.

Sebelah tangan Kyuhyun terangkat untuk membelai wajah Seohyun sebelum bergerak lembut ke arah tengkuk wanita itu. “Tidakkah kau merindukanku?” tanya Kyuhyun.

Seohyun yang masih terselimuti perasaan terkejut, hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Dan reaksi setelahnya yang diberikan Kyuhyun padanya semakin membuat keterkejutannya kian bertambah.

Kyuhyun menciumnya. Memagut bibirnya dengan sentuhan lembut yang menuntun. Awalnya Seohyun tak menolak ciuman itu, namun dirinya juga tak membalasnya. Seohyun hanya diam saat merasakan bagaimana lembutnya Kyuhyun mencium setiap bagian bibirnya. Perlahan, Seohyun memejamkan matanya. Bibirnya yang tadi pasif, kini mulai bergerak menyambut ciuman itu. Tidak dengan hasrat yang tinggi, cukup dengan kelembutan seperti yang Kyuhyun berikan.

… dan ciuman itu seolah menggerakkan tubuh Seohyun untuk hanyut di dalamnya. Kedua lengan wanita itu terangkat untuk meraih pundak dan rambut Kyuhyun. Mengusap, dan memberi sentuhan tangan lain di sana.

.

.

.

Seohyun tak memikirkan apapun kali ini. Ia juga tak memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Ia cukup tahu bahwa ini semua hanya kepalsuan. Kyuhyun yang menciumnya, sifat lembut pria itu… Seohyun tahu bahwa semua itu adalah fatamorgana.

.

Namun apa yang ia rasakan kali ini entah mengapa seperti menolak keyakinannya tentang Kyuhyun untuk beberapa saat.

107 Tanggapan to “BLACK ROSE [CHAPTER 3]”

  1. hoir Mei 16, 2016 pada 3:27 pm #

    Wah heechul serem amat yaa. Pan kasian seo eonnie kalau kayak gitu pasti dia tertekan banget. Kyu sering sering aja bersikap romantis kayak gitu
    Nice

  2. Nisa Maret 15, 2016 pada 4:36 pm #

    Heechul serem ya, beda sama Kibum yang baik banget sama Seohyun…
    Semoga nanti konfliknya nggak terlalu complicated ya…. ^.^ Hehehe,,,
    Kyuhyun harus sering-sering bersikap romantis kayak gitu, jangan nyeremin terus…😄

  3. Haznita Utami Februari 28, 2016 pada 5:26 pm #

    Heechul !!! srram bgt dia ya ~
    takut bgt kalau heenim bakal hancurin semuanya.
    kasihan seohyun kasihan juga taeyeonnya …
    itu si kibum sama seohyun saling punya rasa itu ? aaaahh ~ andwaeee !!
    kyukyu sedikit lembut dong sama seohyun, kasihan bgt dia nya ~

  4. ginakyunah Agustus 9, 2015 pada 11:36 am #

    Wah adaa heechull..

  5. kyumaelf Juli 23, 2015 pada 2:22 pm #

    wah seru nih

  6. sarmamaa Juli 7, 2015 pada 9:28 pm #

    Gak bosan.. Ceritanya menarik.. Daebak !! Alur nya pas bnget udah kya baca novel 😁

  7. CieciePUAHAha Maret 28, 2015 pada 4:10 pm #

    Seokyu mulai ada rasa kah?? Hahh~ heechul menakutkan.. Kibum manis banget, jangan sampe seonnie suka sama kibum..

Kasih Comment ya ;) Gomawo

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: